Andai Aku Rela



Ini cerpen, gue buat selama pelajaran jam kosong di sekolah. Buatnya sambil-sambilan lagi. Kalau ini cerpen mengecewakan, mian ya karena udah baca :D.

Warning :: Ceritanya nggak jelas. Konfliknya -nggak ada-.

Kalau ada yang baca, Happy Reading aja!

Andai Aku Rela


Hujan turun dengan lebatnya. Debu-debu yang semulanya memenuhi jalanan raya tenggelam begitu saja. Uap panas terasa di mana-mana, tak terkecuali halte bus di tepi jalan MT Haryono. Di halte bus tersebut, terlihat sekitar ada enam orang berteduh. Ada seorang ibu-ibu berusia sekitar empat puluh tahun-an dengan seorang anak perempuan berseragam Sekolah Menengah Pertama berdiri di sebelah kiri ibu tersebut. Dan tiga orang lainnya adalah tiga anak laki-laki berseragam biru-putih tampak mengobrol asyik. Kelihatannya ketiga anak itu berasal dari sekolah yang sama. Satu orangnya lagi adalah seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun. Satu-satunya penghuni sementara halte bus yang raut wajahnya tidak bisa digambarkan. Titik demi titik air menetes dari ujung rambut hitamnya yang diujungnya sedikit bergelombang. Tetesan air hujan yang jatuh ke wajahnya membuat raut wajah gadis itu sulit untuk digambarkan. Dia seperti habis menangis, tetapi bisa jadi air yang berada di pelupuk matanya itu adalah tetesan air hujan. Tidak ada yang tahu. Karena, menangis ketika hujan, sulit untuk ditebak. Ya, kita sendiri mengetahui apa sebabnya. Dan bagi orang yang sulit bercerita kepada orang lain dan tidak mau perasaannya diketahui oleh orang lain, menangis ketika hujan adalah hal yang terbaik. Hujan akan memberikan apa yang diinginkan. Karena hujan akan menemani kita dan dengan airnya hujan akan menyamarkan air mata kita.

Kembali lagi pada gadis itu, ia duduk di bagian paling ujung dari kursi halte yang terbuat dari semen. Ia menjaga jarak dengan orang-orang di sekitarnya. Hujan masih mengguyur bumi. Satu dua bus telah melewati halte tersebut. Berangsur-angsur dua dari enam orang penghuni bus telah pergi menaiki bus yang singgah. Hanya tinggal gadis berusia dua puluh tiga tahun itu dengan tiga orang anak laki-laki berseragam SMP.

Percikan air hujan dari mobil-mobil yang lewat dan mengenai sedikit ujung sepatunya sepertinya tidak menganggu dirinya. Tidak seperti ketiga anak laki-laki, diumur sedini itu ketiganya berani mengeluarkan kata-kata kasar sebagai ungkapan makian bagi pengendara mobil.

“Sepatu, Mbak, kotor, lho,” ujar salah satu dari ketiga anak laki-laki itu.

Gadis itu mengangkat wajahnya dan tersenyum samar kepada anak laki-laki itu. “Nggak apa-apa kok, nanti bisa dilap.”

Anak laki-laki itu hanya mengangguk sebagai tanda hormat mungkin. Namun, ketiga gadis yang lebih tua dari dirinya tadi kembali menunduk, ia berbisik-bisik kepada kedua temannya. Bisik-bisiknya sangat pelan.

Ciiiitttttttt………..

Bunyi bus yang mengerem di depan halte. “Kita duluan ya, Mbak,” pamit anak laki-laki yang berambut sedikit botak kepada gadis tersebut. Tanpa mengakat wajahnya, gadis itu hanya mengangguk. Dan sepertinya ungkapan pamit tersebut hanya basa-basi, soalnya tanpa menunggu gadis berusia 23 tahun itu membalas, ketiganya sudah langsung menaiki bus.

Merasa kalau dirinya tinggal sendirian di halte bus ini, gadis itu mulai bangkit untuk berdiri. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan putihnya. Kemudian ia merapikan rambutnya sebagai sentuhan terakhir ia tersenyum. Hanya sebentar ia tersenyum dan kemudia menatap jalanan yang dibasahi hujan dengan wajah kecut.

Hujan? Hujan mengingatkannya pada hari itu. Hari di mana ia merasa sangat-sangat…….ya sangat menyesakkan. Hari di mana ia merasa sangat tidak berarti. Hari di mana ia seperti terlempar dalam lubang hitam penghisap kebahagiaan dan ia merasa kebahagiaannya lenyap begitu saja. Bukan hanya itu, hari itu adalah hari di mana ia menitikan air mata untuk pertama kalinya…..hari di mana ia harus melihat orang yang sangat berarti dalam hidupnya, mengkhiantinya begitu saja. Hari di mana ia, merasakan luka yang amat sangat perih. Yang bekasnya tidak mungkin hilang, karena luka bukan melukai kulitnya, tetapi hatinya. Bagian yang paling sensitive akan rasa. Terutama rasa sakit yang sangat……amat sangat……sulit untuk dikatakan, karena setiap orang berbeda dalam merasakannya.

“Aku nggak rela. Sangat nggak rela, kalo kamu sama dia. Nggak. Nggak akan pernah rela kalau kamu bahagia dan aku? Aku di sini terluka. Aku tahu, kamu telah memilih dia, bukan aku. Aku tahu. Dan kamu harus tahu, aku nggak rela kalau kamu bahagia……bahagia bersama dia,” gumam gadis itu sebelum meninggalkan halte bus dan mulai berjalan kaki.

***************


“Ify,” sapa seorang gadis manis berkulit putih dengan mata sedikit sipit saat mendengar suara pintu dibuka. Ia tersenyum ramah sambil melambaikan tangan. Ya, untuk menyapa rekan sekerjanya di perpustakaan ini.

“Hai, Sivia. Udah lama kamu sampai?” tanya Ify balik. Gadis bernama Ify itu melepaskan sepatu hak tingginya dan menggantinya dengan sandal yang memang disediakan di perpustakaan ini bagi pegawai-pegawainya.

“Baru kok, Fy. Kamu keringin dulu deh rambutmu. Basah gitu. Kehujanannya?” tanya Sivia lagi.

Ify mengangguk. “Waktu sampai di halte, hujan. Kehujanan deh, hehehhe…..,” jawab Ify dan berjalan menuju meja khusus penjaga dan meletakan tasnya di meja. “Tolong letakin ya? Aku mau keringin rambut dulu,” lanjut Ify dan berjalan menuju toilet. Di sana lengkap. Ada handuk sama hairdryer.

Sivia geleng-geleng kepala melihat rekan sekerjanya itu. Selalu saja begini. Terkadang Sivia tidak pernah bisa membayangkan kalau dia berada di posisi Ify. Gadis itu sungguh kuat. Tidak ada gadis yang masih berangkat untuk bekerja dan tersenyum seperti Ify ketika hati polosnya sedang tercabik-cabik. Sivia jelas melihat kejadian itu. Ia adalah saksi matanya. Ia……waktu itu…….ia menangis. Padahal Ify tidak mengeluarkan air mata sedikitpun. Yang Sivia ingat, Ify hanya menatap laki-laki berengsek itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Dari berbagai sudut pandang yang diambil, tatapan gadis itu memberikan kesan yang berbeda. Ia seperti menangis, tetapi tidak ada air mata yang menitik di sana. Tidak pula, mata indahnya berkaca-kaca. Ia senang? Tetapi gadis itu tidak tersenyum ataupun tertawa. Tidak ada. Tidak…..tatapan itu kosong? Sesungguhnya tidak. Ntahlah….tidak ada yang tahu selain Ify sendiri. Yang Sivia tahu, kalau Ify benar-benar terluka. Dan laki-laki berengsek itu? Benar-benar minta dihajar. Walaupun Ify tidak becerita kepadanya, Sivia sudah mengira kalau laki-laki itu mulai tidak perduli lagi dengan Ify. Laki-laki itu sudah jarang menjemput Ify di perpustakaan ini. Jarang menemani Ify ke mana-mana dan jarang sekali nyaris tidak pernah menghubungi Ify lagi. Hingga, hari itu terjadi. Dugaannya selama ini benar.

“Hei….ngapain melamun?” tanya Ify yang sudah berdiri di sebelah Sivia dan kemudian duduk di kursinya.

“Udah selesai kamu, Fy? Cepet amat,” malah Sivia balik bertanya.

“Yeee…..ditanya malah nanya balik. Gimana sih?” dumel Ify.

Sivia terkekeh pelan. “Hujan ya, Fy?” tanya Sivia seperti gumaman.

Ify diam saja dan menatap nanar hujan yang turun ke bumi. Ia menyukai hujan dan setiap kejadian buruk yang menimpa dirinya, pasti selalu terjadi saat hujan. Ia harusnya menyukai hujan, tetapi sebaliknya. Ia sangat menyukai hujan. Hari yang menyakitkan itu juga terjadi di waktu hujan turun.

Menyadari kalau Ify tidak menjawab sama sekali, Sivia tersadar. Ia sepertinya telah menyentuh titik terperih dalam diri Ify. “Maaf, Fy. Aku nggak maksud kok, Fy. Maaf ya?” ujar Sivia benar-benar menyesal. Ia sungguh tidak bermaksud untuk menyinggung masalah tersebut. Yang dia inginkan, Ify untuk melupakan kejadian tersebut. Melupakan. Untuk melupakan, bukan mengingat.

“Nggak apa-apa kok, Vi. Aku mengingat hujan karena aku menyukai hujan,” ucap Ify seraya tersenyum.

Bukan baru satu bulan, dua bulan ia mengenal Ify. Ify bukan hanya teman seprofesinya. Tetapi, ia dan Ify telah berteman sejak kuliah. Mereka sama-sama bekerja di perpustakaan karena sama-sama mempunyai kegemaran membaca. Dan Sivia tahu kalau senyum Ify itu hanya senyum palsu. “Nggak usah bohong, Fy. Pasti kamu inget sama kejadian itu. Aku benar-benar nggak sengaja, Fy,” ucap Sivia dan menatap Ify lembut. “Kamu udah bisa melupakan kejadian itu?” tanya Sivia lagi.

“Kamu mau jawaban jujur ya, Vi?” tanya Ify dengan suara pelannya. Sivia sama sekali tidak memberi respond, itu berarti kalau Sivia meminta jawaban yang jujur. “Kamu udah tahu pasti, Via. Aku nggak bisa melupakan kejadian itu. Karena kamu tahu kan? Kalau aku benar-benar udah terlanjur cinta sama dia,” sambung Ify.

“Tapi dia udah tunangan sama cewek itu, Fy. Dia udah memilih gadis itu. Kamu harus kuat nerima itu, Fy. Harus. Karena kebahagiaanmu masih ada. Kebahagiaanmu bukan berpusat pada dia seorang. Masih ada yang lain, Fy,” nasihat Sivia.

“Aku udah terlalu cinta sama dia, Via. Aku tahu kalau dia dari dulu udah nggak perduli sama aku.”

“Bukannya aku kejam, Fy. Cuma aku sayang sama kamu, kamu sahabat aku. Aku mau kamu yang terbaik. Dia….bukan ditakdirkan untukmu. Bukan dia, Ify.”
                 
‘“Aku udah janji sama dia, Fy. Kalau aku sama dia akan menikah. Kita berdua saling mencintai. Dan aku mohon kamu mengerti. Dia hidupku dan aku hidupnya,”’ Ify berkata dengan mata terpejam. Sivia menutup mulutnya. Ia tidak menyangka kalau Ify akan mengulang kata-kata menyakitkan itu.

“Ify….” ucap Sivia lirih.

“Kata-kata itu sellau terekam , Via. Aku tahu. Aku nggak rela kalau dia bahagia sama cewek itu. Nggak pernah, Sivia. Aku benci dengan diriku yang nggak rela kalau dia bahagia sama orang lain. Aku benci, Sivia. Aku benci,” ujar Ify. Air matanya mulai menitik.

“Kamu gadis yang kuat, Ify. Pasti kamu bisa melewati ini. Jangan pernah membenci dirimu,” ujar Sivia dan menepuk-nepuk bahu Ify.

“Aku akan coba melupakan dia. Aku akan coba,” ucap Ify dan Sivia mengangguk untuk menyakinkan sahabatnya itu.

********************


Ify berjalan-jalan ke mall. Ia ingin membeli beberapa keperluan dapur serta sehari-harinya. Karena di mall ada supermarket yang menyediakan diskon besar-besaran, ia memilih untuk ke sana sepulang bekerja. Sivia sudah pulang duluan, ia dijemput oleh Alvin, kekasih Sivia sendiri. Dan waktu saat ini, Ify sedang berjalan mengelilingi mall.

Saat tiba di Giant, ia mulai menelusuri supermarket tersebut. Ia menuju tempat rak sabun-sabunan. Dengan postur tubuh yang setara dengan model, ia berhasil mengambil sabun untuk mencuci yang berada di rak yang cukup tinggi. Setelah mengambil sabun, ia menuju tempat penjualan sayur-sayuran. Selama perjalanan ke  sana tanpa sadar ia mendengar………

“Sayang, tolong ambilkan yang itu dong. Aku nggak sampai,” ucap seorang gadis.

“Oke, De. Yang mana?” tanya ulang laki-laki yang bersama gadis bernama Dea.

“Yang itu, Rio. Ya yang itu.”

Ify terpaku di tempatnya berdiri. Matanya mencari sumber suara. Sumpah, ia ingin pergi dari sini. Tapi ia tidak bisa melangkahkan kakinya. Ia ingin memastikan apakah yang berbicara tadi itu Mario Stevano Aditya Haling  bersama Dea Christa Amanda, atau bukan? Ia ingin tahu sekali.

“Ify….apa kabar?” tanya seseorang.

Ify terkejut. Ia sedikit terlompat kaget. Suara itu. Ia masih ingat. Itu suara seorang yang sangat ia cintai.

“Hai, Ify. Aku sama Rio lagi belanja. Kamu juga?” tanya Dea dan meraih lengan Rio lalu memeluknya erat.

Mata Ify melebar melihat semua itu. Dulu, hanya dia yang berhak seperti itu. Hanya dia pemilik tangan kokoh itu. Hanya dia….dulu hanya dia yang berdiri di samping pemuda itu. Hanya dia….tetapi, sekarang…..di depan matanya….gadis lain telah menjadi pemilik lengan itu.

“Aku baik-baik saja kok,” ucap Ify sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan Rio. Lalu Ify menatap Dea dan tersenyum manis pada gadis itu. Gadis yang harusnya tidak ia benci. “Biasa. Kebutuhan di rumah udah habis,” ucap Ify ganti pada Dea.

“Ya udah. Kita duluan ya?” pamit Dea dan menarik Rio. Ify sempat melihat Rio mengangguk padanya. Lalu dengan santainya dan tersenyum, ia menerima tangan Dea yang terjulur mengajaknya untuk pergi.

Sementara kedua sosok itu pergi. Ify masih saja berdiri di tempatnya tadi. Ia sama sekali tidak bergerak. Air mata mulai menitik. Sungguh, ia masih sangat mencintai Rio. Ia tidak berusaha merebut Rio dari Dea. Ia bukan wanita yang tidak tahu diri. Ia lebih baik memendam rasanya daripada harus mempermalukan diri demi seorang laki-laki.

“Aku benar-benar terluka dan kamu bahagia,” gumam Ify seraya menghapus air mata yang berada dipelupuk matanya. Terluka bahagia. Seperti hokum III newton saja, aksi sama dengan minus reaksi. Sama saja kan, dengan bahagia dan tidak bahagia. Dan tidak bahagia itu bisa dikatakan terluka.
               
“Percuma kalau nggak rela kamu sama dia. Kamu dan dia seperti sudah ditakdirkan untuk bersama. Andai kamu tahu, Rio. Aku nggak rela kamu sama dia. Aku terluka melihatmu sama dia. Tetapi aku sadar, kalau kamu memang untuknya. Andai saja….andai aku bisa menjaga takdirmu dengannya. Andai aku bisa nerima dirimu untuk bersama dengan Dea, Yo. Andaikan aku bisa……”  batin Ify.

*****************

Mengecewakan bukan?? Gomen ya?

Lovely Maid Part 8

                                      Lovely Maid Part 8


Gadis itu meringkuk di tengah-tengah kasur tidurnya. Kedua bola matanya menatap lurus ke jendela. Memandangi langit malam melalui jendela kamarnya yang sengaja dibuka. Kedua lengannya memeluk erat kedua lutut gadis tersebut. Dingin. Pasti dinginnya angin malam mulai menusuk hingga tulang rusuknya.
       Tadi gue udah bertingkah bodoh. Kenapa gue nunjukin sisi lemah gue sama ketos mesum itu?? Kenapa?? Gue tadi kenapa sih sampai nangis gitu?? Dia lihat nggak ya?? Moga aja nggak deh. Bodoh!!! Nanti gue nggak bakalan nunjukin sisi lemah itu lagi, apalagi di depan ketos mesum si Rio itu. Nggak akan. Sorry sorry aja!! Tadi itu yang pertama dan terakhir. Gue harus tunjukin sama dia, kalau uang nggak segala-galanya.
       Ify menghela nafas lemah. Ia mulai merenggangkan ringkukannya. Hari ini benar-benar begitu menyakitkan untuk dirinya. Sakit saat ketua OSIS sekolahnya itu mengatakan yang membuat dadanya sesak. Rio memang sudah keterlaluan. Ify sangat terluka karena hal tersebut. Dia heran juga dengan kakak kelasnya itu. Apa dia ada masalah dengan orang miskin hingga benar-benar membenci orang miskin??
       “Arrghhh…..gue nggak mau mikirin hal itu bodoh,” batin Ify frustasi. Mengingat apa yang Rio lakukan kepada dirinya membuat Ify  ntahlah…..kesal iya….sakit iya…apakah semua orang kaya seperti itu?? Ify termenung.
       “Fy….Fy…..Ify…..” panggil seseorang.
       “Alysaa Saufika Uuuummmaarrrriiiiiiiii” panggil orang itu lagi.
       Ify tersadar dari lamunannya dan segera turun dari tempat tidurnya lalu keluar kamar dan menuju ruang tamu sekaligus ruang makan dan semuanya deh. Ruang serba guna karena rumahnya kecil. Ify segera merapatkan tubuhnya ke tembok dan membuka sebuah jendela kayu yang menghubungkan rumahnya dan rumah Via. Tentu saja orang yang memanggilnya tadi adalah Sivia. Mereka memang sering menghabiskan waktu malam-malam untuk curhat, hanya berdua saja karena posisi rumah Agni dan Shilla tidak mendukung.
       Ify juga ingat usul membuat jendela ini adalah Via. Kata Via biar berasa kayak punya telepon. Padahal nggak sama sekali miripnya. Mereka berdua seperti orang dipenjara yang sedang mengobrol. Tapi, membuat jendela itu juga bukan ide yang buruk.
       “Ada apaan sih, Vi?” tanya Ify setelah mengambil posisi duduk di sebelah Via yang tenntu dibatasi oleh tembok.
       “Mau nanya aja, Ify. Tadi lo kenapa? Habis nangis gitu?” jawab Via dan sekaligus bertanya.
       “Hah?! Kapan?”
       “Jangan boong deh. Sejak pulang dari Gramedia tadi elo keruh gitu tampangnya. Apa ada hubungannya dengan Kak Rio?” tanya Via lagi dan menyipitkan matanya. Padahal sudah sipit tuh.
       Ify terenyah. “Rio? Apa hubungannya dengan Rio?” Ify mencoba untuk berkilah.
       “Kak Rio, Ify. Dia itu lebih tua dari kita,” ucap Via gemes. Ify melengos mendengarnya. Benar saja dong dia memanggil Rio dengan sebutan kakak?? Belum….belum waktunya. “Tadi gue lihat ada Kak Rio di Gramed. Gue kira lo sama dia ketemukan? Makanya lo jadi gondok gini sejak pulang tadi sampai membuat kue tadi. Yakan?” tanya Sivia untuk meminta kepastian.
       Percuma Ify berbohong kepada Via. Pasti gadis chubby itu akan langsung mengetahuinya. Lagian dia juga sudah berjanji pada ketiga sohibnya kalau mereka akan saling terbuka. Bila sekarang Ify dan Via yang hanya bercerita, maka besoknya mereka akan menceritakannya lagi. Mereka memang harus laing terbuka karena mereka adalah keluarga.
       “Memang gara-gara dia. Biasa omongannya tentang orang miskin. Pasti setiap ketemu gue dia selalu natap gue kayak got aja. Terus Vi, yang lebih nyakitkan lagi itu,” ucap Ify dan membayangkan kejadian tadi siang. “dia nuduh gue mau ngutil di Gramed. Sakit banget, Vi. Gue juga tahu kalau gue miskin, tapi dia itu nggak harus nuduh kayak gitu juga kan?”
       “Salah Ify,” ucap Via lirih. “Bukan hanya lo, tapi kita. Kita berempat yang miskin,” ralat Via dan tersenyum kepada Ify. Tersenyum menyakinkan bahwa dalam hidup ini Ify tidak sendirian. Ada Via, Agni dan Shilla yang memiliki takdir yang sama dengannya. Oleh karena itu, mereka berempat harus berjuang bersama-sama.
       “Iya, Vi. Gue, elo, Agni dan Shilla itu miskin. Kita sama-sama, nggak sendirian. Dalam hidup ini kita berjuang berempat,” ucap Ify dan tersenyum senang. Hidupnya bahagia selama ini, selama mereka masih berempat. Walaupun makanan sehari-hari mereka nggak seenak makanan di restoran, nggak semewah makanan yang dihidangkan di pesta, toh mereka tetap makanan dengan lahapnya. Tempe, tahu sambel nggak masalah. Bahkan mereka pernah makan nasi hanya dengan kerupuk ikan sama sambel doang. Toh, tetap sehat-sehat saja. Otak mereka tetap lurus-lurus aja. Belum pernah tuh sampai jadi miring.
       “Tapi jadi orang kaya itu enak ya, Fy?” gumam Via sambil bertanya. Ify dapat melihat sahabatnya itu sedang membayangkan kehidupan elite orang kaya.
       “Pasti lah, Via. Nggak perlu kerja keras,” timpal Ify.
       “Panes-panesan. Mau apa aja tinggal beli.”
       “Nggak bakal dihina.”
       “Hidup mewah.”
       “Apa kita harus menikah dengan orang kaya ya, Fy?” tanya Via ngacoh.
       Ify merinding mendengarnya. Menikah dengan orang kaya demi jadi kaya? Apa nggak salah tuh?” Ify terdiam. Menikah dengan orang kaya? Rio dong. Dia kan kaya. Tapi…..
       “Iya, Ify. Itu ide oke banget. Kita menikah dengan orang kaya. Nanti, gue sama Kak Alvin deh. Dia ganteng banget,” ucap Via gemes dan heboh sendiri.
       Ify seperti tertampar. Kenapa dia mikirin menikah dan teringatlah wajah Rio? Yang benar aja dong. Nggak deh. Nggak. Rio itu gila. Lagian Rio itu anti sama orang miskin. Jangan mimpi deh. Tapi tadi Via bilang mau nikah sama Kak Alvin? Alvin bukannya teman gang-nya si Mesum? Iya.
       “Kak Alvin temannya si Rio?” tanya Ify ulang.
       Via mengangguk antusias. “Dia keren banget, Ify. Ganteng lagi. Mana  Kaya. Apa yang kurang coba?”
       “Aduh, Via. Lo ada-ada aja. Nggak usah bawa-bawa nikah segala. Kalo mau kaya kita itu harus kerja. Rajin sekolah. Biar jadi kaya. Jangan mimpi nikah sama orang kaya. Kalo ada kakek-kakek kaya yang ngelamar elo, elo mau?”
       “Kok kejam gitu, Fy? Gue nggak mikirnya kakek-kakek, tapi Kak Alvin,” gerutu Via. Masa Ify nyodorinnya kakek-kakek kaya?!!! Nggak deh!!!
       “Apa Kak Alvin mau sama lo?” sambar Ify.
       Via meringis. “Nggak tahu. Tapi kayaknya nggak,” jawab Via.
       “Tuh tahu.”
       “Iya-iya. Kita berempat bakalan sekolah baik-baik dan jadi kaya,” tekad Via.
       “Itu baru benar. Bukannya nikah,” timpal Ify.
       “Bagaimanapun menikah dengan orang kaya adalah cara tercepat jadi kaya,” gumam Via pelan.
       “Apa, Vi?” tanya Ify yang mendengar sayup-sayup Via berkata sesuatu.
       “Nggak penting kok, Fy. Gue Cuma bilang, lo nanti nikahnya sama Kak Rio,” jawab Via asal.
       “Oh…gitu. Boleh juga,” tanggap Ify setengah sadar.
       Mata Via yang sedikit sipit langsung melotot. Usaha sedikit bagus. Itu mata bisa juga melotot. “Beneran, Fy? Kalo Kak Rio ngelamar elo, bakalan elo terima?” tanya Via antusias.
       “Kok Rio ngelamar gue sih?”
       “Kan tadi gue bilang, lo nikahnya sama Kak Rio. Terus lo bilang boleh juga. Bukannya nanti sebelum nikah, Kak Rio ngelamar elo dulu,” jelas Via dan misuh-misuh.
       “Idiiiih…..itu gue khilaf. Lo sih nipu gue, gue kan ngatuk sekarang, Via…” kilah Ify.
       “Ya udah. Tidur sana. Gue juga mau tidur,” balas Via dan bangkit dari posisi duduknya. Ify pun juga begitu. Ngigau apa tadi dia sampai-sampai mengiyakan ucapan ngacoh Via. Oh My God….

**************

       "Bu, itu kue baru ya di kantin?" tanya Alvin. Dia pergi mencari makanan ringan sekedar untuk menemaninya menanti hingga bel masuk berbunyi. Saat tiba di-stannya Bu Nina, Alvin tertarik dengan kue bolu yang berada di eltase dengan hiasan yang menarik. Bentuk kue itu persegi dengan hiasan di atasnya. Hiasannya hanya sederhana, toping coklat dan krim yang berbentuk icon emosion.
       "Iya, Den Alvin. Aden mau coba? Mumpung masih ada, Den. Nanti habis, lho. Dijamin enak tuh," promosi Bu Nina habis-habisan. Alvin tampak berpikir dan sepertinya tidak salah bila ia menyicip kue ini.
       "Dijamin enakkan, Bu?"
       "Ya pasti dong, Den. Masa iya enuk!" balas Bu Nina sedikit bercanda.
       Alvin terkekeh kecil. "Gue pesan lima deh, Bu. Kotakin ya," ujar Alvin. Bu Nina mengangguk antusias dan dengan cepat mengambil lima buah kue bolu dan memasukannya dalam kotak.
       "Lima belas ribu, Den," ucap Bu Nina.
       Alvin mengangguk dan mengambil uang Rp 20.000 "Lima ribunya pocari, Bu," ujar Alvin dan Bu Nina segera mengambilkan pocari sweet yang tersimpan di lemari pendinginnya.

*******************

       "Lo bawa apaan, Vin? Sampai dikotakin gitu?" tanya Cakka dengan noraknya saat Alvin baru saja tiba di meja 'khusus' mereka. Meja biasa saja sih. Tapi, sering -lebih tepatnya selalu ditempati oleh pangeran GN tersebut.
       "Kue baru dari tempatnya Bu Nina. Keliatannya enak. Gue beli," jawab Alvin setelah mengambil tempat duduk di sebelah Gabriel.
       "Gue coba, Vin," sahut Gabriel dan membuka kotak kue tersebut dan mencomot sepotong.
       "Yak ela lu, Yel. Sambar aja. Gimana kuenya?" berondong Cakka. Gabriel mengunyah kue itu perlahan-lahan, sepertinya merasakan kue itu dengan sebaik-baiknya. Wajah Gabriel tampak keruh. Sepertinya kue itu tidak enak. Namun, Rio yang memperhatikan gerak-gerik Gabriel, menarik kotak kue menjauh dari raihan tangan sohibnya itu.

       “Rese ah lu, Yo. Satu lagi dong. Tuh kue enak banget,” pinta Iel pada Rio yang mulai mengambil sepotong kue. Rio tidak memperdulikan Gabriel yang ‘mengemis’ kue pada dirinya.
       “Bodoh! Enak banget, Yel,” ucap Rio dan memakan kue itu dengan wajah yang super lebay ekspresinya.
       “Gue mau dong, Yo,” pinta Cakka dan Rio langsung memberikan kotak kue itu ke Cakka. Tanpa ba-bi-bu lagi, Cakka mengambil kue dan melahapnya. Cakka saja jadi sumringah memakan kue tersebut. Ternyata kue baru di kantin Bu Nina itu memang super enak. Penampilannya juga seenak rasanya. Cakka hendak mengambil satu lagi, ternyata sepotong kue kurang untuk dirinya.
       “Eitttsss…..Kagak deh. Gue belum makannya. Itu jatah gue,” sambar Alvin dan meraih kotak kue tersebut sebelum benar-benar habis dimakan oleh Cakka dan Iel yang mulai mengintai isi dalam kotak.
       “Pelit lo, Vin,” umpat Cakka.
       “Beli di tempat Bu Nina, mungkin masih ada,” balas Alvin dan memakan kue yang ada dalam kotak. Sementara, Gabriel berdiri dari duduknya.
       “Mau ke mana, Yel?” tanya Cakka.
       “Beli kue-lah, Cak,” jawab Gabriel santai.
       “Gue mau lima. Gue titip lima. Kagak bagi-bagi. Untuk gue sendiri,” pinta Cakka dan matanya menatap Alvin was-was. Takut dipintain oleh Alvin soalnya dia tadi minta yang Alvin.
       “Biasa aja natapnya, Cak. Lo kira gue semaruk elo,” balas Alvin sewot.
       “Ya kali aja, Vin,” balas Cakka tak mau kalah. “Lo nitip nggak, Yo?” tanya Cakka pada sohibnya satu itu.
       “Gue tiga aja,” jawab Rio. Gabriel mengangguk dan melenggang ke kantinnya Bu Nina.
       Sepeninggalan Gabriel, Cakka kembali sibuk dengan ponselnya, pasti balesin SMS cewek-cewek yang lagi ngedekatin dirinya. Dasar nggak ada kerjaan lain aja. Terus, Alvin juga asyik menikmati kue yang tersisa sambil dengerin lagu dari earphone-nya.
       Rio sendiri tidak melakukan apa-apa. Dia diam. Hari ini tidak terlalu menyenangkan. Nggak ada hal yang menarik. Datar, seperti permukaan danau saja. Namun, kebosannya hilang ketika ia mendengar suara adik kelasnya itu. Ia masih merasa bersalah kemarin dan penasaran bagaimana keadaan adik kelasnya itu.
       “Kita duduk sini aja, Ya?” tanya Via yang sudah mengambil posisi duduk di salah satu meja kantin yang telah kosong. Meja itu berada di pojok kiri kantin. Ketiga sohibnya langsung mengangguk setuju. Hari ini mereka ke kantin. Ah rupanya, mereka pagi tadi kesiang dan tidak sempat membuat sarapan.
       “Mau pesen apa? Biar gue yang pesenin,” tanya Shilla yang sudah berdiri.
       Agni dan Ify tertawa kompak. “Gaya lo, Shill,” celetuk Agni di sela-sela tawanya.
       Shilla cembererut. “Sekali-kali dong, Ag,” balas Shilla.
       Via mengangkat tangannya yang jemarinya menunjukan telunjuk doang. Bukan nunjuk tangan gaya anak TK kalau di suruh nyanyi ke depan. Tapi mengingatkan kalau uang mereka hanya tinggal seratus ribu tok. Nggak ada lebihnya.
       “Itu Via bener. Jadi, pesen aja makanan yang ngeyangin tapi paling murah,” usul Ify dan membisikan kata murah dengan pelan. Jangan sampai ketahuan deh kalau mereka nggak punya uang untuk saat ini. Bisa-bisa diledekin habis-habisan. Bukannya malu, tapi keempat sahabat itu tidak mau masuk BK karena masalah ini. Siapa yang tahu kalau nanti di antara mereka ada yang spanning-nya nggak bisa turun? Kesimpulannya, hindari hal yang bisa membuat kekacauan atau masalah daripada kena masalah sendiri.
       “Oke deh. Gue pesen dulu,” ujar Shilla dan pergi menuju tempat pesanan.
       Sementara Ify, ia dengan bola matanya bergeliriya memperhatikan sekitarnya. Kantin ini memang seperti café-café. Bersih dan teratur. Wajar sih, isinya anak elite semua. Pasti sumbangan dari wali murid yang besar sehingga dapat menjadikan sekolah ini elite. Meja-meja yang disediakan juga terbilang mewah. Ify mengangguk-ngangguk. Pantes aja, si Jazz Merah itu mati-matian menghina mereka berempat. Ya, kalau dari segi material mereka berempat memang nggak pantes sekolah di sini. Tapi, kalau segi otak? Sangat pantes-lah. Mereka pinter toh. Nggak kelupaan juga sering menangin lomba-lomba juga olimpiade.
       Tepat pada saat itu, matanya bertemu dengan mata kakak kelasnya. Ify membalas mata itu dengan tatapan galaknya. Tetapi, langsung berubah seketika. Ia menatap ke arah kakak kelasnya itu dengan sorotan mata bersahabat dan senyum manisnya.
       Sedangkan, di bangkunya Rio terpaku. Ia tidak menyangka kalau Ify bakalan tersenyum ke arahnya, mengingat bahwa mereka adalah musuh. Rio juga nggak mau punya teman miskin. Cepat-cepat ia menghilangan sikap terpakunya itu. Kalau adik kelasnya itu sadar? Mau di mana ditaruhnya harga dirinya? Nggak deh…. Nggak.
       “Hai, Acha!” sapa Ify dengan teriak dan melambaikan tangannya masih dengan senyum manisnya.
       Rio kaget. Ternyata si Pinky itu menyapa temannya. Ya ampun, kenapa dia jadi kacau begini? Mikir dong Rio. Mikir. Lo bodoh banget, bisa-bisanya hampir terpesona sama si Pinky nan miskin itu. Muka lo mau di taruh di balik kuping lo biar nggak keliatan lagi??
       “Di mana Acha-nya, Fy?” tanya Via.
       “Itu tuh di meja sana. Ada rahmi juga,” jawab Ify dan menunjuk meja di belakang meja Rio.
       “Oh.. di belakang mejanya Kak Rio. Jangan-jangan lo modus aja tuh manggil Acha, nggak tahunya cari perhatian Kak Rio. Ya kan? Ngaku deh!” goda Via dan mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
       “Ogah! Sampai gue jadi kaya juga gue ogah!”
       “Jelaslah elo ogah. Lo jadi kaya aja karena nikahnya sama Kak Rio.”
       “Dih, amit-amit. Biarin gue miskin aja. Tapi, kenapa sih lo ngatain gue sama si Mesum itu?” tanya Ify penasaran. Via ini memang aneh sih sering ngomong yang nggak-nggak, ntah dari mana ia dapat ide tersebut. Parah kan tuh anak! Ify yang setengah mampus setengah hidup benci sama Rio, tiba-tiba ia bilang mau nikahnya sama Rio?? Nggak beres tuh namanya.
       “Nggak sih. Tapi dilihat-lihat waktu lo berantem sama Kak Rio, kalian itu cocok tahu,” jawab Via. Membuat Ify mual. “Lo berdua sama-sama cungkring. Dia item lo putih. Kopi susu. Komplit deh. satu lagi, dia pesek lo mancung. Yang terakhir nih, dia kaya lo miskin, Fy. Paket komplitkan?” lanjut Via dengan kalemnya.
       Kalau tadi Ify baru ancang-ancang mual, sekarang ia benar-benar pengen muntah. Yang benar saja dong. Dia sama si Ketos Mesum?? Dih…. Demi apapun nggak deh!! “Komplit apaan. Udah deh, Vi. Ntar orangnya pada geer lo ngomongin. Bisa-bisa kita  bermasalah lagi,” ucap Ify.
       “Ify bener tuh. Shilla mana sih?” tanya Agni yang sendari tadi diem.
       “Iya ya, baru sadar, kalau Shilla lama banget ke kantinnya,” jawab Via dan mencari sosok Shilla di penjuru kantin.

*****************

          Shilla melihat-lihat harga yang tertera di setiap stan yang ada di kantin. Harganya memang sesuai kocek kebanyakan siswi maupun siswa di GN ini. Tapi, kalau untuk ukuran dirinya dan ketiga sohibnya? Mahal ya dong. Jadi pilihan terakhir agar bisa makanan dan kenyang, cari makanan yang murah namun mengenyangkan, seperti apa yang dikatakan Ify tadi. Jadi, pilihan Shilla, jatuh pada gado-gado plus lontong. Makanan murah, sehat dan bergizi. Sayur semua sih. Tentu saja gado-gado itu makanan termurah dengan harga Rp 6.000 seporsi. Karena mereka berempat jadi semuanya Rp 24.000 plus aqua gelas Rp 4.000. Total Rp 28.000. Wah, hebat ya? Sehari saja mereka bisa menghabiskan uang sebanyak Rp 28.000, untung saja berempat. Kalau sendirian segitu? Pasti mami dan papi di rumah mendadak jantungan. Kejang-kejang. Mending kalau diimbangi dengan belajar yang rajin. Nilai ulangan selalu paling kecil 85. Lha, kalau di sekolah kerjaannya ngegosip. Ulangan jeblok, pake nyumpahin guru segala. Itu namanya membunuh orang tua perlahan-lahan. Tidak tau terima kasih.
       "Bu, saya pesan empat porsi gado-gado ya," pinta Shilla pada Bu Marni, penjual gado-gado.
       "Iya, Neng. Ibu siapkan dulu. Pedes semua?"
       "Sedang aja deh, Bu."
       Bu Marni mengangguk mengerti. Lalu beliau mulai menyiapkan pesan Shilla. Tak lebih dari tujuh menit si Ibu udah selesai menyiapkan pesanan Shilla.
       "Neng duduk di mana? Biar ibu anter," tanya Bu Marni.
       "Biar saya sendiri aja deh, Bu yang bawa ini. Nanti ibu bawain aqua gelas aja. Saya beli empat ribu sekalian ambil nampan ini," jawab Shilla dan menunjuk dengan dagunya sebuah nampan biru.
       "Oke deh, Neng," ujar Bu Marni setuju. Tadi Bu Marni bilang oke? Dapat dari mana tuh kata-kata, palingan curi denger dari anak-anak yang berkunjung ke kantin. Dasar. Tapi boleh juga, gaulan dikit, hehehe.
Shilla berjalan dengan hati-hati sambil membawa nampan ke mejanya. Ia harus hati-hati, bukankah ia tak mau makanan ini tumpah? Kalau makanannya tumpah berarti ia dan ketiga sohibnya tak bisa makan apapun lagi. Parahnya lagi, mereka harus mengganti uang mecahin piring. Dapat ditarik kesimpulan, uang seratus ribu raib seketika.
       "Hati-hati," gumam Shilla pelan. Ia berjalan sambil menunduk. Hingga ia tak menyadari ada orang yang muncul dari samping. Orang itu berjalan cepat sekali dan sempat menyenggol Shilla, hingga mengakibatkan Shilla sedikit oleng.
       "Huuuaaaa...gimana-gimana nih?" gumam Shilla heboh.
       "Eeeitts.....IFY!!" seru Shilla yang hampir jatuh.
       Kok nggak jadi jatuh ya? Batin Shilla. Ia melihat kalau nampan berisi makanannya masih utuh. Oh iya, tadi ia memanggil nama Ify. Jadi, Ify yang telah menolongnya. Shilla mengangkat wajahnya dan matanya melebar saat melihat siapa yang ada di depannya. Tidak percaya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Tapi, masih saja orang yang di depannya itu si Kakak Kelas rese waktu MOS.
       "Elo?" tanya Shilla.
       "Elo-elo. Kak Gabriel," jawab Gabriel ketus.
       Mata Shilla membola ketika Gabriel meminta -lebih tepatnya memerintah agar memanggilnya Kak Gabriel. Idih ogah deh, batin Shilla.
       "Lepasin tangan lo," ucap Shilla jutek.
Gabriel melepaskan tangannya yang menahan bahu Shilla agar tidak terjatuh. Setelah lepas, adik kelasnya itu langsung pergi tanpa mengucapkan terima kasih (lagi). Ini sudah yang kedua kalinya, adik kelas nge-sok-nya itu tidak tahu berterima kasih padanya.
       "Den, jadi mesen untuk kue-nya?" tanya Bu Nina.
       "Jadi, Bu. Besok jangan lupa, lima belas ya, Bu," jawab Gabriel. Bu Nina mengangguk setuju. Lalu Gabriel meninggalkan stan-nya Bu Nina. Sial banget dia hari ini. Kue-nya habis dan lengkapnya, ketemu adik kelasnya yang jutek itu. Nambah tekanan darah saja.
       Gabriel berpikir lagi, kalau tadi ia tak menolong adik kelasnya itu. Pasti sudah jadi bahan tertawaan tuh juniornya itu. Nah kan, kenapa ia baru terpikir sekarang? Bego nggak tuh.
       "Lo beruntung," batin Gabriel.
       "Kenapa lo liat-liat?!!" bentak Gabriel ke salah satu anak perempuan yang melihatnya dengan tampang memuja. Cewek itu langsung ciut. Emang enak di semprot Gabriel?
Angel yang sendari tadi melihat adegan sang Pujaan Hati langsung keluar dari tempat bersembunyinya dan menghampiri Gabriel.
       "Udah deh, Yel. Kita duduk lagi ke sana aja," ajak Angel dan bergelayut manja pada lengan Gabriel. Sementara itu, Gabriel hanya diam saja dan membiarkan Angel membawanya ke meja sohibnya lagi. Tentu saja sudah ada Dea, Aren dan Nova di sana.

***************

       "Kenyang juga ya," ucap Via puas sambil mengelap sudut bibirnya yang mungkin ada sedikit bekas gado-gado.
       "Kalo nggak kenyang, itu bukan perut, Vi. Tapi..." Ify menaik turunkan alisnya. "drum," lanjut Ify dan menunjuk ke arah perut Via yang telah sedikit membuncit karena kekenyangan.
HAHAHHAHAHA..... Tawa Agni dan Shilla tak tertinggal Ify pecah karena ekspresi kesal Via yang mereka lihat.
       "Puas gitu ngetawain gue?"
       "Gurami di sungai, tuna di laut, puas nggak puas, yang penting lo cemberut," balas Agni dan berhigh five ria dengan Ify dan Shilla.
       “Nggak nyambung dodol!!!” seru Via.
       Wleee..Agni melet. “Bodoh!” balas Agni tak mau kalah.
       “Udah deh, udah. Coba lo bertiga perhatiin ini aja,” ujar Shilla melerai dan memberikan ide baru untuk yang mereka lakukan di kantin saat ini. Shilla juga menunjuk ke arah kelompok-kelompok siswi GN yang merujuk pada satu meja di kantin ini. Mereka berbisik-bisik tentang penghuni meja tersebut.
       “Apaan sih, Shill?” tanya Agni tak mengerti.
       “Suaranya pelan-pelan aja,” Shilla mengingatkan. “Coba deh liat bangkunya anak OSIS sama si Jazz Merah itu. Semua cewek meratiin ke situ kali,” lanjut Shilla dan mengarahkan tatapannya ke bangkku Cakka, Rio, Alvin dan Gabriel. Ify, Agni dan Via juga ikutan melihat ke situ. Ya di sana sudah ada Dea, Angel, Nova dan Aren.
       “Anehnya di mana?” tanya Ify dengan berbisik.
       Shilla memutar bola matanya. “Lo masa nggak ingat sih, Fy? Mereka itu-kan cowok-cowok yang paling diincer di GN ini. Lagian pacar juga nggak punya, tapi......” Shilla melihat sekilas meja tersebut. “Ada si Jazz Merah sama teman-temannya-kan? Lihat lagi deh, posisi mereka itu deket banget kayak pacaran tau,” jawab Shilla.
       Ify cengo. Shilla gimana sih, anehnya di mana coba? Mau mereka pacaran kek mau nggak. Bodoh amat!! Nggak ada hubungannya dengan mereka. “Lo gimana sih, Shill? Nggak ada anehnya tau,” balas Ify.
       “Iya juga nih, Shilla. Gue kita penting banget, nggak tau-nya….” Via memutar bola mata. “Basi,” lanjut gadis bermata sipit itu.
       Shilla meringis. “Yah…..yah…gue kira sih menarik buat elo-elo. Soalnya semua orang natap mereka seolah-olah air di padang pasir,” kilah Shilla membela diri.
       Ify dan Via kompak melengos. “Yeeeeeeee……….” Seru Ify dan Via males. Shilla manyun.
       “Eh….kenapa belum bel juga ya?” tanya Agni dan melihat jam yang berada di dinding kantin. Jarum jamnya sudah menunjukan angka 10.35 dan itu artinya sudah masuk. Namun, bukannya bel belum juga berbunyi?
       “Nah….gue mau nanya itu tadi. Habis Shilla udah ngomporin duluan. Jadi lupa deh,” ujar Shilla dan mendelik ke Shilla.
       “Gue lagi?” tanya Shilla dengan tampan oon-nya. Via tak menggubris.
       “Gue nggak tahu, kita balik ke kelas  aja, yak?” jawab dan sekaligus Ify memberikan usul.
       “Pilihan yang oke,” ujar Agni setuju.
       Baru saja keempat gadis itu akan beranjak dari bangkunya. Pengumuman berasal dari speaker yang memang tersedia di seluruh ruangan dan bagian dari Global Nusantara ini berbunyi. “Pengumuman-pengumuman, diberitahukan kepada seluruh siswa-siswi Global Nusantara bahwa guru sedang melaksanakan rapat. Diharapkan agar tetap di kelas dan belajar seperti biasa. Demikian pengumannya. Terima kasih.”
       ASYIIIIIIKKKKKKKKKKKK……………. Teriakan yang paling heboh terdengar di kantin. Ya dong, pelajar mana sih yang nggak seneng waktu tahu guru mereka rapat? Kalau udah ada kata rapat itu berarti berujung pada jam kosong dan pada akhirnya nggak belajar. Yippiee……Asyik….
       “Duduk lagi, yuk,” ajak Shilla yang udah nangkring di kursinya lagi.
       “Kita ngapain nih? Enakan juga di kelas. Baca buku,” tanya Agni. Dia bosan berada di kantin ini. Nggak ada yang bisa mereka kerjain.
       “Tebak-tebakan, gimana?” usul Via. “Kalo ada yang nggak bisa jawab dihukum deh,” tambahnya.
       Mata Ify dan Shilla berbinar-binar senang ala si Badung Sinchan kalau lagi ketiban rezeki. “Setuju!” seru keduanya kompak.
       “Ayolah, Ag. Kita main tebak-tebakan dulu. Kalo baca buku mulu ntar jidat lo jadi lebar. Umur dua puluh tahun rambut lo bakalan rontok semua. Umur dua puluh satu tahun, botak deh lo,” rayu Ify sadis. Itu bukan rayuan kali, tapi nakut-nakutin.
       Agni kemakan rayuan Ify. Ternyata dia tidak mau botak dalam usia yang dini. Bukan Cuma Agni aja kali, semua orang juga nggak ada yang mau. “Iya-iya, gue ikutan,” ujar Agni.
       “Nah gitu. Kita mulai hompimpah dulu, siapa yang menang dia kasih tebak-tebakannya,” ucap Via. Ketiganya mengangguk.
       “Hompimpah alaiyugambreng. Mak rompang pake baju rombeng……” nyanyi keempat sahabat itu. Nggak perduli kalau lagu yang mereka nyanyikan itu salah.
       Tangan Via membentuk gunting, dengan jari telunjuk dan tengah yang ia tampilkan. Sedangkan Ify, Agni dan Shilla kompak menujukan punggung tangan mereka yang berarti kertas. Gunting versus kertas?? Tentu saja kertas bakalan digunting-gunting dan akhirnya menjadi serpihan kecil-kecil. Ini artinya Via menang telak. Kagak pake duel dulu.
       “Yeyeye….gue menang,” seru Via dengan noraknya. Kedua tangannya tiba-tiba bergerak ala penari tari pendet.
       “Cepet dong tebak-tebakannya. Nggak usah bertingkah norak gitu. Nggak enak dilihat, merusak pemandangan,” ledek Agni sadis.
       Via manyun. Bibirnya maju empat centi meter. “Sebutkan sepuluh buah yang awalannya B? Sepulu lho, sepuluh,” ujar Via dan menunjukan kesepuluh jari tangannya.
       “Gampang,” sambar Ify. “Bengkoang…..Hm…belimbing….hmmm….” ucapan Ify berhenti. Dia nggak tau lagi apa.
       “Hayo apa? Katanya gampang….gampang….” ledek Via. Ify mencibir. Via bales melet.
       “Bengkoang udah. Belimbing udah….Buah yang depannya B ya? Ba….be….bi….bo…..bu…. ah….nggak tahu. Adanya ba be bi bob u,” ujar Shilla sedikit frustasi.
       “Gampang, Fy? Gampang yak?” ledek Via lagi.
       “Agniiii…..jawab dong. Gue udah nggak tahu lagi. Via juga ngeledek terus nih,” rengek Ify pada Agni. Wajahnya melas banget. Kayak anak kucing, minta ikan seekor.
       “Hmm…Be…..Blueberry,” jawab Agni.
       “Bingo!” seru Ify. Melet ke Via.
       “Bawang sama benalu,” ujar Agni lagi.
       “HAH???!!!” mata Via membelo. “Mana ada Agni, itu mah sayuran. Kalo benalu itu parasit,” sanggah Via.
       “Yeeee…..bawang mah bentuknya kayak buah. Biarin. Kalo benalu itu memang tumbuhan parasit. Ada buah-nya kan? Buah-nya itu bisa dibilang buah benalu? Ya kan?”
       Via tampak mikir. Kepalanya diteleng ke kiri dan matanya mengerjap-ngerjap. Ada-lah sekitar empat puluh satu detik Via berpikir. “Oke-lah gue terima. Baru lima tuh,” ucap Via.
       Agni, Ify dan Shilla berpikir keras. Buah yang pangkalnya B, apa yah? Via ada-ada saja sih. Jangan-jangan memang nggak ada. Ini kan tebak-tebakan, bukan ngajarin anak Tk mengenal buah-buahan. Atau apa memang ada? Dan hanya Via yang bisa menjawabnya??
       “Ah…..nyerah deh gue,” ujar Ify putus asa didukung dengan anggukan Shilla dan Agni.
       “Nyerah kan lo? Makan tuh gampang,” ledek Via.
       “Biarin.”
       “Apa jawabannya, Vi?” tanya Shilla.
       “Alah….gampang….tadi lo bertiga jawab, bengkoang, blueberry, belimbing, bawang sama benalu. Sisanya lagi, bisa pisang, bisa jeruk, bisa mangga, bisa anggur, dan bisa semangka,” jawab Via seenak udelnya dan tentu saja memancing amarah murka ketiga sohibnya.
       “VIIIIAAAAAA!!!!!” seru Ify, Agni dan Shilla serentak. Mereka dikibulin Via mentah-mentah nggak pake setengah masak lagi. Langsung!!!! Harusnya mereka tadi udah tahu kalau jadi begini, kan tadi itu si Sivia Azizah yang ngasih tebak-tebakan. Harusnya radar mereka itu udah jalan, kalau Via bakal ngasih yang aneh-aneh. Tuh buktinya.
       “Ihh….kan depannya udah be. Bisa mangga. Depanya be, kan?” ucap Via tetap  bersihkuku.
       “ANEH!!!!” sambar ketiganya kompak.
       Via cekikikan. “Namanya juga tebakan,” kilah Via.
       “Nggak aneh gitu juga tahu. Gue ngerasa orang yang paling BODOH!!!” ucap Ify.
       “Bukan lo aja, kita berdua juga,” timpal Shilla.
       “Hehhehe…..canda doang,” ucap Via cengengesan.
       “Kita bodoh, Via aneh. Udah ah, lanjut,” ujar Agni.
       Keempat sahabat itu kembali menekuni permainan mereka. Hompimpah alaiyugambreng. Mak rompang pake baju rombeng.
       “Asyiiiikkkk……..gueeeeeeee……..” seru Shilla heboh sendiri. Semoga aja tebak-tebakannya nggak sengacoh Via. Kalo iya? Shilla jadi orang bodoh bin aneh pula. Hahhhhaaa.

**********************************

       Alvin diam-diam melirik meja yang tidak begitu jauh dari tempat duduknya. Hebohnya meja tersebut membuat hatinya tergelitik untuk melihat ‘apa sih yang membuat mereka heboh?’. Kalau dari pengelihatan Alvin keempat gadis penghuni meja itu tidak melakukan apa-apa. Tapi, kenapa tingkahnya itu terlalu heboh? Muka cemberut-lah, tertawa-tawa-lah, manyun-lah, semuanya deh yang lah-lah. Parahnya lagi, kenapa dia tiba-tiba ingin tahu? Padahalkan, penghuni meja itu adik kelasnya yang miskin itu. Ntahlah…..
       “Alviiiiinnnn,” panggil Aren dengan nada manjanya.
       Alvin melirik Aren sekilas. Gadis ini selalu menempel padanya. Menyebalkan? Tidak juga. Alvin tahu jelas apa yang Aren inginkan darinya. Terlihat jelas dari gelagat dan tingkahnya selama ini. Jelas, gadis itu ingin menjadi pemilik sahnya Alvin. Maksudnya, pacar Alvin.
       Pandangan Alvin pindah ke Gabriel, Cakka dan Rio. Alvin sadar kalau ketiga sohibnya itu sedang menertawakan dirinya. “Apaan sih, Ren?” tanya Alvin akhirnya setelah mengirimkan tatapan tajam pada ketiga sohibnya itu.
       “Kenapa kamu diam aja sih, Vin? Kita kan lagi ngobrol,” tanya Aren dan sedikit cemberut. Lucu? Tentu tidak. Melihat wajah cemberut Alvin, Alvin sendiri jadi teringat pada wajah cemberut salah satu adik kelasnya miskin tadi. Wajah cemberut itu lebih enak dilihat ketimbang wajah cemberut Aren yang sudah dilapisi oleh bedak-bedak yang super tebal. Yaikksss……..
       “Emang ngobrolin apaan, Yo, Yel, Kka?” tanya Alvin.
       “Mana tahu, kan lo sama Aren yang ngomong berdua. Kali aja ngomongin hal yang privacy lo berdua,” jawab Cakka.
       Alvin menahan geramnya. Jelas Cakka meledek dirinya. “Kampret lo, Kka,” batin Alvin.
       “Jadi lo berempat nggak denger apa yang kita bilang?” tanya Nova. Jelas tadi mereka berempat plus empat cowok cakep ini membahas tentang rencana liburan ke Villa di akhir minggu ini.
       Cakka melirik Gabriel yang berada di sebelahnya. Gabriel malah melempar tanda tanya sebesar anak gajah ke Rio dan Rio dengan santai-nya melempat tatapan penuh tanya ke Alvin yang langsung dibalas Alvin dengan gelengan.
       “Tentang rapat guru?” tanya Rio. Bodoh!!! Memang tema guru rapat itu asyik dijadikan topic pembicaraan di kantin? Yang adanya, guru rapat itu waktu yang paling top untuk nongkrong di kantin. Ya kan??
       “Lo nggak denger juga, Yo?” kali ini Dea yang bertanya. Padahal dari tadi dia sudah hampir berbusa menceritakan tentang rencana liburan mereka dan bermaksud mengajak Rio dan kawan-kawannya ini.
       Rio mau mengangguk tapi nggak enak. Soalnya wajah Dea sudah hampir merah menahan amarah. Jujur, tadi Rio sendiri tidak begitu mendengarkan apa yang dibicarakan Dea karena ada sesuatu yang lebih menarik dari pada cewek cantik di sebelahnya ini. Tentu saja meja yang dihuni si Pinky itu menarik dirinya. Apa sih yang dimainkan oleh keempat gadis miskin itu? Memang ada ya permainan orang miskin yang asyik? Sampai-sampai si Pinky itu tertawa kemudian cemebrut lagi?
       “Rio….?” panggil Dea.
       “Hehehhe…. Nggak, De. Sorry ya,” jawab Rio sedikit cengengesan. Dia sebenarnya tidak begitu perduli lagi dengan apa yang dibicarakan Dea. Berhubung ada rasa kasihan, jadi kata sorry keluar dari bibirnya. Dia tidak perduli karena Dea bukan siapa-siapanya.
       “Biar gue yang jelasin lagi,” ujar Angel. “Gini, weekend nanti kita berempat mau ngadain acara di Villa-nya Dea. Acara seru-seruan gitu. Banyak deh acaranya. Misalnya gini…………….bla…..bla….bla….
Jadi kita berempat mau ngundang……………”
       HUAAAAHHAAAAHHAAAAHHAAAAAAAAA………… tawa meledak di kantin. Terlalu kencang. Angel yang berbicara saja langsung terhenti. Semua mata tertuju pada satu meja.
       “Parah lo, Ag. Lucu-lucu-lucu…..hahhhahha,” ucap Ify di sela-sela tawanya. Agni benar-benar deh. Tebak-tebakannya berani banget.
       “Siapa dulu dong? Agni gitu,” ujar Agni bangga dan menepuk-nepuk bahunya.
       “Idih….sok banget. Tapi memang top deh, dari pada tebakannya Via,” timbrung Shilla dan cekikikan mengingat tebakan yang Via kasih tadi. Masa buah, bisa mangga? Hahahhhaaa….
       “Tebakan lo juga kali, Shill. Mana ada tebakan bapak tidur, anak berdiri ibu hamil jawabannya angka lima. Lebih nggak masuk akal taaaaaaaaaaahuuuuuuuu……………” balas Via.
       “Bodoh!!! Yang penting tebakan Agni kocak,” timpal Shilla.
       “Lanjut….lanjut…. kita main lagi,” ucap Ify dan sudah siap-siap tangannya di tengah-tengah meja kemudian ketiga sohibnya juga ikutan.
       “Hompimpah alaiyugambreng. Mak rompang pake baju rombeng…..” nyanyi keempatnya dan tidak perduli kalau banyak pasang mata yang menatap mereka dengan berbagai ekspresi. Ada yang penasaran, ada yang bingung dan ada yang menatap mereka kesal penuh amarah.
       “Dasar kampungan. Lo berempat yang pake baju rombeng,” semprot Angel dan Dea yang telah berdiri di samping meja keempat gadis itu.
       Langsung saja permainan berhenti. Shilla, Ify, Via dan Agni sudah menatap kedua kakak kelasnya itu dengan tampang sewot. Memang dunia ini milik mereka berdua? Orang main aja nggak boleh. Syirik banget. Kalo mau main, main aja tuh. Nggak usah ngatain orang lain. Iri-an banget.
       “Kita gangguin elo?” tanya Agni.
       “Pasti. Suara tawa lo itu gangguin kita semua,” jawab Dea.
       “Oh ya? Terus tawa cekikikan mak lampir lo itu nggak ganggu pendengaran orang lain? Ini kantin punya lo?” tanya Shilla sewot.
       “Tawa kita bermutu. Tawa elo nggak bermutu. Mana ada cewek ketawa kayak kingkong gitu,” ejek Angel.
       “Kalo ketawa dijaga ya, cewek kampung. Ini di sekolah, bukan rumah elo. Image itu dijaga, jangan blak-blakan. Dasar orang kampung,” timpal Aren yang sudah bergabung dengan kedua sohibnya disusul oleh Nova.
       “Gitu ya? Jadi tawa elo bermutu? Berapa sih mutu tawa elo? Tingkat berapa? Pertama? Jadi kalo orang dengernya harus bayar dulu? Seperti itu?” tanya Ify beruntun. Sengaja. Biar kakak kelas sok-nya ini skakmat. Tak lupa senyum meremehkan.
       Angel terdiam. Sadar kalau adik kelasnya ini men-skakmat dirinya. Memang ada tawa yang bayar? Rasanya nggak deh, walaupun itu ketawanya Ratu Belanda.
       “Lo harus bisa bedain. Tawanya orang miskin sama orang kaya. Lagian kalian itu nggak punya image. Kampungan banget,” ujar Nova sinis.
       “Image ya? Image itu yang jaga ketawa gitu? Selalu bertingkah sok sopan, padahal dalam hati nggak. Atau image itu yang bersikap manja pada orang-orang itu?” tanya Via dan menunjuk kakak kelas mereka yang masih duduLok-duduk di kursi. Bravo…..selamat untuk Via. Dia sudah jadi pemberani. Plok…..plok…..
       “Lo?” tunjuk Dea tertahan. Merasa disindiri sih, makanya naik pitam.
       “Kenapa dengan kita? Marah dibilangin Via kalau kalian sok manja sama pacar-pacar kalian? Atau jangan-jangan mereka bukan pacar lo berempat?” tunding Shilla.
       Angel, Nova, Aren dan Dea benar-benar naik darah. Agni, Shilla, Via dan Ify benar-benar berhasil membuat mereka hampir mendadak malu. “Mereka memang……”
       “Kita bukan pacar mereka kok,” sambar Gabriel. “Yuk, Yo, Vin, Kka, balik ke kelas,” lanjut Gabriel dan bersama ketiga sohibnya pergi meninggalkan kantin.
       “Hahhhhaaa…… nggak diakuin sebagai pacar? Kasihan deh, lo berempat. Pergi yuk. Malu eh,” timpal Ify.
       “Huhuhu…… pacar nggak diakuin,” ejek Via dan mengikuti Ify.
       “Sakitnya….sakit banget,” ejek Shilla tidak mau ketinggalan dan bersama Agni pergi menyusul Ify dan Via yang sudah berdiri di lorong muka kantin.
       Sementara Dea, Angel, Nova dan Aren terdiam di tempat. Orang pertama yang berhasil membuat dia dan ketiga sohibnya malu dimuka umum. “Gue nggak tinggal diam. Awas aja mereka,” tekad Dea siap untuk balas dendam.
       “Gue juga, De. Gue nggak terima,” ujar Angel.
       “APA LO LIHAT-LIHAT????!!!!” bentak Nova dan Aren ke orang-orang yang menatap ke arah mereka ingin tahu.
       Hari ini benar-benar pelajaran buat mereka. Tidak menyangka akan dipermalukan seperti ini. Gila!!! Semua gila!!! Harusnya mereka itu belajar, jangan terlalu mengusik orang lain, kalau tidak mau diusik.

******************

 BERSAMBUNG....

Lovely Maid Part 7


                                        Lovely Maid Part 7



Hari minggu ini Rio benar-benar merasa bosan. Ketiga sohibnya mempunyai acara masing-masing. Apalagi Cakka, masa saat Rio menelpon si Cakka, Cakka bilang kalau hari ini ia ada kencan dengan delapan orang cewek. Parah banget tuh kan Cakka!! Playboy cap Jurik!!!!
       Rio sendiri tak begitu perduli dengan istilah pacaran. Ntah kenapa dia tdak memiliki keinginan untuk mempunyai seorang pacar. Bahkan mantanpun ia tak punya. Beda dengan Alvin dan Gabriel, mereka berdua memiliki mantan setahu Rio. Tapi sudah lama banget zaman SMP itu. Kalau Cakka jangan ditanya deh, mantannya bila dikumpulkan dapat membentuk dua tim sepak bola.
       Rio sendiri mengakui bahwa dirinya sering tebar pesona dengan cewek-cewek. Ia akui itu. tapi hal tersebut hanya untuk hiburan semata. Sedikitpun hati dan perasaannya tidak ikut campur. Ia tidak perudli dengan cewek yang terperangkap pesonannya. Masa bodoh!!!
       Bahkan Rio menyadari kalau Dea si Kapten Cheers juga anggota OSIS itu tertarik pada dirinya. Dea sendiri layak menjadi katagori pacarnya. Dea canitk, kaya dan paling penting sederajat dengannya. Dea bukanlah pilahan yang buruk untuk dijadikan pacar. Karena itu juga, Rio terkadang membiarkan Dea begitu dekat dengan dirinya.
       Namun  biarpun begitu, Rio tidak tertarik dengan Dea. Terpikir untuk menyatakan cinta pada gadis itu juga tidak. Sepertinya, Rio hanya akan menjadikan Dea stok ataupun pilihan terakhirnya untuk dijadikan pacar bila nanti ia tidak menemukan seseorang yang benar-benar membuatnya jatuh cinta.
       Kesendiriannya hari ini membawa Rio mengunjungi tokoh buku favorite-nya, yaitu Gramedia. Pemuda hitam manis itu memilih untuk menghabiskan Minggu siang hingga sore-nya di toko buku ini.
       Heran mengapa Rio memilih toko buku? Perlu diketahui bahwa Rio itu memiliki hobby membaca. Ia suka membaca buku bacaan berat seperti perbisnisan. Wajar sih, dia adalah pewaris Haling Cooparation. Dan karena itulah ia harus memiliki kemampuan dan pengetahuan yang luas. Untuk mendapatkan itu semua, dia harus banyak membaca.
       Dengan langkah santai dan tampang cool-nya Rio berjalan menuju rak dunia bisnis. Selama berjalan menuju tempat favorite-nya, Rio menyadari kalau banyak orang yang mencuri pandang ke arahnya. Ya seperti biasanya Rio selalu tampil mempesona. Rambut ala spike, jeans hitam dan kemeja biru yang digulung hingga siku dan sepatu kets yang melapisi kakinya membuat Rio tampak begitu keren. Namun Rio tidak perduli sama sekali dengan orang-orang yang terjangkit pesonanya.
       Saat ia melewati rak dengan lebel novel fantasi terjemahan, langkahnya terhenti saat mengenali orang yang membelakang dirinya. Perawakan orang itu tinggi langsing dan rambut panjang sebahu lebih namun kurang sepinggang serta bergelombang diujungnya. Rio mengenali sosok itu. Yeah…..itu adik kelasnya si Pinky.

       Sudut bibir kanan Rio tertarik. Ia terseyum. Rio tidak menyangka akan bertemu dengan ‘adik kelas’-nya ini. Adik kelasnya harus pakai tanda kutip, soalnya bagi Rio si Pinky ini bukanlah adik kelas biasa. Tetapi, si Pinky ini alias Ify adalah adik kelas yang paling anti dengan dirinya. Bila Rio bertemu dengan Ify, maka ia seperti melihat spanduk besar-besaran dengan tulisan ‘anti Rio’.
       Rio memperpendek jaraknya dengan Ify dengan cara memajukan langkahnya sebanyak enam langkah. Ia mendengar apa yang sedang Ify ucapkan, soalnya Rio mendengar suara seperti orang mengobrol, tentu saja itu Ify. Saat mengetahui apa yang sedang Ify ucapkan sulit untuk Rio agar mampu menahan tawanya supaya tidak meledak.
       Siapa juga sih yang tidak tergoda untuk tertawa saat melihat bahwa ada orang yang berbicara dengan buku dan menyebut buku itu dengan panggilan ‘lo’, seolah sedang berbicara dengan orang lain saja.
       Rio benar-benar berjuang untuk tidak tertawa. Apa yang Ify ucapkan untuk buku tersebut hanyalah sebuah janji untuk membeli buku tersebut. “Kocak,” pikir Rio. Iya lah, apa sih susahnya beli novel terjemahan yang dipegang Ify tersebut. Toh harganya Cuma Rp 56.000. Murah kali. Tapi yang Rio tangkap bahwa Ify menilai buku itu sangatlah mahal.
       Ooopss……baru Rio ingat kalau adik kelasnya ini miskin. M to the I to the S to the K to the I and the last to the N. MISKIN. “Dasar orang miskin,”batin Rio dalam hati. Sekarang ia benar-benar tidak tahan untuk tidak mengejek adik kelasnya yang sebenarnya tidak salah sama sekali bahkan tidak memiliki salah terhadap dirinya.
       “Heh miskin!! Ngapain lo di sini?? Mau ngutil lo??”

**************

       Ify tersentak kaget dan matanya terbelalak. Apa sih maunya kakak kelasnya di depannya ini yang sok sempurna ini ngatain dirinya, “Heh miskin!! Ngapain lo di sini?? Mau ngutil lo??”
       Nyeri yang dirasakan Ify. Ia sadar dan betul-betul menyadari kalau dirinya ini adalah orang miskin. Tidak seperti Rio yang kaya raya. Dia mau apapun pasti terpenuhi. Tidak seperti dirinya yang harus menunggu dan menunggu kapan keinginannya bisa terpenuhi. Karena keinginan tidak terlalu penting daripada kebutuhan.
       Tapi yang paling membuat Ify sakit hati adalah saat Rio mengatakan bahwa dia mau ngutil dan tidak layak untuk berada di toko buku ini Memangnya hanya orang kaya yang boleh mengunjung Gramedia? Hanya orang berkantong tebal ?? Tentu saja tidak. Siapa saja boleh datang ke sini dan kakak kelasnya ini dengan soknya mengatakan kalau dirinya tak layar untuk berada di toko buku ini. Ify juga mempunyai uang walaupun jumlahnya takkan pernah bisa mengalahkan jumlah uang jajan Rio untuk sehari.
       Seharusnya Rio tak perlu mengatakan dirinya berniat untuk mengutil. Bagaimana kalau orang lain mendengar. Bagaimana?? Apakah dia akan langsung dipukulin layaknya seorang maling. Tetapi, pastinya kakak kelasnya ini tidak perduli. Bahkan mungkin sangat senang.
       "Kenapa lo diem? Benerkan lo mau ngutil. Untung aja gue ngeliat elo. Kalau nggak? Jangan-jangan lo udah ngutil," ucap Rio dan Ify yang mendengarnya hanya mampu menahan nafas.
       "Dasar miskin lo!! Orang miskin itu nggak layak di sini. Tempat yang pantes untuk lo itu dipinggiran. Kan banyak tuh toko buku pinggiran. Jangan sok deh lo mau ke sini," ucap Rio lagi dan sangat sadis. Ia memandang Ify dengan tatapan ia sedang melihat kucing berada di pinggir got.

       Ify benar-benar tidak tahan untuk tidak memplaster mulut Rio ini. Harusnya Ify memanggil Rio dengan tambahan sufiks Kak di depannya. Jadi Kak Rio. Namun Ify ogah dan males banget!! Sorry-sorry aja ya!!!! Nggak sudi!!
       "Lo" tunjuk Ify di depan wajah Rio "jaga ucapan lo! Lo nggak perlu nuduh gue kayak gitu. Gue cukup sadar siapa gue," lanjut Ify.
       "Oh ya?" timpal Rio dan menaik turunkan alisnya sebelah. Meremehkan Ify tentunya.
       "Apa gue punya salah sama lo?"
       "Ada. Lo salah karena lo miskin," balas Rio sinis. "Beli novel itu aja lo nggak mampu. Lo bukan miskin lagi. Tapi miskin melarat," lanjut Rio.
       "Mau lo apa?"
       "Mau gue? Simple. Lo beli semua novel ini sekarang."
       Ify tahu dia akan kalah telak dalam hal yang berhubungan dengan uang. Ia harusnya tidak sampai emosian seperti ini. Ia harusnya tahu siapa yang menjadi lawannya ini.
       "Nggak mampukan lo? Banyak gaya lo. Sadar dong kalo lo itu miskin," ucap Rio sadis.
       Ify terdiam. Apakah dia salah kalau berada di sini? Bimbangkah ia? Semua novel itu tiga ratus ribu. Untuk ukuran Rio memang tidak mahal. Tapi, kalau untuk dirinya?? Itu sangat mahal. Uang segitu bisa untuk hidup mereka hingga sebulan.
       Yang paling tepat sekarang adalah ia tidak harus melawan Rio. Karena ia dan sohib-sohibnya lebih membutuhkan uang dari pada novel. Minimal untuk saat ini.
       "MISKIN...nggak usah sok," desis Rio dan memandang Ify dengan tampang jijik. Seperti takut kena kutu air.
       Ify memandang Rio, lebih tepatnya menatap Rio nanar. Gadis itu tak memberi perlawanan seperti biasanya. "Lo menang!! Lo tahu kalau gue nggak akan pernah mampu beli semua itu, walau itu novel favorite gue," ucap Ify sendu. "lo harus tahu, bagi gue uang tiga ratus ribu lebih berharga buat hidup gue sama sahabat-sahabat gue. Walaupun tiga ratus ribu buat elo itu nilai yang kecil," lanjut Ify. Entah dorongan apa yang membuat dia sampai berbicara seperti ini. Dadanya sesak dan air matanya mulai menitik di sudut matanya.
       Reaksi Ify membuat Rio tertegun. Rasa bersalah mulai menyergap dirinya.
       “Lo benar. Terima kasih sudah ngingetin kalau gue itu miskin," ucap Ify lembut. Rio diam saja. Ia tahu gadis di depannya ini terluka. "Iya lo selalu benar, Kak Rio. Asal lo tahu, buat beli buku resep kue brownies itu aja gue nggak mampu. Padahal cuma lima ribu. Gue miskinkan? Tapi, bagi gue uang lima ribu itu lebih berguna untuk biaya makan sehari-hari gue," lanjut Ify. Bola mata itu menatap Rio sayu. Rio tak bisa berbicara apa-apa lagi. Ia tak sanggup mengeluarkan ucapan kasarnya. Tidak sanggup saat suara Ify yang didengarnya seperti orang yang sangat terluka. Dadanya sesak. Kini yang ada hanya perasaaan yang begitu besar untuk memeluk adik kelas yang berada di depannya ini. Ia terasa begitu terluka saat bola mata yang selalu menatapnya tajam itu mengeluarkan cairan bening walau secara samar.
       "Oke gue permisi. Terima kasih udah ngingetin gue kalau gue miskin. Anda baik sekali, Kak Rio," pamit Ify. Ia meletakan novel yang berada digenggamanya tadi ke tempat semua. Lalu berjalan meninggalkan Rio dan kemudian ditelan oleh rak-rak buku.
       Rio masih terdiam. Rasa bersalah itu memenuhi rongga-rongga dalam dirinya. Ia merasa bahwa dirinya sudah terlalu jahat. Ingin dia raih adik kelasnya itu. Tapi, rasa gengsi dan arrogant yang mendominasi dirinya mampu mengalahkan semua nuraninya.

       "Itu hal yang wajar karena dia miskin," ucap Rio dan meninggalkam tempat yang nantinya -mungkin- menjadi suatu kenangan dalam hidupnya.

*************

BERSAMBUNG

You're Only for Me


                               You're Only For Me




Prolog

Ketika kau menemukan cintamu, apa yang akan kau lakukan bila kau berjauhan dengannya??
Kau mencintainya, tapi dia sulit untuk kau gapai
Kau dan dia berjauhan
Dibatasi oleh beribu pulau dan lautan yang membentengi kau dan dia.
Kau mencintainya begitu lama
Menunggunya hingga kau tak yakin akan sanggup bertahan
Mimpi-mimpimu begitu banyak tentang dirinya
Begitu juga dengan harapanmu, harapan yang begitu besar agar kau bisa bersamanya
Bertemu dengannya. Menatap wajahnya
Kau bahkan hampir menyerah…..
                                                    
Namun….takdir berkata lain…

Kau diberikan kesempatan untuk bertemu dengannya, apa yang akan kau lakukan??
Menyia-nyiakannya atau kau akan menggunakan sebaik-baiknnya
Dan yang paling diharapkan adalah kau menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya….
Karena kesempatan belum tentu datang dua kali….
Dan kau harus tahu……kau tidak tahu bagaimana perasaannya terhadapmu….
Kau harus ingat….kau telah mencintai seseorang yang pernah bersamamu
Dan itu tidak pernah menutup kemungkinan, kalau seseorang itu tidak mencintaimu….
Jadi….apakah kau akan menggunakan kesempatan itu????

*******************************************************************************

“KYAAAAA……..RIO……RIO…..RIO…..”

“HUAAAAA……..RIO……RIO…….”

“RIO……RIO……RIO………”

Teriakan RISE. Rio Fans Site menggema di Café D’ Clmaur. Pemuda hitam manis asal Manado yang tengah duduk di depan –tentu saja bintangnya utama pada acara ini– tersenyum menanggapi antusiasme para fans-nya.

Ya memang. Saat ini dia sedang mengadakan M n G a.k.a Meet and Greet –seperti jumpa fans gitu– di Banjarmasin. Dia sungguh bersyukur, walaupun dia belum termasuk dalam golongan artis Indonesia, minimal dia kini di kenal oleh banyak orang se-Indonesia, apalagi dunia maya. Siapa sih yang nggak kenal dengan seorang Mario Stevano yang lumayan sering dipanggil Rio Stevadit sesuai dengan akun jejaring sosial twitter yang ia miliki??

Dia memang patut kudu wajib harus bersyukur. Dia memang belum menjadi artis Indonesia secara resmi, tapi ia perlu tahu. Kalau RISE se-Indonesia dari Sabang hingga Marauke selalu setia mendukungnya dan mendo’akannya agar benar-benar menjadi seorang artis. Bukan hanya seorang artis, tapi public figure yang benar-benar pantes. Mulai dari bakat yang ia miliki hingga attitude yang oke sesuai sebagai artis. Ia tidak mau menjadi artis yang hanya bagus di luarnya saja dan jelek dalam moralnya. Ia tidak mau mengecewakan para fans-nya. Mengenai artis yang memiliki good attitude, Rio jadi teringat seseorang. Seseorang yang pernah berbagi kata-kata motivator dengan dirinya, memberinya semangat sebelum ia berjuang dalam Grand Final Idola Cilik 3. Acara music anak yang telah membesarkan namanya. Tentu saja ajang music anak bergengsi yang telah mempertemukan dirinya dengan artis yang memiliki good attitude tersebut.

Mengenai artis yang memiliki good attitude itu, tentu saja semua orang juga tahu siapa. Rio menilai artis itu a.k.a teman duet-nya di Grand Final Idola Cilik 3 sebagai sosok yang cuek bila dipandang dari luar dan kadang terkesan jutek. Tapi siapa yang tahu kalau bila dekat dengan sosok itu, maka akan menemukan kejutan yang tak kau duga.

Memang benar begitu, karena dirinya pernah mengalaminya sendiri. Dia sendiri, awalnya tidak yakin pada keputusan pihak Idola Cilik yang menyuruhnya duet dengan Ify. Ya namanya Ify, alumni Idola Cilik 1 tahun 2008. Soalnya Ify terkenal dengan sifat diam, dingin dan cueknya di kalangan Idola Cilik kecuali sahabatnya dan finalis Idola Cilik 1. Berhubung Rio adalah idola cilik 3, jadi ia tidak tahu mengenai Ify secara utuh dan jelas. Ia hanya tahu kalau Ify itu pendiam, dingin dan cuek terkadang jutek. Ia juga tahu, kalau Ify hanya dekat dengan Sivia dan Gabriel, sahabatnya. Rio ingat, kalau Gabriel adalah satu-satunya sahabat cowok Ify. Seolah-olah pernyataan itu mengatakan kalau Gabriel adalah orang yang ‘special’ untuk Ify. Bukan sekedar sahabat belaka. Menyadari gagasan itu, membuat Rio tidak suka.

Rio segera menghela nafas sejenak. Menghilangan kenangan tersebut dari dirinya, tapi untuk saat ini saja. Tidak akan untuk selama-lamanya. Karena kenangan saat ia bersama Ify adalah anugerah terindah yang pernah ia miliki. Sekarang ia harus fokus dengan acaranya. Bukankah ia tidak mau mengcewakan RISE-nya?? Dia sendiri mengatakan, bahwa RISE adalah anugerah terindah yang pernah ia miliki. Lagi-lagi ia jadi teringat dengan Ify, karena kata-kata itu sama dengan apa yang Ify katakan pada fans club Ify sendiri, IFC adalah anugerah terindah yang pernah ia miliki.

Rio menggelengkan kepalanya. Ia harusnya tidak mengingat itu semua pada situasi sekarang ini. Ia hanya perlu fokus pada meet and greet-nya. Jangan sampai ia bertingkah aneh dan ganjil sehingga mengundang perhatian fans-nya dan tentu saja membuat banyak orang kecewa. Ia memang perlu fokus, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya bahwa ia RINDU dengan seorang yang telah berjuang bersamanya di Grand Final tersebut. Bukan rasa rindu biasa, karena ia menyadari kalau dia telah terpesona dengan sosok tersebut.

Rio kembali menatap para fans-nya yang masih saja meneriaki namanya. Ia tersenyum lebar. Sudah tahu semua kan kalau senyum Rio itu adalah senyum malaikat dan tidak ada orang yang mampu menolak senyum tersebut. Dampak senyum tersebut, ya tentu saja RISE berteriak histeris.

Bagi semua artis, kekaguman dan antusias yang diberikan fans saat melihat dirinya tentu saja menjadi kekuatan tersendiri untuk bangkit karena fans-lah yang membangkitkan motivasi untuk terus berkarya dan menjadi yang terbaik. Karena itu juga, Rio lebih suka memiliki fans yang akan menegurnya bila ia berbuat salah dan akan terus mendukungnya untuk maju. Bukan fans yang mengidolakannya dari sisi negative juga positive. Karena Rio membutuhkan orang-orang yang mampu memberikan yang baik untuk dirinya, maka ia akan memberikan yang lebih baik. Maksudnya, bila ia salah ia diberi tahu hingga ia menjadi lebih baik.

Untuk menanggapi antusiasme para fans-nya Rio selalu menyambut baik setiap undangan Meet and Greet dirinya bila tidak terhalang dengan jadwalnya yang lain. Perlu dikasih tahu lagi, walaupun ia jarang masuk televise siapa yang nggak tahu kalau dia artisnya You Tube. Berbagai video menyangkut dirinya dan Meet and Greet-nya terhambur dengan banyaknya di You Tube. Sama dengan jumlah fans-fans dirinya.

Rio sejenak mampu menghilangkan ingatan itu, namun mengingat kata fans, ia jadi teringat kembali. Gadis berdagu tirus itu sungguh beruntung. Ya beruntung menurut Rio, karena Rio juga tahu kalau Ify memiliki fans yang sangat perduli dengan Ify.  Ia terkadang tidak sengaja membaca tweet-tweet-nya fans Ify. Tweet-tweet fans Ify tidak hanya berisi kata-kata minta follow back, keinginan fans, tapi juga koreksi mengenai diri Ify. Sungguh beruntung bukan?? Dan menurut Rio lagi, Ify wajar mendapatkan hal tersebut karena Ify sungguh luar biasa. Dan lebih luar biasanya lagi, Rio benar-benar tidak bisa menapik kata-kata yang teriang-iang dalam hatinya. Kata-kata itu terus menggema dalam benaknya. Ya, dia tidak bisa memungkiri bahwa ia merindukan Ify Alyssa. Ya…..dia merindukan sosok Ify. Berapa tahun-kah ia tidak bertemu dengan Ify?? Satu…..dua tahun….ya selama itu. Waktu selama itu tentu saja membuatnya rindu.

“RIO…..NYANYI…..NYANYII……!!!!!” seru fans-fans Rio.

Rio mengangguk dan segera berdiri, karena dari tadi ia istirahat sejenak sambil duduk di kursi yang telah disediakan. Rio mengatakan sesuatu pada seseorang tanpa suara. Ya ia mengatakan kalau ia akan menyanyikan lagu Merindukanmu milik d’masiv. Pilihan lagu itu memang tepat, karena saat ini ia merindukan seseorang dan kalian sudah tahu itu siapa.

**************

“Priss, Febb, Fy udah siap belom?” tanya cewek berpipi chubby yang kini telah siap dengan kostum untuk hari ini. Tentu kalian sudah berkata sendiri bahwa cewek berpipi chubby itu ‘pasti Sivia’. Ya kalian benar, gadis chubby itu adalah Sivia. Tepatnya Sivia Blink.

“Udah dong, Vi,” jawab Febby. Member Blink yang sudah kelas XII SMA. Padahal, umurnya tidak jauh beda dengan Ify Blink yang kini baru kelas X SMA. Tapi, walaupun muda, Febby bersikap dewasa dan cocok sebagai siswi kelas XII SMA.

“Nah gitu dong,” balas Via riang. Ia tersenyum lebar saat ini.

Hari ini, tepatnya pagi ini BLINK akan tampil di Inbox. Acara music yang sudah sangat terkenal di tanah airnya dan digawangi oleh stasiun TV bernama SCTV. Siapa sih yang tidak tahu inbox?? Pasti pada tahu semua tentang inbox. Acara music yang sering menampilkan artis-artis Indonesia. Karena mereka termasuk bintang tamu diinbox, berarti mereka sudah termasuk artis Indonesia. Memang benar. Walaupun pernah tampil di dahsyat –acara music yang sama dengan inbox namun beda stasiun TV–, tapi waktu itu mereka bukanlah artis, tapi finalis Idola Cilik. Finalis Idola Cilik tentu saja Ify dan Via. Sedangkan Prisilla adalah anak Musikal Laskar Pelangi  dan Febby adalah artis cilik. Febby memang sudah menjadi artis sejak dulu. Film yang pernah ia bintangi adalah Eneng dan Kaos Kaki Ajaib. Semua orang sudah pada tahu  tentang film tersebut.

Kembali dengan member Blink, salah satu member tersebut duduk di depan meja riasnya. Ia gadis manis dengan dagu tirusnya. Gadis itu melamun. Saat sedang membubuhkan bedak ke wajahnya, ia jadi teringat akan seseorang. Ternyata dari tadi gadis itu melamun, teringat dengan acara music yang dulu ia dan Via ikuti. Peristiwa yang sangat ia ingat adalah saat ia tersisih dari idola cilik 1. Saat itu ia ingat sekali, dirinya menangis lantaran tidak akan melanjutkan perjuangannya di pentas idola cilik 1. Namun ia berhasil melewati kesedihan itu karena dukungan dari orang tua-nya teman-temannya dan IFC. Ify Fans Club. Ia bersyukur memiliki IFC. IFC adalah anugerah terindah yang pernah ia miliki.

Sebenarnya bukan hanya itu yang ia ingat. Karena ada satu kenangan yang tak mampu ia hapus dalam benaknya. Dan dirinya tidak akan pernah ingin menghapus kenangan tersebut. Karena baginya, kenangan itu sama dengan anugerah terindah yang pernah ia miliki. Ia juga selalu berdoa, agar yang di sana juga mengenang dan menganggap kenangan tersebut adalah anugerah yang pernah ia miliki.

Dua tahun silam, ia ingat kejadian itu terjadi pada dua tahun silam. Saat ia diundang untuk menjadi pengiring piano finalis Idola Cilik 3 yang berhasil menuju Grand Final. Saat itu ia bersama Agni. Dan yang tidak membayangkan, kalau dia nanti akan berpasangan dengan seorang anak laki-laki. Ntah yang dari Padang atau Manado, ia tidak tahu. Saat itu, ia ingat kalau dia akan berduet dengan finalis yang mana setelah Mama Ira memberi tahu dirinya. Dan ia akan berduet dengan Rio. Mario Stevano asal Manado dan Agni dengan Lintar tentunya.

Saat itu, Ify juga teringat. Bagaimana hubungannya dengan Rio selama mereka latihan. Awalnya Ify menangkap bahwa Rio sedikit takut dengan dirinya. Padahal apa sih yang harus ditakuti dengan dirinya. Nggak ada kan?? Ify tersenyum saat mengingat perkenalan pertamanya dengan Rio walaupun dia sudah tahu siapa Rio.

Flashback on

“Aku Rio, salam kenal ya. Kamu siapa?” ucap dan tanya Rio saat ia memperkenalkan diri. Sebenarnya Rio sedikit was-was saat mengajak Ify berkenalan. Rasa takut, penasaran dan malu-malu menyergap dirinya. Rio mengulurkan tangan kananya.

Ify melihat tangan yang terulur pada dirinya. Ify menyambut tangan itu. “Aku Ify. Salam kenal juga ya, Rio,” ucap Ify. Tak lupa senyum yang terkembang pada wajah manisnya.

Melihat senyum tersebut, Rio jadi ikut tersenyum. Dan perlu diketahu, keajaiban dunia ke delapan terjadi. Rio dan Ify saling melempar senyum dengan malu-malu.

“Ayo Ify, aku dan kamu berjuang sama-sama ya. Jadi teman,” ucap Rio.

Ify mengangguk malu-malu dan balas tersenyum juga. Lalu ia menyadari, bahwa Rio menarik tangannya dan membawa Ify menuju tempat latihan.

Flashback off

Rio…..sudah lama ia tidak bertemu dengan pemuda tersebut. Sudah lama ia tidak melihat sosok itu secara langsung dengan kedua matanya. Namun, ia tahu Rio selalu baik-baik saja dan akan baik-baik saja. Tentu saja Ify melihat tentang kabar Rio di twitter dari tweet fans-fans-nya yang berserakan di time line.

Rio sekarang bagaimana?? Pertanyaan pertama yang terlintas dalam benaknya saat ingat tentang Rio. Perjumpaan dirinya dengan Rio waktu itu seperti takdir saja bagi dirinya, karena ia merasa dekat dengan Rio membuatnya tenang dan nyaman. Tidak seperti saat ia dekat dengan cowok lain. Ralat, cowok lain yang mendekati dirinya.

Oh My God, dia benar-benar rindu dengan Rio. Kangen dengan duet mereka di Grand Final idola cilik 3. Rindu saat Rio memanggil dirinya dengan suara Rio yang ia suka. Rindu saat Rio berkata ‘semangat, Fy. Kita berjuang bersama’. Waktu itu mereka memang berjuang bersama. Dalam satu panggung yang sama dan waktu yang sama pula.

Ify mendesah dan menghela nafas sejenak. Sepertinya ia benar-benar merindukan sosok Rio. Ify ingin sekali melihat pemuda hitam manis itu. Kalau bisa bertemu, ia ingin sekali. Namun masalahnya sekarang, Rio ada di Manado dan dirinya di Jakarta. Kapan bisa bertemunya dan di mana??

Blink juga tidak ada acara dan belum pernah ada acara yang membawa mereka ke Sulawesi Utara. Hmm….. Ify salah. Blink pernah ke Manado namun sayangnya ia tidak bertemu dengan Rio. Ingin sekali ia pergi ke Manado sekali lagi. Tentu saja dengan harapan akan bertemu dengan Rio. Siapa lagi alasan yang membawa dirinya untuk terbang ke Manado kalau bukan Rio??

Ify menghela nafas lemah. Ia benar-benar rindu dengan Rio. Tidak salah lagi. Ia benar-benar rindu dengan pemuda tersebut. Tidak ada alasan terlalu khusus, hanya saja sepertinya ia menyukai pemuda hitam manis itu walaupun secara diam-diam. Ya memang diam-diam, karena di antara member Blink lainnya hanya Ify yang belum pernah pacaran. Sahabatnya Via, pernah pacaran walaupun tak terlalu lama. Sedangkan sahabatnya yang lain, Prissy dan Febby, mereka berdua mempunyai pacar. Kenneth dan Derby.

“Fy…..cepetan. Udah segmen kita,” ucap Pricilla membuyarkan lamunan Ify. Dilihatnya ketiga sahabatnya berdiri di depan pintu. Ternyata menunggu dirinya. Ya dia terlalu asyik melamun.

Ify mengangguk cepat dan sepertinya ia harus menghilangkan pikirannya tentang sosok seorang Mario. Dia harus fokus untuk acaranya hari ini. Ia tidak mau mengecewakan IFC dan Blinkstar, karena mereka telah memberikannya yang terbaik. Yang selalu mendukungnya.

Saat Ify tiba di depan pintu dan bergabung dengan ketiga sohibnya, mereka berempat barbie-barbie cantik itu berjalan bersama menuju panggung. Febby dan Pricilla berjalan duluan. Kelihatnya mereka sangat bersemangat sekali.  Sedangkan dia dan Via mengekor di belakang dan berjalan dengan santainya.

“Fy, mikirin dia ya?” tanya Via tiba-tiba yang sukses membuat Ify melongo. “Jangan bo’ong deh, gue tahu kok. Pasti Rio-kan??” tanya Via lagi dengan volume suara yang kecil. Ia tahu kalau Ify tidak mau orang lain tahu. Sahabatnya tidak mau orang lain tahu.

Ify melotot. Kenapa Via bisa tahu sih? rutuk Ify dalam hati.

“Fy?” panggil Via.

“Iya, Vi,” jawab Ify akhirnya.

Via mengangguk paham dan menepuk bahu Ify dengan sayang. Sayang sebagai sahabat. “Sabar ya, Fy. Lo pasti ketemu sama dia kok,” ucap Via tulus. Ify hanya mengangguk sebagai balasannya.

“Rindu banget ya, Fy. Dua tahun, sih,” ucap Via lagi. Ify menoleh ke arah Via. “Pantes aja lo ngebuat lagu Andaikan. Ternyata itu ya maksudnya,” lanjut Via dan tersenyum.

“VIAAA………….” Seru Ify tertahan. Saat ini Ify benar-benar tidak mampu menahan dirinya lagi. Ia ingin sekali melakban mulut Via. Ember banget sih soalnya. Bagaimana nanti kalau ada yang tahu?? Bisa-bisa menjadi berita yang sangat heboh.

Peace, Fy,” ujar Via. Ify manyun dan cemberut.

“IFY…..VIA…..cepetan!!!!” panggil Febby dan Pricilla serentak. Via dan Ify mengangguk kompak. Lalu, Ify merasa kalau tangannya ditarik Via. Gadis chubby itu selalu bersemangat. Sepertinya untuk saat ini, Ify harus mencontoh Via. Ia harus semangat untuk memberi yang terbaik bagi IFC dan Blinkstar. Ya….memang seharusnya begitu. Dan walaupun di dalam hatinya nama Rio-lah yang selalu bergemma. Rio. Mario. Mario Stevano Aditya Haling.

*************

Sudah seminggu sejak kepulangannya dari Banjarmasin. Rio berbaring di ranjangnya sambil bermain laptop, tentu saja browsing sambil membalas tweet-tweet fans-fans-nya. Dia sudah berbicara pada Bundanya untuk beristirahat selama sebulan ini. Ia ingin mengistirahatkan otot-ototnya. Ia lelah lantaran harus terbang dari daerah satu ke daerah lainnya. Dari Padang ke Banjarmasin kemudian ke Yogyakarta. Dia bisa-bisa pingsan bila selalu berpergian jauh.

Rio tersenyum-senyum melihat tweet-tweet fans-nya. Selalu menanyakan kabarnya dan minta dibalas mention-nya. Pasti Rio akan membalas mention fans-nya tersebut, namun tidak semuanya. Setelah merasa cukup membalas mention-mention dari fans-nya, Rio mengklik bagian search dan menuliskan nama user @ifyalyssa. Siapa yang mengira kalau selama ini Rio menjadi stalker-nya Ify? Ia mengklik nama itu untuk mengetahui sesuatu tentunya.

Saat nama itu muncul Rio langsung mengklik nama itu dan dengan connetion internet yang cepat, layar laptop-nya langsung dipenuhi dengan profil akun twitter @ifyalyssa. Ya, tentu saja akun twitter Ify. Ia ingin mengetahui kabar Ify. Karena dengan cara inilah ia mengetahui tentang Ify, walaupun ia tahu kalau dia tidak bisa berharap banyak pada apa yang Ify tweet-kan pada twitter-nya. Karena tweet Ify, sering berkelang banyak sekali. Maksudnya, seperti ini lho. Sejak dua hari yang lalu, tiga hari yang lalu, 24 Desember. Jarang sekali sejak 3 hours ago, 45 second yang lalu. Jarang....jarang dan jarang!!!!

Sekarang Rio juga tidak menemukan info-info yang lebih terbaru. Hanya mendapatkan info tentang Ify dan teman-temannya di Blink akan tampil di Atlantis. Right. Menjadi bintang tamu. Membaca apa yang Ify tweet-kan membuat Rio tersenyum. Pemuda itu membaca tweet-tweet Ify sambil tersenyum-senyum dan setelah merasa tidak ada yang terbaru, Rio segera menutup akun twitter-nya. Ia exit.

Namun, ia tidak berhenti untuk browsing. Iseng, Rio mensearch di google dengan keyword RISE Rio Fans Site dan dalam hitungan detik ia langsung mendapatkan begitu banyak halaman yang berhubungan dengan Rio.

Rio tersenyum sendiri dan terkadang di selingi dengan tawa saat membaca apa saja yang ditulis oleh fans-nya tersebut. Kemudian berbagai foto dirinya terdapat pada halaman tersebut. Giat sekali fans-nya ini mengumpulkan informasi tentang dirinya. Rio geleng-geleng kepala.

Lalu ia mencari halaman yang lain dan mengklik-nya. Salah satu blog ia buka. Background blog itu saja foto dirinya. Rio tidak bisa membohongi dirinya kalau ia merasa senang karena hal itu. Ia membaca posting-posting yang terdapat di sana. Satu posting yang menarik perhatiannya.

Rabu, 06 April 2012

Udah lama ya gue nggak posting?? *memang ada yang nungguin??*  Bodoh ah!! Blog-blog gue juga, kenapa pusing sama orang lain.

Kangen sama semua yang berhubungan dengan Rio, hehehhe….. soalnya udah lama nggak cari info tentang si Masbos Rio, Presidennya RISE. Community gue dong!!!

Sebenarnya mah commun gue bukan cuma RISE, tapi IFC juga J. Bagi gue, Rio sama Ify itu bukan sekedar idola. Tapi, orang-orang yang memberi gue semangat untuk menjadi lebih maju. Gue belajar dari Rio untuk tetap rajin. Ya lah, masbos gue itu rajin banget, apalagi belajar. Masa pulang-pulang sempat-sempatnya belajar fisika?? Kalo pulang dari berpergian ya tidur dong, kan udah malam. Bukannya belajar. Kerajinan banget mah Rio-nya. Tapi, karena itu membuat gue jadi rajin juga. Gue jadi lebih semangat buat belajar. Makasih ya, Rio J

Rio tersenyum membaca bagian ini. Ternyata dirinya juga memberi teladan yang baik untuk para fans
nya. Lalu ia menggerakan kursornya ke bawah, melanjutkan bacaannya.

Kalau dari Ify gue belajar bagaimana untuk tetap tenang saat ada yang mengata-ngatain dia di belakang. Jujur gue nggak respect banget sama commun sebelah (just story), ya nggak gitu juga ngata-ngatain IFC. Gue yang IFC jadi kesel sama mereka, serasa nggak pernah punya salah saja. Padahal salah mereka mah seabrek. Dikit-dikit IFC yang salah IFC sampai-sampai idolanya itu nyalahin IFC. Ngaca dong, fans siapa yang salah. Baru nyalahin orang lain. Gue sama IFC lainnya juga tahu kali kalau IFC pernah buat salah dan kami sadar akan hal itu dan minta maaf, lha mereka?? Nggak pernah merasa bersalah saja!! Huh….LOL!!! Parahnya lagi mereka ngata-ngatain Ify yang sangat tidak pantas. Bego nggak tuh, nggak tau Ify sok-sok ngatain lagi. Urusin aja idola lo yang belum bener itu!!!

Rio berhenti sejenak saat membaca paragraph ini. Dia sedikit tahu tentang hal ini. Ia tahu kalau fans Ify adu bacot dengan fans-nya sesama teman idola ciliknya sendiri. Shilla, kalau tidak salah benar. Lalu ia lanjut membaca.

Udah ah bahas mereka, nggak penting. Seperti kata teteh, keep clam. Lalu, gue belajar dari Ify tentang bagaimana arti dari talk less do more. Semua orang juga tahu apa itu talk less do more, tapi yang gue belajar dari Ify itu bagaimana talk less do more yang sesungguhnya. Bangga gue sama teteh, dia diam-diam aja tiba-tiba muncul dengan lagu ciptaannya sendiri. Bangga woi…bangga….. Lagu Andaikan. Ciptaan pertama tetah. Lagunya tentang galau.

Ngomong-ngomong tentang galau, gue jadi ingetkan sama RFM. Rio Ify Maniacs. Commun gue yang satunya lagi tuh. Hehehehe….. jadi commun gue itu ada 3, RISE IFC dan lahirlah RFM. Bagi gue Rio sama Ify itu cocok banget tahu nggak sih lo semua. Pasti pada tahu semua-lah, toh yang nge-idolain Rio Ify bukan gue aja. Banyak tahuuuu…… Kapan ya mereka bisa bersama?? *ngayallama*

RFM bagi gue itu keluarga, tahu nggak lo. Gue seneng banget karena jatuh cintanya sama couple RiFy. Gue ngerasa pilihan gue ini sangat benar. Para RFM itu sumpah luar biasa. Bisa edit foto RiFy coy….bisa…..Bukan nge-dit biasa ya dong. Tentu saja editan yang benar-benar wow dong….. kayak asli suer deh. Boleh cek sendiri hasil karya anak RFM, nanti lo semua bakal ngakuin gimana kreatif-nya anak RFM. Bukan Cuma foto, buat movie juga bisa. Keren lagi. Yang paling keren lagi itu cerpen cerbungnya anak-anak RFM. Luar biasanya. Amazing. Semua RFM gue saranin buat baca Song Of Love punyanya Kak Sari, lo bakalan nggak bisa berhenti baca. Terus, cerbung Kak Tri Susilowati yang TACI, keren juga. Tapi belum dilanjut, cepet dong lanjut, kakak L.

Sebaik-baik RFM, toh ada juga yang ngiri sama RFM. Dasar orang-orang nggak guna, makan tuh iri. Eh…ngatain mereka juga nggak, malah ngatain RFM. Syirik kali yak sama RFM. Wajar sih, kami-kan commun ter-oke dengan couple the best. Huh…..biarpun kami nggak punya banyak fakta tentang Rio Ify, belum tentu juga-kan mereka nggak saling kenal dan hei…bisa saja suka tahu. Siapa yang tahu tentang perasaan Rio sama Ify yang asli, nggak usah sok deh. Biarpun arsip berharga RFM hanya sebuah video duet mereka, tapi itu yang paling berharga tahu. Mana ada yang tahu tentang latihan mereka untuk duet. Siapa  yang tahu tentang kedeketan mereka selama latihan?? Nggak adakan kecuali Rio, Ify dan Tuhan yang tahu. Dan bagi lo  (commun yang iri sama RFM) nggak usah sok ngata-ngatain RFM. Jaga tuh mulut sampah lo!!!!

Udah dulu deh, post gue kali ini. Panas gue ngingat commun nggak penting itu. Buat, RFM….Regard to fellow Rify Maniacs. Dare to be Sellow, key!!!!

Last, love Ify love Rio be RFM. Rify Maniacs J.

Postingan blog itu berakhir. Rio merasa RFM itu nggak asing. Aha….iya-iya, commun yang ia resmikan pada 24 Oktober itu. Dia ingat. Rio ingat. Nggak dia sangka commun itu akan berkembang seperti ini. Membaca tentang RFM, Rio sebenarnya memiliki tujuan yang sama dengan RFM. Ia memang menyukai Ify dan ingin bersama dengan gadis manis itu. Tapi caranya bagaimana?? Toh mereka berjauhan gitu.

Ify…..Ify…..benak Rio penuh dengan nama itu. Kapan-kah dia bisa bertemu Ify?? Besok?? Minggu depan?? Bulan depan?? Atau tahun depan?? Dia benar-benar merindukan sosok tersebut. Rio mengusap rambutnya dengan jari-jarinya. Frustasi!! Dia kangen sama Ify.

“Kapan ya gue ketemu sama lo??” gumam Rio. Ia menggerakan kursor dan meng-klik exit pada tab dan menuju google lagi. Mengetik pencarian dengan kata kunci Rio Ify Maniacs. Dengan cepat muncul berita-berita tentang Rio Ify, bahkan foto-foto juga bermunculan.

Saat melihat foto hasil editan para RFM, semburat merah menghiasi wajah Rio. Ia benar-benar tidak menyangka akan menemukan foto itu. Dia dan Ify….ehem…begitu cocok. Ya….memang seperti itu. Beruntunglah para RFM itu karena siapa sangka bahwa idola mereka sangat menyukai hasil karya mereka. Suatu kebanggaan bukan???

Lalu merasa penasaran dengan cerpen-cerpen yang ditulis para RFM Rio membuka beberapa. Setelah membaca dengan kecepatan kilat ia merasa jadi iri dengan karakternya di cerbung. Bayangkan, di cerbung itu dia berdekatan dengan Ify. Satu sekolah, satu kelas dan dia selalu menganggu Ify. Reaksi Ify yang begitu menarik bagi dirinya. Ending dari cerbung itu pasti dirinya dan Ify jadian.

Rio menghela nafas. “Kapan gue jadian sama Ify kayak di cerbung itu?” gumam Rio lagi. Ia menutup semua tab yang ia buka. Dia berhenti browsing dan menutup laptop-nya tentu saja setelah mengkilik shut down. Dia benar-benar sudah jatuh cinta dengan Ify dan masalahnya apakah Ify akan menyukai dirinya juga?? Dicerbung-cerbung itu, saingan Rio ada Gabriel dan Debo. Rio tahu Gabriel dan Debo orang yang cukup dekat dengan Ify.

“Gue kangen sama lo, Ify,” ucap Rio dan kemudian memilih untuk tidur. Mungkin perasaannya akan lebih baik.

***********

“Woi, Ify,” panggil Via dan mengambil tempat duduk di sebelah Ify. Sahabatnya ini sedang menikmati waktu istirahat di taman sekolah dan kini Via menemaninya. Via baru saja dari kantin.

“Apaan sih, Via?” tanya Ify.

“Nggak ada sih. Tapi lo diem mulu, gue-kan mau cerita sama lo,” jawab Via dan menampilkan cengiran khas Via. Ify dan Via memang satu sekolah dan satu kelas. Dua gadis cantik itu bersekolah di Global Nusantara International Senior High School. GNISHS.

“Sekarang mau cerita apa?” tanya Ify lagi mencoba memberi perhatian padahal dirinya sedang memikirkan hal yang lain.

“Gue bingung, Fy. Tepatnya Febby sama Pricilla juga,” ucap Via memulai ceritanya. “Para Blinkstar pada minta sequel-nya lagu Andaikan. Itukan lo yang buat lagu, harusnya lo yang ngelanjut itu lagu. Lagian kita bertiga juga nggak bisa buat lagu,” lanjut Via.

Ify melotot saat Via bilang sequel. Memang novel?? Cerpen?? Cerbung?? Yang benar saja dong!!! “Masalah itu gue juga tahu, Via. Di TL gue juga muncul tuh,” respon Ify.

“Kalau tahu kenapa nggak dijawab kek Ify. Kan kita bertiga nggak perlu diserbu gitu,” balas Via.

“Gue cuma nggak tahu gimana mau membuat lagu lagi. Itu-kan cerita gue. Gue nggak tahu bagaimana kelanjutan cerita itu,” ucap Ify.

Via mengangguk dan sedikit berpikir. “Iya ya, Fy. Kan Rio nggak tahu apa-apa. Kita juga nggak tahu Rio suka sama lo juga atau nggak. Kira-kira, Rio dengerin itu lagu juga nggak ya?” ujar Via.

Ify mencubit lengan Via. “ADAWWWWW…..APAAAN SIH, FY. SAKIT TAHU!!!!” rintih Via kesakitan dan sedikit kesal.

“Lo ember banget sih, Vi. Kalau ada orang lain tahu gimana?”

“Ya gue minta maaf. Gue nggak sengaja,” jawab Via kalem. Ify menjerit mendengar jawaban Via.

“VIAAA!!!!” seru Ify.

“Maaf, Fy. Hehehe….,” ucap Via cengengesan. “Kenapa sih lo nggak sama Tristan aja tuh. Dia jelas-jelas suka sama lo. Udah nembak lo juga, kenapa nggak lo terima?? Dari pada lo nungguin Rio?? Mau ketemu dia mana lo berdua?? Lo di Jakarta, Rio Manado,” lanjut Via dengan wajah seriusnya.

“Biarin, wek. Gue nggak suka sama Tristan. Dia Cuma teman gue,” balas Ify.

“Ya…ya…gue tahu, Ify. Lo cuma suka sama Mario,” ucap Via. Ify tersenyum lebar mendengarnya. “Oh iya, Fy. Nanti pulang sekolah kita disuruh ke management. Ada yang mau diomongin katanya,” lanjut Via.

“Tentang apa?”
Via mengeleng. “Nggak tahu gue. Kekelas yuk, udah mau bel,” ajak Via. Ify mengangguk. Keduanya meninggalkan taman sekolah.

*************

Mata Rio melebar  saat membaca salah satu proposal undangan meet and great-nya. Dia benar-benar tidak percaya akan hal ini. Ini sungguh mengejutkan. Dia tidak pernah bermimpi akan hal itu. Ia hanya pernah berharap dan berdo’a akan bertemu dengannya. Dan tidak dia sangka harapan itu akan terwujud lewat meet and greet.

Ya proposal itu adalah proposal meet and great RIO dan BLINK secara bersama-sama. Dalam gedung yang sama berarti tempat yang sama, waktu yang sama pula, dan secara bersamaan. Blink itu adalah girl band Indonesia yang terdiri dari Ify, Via, Febby dan Pricilla dan ini berarti bahwa dia akan bertemu dan berjumpa dengan Ify. Benarkah???

Tak sabaran Rio membaca proposal itu hingga akhir. Tanggal diadakannya meet and great itu adalah tanggal 24 Januari 2013. Berarti sebentar lagi. Ia tidak perduli kalau dia ada acara lain pada hari itu. Ini adalah kesempatannya untuk bertemu Ify. Tidak mungkin ia lewatkan. Terlalu banyak hal yang ingin ia katakan pada gadis manis itu.

“Rio, gimana?? Kamu setuju sama undangan ini?? Kamu nggak ada jadwal pada hari itu??” tanya Mama Manda pada putra bungsunnya itu.

“Rio mau, Ma,” jawab Rio cepat dan jelas.

“Kalau gitu Mama langsung setujui,” ucap Mama Manda. “Ngomong-ngomong, kenapa kamu langsung terima gitu?? Kemarin saja undangan meet and greet dengan siapa itu…….Nah ya, Ashilla Zee kamu tolak,” tanya Mama Manda.

Rio jadi teringat akan undangan itu. Dia memang langsung menolak undangan meet and greet tersebut. Ia tidak berminat sama sekali. Apalagi fans-nya Shilla itu keterlaluan dengan Ify. Dia tidak suka, saat mereka mengata-ngatain Ify. “Ya, karena Rio nggak mau saja sama mereka. Kalau sama Blink, Rio bisa ketemu Ify. Mama tahu kan Ify siapa?” jawab dan tanya Rio. Menyebut nama Ify, Rio jadi senyum-senyum sendiri.

“Jelas Mama tahu dong, Yo. Kamu ini gimana, yang manis itu-kan??”

“Hehehhe…..iya, Ma. Rio rindu sama Ify,” ucap Rio dan tersenyum malu-malu pada Mamanya. Mama Manda hanya geleng-geleng kepala. Ia tahu kalau putranya ini pasti ada apa-apanya dengan Ify.

“Rio ke kamar dulu ya, Ma. Nanti kasih tahu Rio kalau pihak Blink setuju sama acara ini,” pamit Rio yang disertai anggukan Mama Manda.

*************

Di sebuah ruangan dengan meja bulat dan sudah dikelilingi oleh empat gadis cantik serta seorang wanita yang sudah kepala tiga tampak sedikit serius membicarakan tentang sesuatu.

“Jadi tante sudah setuju sama pihak yang ngadain meet and greet yang di Lombok itu. Tanggal jadinya 24 Januari 2013, udah tante pastikan kalian berempat udah nggak ada acara,” ucap Tante Nina selaku manager-nya Blink.

“Asyik jalan-jalan ke Lombok,” seru Prissy, panggilan akrab Pricilla. Gadis keturunan Belanda-Indonesia. Tentu saja mirip bule dengan kulit seputih susu.

“Oh iya, nanti Blink nggak sendiri, tapi bersama Rio. Iya….kalau nggak salah Rio. Tante lihat lagi,” ucap Tante Nina dan membuka proposalnya lagi. Ia tidak menyadari kalau salah satu anak didiknya itu menahan nafas sambil menerka-nerka apakah Rio yang itu. “Ya, Mario Stevano.  Nanti Blink sama Mario Stevano ngadain meet and greet sama-sama. Rio itu finalis idola cilik yang duet sama Ify-kan?” tanya Tante Nina.

“Huuuaaaa…..Tante ingat. Tante keren deh,” balas Sivia dan mengerling kepada Ify. Dia merasa surprice dengan undangan meet and greet ini. Ini berarti Ify dan Rio bakalan bertemu. Bakalan mengobrol. Pasti Ify sangat menantikan ini.

“Jelas dong, Via. Tante suka denger suaranya,” ujar Tante Nina. “Ya sudah, tante Cuma mau bilang itu aja. Kalian harus persiapkan diri jangan sampai capek. Tante keluar dulu ya. Oh iya, jam tujuh nanti jangan lupa latihan. Dance kalian perlu dilatih lagi,” lanjut Tante Nina dan segera keluar dari ruangan.

“EH…….CCIIIEEEEE……EH…CIIIEEEE IFY…….” Ledek Via, Febby dan Pricilla kompak. Mereka menaik turunkan alis bergantian.

“Ehehemmm…..ketemu dong,” ujar Pricilla.

“Jadian nggak ya nantinya,” ucap Febby tak mau ketinggalan.

“Hmmm…..rindu ini terus menganggu, ku tak sabar ingin bertemu,” Via menyanyikan sedikit lirik lagu yang Ify ciptakan. “Eh…cieee….akhirnya bertemu juga. Seneng nggak, Fy?” goda Via.

Ify benar-benar belum sepenuhnya sadar sejak Tante Nina bilang kalau Blink akan meet and greet bareng Rio, orang yang selalu memenuhi benaknya. Orang yang sanagt ia rindukan. Sekarang dia sadar, sejak sahabatnya mulai menggodanya.

“Stop deh….. jangan ngeledek-ngeledek tahu,” sungut Ify.

“Habis lo datar-datar aja denger berita ini. Kan elo memang suka sama Rio, Ify. Lo harus manfaatin kesempatan ini baik-baik,” ucap Via.

“Nah Via bener, Fy. Kalo kata eyang gue, kalo tempat yang berjauhan namun ketemu bersama di tempat yang sama namanya takdir, Fy. Kalo takdir berarti jodoh,” timpal Pricilla.

“Jadi Ify sama Rio nanti, Ku temukan cintaku di tanah Lombok. Iya nggak??” goda Febby yang langsung disambut Via dan Pricilla dengan anggukan antusias dan senyum terkembang.

Ify yang mendengarnya hanya tersenyum dalam hati. Ia senang mendapat kabar seperti ini. Tapi, ia juga takut. Akankah Rio juga menyukainya?? Nanti, kalau Rio sudah memiliki pacar ia pasti sakit hati. Ia bukan menemukan cinta di tanah Lombok seperti yang dibilang Febby. Tapi, hancur hatiku di tanah Lombok. Ya seperti itu.

“Yah lo melamun, Fy,” dumel Prissy sambil mengetik sesuatu di blackberry-nya. Mungkin membalas SMS dari pacarnya.

“Gue takut,” ucap Ify lirih.

“Tenang aja kok, Fy. Yakin aja deh,” bisik Sivia. Ify mengangguk.

“Ayo kita makan. Gue udah laper…..” ajak Febby.

“Ayo….Ayo….gue laper juga,” seru Via semangat. Yang namanya makan Via yang paling semangat. Sampai-sampai Ify dan Pricilla ditariknya dengan paksa. Segitu nafsu-nya kah Via untuk makan?? Ckckckck…..

***************

Jadi tibalah hari ini. Hari ini bertanggal 24 Januari 2013. Di Lombok resto telah banyak pengunjungnya. Siapa lagi kalau bukan para RISE, IFC, Blinkstar dan tak terkecuali RFM. Mereka sedang menunggu acara yang akan dimulai dua puluh menit kemudian. Tak sabar melihat idola mereka. Terlebih-lebih lagi anak RFM yang nantinya akan melihat Mommy and Pappy mereka akan bersama dalam satu panggung. Kyaa……….

Sementara di backstage, bintang tamu hari ini tampak asyik mengobrol. Febby, Pricilla, Via dan Ify berada di sebuah meja yang memuat kursi tujuh orang. Berhubung mereka hanya berempat jadi tiga kursi kosong.

“Sssstttt……Rio mana ya, Fy?” tanya Pricilla. Dia penasaran dengan seorang Rio. Soalnya dia belum pernah bertemu langsung dengan yang namanya Rio. Penasaran dong dengan Rio yang mampu membuat seorang Ify jatuh cinta.

“Mana Fy?” berondong Febby. Dia juga penasaran. Hanya Sivia yang tidak. Jelas dong, toh dia sudah pernah bertemu dengan Rio.

“Gue nggak tahu. Diem deh. Nanti ada gosip yang nggak-nggak,” ucap Ify.

“Jiah…..lo gimana sih, Fy,” keluh Via. Ia hanya cengo melihat rekasi Ify. Dia tahu, Ify hanya takut saja apalagi dari tadi panitia yang berada di sekitar mereka senyum-senyum ke arah Ify. Bisa Sivia tebak, kalau mereka adalah penggemar Rio Ify. Via sih pernah lihat couple-couple-an seperti itu. Ia juga tahu kalau dirinya sering di-couple-in sama Alvin Jonathan Sindunata. Ify diam saja dan keempat Barbie itu memilih untuk diam.

Lima menit kemudian suara kehebohan mulai terdengar. “Wah kamu datang juga, Rio. Lima belas menit lagi acaranya mau dimulai. Kamu silakan istirahat di sana dulu,” ucap salah satu pantia. Rio mengangguk dan segera menuju meja yang ditunjukan oleh pantia tersebut.

Rio menatap meja itu. Dia menangkap sosok Ify dan segera mengenalinya. Ia ragu untuk bertemu gadis berdagu tirus itu. Namun, ia menyakinkan langkahnya dan segera menghampiri meja tersebut. “Haii….” Sapa Rio dan tersenyum manis.

Anak-anak Blink mengangkat wajahnya dan melihat Rio, begitu juga Ify. Febby dan Pricilla sibuk kode-kodean dengan Via. “Haii juga, Rio,” balas anak Blink kompak.

“Duduk, Yo,” ucap Febby sambil menepuk-nepuk kursi kosong yang berada di sebelah Ify dan tentu saja membuat Ify melotot.

Rio duduk di sebelah Ify. Ia menatap Ify canggung. Melihat sosok Ify hampir saja membuat dirinya tidak mampu menahan diri untuk memeluk gadis di sebelahnya ini. Ify tumbuh semakin cantik saja.

Bukan hanya Rio. Ify juga merasa deg-deg-an saat duduk di sebelah Rio. Gadis manis itu hampir selalu menghela nafas diam-diam. Ify akui tidak banyak yang berubah dari Rio. Hanya saja Rio semakin tinggi dan ehem….semakin keren. Rio benar-benar seperti apa yang dibayangkannya.

“Udah kenal Ify sama Via berapa lama, Yo?” tanya Pricilla basa basi. Sekedar membuka obrolan.

“Dua tahun ya. Waktu itu, gue grand final icil ketemu sama Ify. Sivia juga,” jawab Rio dan menambahkan nama Sivia dengan cepat. Hampir saja ia hanya menyebut nama Ify.

“Oooohhh…….” Ujar Pricilla ber-oh ria.

“Kalo nggak salah lo duet sama Ify ya?? Kira-kira nanti lo berdua duet lagi nggak ya?? Gue rasa banyak yang minta kalian duet,” ucap Febby.

“Maybe,” balas Rio pendek. Bukan fans-fans-nya saja, Rio sendiri ingin sekali duet dengan Ify.

“Fy kok diem aja sih. Ikutan ngobrol juga tahu,” sungut Via. Baru saja Ify mau menjawab, salah satu panitia memanggil mereka berlima karena acara sudah dimulai.

************

Jadi disinilah mereka berlima saat ini. Sepertinya member Blink lainnya sengaja memberi posisi Ify yang bersebelahan dengan Rio. Modus banget ya??? Suara gemuruh tepuk tangan menggema dalam ruang tersebut. Acara pembukaan sudah dilewati dan sekarang penampilan dari kedua bintang utama acara ini.

Rio menyingkir saat Blink tampil membawakan lagu OMG-nya. Dia hanya memperhatikan salah satu member Blink tersebut. Baginya bertemu dengan Ify hari ini adalah anugerah terindah yang pernah ia rasakan. Ify semakin energik saja, dulu Ify terkesan lemah. Tapi sekarang?? Sudah jauh lebih energik. Suara Ify semakin keren saja menurut Rio.

Seulas senyum tersungging di wajah Rio saat tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata Ify. Rio sendiri juga menyadari kalau Ify balas tersenyum juga walaupun sedikit. Apakah ini kode??

Sahutan nama Blink bergema saat lagu itu usai. Rio segera maju menaiki panggung dan mulai bernyanyi. Ia menyanyikan lagu Rindukan Dirimu. Selama bernyanyi ia sesekali mencuri pandang pada Ify yang sesekali memandangnya balik.

Lima menit sudah Rio bernyanyi. Lalu acara dilanjutkan dengan performe Blink dan Rio secara bergantian. Sesi tanya jawab juga sudah dilewati walaupun ada pertanyaan yang hampir saja membuat Rio dan Ify hampir mati keselek.

“Rio sama Ify pacaran ya?”

Itulah pertanyaan yang membuat kedua keselek dan berpandangan sekilas. Keduanya menjawab dengan sebagai mana mestinya. Namun yang membuat Rio terkejut jawaban Ify hanya Ify ralat segera. Pertama Ify bilang belum pacaran dan langsung diralat dengan mengatakan tidak pacaran. Tentu saja apa yang diucapkan Ify ini mengundang perhatian banyak fans-fans mereka. Rio sendiri terpana mendengarnya. Untung saja MC-nya acara ini langsung mengambil alih dan diganti dengan sesi request.

“Kita lanjut ke segmen request. Teman-teman mau request apa?” tanya MC tersebut.

“DUET!!! DUET!!! RIO IFY DUET!!!!”

“IFY RIO…..IFY RIO….RIO IFY….!!!!”

“DUET!!! DUET!!! RIFY!!! RIFY!!!!”

“Tenang semua. Kita tanya dulu ya,” ucap MC. “Gimana, Yo, Fy?”

Ify memandangi Via, Pricilla dan Febby secara bergantian. Ketiga sahabat Blink-nya itu segera mengangguk setuju. “Iya, nggak apa-apa. Gue mau kok. Kalau lo, Yo?” jawab dan tanya Ify.

Rio mengangguk. “Tentu kok. Kira-kira nyanyi lagu apa?”

“Andaikan aja, Fy,” usul Via. “Eh….Rio hapal nggak lagu itu?” tanya Via cepat.

“Lagu yang diciptakan Ify itu-kan? Gue hapal kok, kunci gitarnya  juga bisa,” jawab Rio. Berkilat-kilat-lah mata Via, Pricilla dan Febby. Kalau Rio hapal lagu itu berarti….Rio ada sesuatu dengan Ify dong.

“Nah, kalau gitu Ify main piano-nya dan Rio gitar,” usul Pricilla. Ia dan Sivia segera bangkit dari posisi duduknya dan menarik tangan Ify menuju ke tempat piano. Lalu Febby memberi isyarat pada Rio untuk segera mengikuti mereka. Tak lupa Febby meminta pada salah satu panitia yang berada di panggung untuk mengambilkan kursi dan gitarnya. Dengan cepat panitia itu menyiapkannya.

Kini Ify sudah siap di depan pianonya dengan Rio yang duduk di sebelahnya sambil memegang gitar.
Antusiasme fans-fans mereka terdengar begitu jelas. Duet legendaries terulang kembali.

“Mulai ya, Fy,” bisik Rio pada Ify. Ia mencondongkan badannya sedikit agar bisa berbisik dengan Ify. Hal
ini mengundang teriakan histeris fans-fans-nya. Sebagai jawaban Ify mengangguk kecil.

Intro lagu andaikan dari piano dan gitar mulai terdengar. Ify yang pertama kali memulai bernyanyi.

-Ify-
Setiap waktu memikirkanmu
Kukatakan pada bayangmu
Sampai kapanku harus menunggumu jatuh cinta…..

-Rio-
Rindu ini terus menganggu
Ku tak sabar ingin bertemu
Berapa lama lagi menantikan kata cinta…….

-Ify-
Andaikan dia tahu apa yang kurasa
Resah tak menentu mendamba cintamu…..


-Rio-
Andaikan ia rasa
Hati yang mencinta
Ku yakini, kau belahan jiwa….

-Rio Ify-
Rindu ini terus menganggu
Ku tak sabar ingin bertemu
Berapa lama lagi menantikan kata cinta…….

-Rio Ify-
Andaikan dia tahu apa yang kurasa
Resah tak menentu oh….mendamba cintamu…..
Andaikan ia rasa
Hati yang mencinta
Ku yakini, kau belahan jiwa….
Ku harap dia mau
Membalas cintamu…..
Berbagi arti cinta….
Kasih…..
Huo……o……

-Rio Ify-
Andaikan……

-Rio Ify-
Andaikan dia tahu apa yang kurasa
Resah tak menentu mendamba cintamu…..
Andaikan ia rasa
Hati yang mencinta
Ku yakini, kau belahan jiwa….
Ku yakini, kau belahan jiwa….
Ku yakini…..kau….belahan jiwa…..

Plok….plok….plok……suara tepuk tangan kembali terdengar. Setelah menunggu dua tahun, akhirnya Rio Ify kembali berduet. Suara mereka benar-benar pas dan sangat cocok sekali. Penonton yang tadi terdiam karena terhipnotis sekarang mulai kembali histeris. Duet itu kembali terjadi. Siapa yang tidak menunggu-nunggu. Kalau Rio Ify duet benar-benar tidak mengecewakan.

Rio meletakan gitarnya dan berdiri. Begitu juga dengan Ify. Kedua orang itu mengangguk bersama dan mengucapkan terima kasih. Ntah sadar atau tidak, Rio menganggandeng tangan Ify untuk turun dari panggung. Hari ini benar-benar penuh kejutan. Dan Rio tidak menyangka Ify tidak melakukan penolakan apapun dengan apa yang ia lakukan. Apakah itu ia memberikannya sedikit kesempatan?? ntahlah tak ada yang tahu…..

Acara meet and greet ini sukses. Yang datang-pun tidak ada yang kecewa. Hari ini paket komplit. Benar-benar memuaskan. Acara itu berakhir tepat pada pukul lima sore.

**************

Setelah acara meet and greet itu selesai, Ify, Via, Febby dan Pricilla segera istirahat dan kemudian bermain di tepi pantai yang berada tak jauh dari Lombok resto. Sekedar refresing.

“VIAAAAA!!!!!! GEU BASAH SEMUA TAHU…….” seru Ify kesal. Dia menjadi korban kejahilan Sivia. Yang benar saja sekarang bajunya basah kena percikan air. Mana hari semakin sore saja dan angin berhembus semakin kecang. Pasti dingin banget!!!

“Sorry, Fy. Habis seru tuh mainnya,” balas Via.

“Byuuurrrr………” Febby dan Pricilla mendorong Via hingga Via terjatuh di air. Tepat di dalam air dan bajunya basah semua.

“FEBBY…. PRISSYYYY…….” Bentak Via kesal. Masa dia sampai basah-basah gini.

“Sorry, Vi. Habis seru tuh mainnya,” balas Febby dan Pricilla kompak dan kemudian nyengir ke arah Via yang masih cemberut.

“Hahahha…….makanya Via, jangan ngerjain orang. Tuh kena balasannya yang lebih,” ucap Ify dan tersenyum meledek ke Via.

“Awas ya……” seru Via yang mulai berdiri lagi, ia segera mengambil ancang-ancang untuk mengejar Febby dan Pricilla.

“HUAAAAA……LARIIIII!!!!!” seru Febby dan Pricilla barengan.

Ify masih diam berdiri di tempatnya, ia tidak sadar kalau seseorang mendatanginya. “Hai, Fy,” sapa Rio yang telah berdiri di sebelah Ify.

Ify menoleh ke sumber suara dan matanya terbelalak saat mendapati Rio yang telah berdiri di sebelahnya. Seperti mimpi saja ia bisa bertemu dengan Rio di sini. Ify kira Rio sudah pulang saat acara itu selesai, mengingat rumah Rio tak jauh dari sini.

“Gue kira lo udah pulang, Yo,” ucap Ify.

Rio tersenyum mendengarnya. “Duduk di sana yuk, Fy,” ajak Rio sambil menujuk pasir yang kering dan jauh dari terpaan ombak. Ify hanya mengangguk.

Saat ini Ify dan Rio duduk bersebelahan di pasir pantai Lombok tersebut. Semilir angin sore menerpa keduanya. Ify memeluk kedua lututnya. Rasa dingin menerpa dirinya.

Rio menyadari hal itu. Untung saja ia memakai jaket waktu ke sini. Rio memang sengaja mencari Ify karena terlalu banyak hal yang ingin ia katakan pada Ify. Pemuda hitam manis itu melepaskan jaketnya dan menyodorkannya pada Ify. “Pakai ini aja kok, Fy. Lo kedinginan kan?” ujar Rio.

Ify menatap Rio, sedikit ragu. Menyadari keraguan itu Rio segera memakaikan jaketnya pada Ify hingga membuat Ify hanya mampu mengucapkan terima kasih.

“Makasih ya, Yo,” ucap Ify. Ia merasakan kehangatan Rio memeluk dirinya. Rasa dingin yang menerpa dirinya hilang begitu saja. Seperti menguap.

“Sama-sama kok, Fy. Oh iya, gue belum pulang. Gue sengaja nyariin lo, karena terlalu banyak yang ingin gue katakan sama lo, Ify,” ucap Rio.

Ify menoleh menatap Rio. Ia seperti bertanya apa.

“Pertama gue pengen tahu kabar lo gimana Ify. Walaupun gue tahu lo ada di sini dan itu berarti lo baik-baik saja. Tapi gue pengen denger dari lo langsung,” ucap Rio.

Ify terpana mendengar apa yang Rio tuturkan. “Gue baik-baik aja kok, Yo. Selalu sehat. Tapi…..nggak jadi deh…..Hmm….kabar lo gimana?” ucap dan tanya Ify balik pada Rio.

“Gue selalu baik, Fy. Tapi, gue……Gue rindu sama lo,” ucap Rio lirih.

Apa???? Rio rindu pada dirinya. Ify benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Ia memang pernah bermimpi Rio akan mengatakan kata rindu itu padanya. Dan sekarang, di tanah Lombok Rio mengatakan itu semua. Mimpinya menjadi kenyataan. Her dream come true.

“Kenapa?” tanya Ify.

“Gue udah lama nggak ngeliat lo, Ify. Lo tahu sudah dua tahun kita nggak ketemu. Dan selama dua tahun itu juga,” Rio menatap Ify tepat di manic matanya. Lalu meraih tangan Ify dan menggenggamnya. “selama dua tahun itu juga gue sudah suka sama lo, Ify. Gue sayang lo dan cinta sama lo,” lanjut Rio.

Jantung Ify mau melompat dari tempatnya. Ia mendengar Mario Stevano menyatakan cinta padanya. Ya…..dia tidak bermimpi…..Rio benar-benar menyatakan cinta pada dirinya. Perasaannya terbalaskan.

“Mau nggak lo jadikan gue pacar elo?” pinta Rio. Ify sedikit melongo. Ada ya cowok yang bilang dia mau jadi pacarnya itu cewek. Biasanya cowok bilang ‘mau nggak lo jadi cewek gue’ bukan kata jadikan, tapi jadi. Ify bingung.

Menangkap kebingungan Ify, Rio langsung menjelaskan. “Gue sadar kok, Fy. Gue bukan siapa-siapa. Lo artis dan gue cuma bisa dibilang artis local. Ya, gue juga tahu kalau diluar sana banyak yang suka sama lo dan mau minta lo jadi pacar mereka. Jadi, gue Cuma berani minta lo mau jadikan gue pacar elo. Karena gue sadar siapa gue,” jelas Rio.

Ify menatap Rio sayu. Ia tidak perduli.  Baginya Rio adalah satu-satunya. Di dekat Rio dia merasa nyaman. Ia tidak perduli mau Rio artis atau nggak seperti dirinya. Ia ingin kenyaman dan merasa aman. Dan itu semua hanya ia temukan pada Rio. “Jangan ngomong kayak gitu, Rio,” bisik Ify dan segera meluk diri Rio. “Gue mau jadi pacar lo kok. Gue juga udah tahu nunggu lo,” lanjut Ify.

Rio membalas pelukan Ify. Cintanya selama dua tahun itu tak bertepuk sebelah tangan. Ify juga menyukai dirinya. “Makasih, Ify. Gue benar-benar sayang sama lo,” ucap Rio dan melepaskan pelukannya. Takut membuat Ify sesak.

“Harusnya gue yang makasih sama lo, Rio. Tapi…..habis ini kita jarang bertemu, Rio. jadi….?” Tanya Ify.

Rio mengangguk dan mengerti apa yang dimaksud Ify. “Kita tahu, kalau gue nggak mungkin pindah sekolah. Jadi…..gue hanya minta kepercayaan sama lo, Ify. Percaya sama gue. Hanya lo yang ada dihati gue. Tolong kasih kepercayaan sama gue, Ify. Percaya sama gue karena hanya dengan itu kita akan selalu bersama,” ucap Rio.

Ify mengangguk tegas. Rio benar, dia harus percaya dengan Rio. Tidak ada yang lain. Ia harus percaya karena Rio selalu percaya padanya. “Gue percaya sama lo, Rio. Kita sama-sama percaya karena dengan itu semua maka kita akan bersama selamanya,” ucap Ify.

“Gue seneng lo pengertian dan tidak memaksa gue pindah,” ujar Rio dan mengacak-ngacak puncak rambut Ify. “Jadi sekarang, predikat Member Blink yang masih jomblo lepas dong dari elo. Karena Mario Stevano berhasil mendapatkan Ify Alyssa Blink,” canda Rio. Ify tertawa mendengarnya.

“Dasar!!! Presiden RISE juga nggak bakalan jomblo lagi karena Ify Alyssa bisa membuat Rio jatuh cinta,” balas Ify.

“Dasar!!!! Nggak mau kalah…..” ucap Rio.

“Biarin, weeekkkkk,” balas Ify dan melet-melet. Rio tertawa mendengarnya.

“Ku….ku….temukan….cinta…..cintaku….di tanah Lombok,” nyanyi Via, Febby dan Pricilla yang datang tiba-tiba. Padahal dari tadi mereka nguping.

Ify kaget mendengarnya. “KALIAN!!!!!” seru Ify tertahan.

“Peace, Fy….peace…..” ucap Pricilla.

“Selamat deh buat lo berdua. Jagain tuh sohib gue. Dua tahun dia nungguin elo,” ucap Via dan memeluk Ify.

“Tenang aja kok, Vi,” ucap Rio.

“Akhirnya dengan begini sequel lagu Andaikan jadi dibuat dong. Ya nggak, Fy?” tanya Febby.

“Pasti Ify buat. Kita bertiga tinggal nunggu aja dan nyanyiinnya,” Prissy yang menjawab dan mengerling ke Ify.

“Jadi lagu Andaikan itu buat gue?? Lo yang nyiptain ya, Fy?” tanya Rio.

Via, Febby dan Pricilla menggeleng-geleng seperti memandang Rio sebagai orang yang paling bodoh karena tidak tahu.

“Hehehe….iya, Yo,” jawab Ify.

“Ya ampun, gue nggak tahu kalau lo romantic banget sih Fy,” ucap Rio. Ify tersenyum malu.

“Lo berdua payah. Masa manggil gue-elo mana ada kesan pacarannya tahu,” timpal Via.

Rio meringis. “Jadi gue manggil Ify dengan panggilan Sayang?”

Ify menggeleng cepat. “Nggak mau, Rio. Itu norak!!!!” tolak Ify langsung.

“Ify sayang,” panggil Rio sengaja menggoda Ify.

 Ify melotot. “Nggak….itu norak. Nggak mau,” tolak Ify dan matanya melotot.

Rio tertawa. “Canda, Fy….Canda…Kita tetap panggil gue elo aja karena ya dalam hubungan perasaan dan ikatan juga kepercayaan yang paling penting,” ucap Rio.

“Dasar pasangan bodoh!!!” umpat Febby, Pricilla dan Via. Mereka bertiga merasa tersindir ya karena mereka saling memanggil sayang dengan pacar masing-masing.

“Biarin!!!!” balas Rio dan Ify kompak.

******The End******

Epilog…..

Saat ini Blink sedang akan memulai tampil di Inbox. Kali ini mereka akan tampil dalam acara tersebut. Namun kali ini mereka akan menyayikan lagu ciptaan Ify yang terbaru.

“Langsung saja. Blinkkk…….” Seru Andika dan Narji, host inbox pagi ini.



Ku tatap matanya

Ada pelangi disana

Ku dengar tawanya
Terasa ceria di dada


Semula, kau hanya dalam mimpiku

Kini kau hadir menyatakan,
Cintamu


You are making my eyes blinking

 My hearts shining
Ku rasa ku jatuh cinta

My eyes blinking

 My hearts shining
Inikah yang namanya cinta


You're making my eyes blinking and shining

You're making my eyes blinking...

You're making my eyes blinking and shining
You're making my eyes blinking...


You're making my eyes blinking, my hearts shining

Ku rasa ku jatuh cinta

You're making my eyes blinking, my hearts shining
Ini kah yang namanya cinta


You are making my eyes blinking
And my hearts shining
Ku rasa ku jatuh cinta
My eyes blinking and my hearts shining
Inikah yang namanya cinta

************

Sementara di Manado, seorang laki-laki berusia 16 tahun menonton TV dengan mata fokus menatap objek yang ada di TV. Tentu saja itu adalah Rio. Pemuda itu jelas menonton sang kekasih yang sedang show. Dia sendiri mendapatkan permintaan ini dari Ify agar menontonnya.

Dan ternyata Ify memberinya kejutan. Lagi-lagi gadis multitalent itu menciptakan lagu. Lagu yang menceritakan tentang dirinya dan Ify. Rio tersenyum dan meraih Blackberry-nya untuk mengirimkan sesuatu pada kekasihnya itu.

Walaupun berjauhan, Rio merasa Ify selalu berada di dekatnya. Dia benar-benar sayang pada Ify. “Always love you, Alyssa Saufika Umari,” gumam Rio.

                                                                            END