Petualangan Cinta Ify *Full*



Petualangan Cinta Ify



"Fy, lo tunggu sini. Gue ke kopsis bentar," ujar Via. Gadis itu berpipi cubby dan rambutnya sebahu.
Ify mengangguk malas. Ia pun mendudukan dirinya di bangku taman. Gadis berdagu tirus itu menatap sekelilingnya. Ramai, batinnya. Memang saat ini adalah jam istirahat. Banyak siswa-siswi Global Nusantara International School memilih untuk menghabiskan waktu di taman ini. Ada yang hanya bersantai ria, ada juga yang berpacaran atau sekedar mengobrol dengan sahabat dan teman dekat, seperti dirinya dan Via. Hanya saja, sekarang ini, ia tengah ditinggal Via yang lagi pergi ke kopsis (koperasi siswa).
Ify alias Alyssa Saufika Umari menatap nuansa alam taman sekolahnya ini. Taman yang sungguh asri. Banyak pepohonan dan bunga-bunga, seperti mawar, anyelir, asoka yang sengaja di tanam berjejer rapi di taman ini serta diatur sedemikian rupa sehingga menciptakan suatu keindahan.
Ify tersenyum lebar ketika bola matanya menangkap seekor capung yang lagi asyik terbang di depan wajahnya. Capung dengan warna kulit kuning bercampur hitam dan badannya montok memberi rasa ketertarikan pada diri Ify. Tanpa ada rasa malu, ia berdiri dan mulai menangkap capung itu. Tangannya bergerak lincah mencari celah agar sang Capung jatuh dalam perangkapnya. Namun sayangnya ia kalah gesit.
"Yah capung. Susah banget sih gue nangkep elo. Makanya lo itu jangan unyu-unyu banget, gue kan jadi tertarik. Coba lo amit-amit, ogah banget gue nangkep elo sampai ngejar-ngejar gini," dumel Ify dan menatap ke arah capung. Ia melotot kesal. Ify merasa ada sepasang mata lain mengamati dirinya.
Tiba-tiba Ify jadi terdiam. Kedua mata beningnya terfokus kepada sosok yang tengah menatap dirinya. Jantungnya berdebar-debar. Tatapan bola mata itu sungguh tajam, tetapi penuh keteduhan dan kelembutan. "Ya Allah, gue kenapa?? Jantung ini kok berdetak mulu, nggak kompromi banget," batin Ify. "Matanya. Ya ampun, meleleh gue," tambahnya. Dua bola mata kecoklatan milik sang pemuda masih menatapnya. Ify masih terdiam dan menatap fokus pemuda itu.
Seperti disengat lebah, Ify tersadar. "Gue apa bukan sih yang dia lihat?" Ify bertanya-tanya. Lalu ia melihat sekelilingnya. Kepalanya berputar ke kanan, kiri, dan belakang untuk melihat apakah ada yang lain yang tengah dlihat oleh sang pemuda manis nan tampan itu. Tetapi, hasilnya nihil. Ia tak menemukan objek lain. Pada saat ia menghadap kembali ke depan, matanya bertemu lagi dengan mata penuh keteduhan tadi. Ia jadi salah tingkah sendiri. Lantas Ify menggarut kepalanya yang sebenarnya tidak gatal dan nyengir kuda ke arah si Pemuda. Tanpa disangka-sangka bibir pemuda tersebut melengkung. Ia tersenyum.
"Oh My God, manis banget," jeritnya dalam hati. Ify  tertunduk malu, takut ketauan kalau ia terpesona. Ketika ia mengangkat kepalanya kembali, si pemuda udah balik badan dan tidak melihat dirinya lagi. "Yah dia udah berpaling," ujar Ify lesu.
Ify merasa merinding secara tiba-tiba. Ia merasakan sebuah tangan memegang pundaknya. Ify jadi parno sendiri. "Jangan ada 'sesuatu', Ya Allah. Hambamu ini yang imut-imut tiada tara, cantik nan manis tiada banding, pinter nggak ketulungan takut banget yang namanya sama hantu sejenis Mbak Kunti, Tante Lampir, Oom Pocong dan sanak family-nya. Lagian Ify juga nggak pernah gangguin mereka, jadi jangan suruh mereka gangguin Ify, ntar kecantikan Ify hilang, kemanisan Ify sirna....," do'a Ify dalam hati. Do'anya udah ngelantur ke mana-mana. Nggak jelas. Mulutnya masih komat-kamit saja.
"WOI, PY. LO NGAPAIN??" teriak seseorang di telinganya.
Ify kaget dan segera membalikan badannya. "ASTAGA, VIA. GUE KIRA LO SIAPA. KUNTI, POCONG ATAU APA DEH. GUE UDAH PARNO SENDIRI TAU, LO TAUKAN KALO GUE TAKUT BANGET SAMA MEREKA. ISH....LO," omel Ify panjang lebar dengan suara toa-nya.
Via tertawa mendengar penuturan Ify. "Lo yang bego kali, Py. Helow...sekarang ini siang dan elo masih sempatnya aja mikir kayak gitu."
Ify cengo dan ia menatap ke arah langit. Dua detik kemudian ia mengangguk-ngangguk sok ngerti. Tidak kurang dari satu setengah detik, ia sudah menampilkan sederet gigi putihnya ke Via.
"Nah lo," sungut Via. Ify tambah nyengir. "Lo liatin apa sih, Py? Kok sampe segitunya?" tanya Via penasaran.
"Gue hampir lupa, Vi!!" seru Ify. Ia segera menarik tangan Via hingga si Chubby terduduk dengan kasar di sebelahnya.
"Lo liat ke depan, Vi," ucap Ify. Via manut. "Liat tiga cowok yang duduk di bangku ujung noh." Lagi-lagi Via menuruti Ify, ia menatap bangku yang ditunjuk Ify. "Hah?! Itukan.... Ada urusan apa Ify sama mereka," batin Via.
"Vi, taukan apa yang gue maksud?" tanya Ify tanpa mengalihkan pandangannya.
"Iya gue tau. Urusan sama mereka apa?" Via balik bertanya.
"Nggak ada sih," Ify meringis. Via malah melengos. "Tapi, yang item manis itu namanya siapa?"
"Yang mana? Item ada dua tuh, yang pesek atau yang mancung?"
"Hmm...yang pesek. Tapi kok lo nyebut pesek sih, Vi," dengus Ify sedikit kesal. Nggak terima orang itu dihina Via, meskipun Via sahabatnya.
Via memperhatikan sosok yang dimaksud Ify. "Itu Mario," jawab Via.
"Jadi Mario namanya," gumam Ify. Via mendengar gumaman Ify. Alis kanannya terangkat ke atas. "Ada apa dengan Rio, Fy?" tanya Via.
Ify gelagapan sendiri. "Nggak kok, Vi," jawab Ify cepat. Via hanya mengangkat kedua bahunya.

*********

Hari-hari Ify jadi berubah. Ia tidak lagi cuek dengan makhluk berjenis kelamin cowok, terlebih-lebih lagi 'dia'. Hobi Ify pun mengalami perubahan. Sekarang ia sering liatin orang main basket, walaupun dari kejauhan. Tentu hal ini mengundang pertanyaan tersendiri bagi sohibnya.
Hari ini Ify kembali menekuni aktivitas sekaligus hobi barunya. Seperti biasanya, ia menarik Via secara paksa. Tetapi harusnya Ify nggak perlu narik-narik Via dan melakukan pemaksaan karena pada akhirnya Via akan menerima tawaran Ify penuh rasa ikhlas. Sebab di lapangan basket nanti, pujaan hatinya akan unjuk kebolehan dan Via tidak akan melewati kesempatan itu.
Sudah setengah jam Ify dan Via menonton permainan basket. Lama-lama Via merasa bosan karena Gabriel udah berhenti main. Ify pun sebaliknya, berdasarkan pengamatannya Rio sekarang tengah beristirahat sambil minum air mineral.
"Eh, Fy. Dari minggu kemarin elo seneng banget mantengin orang basketan. Elo liatin siapa sih?" tanya Via penasaran.
"Hehehe...," bukannya menjawab Ify malah cengengesan.
"Jawab dong Ify," paksa Via.
"Gue liatin Rio." Ify pun akhirnya menjawab. Ia malu-malu dan wajahnya tersipu-sipu. Via bukannya menunjukan reaksi senang, malah ternganga.
"Nggak salah lo, Fy?" tanya Via lagi. Ia masih tak percaya.
Ify mengangguk yakin. "Ya dong, Vi. Gue belom katarak lagi," balas Ify sedikit sewot.
"Bukannya gitu sih, Fy. Rio kan...,"
Ify langsung menyela ucapan Via. "Rio itu manusia bukan dedemit, Via sayang. Lagian wajar kali gue suka liatin dia. Rio itu sungguh menawan dan tampan. Wah....gue suka sama dia," seru Ify tertahan. Ia tersenyum-senyum gak jelas banget. Ditambah lagi ia masih ingat sangat jelas senyum manis Rio. Jadilah ia semakin sumringah.
"Jadi lo suka sama Rio, Fy?"
Ify mengangguk patuh.
"Apa aja yang lo tahu tentang Rio, Fy?" Via bertanya.
"Nggak tahu banyak. Yang gue tahu namanya Rio dan ia kelas XI. Seangkatan kita. Tapi gue nggak tahu XI apa," jawab Ify.
Via ngakak, hahahahaha.... Ify manyun habis, bibirnya maju sampai tujuh centi. "Emang dia siapa?" tanya Ify kesal.
Via mengatur tawanya agar mereda. "Dengerin nih. Rio itu anak XI IPA 1, kelas unggulan itu. Dia itu bintangnya sekolah kita, pemenang olimpiade MIPA berturut-turut. Fans-nya banyak banget. Dari kelas X sampai XII ada. Terus, dia itu keren banget, Fy. Cool lagi, walaupun cungkring dan sedikit pesek. Senyumnya, Fy. Senyumnya. Melting dah kalau udah melihatnya," jelas Via matanya berbinar-binar. "Yang terpenting, dia itu ketua OSIS sekolah kita," tambahnya.
Ify yang diam jadi kaget. "Rio ketos? Kok gue nggak tahu,” batin Ify. “Kok gue nggak tahu ya, Vi?” tanya Ify ke Via.
“Mana bisa lo tahu siapa si Rio. Kalo lagi baris lapangan aja elo tidur mulu. Upacara lo tidur. Elo kan kebo banget. Terus waktu jam-nya arahan dari ketos, lah lo aja kabur gitu. Malah mendok di taman belakang untuk tiduran,” jawab Via.
“Terus kenapa lo nggak cerita?”
“Yeee, elo. Gue mah udah bosan cerita. Lo nggak dengerin gue sih, jadi males gue.”
Ify mencibir. “Terus kenapa Rio nggak terkenal?”
Via berkecak pinggang dan tangannya terlipat di depan dada. “Ify, lo aja yang nggak kenal sama Rio. Wajar sih elo sama Rio kan sama-sama terkenal. Tapi bedanya elo terkenal karena kebar-baran elo, mulut ember elo, suara toa, terus tingkah ajaib elo yang menurut lo langkah itu.”
“Enak aja elo ngatain gue, Via. Gue itu terkenal karena kecantikan gue, hidung gue mancung, kemanisan gue, suara merdu gue, terus….ahdkjuue%())%(W…….” Via membekep mulut Ify.
“Stop, Ify. Diem. Lo ngumber fitnah tuh,” ucap Via dan terakhir ia tersenyum geli ke arah Ify.
“Dasar manusia iri sama kecantikan gue. Sabar, Fy. Biasa jadi orang cantik memang mesti sabar empat kali lipat,” ujar Ify kepada dirinya sendiri.
Via geleng-geleng kepala melihat tingkah ajaib sohibnya itu. Ify memang terkenal dengan keajaibannya. Di saat orang menjelek-jelekinya, maka ia senantiasa tertawa dan berasa bangga karena kejelekannya itu. Punya rasa malu yang nyaris nggak ada dan narsisnya minta ampun. Yang paling tinggi, sifat kekanak-kanakannya masih sangat melengket di dirinya. Bahkan bermain kejar-kejaran masih Ify lakukan bersama orang yang terpaksa karena ulahnya itu, ya Via. Partner kejar-kejaran Ify.
Back to Rio, Fy. Bukan apa-apa nih, elo beneran suka sama Rio?” tanya Via serius.
“Iya dong, Via. Masa iya gue mimpi,” jawab Ify kesal.
“Gue bingung, Fy. Kenapa ya Allah memberikan elo rasa cinta kepada cowok yang nggak mungkin jadi milik elo,” ucap Via bingung.
“Maksud elo, Vi?” tanya Ify.
“Gini, Fy. Elo sama Rio itu beda banget. Rio itu berkelas, lah elo? Cewek-cewek yang naksir Rio aja levelnya tinggi semua. Lah elo?” jawab Via yang makin buat Ify bingung.
“Yang jelas dong, Vi. Gue nggak ngerti nih,” rajuk Ify.
“Gue nanya elo jawab. Gimana?”
“Siip, gue setuju. Gih tanya,” sambut Ify semangat.
“Rio itu penampilannya rapi, lah elo, Fy? Rapi nggak?”
“Nggak. Gue sering lupa pake dasi.”
“Rio itu juaranya GNIS. Elo?”
“Ranking lima belas.”
“Rio on time, rajin dan berwibawa. Lo-nya?”
“Ngaret. Kalau menurut Depa gue Miss Terngaret di dunia. Nggak rajin-rajin amat. Berwibawa? Bukan gue banget,” jawab Ify kalem.
“Rio wangi gitu, lah elo??”
“Wang…..”
“Jarang mandi, lupa sisiran. Apaan tuh. Nggak banget sama Rio-nya,” potong Via cepat sebelum Ify menyelesaikan ucapannya. Ify manyun semanyun-manyunnya. Bibirnya udah maju tiga centi.
"Adanya sangat ketidaksamaan antar elo sama Rio itu. Ibarat berbanding terbalik gitu, udah keliatan banget kalo elo susah untuk dapetin Rio," lanjut Via.
Ify cemberut. "Nggak gitu juga kali, Vi. Emang siapa aja yang naksir Rio?"
Via menghela nafas. "Ashilla Zahrantiara. Lo tau dia kan?" tanya Via balik.
Otak Ify berpikir keras. Shilla....Shilla.... Aha dia ingat. "Nenek Lampir yang berantem sama gue waktu kelas X dulu?"
"Yap. Elo tau diakan? Model. Gaul. Modis. Kulitnya putih banget. Lo yakin Rio nggak tertarik sama dia? Buta kali Rio."
"Alah ketimbang Shilla mah. Dia tuh nggak bagus-bagus amat. Senyum model dia itu?? Nggak ada manis-manisnya, lebih baik dia itu kagak senyum. Masih manisan senyum gue," seloroh Ify.
Via diam-diam menyetujui ucapan Ify. Dia juga mengakui sih. Kalau senyum Shilla itu rada maksa.
"Shilla benaran suka sama Rio?" tanya Ify lagi. Via mengangguk. "Rio udah tahu?" tanyanya lagi.
"Udah rahasia umum lagi, Fy, kalo Shilla ngejar-ngejar Rio. So, gue rasa Rio tahu," jawab Via.
"Tapi mereka belom pacarankan?"
"Belum sih."
Seulas senyuman tercipta di wajah Ify. "Kalo gitu gue punya kesempatan. Alyssa Saufika Umari nggak kalah cantik sama si Shilla. Bahkan lebih," seru Ify.
Via geleng-geleng kepala. "Lo mimpi mulu, Fy."
"Ish...Via nggak dukung banget. Bete ah," Ify merajuk. Pipinya kembung. Via tertawa ngakak.
Tanpa memperdulikan Via yang menertawainya Ify kembali bertanya. "Terus kalo gue yang manusia terngaret, jarang mandi, nggak rapi ini, nggak pantes sama Rio. Gue pantesnya sama siapa?" tanya Ify sedikit sewot.
Via bergaya seolah-olah sedang berpikir. Telunjuknya ia letakan di pelipis. "Hmmm..." Via seperti masih berpikir. Namun ia udah mengambil posisi berdiri. "Lo jodohnya DAUD, Fy," seru Via dan memberi penakan pada kata yang di capslock. Kemudian Via mengambil langkah seribu. Kabur.....
"VIIIAAAAAA...., SINI LO. JANGAN KABUR. ENAK AJA LO BILANG GUE JODOHNYA DAUD. DAUD ITU JODOHNYA ELO, VIA," teriak Ify sambil berlari mengejar Via.
Dilihatnya Via berbelok ke koridor kanan dan tawanya masih pecah. Ify dan Via yang memang hobi kejar-kejaran susah untuk saling menangkap. Tiba-tiba suara bruk... Seperti ada benda yang jatuh terdengar. Ify semakin cepat berlari. Ketika ia sudah memasuki koridor kanan, Ify melihat Via sudah terkapar jatuh menimpa seseorang. Masih dalam keadaan berlari Ify ngakak hebat. Ketika sadar bahwa ada orang di depannya, Ify berusaha untuk mengerem. Karena lantainya licin Ify sulit berhenti.
"WOI....WOI...MINGGIR. KAGAK BISA BERHENTI NIH," teriak Ify. Namun orang yang dimaksud nggak ngeh sama sekali. Malah ia melihat Ify dengan ekspresi 'cewek atau alien sih' tak lupa dengan wajah cengo dan dahi berlipat.
"AAAAWWWWWAAAASSSS, BEGOOO AMAT SIH. WOI..... MING...." jerit Ify tak selesai.
Brrruuuukkk..... Alhasil Ify  menabrak orang itu dan Ify jatuh persis di atas orang itu.
"ADAAAUU...." teriak Ify.

******

Rio berjalan santai menyusul sohibnya menuju kantin sekolah yang masih buka untuk membeli air mineral lagi. Ternyata sebotol air minum tadi tak cukup menghilangkan rasa dahaganya.
Saat memasuki koridor kanan, Rio mendapati bahwa sohibnya, Gabriel sudah terkapar dengan wajah nggak banget di lantai. Di sebelah Gabriel juga ada seorang gadis yang tengah terduduk juga dalam posisi dan ekspresi tak jauh beda dari Gabriel sendiri.
Rio bergegas menuju tempat terjadi perkara. Ia bukan mau menolong sohibnya itu. Terlihat dari senyum nakalnya dan alisnya udah naik turun. Rio ingin menggoda Gabriel yang tengah menatap cewek itu dengan tampang berbinar-binar penuh cinta. He is falling in love at first sight.
Tetapi... ketika Rio memalingkan pandangannya ke mulut koridor. Ia seperti terhipnotis memandang sosok seorang gadis yang tengah berlari begitu cepat dengan tawa renyahnya. Namun, ketika bola mata si sosok di mulut koridor bertemu pandang dengan matanya. Air muka sang gadis berubah jadi panik. Ia melotot tajam ke arah dirinya. Rio mendengar suara sayup-sayup sang gadis. Tetapi ntah kenapa ia masih terpaku akan sosok itu. Gadis itu seperti magnet yang membuat Rio tak berhenti memandangnya. Di saat gadis itu sudah sibuk berteriak-teriak menyuruhnya minggir, Rio masih diam membatu. Dan akhirnya, gadis tadi menubruk Rio hingga mereka berdua terjatuh di lantai, tak jauh jaraknya dengan Via dan Gabriel.
“ADAUUUU……” rintih gadis itu.
Rio terkejut dan langsung merubah posisinya dari terbaring menjadi duduk. Ia mendapati gadis tadi masih terbaring dan memegang punggungnya yang mungkin terasa sakit.
“Maaf. Lo sakit di mana? Perlu ke UKS?” tanya Rio to the point. Ify, gadis yang menubruk Rio masih merintih kesakitan. Ketika mendengar ada orang yang bertanya padanya Ify langsung mengomel tanpa melihat siapa yang berbicara padanya.
“Lo sih bego amat. Gue udah nyuruh minggir, nah lo diam mulu. Sakit ini pinggang. Awas aja ya kalo gue patah pinggang jadi encok kayak mbah-mbah, gue tuntut elo ke Kak Seto,” omel Ify.
Rio bukannya marah malah tersenyum geli. Gadis di depannya ini lucu sekali. Menggemaskan pula. Di saat gadis lain menjaga image di depan Rio, gadis ini tampil apa adanya.
“Silakan aja kalo mau nuntut gue. Tapi, gue rasa lo nggak sampai encok deh. Perlu ke UKS?” tanya Rio lagi.
“Lo nyolot amat sih, gue yang jatuh bukan elo. Kalo elo yang jatuh mah gue kagak perduli. Sakit tahu nih pinggang,” oceh Ify. Nah lho, Ify yang jadi sewot.
“Maaf deh. Gue bener nggak sengaja,” ujar Rio lagi. Gadis di depannya ini belum juga mengangkat kepalanya walaupun Rio sudah tahu siapa gadis ini. Gadis yang ia lihat di taman sekolah yang asyik sendiri mengejar capung-capung yang berterbangan dengan bebas.
“Lo pikir maaf bisa ngilangin ini sakit. Nggak sengaja apanya, jelas-jelas gue udah teriak minggir. Lo diam aja, nah lho jangan-jangan lo terhipnotis akan kecantikan dan kemanisan gue?? Iya kan?? Benerkan??” ucap Ify dan kini ia mengangkat kepalanya dan menemukan sosok yang special untuk dirinya.
“Ooopppsss…” ucap Ify dan langsung membekap mulutnya dengan telapak tangannya. Ia kaget, ternyata yang ia tubruk adalah Rio. Orang yang disukainya. Ya ampun gue udah ngomong apa tadi, malu nih, batin Ify.
“Hello?” panggil Rio.
“Ya ya?” tanya Ify jadi linglung.
“Gue minta maaf, bener nggak sengaja deh. mungkin benar kali ya, gue terhipnotis sama lo. Tapi bukan kecantikan elo, tapi….tawa elo,” jawab Rio. Jantung Ify kembali deg-deg-an. Udah mau lepas rasanya. Ify jadi terdiam.
“IIIIIPPPPOOOONGGG….” Panggil Via yang dari tadi asyik berkenalan dengan Gabriel dan belum perduli dengan Ify yang terjatuh juga sama seperti dirinya.
“WOI, VVIIIIOOONGG….lo kira ini di pasar. Pake toa,” balas Ify.
“Lo pake toa juga tuh, sama aja dodol,” balas Via sambil melet. Ify pun balas melet dan keduanya saling melet-meletan. Rio dan Gabriel hanya cengo melihatnya, kedua gadis ini sungguh ajaib. Kemudian, mereka berdua tersenyum geli.
“Udah ah, Vi. Capek gue. Enak nggak jatuh?” tanya Ify yang telah berhenti melet-melet.
“Lo juga jatuh kan? Gimana rasanya?” tanya Via balik.
“Nggak enak. Sakit pinggang gue, punggung juga,” jawab Ify polos. Diam-diam Rio tersenyum dalam hati.
“Tuh yang gue rasain. Makanya jangan ngejar-ngejar gue tadi,” ujar Via.
“Itu mah gara-gara elo kali. Masa iya lo bilang gue jodohnya Daud, padahalkan gue suka sama……” mata Ify menangkap sosok Rio. Gimana mungkin ia bisa melupakan hal itu. Hampir saja ia keceplosan. Ify pun pura-pura berbisik pada Via. “Nah gitu, Vi,” tambah Ify dan menyikut lengan Via agar ia ikut dalam acting Ify.
“Hmmm….” Deham Gabriel.
“Eh Iyel, Sorry deh. kalo gue udah gabung sama Ify jadi gini deh. suka lupa kalo ada orang. Hehehehe…” ujar Via cengengesan.
“Nggak apa-apa kok,” jawab Gabriel dan kini ia beralih pada Ify. “Kenalin gue Gabriel, ini sohib gue Rio,” ucap Iel kepada Ify dan menjulurkan tangannya untuk salaman.
“Ify….”
“Gue Rio,” ucap Rio.
“Ify…,” balas Ify. Rio dan Ify pun bersalaman. Dalam hati Ify berdo’a supaya ia tidak gemetaran. Via tertawa sendiri dalam hati melihat tingkah sohibnya itu.
“Udah jam lima lho. Kalian belum pulang?” tanya Gabriel lagi.
Ify dan Via kompak mengangguk. “Mau pulang kok. Ini baru mau,” jawab Via.
“Mau kita anter?” tawar Gabriel sebelumnya bertanya pada Rio melalui isyarat mata.
“Nggak usah,” jawab Via dan Ify kompak. Alis Rio dan Gabriel terangkat sebelah.
“Bener?” Gabriel memastikan.
Ify dan Via mengangguk kuat-kuat. “Kita duluan ya? Bye….” Pamit Via dan Ify lagi-lagi serentak dan keduanya balik badan meninggalkan Rio dan Gabriel. Saat tiba di lapangan, mereka beruda berlari-lari. Sepertinya kejar-kejaran lagi.
                “Hahahhaa…..” tawa Rio pecah. “Lucu banget ya mereka,” ucap Rio. Gabriel mengangguk.
                “Ngomong-ngomong, Yo. Lo bisa jatuh juga kenapa?” tanya Iyel.
                “Cabut yuk, ntar gue ceritain,” jawab Rio. Dan keduanya pun menuju parkiran dan pulang ke rumah.

******
               
Gadis itu berbaring di kasur empuknya. Di sekitarnya buku-buku dengan judul yang berbeda berserakan semaunya. Buku-buku itu tidak-lah tipis, cukup untuk menimpuk kepala seseorang yang –mungkin– sedikit menganggu. Jelas buku itu tidak tipis, buku-buku yang berada di sekitar gadis itu adalah buku pelajar dengan judul Physic, Chemistery dan History. Mungkin saja ketiga buku itu adalah buku pelajaran untuk jadwal besok pagi. Jadi, dapat dikatakan gadis itu tengah belajar. 
                Belajar? Bila diperhatikan sebaik-baiknya, sepertinya gadis itu tidaklah belajar. Tentu saja karena gadis berambut panjang hampir sepinggang tidak sampai itu, sedang tersenyum-senyum sambil menatap kertas buram yang tidak tahu bentuknya seperti apa lagi. Kertas itu sudah lecek di sana sini.
                “Aduuuh.....Mom!” ucap Ify. “Gini ya rasanya jatuh cinta. Jadi seperti ini yang dirasakan Mom sama Dad. Tau nggak, Mom. Ify jatuh cinta sama Rio. Dia itu tinggi, pinter lagi. Dan nggak taunya Rio itu ketua OSIS, Mom. Ify bodoh banget sampai nggak tau, padahal Ify dan Rio itu satu angkatan, hehehe....” ucap Ify dan menatap langit-langit kamarnya.
                “Ify memang nggak peka sih, Mom. Habis Ify udah terlanjur terkenal duluan sampai-sampai nggak kenal sama dia, hehehe....” narsis Ify. Matanya menatap foto yang berada di dinding di depan dirinya. Sebuah frame yang memuat gambar tiga orang. Tentu saja dirinya dan kedua orang tuanya. Mama Ify sudah meninggal sejak Ify kelas 5 SD, sedangkan papanya tinggal di Bandung bersama neneknya. Dan di sana papanya mengurus bisnis keluarga mereka.
                Mom, Ify suka banget sama Rio. Jadi Ify nggak bakalan kayak Mom yang ninggalin Ify sama Daddy cepet banget. Ify sayang sama, Mom. Love you, Mom,” ucap Ify dan lama-lama matanya terpejam. Jadwal belajarnya terlupakan.

**********

Daaauuuuuuuuudddddddd!!!! Ada salam dari Via. Katanya Via kangen sama Daud!!!!!” teriak Ify sambil berlari secepat mungkin.
“Ifyyyyyy!!!!! Apaaan sih!!!!! Iiiiifffyyyyy bohong tuh, Ud. Iiiiiiffffffyyyyy suuuuuukkkkkaaaaaa saaaamaaaa loooooo, Uuuuddddd!!!!” ganti Via yang beteriak saat melewati Daud juga.
“Nggak apa-apa deh!!! Via sama Ify suka sama Daud!!!” balas Daud dengan pede-nya.
Di dua tempat yang berlainan, Via dan Ify berlagak mau muntah.
Jadi sekarang ini, Ify dan Via sedang bermain kejar-kejaran. Sebenarnya sih nggak kejar-kejaran yang dimulai dengan saling undi, tapi dimulai dengan kejahilan Sivia yang mengerjai Ify duluan.
“VVVVIIIIIIAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!” teriak Ify kesal karena balasan Daud. “Via, lo yang suka sama Daud, kenapa bawa-bawa gue sih!!!!” seru Ify kesal dan dia berhenti berlari. Tak lama kemudian Sivia datang menyusul.
Hosh…hosh…. Napas Via memburu. Berlari mengejar Ify bukanlah hal yang mudah karena ia hanya junior dan Ify adalah senior dalam hal lari dan kabur. “Yang duluan bilang kalo gue suka sama Daud siapa? Elo kan? Padahal gue nggak SUKA!!”
Ify mencibir. “Bo’ong banget. Waktu pelajaran matematika elo ngeliatin Daud mulu dengan kagum. Itu lo bilang nggak ada rasa?”
Via melotot kesal. “Ishh... lo, Fy,” dumel Via. “Siapa juga yang nggak kagum kalo dia bisa ngerjain soal matematika yang soalnya Cuma dua baris tapi jawabannya satu papan tulis???!!! Emang lo bisa?”
Ify meringis kecil. Iya juga sih. Waktu itu bukan hanya Via yang menatap kagum Daud. Dia sendiri juga, tapi ngejailin Via suka sama Daud itu asyik banget. Lucu. Makin lucu dengan respon Daud yang juga bercanda. “Nggak sih, Vi, tapikan, lucu banget ngledekin elo sama Daud. Hahahaha...”
“Ya udah, kalo gitu elo juga jangan marah dong kalo gue ngeledekin elo suka sama Daud,” timpal Via dan tersenyum penuh kemenangan. Tak lupa alisnya naik turun.
Ify cemberut. “Itu mah NGGAK bisa. Gue nggak rela, Via. Lo taukan gue sukanya sama Rio. Sama Mario Stevano Aditya Haling.”
Via melengos dan berdecak. “Ck... masih aja elo ngimpi. Gue kan udah bilang, kalo saingan elo itu Shilla. Masih aja elo suka sama Rio!”
“Tapikan elo bilang, Rio nggak nanggepin Shilla. Itu berarti gue ada kesempatan. I have chance,” protes Ify.
“Tetap aja, Fy. Itu nggak mungkin. Elo...”
“Jadi elo lebih mendukung Shilla yang jadi pacar Rio? Gitu? Lo dukung nenek rombeng? Gitu sama sahabat elo? Ya udah... elo sahabatan aja sama nenek sihir itu. Sana... lo dukung. Bila perlu bawa spanduk,” ujar Ify. Matanya menyipit dan tangannya besedekap di dada.
“BUKAN gitu, Fy!” bantah Via. Via sangat mendukung kok kalau Ify sama Rio, tapi itu dia masalahnya. Kalau secara teori nih, Rio aja nggak suka sama cewek yang cantiknya kayak Shilla --minus senyum jeleknya (Via menambahkan dalam hati)—bagaimana Rio bisa suka sama Ify yang notabanenya sangat... sangat... bisa dikatakan aneh dan tidak feminim, meskipun Ify cukup cantik dan manis. Bagaimana???
“Terus gimana?”
Via menggeleng. “Gue nggak tahu, Fy, kita berdoa aja biar Rio suka sama elo, kalau bisa cinta,” jawab Via dan membuat Ify ternganga. Masa iya Cuma berdoa?
“Kalau kita santet aja, gimana, Vi?”
Bletak... Via tak segan-segan menoyor kepala sahabatnya itu. Siapa yang tidak refleks menoyor kalau mendengar usul ajaib dan ngacoh itu?
“Sakit tau!!!” protes Ify.
“Elo sih... usulan elo itu aneh banget. Nggak masuk akal. Emang mau bunuh orang, pake santet segala!”
“Kalo gitu...” Ify berlagak mikir dan... “Ah iya... gimana kalau ramuan cinta?” usul Ify tiba-tiba bersamaan dengan tangan kanannya terjulur ke depan dan kaki kanannya menghentak.
“Astaga...astaga...astaga...” latah Via sambil mengelus dada. Ia menatap Ify garang. “Kalo gue jantungan gimana, Fy!!!” seru Via kesal.
“Ganti jantung pisang aja. Nggak bakal jantungan lagi kok!” timpal Ify.
Darah Via benar-benar mendidih. Rileks Via.... rileks... rileks... batin Via dalam hati. “Usulan elo tadi apa?”
“Pake ramuan cinta!”
Bletak....
                “Nggak diterima!”
                “Kalo gitu, coklat cinta.”
                “Kagak ada yang kayak gitu!”
                “Pelet?”
                Bletak...
                “Ngaco! Lo kira Rio itu ikan, dikasih pelet segala.”
                Ify cemberut, bibirnya monyong-monyong. “Bukan itu juga kali. Pelet yang kayak di film-film itu, Via. Yang bisa buat orang tergila-gila.”
                Via menggelengkan kepalanya lalu menoyor kepala Ify (lagi). Bletak...
                Lama-lama Ify juga kesal sama Via. Udah usul ditolak, malah kepala kena jitak. “Lo kira-kira dong, Vi. Kepala gue nih. Bukan bantal tinju. Elo mau bikin kepala gue nggak berbentuk lagi???”
                Hehehehe... Via cengengesan. “Gue kira elo suka ditoyor!”
                Ify greget banget. Giginya gemeretak dan tangan kanannya terkepal. “Awas lo, Via....” seru Ify dan mengangkat kepalan tangannya.
                “HUUAAAAAA.... KABBOORRRR.....!!!!!!” Via menjerit histeris. Via bisa memahami kalau Ify tak main-main. Ify benar-benar sudah kesal karena ditoyor olehnya dan sekarang saatnya kabur. Via berlari secepat mungkin dari Ify yang sedang mengejarnya.

**************

“Shill... gue punya kabar penting buat elo,” ujar Aren ketika ia tiba di kantin, tepat di meja yang dihuni oleh Shilla dan Angel.
“Apa? Tentang Rio yang mulai suka sama gue?” tanya Shilla percaya diri. Bagi Shilla, berita tentang Rio adalah hal yang paling menarik, tepat sejak ia menyukai pemuda itu. Dengan segala kecantikannya, gelar modelnya, dan kekayaannya, Shilla yakin kalau Rio akan menjadi miliknya. Namun sayangnya, sampai sekarang tidak terjadi. Rio tetap dingin kepadanya.
“Bukan itu sih, tapi ada hubungannya sama Rio,” jawab Aren.
“Lo masih ditolak, Shill,” ledek Angel dan membuat Shilla mendelik kepadanya.
“Terus apa?”
“Lo tau Alyssa Saufika kan?” tanya Aren dan Shilla menggeleng. “Itu... si Ify.”
Shilla memukul meja cukup kencang. “Ify? Ify yang berantem sama gue itu? Yang ngatain senyum gue jelek?” tanya Shilla beruntun dan sangat emosi. Terbayang jelas di kepalanya saat ia dan Ify berantem.
Aren mengangguk dan Angel menjawab iya.
“Kenapa dengan dia?”
“Dia suka sama Rio.”
Uhuk... Shilla terbantuk. Angel menyodorkan air mineral kepadanya. “Ify suka sama Rio?” ulang Shilla setelah ia meredakan batuknya.
“Yap. Gue denger sendiri tadi waktu dia bilang sama sahabatnya si Via,” ujar Aren.
Shilla tersenyum sinis. “Dia suka sama Rio? Berani banget. Nggak sadar kalau dia itu jelek. Mana mau lagi Rio sama dia.”
“Gue juga udah denger yang itu tadi, Shill. Via udah bilangin si Ify itu, tapi Ify tetap ngotot.”
“Biar aja, dia bukan saingan gue. Mana mungkin Rio suka sama dia,” ucap Shilla meremehkan. Ia masih sangat yakin, kalau Rio pada akhirnya akan menyukainya.
Aren menyikut lengan Angel. “Gimana?” tanyanya berbisik.
Angel menggeleng. “Biarin aja. Shilla aja santai. Kenapa elo cemas?”
“Firasat gue buruk.”
Angel tidak menanggapi sama sekali. Masa bodoh! Dia sudah berkali-kali mengatakan kepada Shilla untuk tidak mengejar-ngejar Rio lagi, tapi Shilla masih tetap pada pendiriannya. Kalau Shilla diterima Rio ya syukur, kalau nggak kenapa pusing-pusing, nanti tinggal bilang cari yang lain aja.
“Njel... njel...,” panggil Aren.
“Kenapa?”
Shilla menatap sebal kepada kedua sahabatnya. Kenapa mereka dari tadi berbisik-bisik? Adakah yang aneh? “Elo berdua kenapa?”
“Firasat gue jelek, Shill. Kalo Ify diterima Rio gimana?”
“Nggak mungkin... nggak mungkin...,” ujar Shilla santai. Tiba-tiba ingatan itu terlintas dalam benaknya. Kejadian saat ia ditolak karena Ify. Ia ingat. Ingat. Sangat ingat. Ia ingat ketika Kak Cakka lebih memilih mendengarkan pendapat Ify daripada dirinya, padahal ia duluan yang meminta kepada Kak Cakka. “Tapi... kita perlu mengawasi tindak-tanduk Ify. Iya... kita mesti mengawasi Ify,” tambah Shilla.

**************

“Morning everybody...,” sapa Ify ketika ia tiba di kelasnya.
                “Eh cieee Ify... nyapanya pakai bahasa bule!!!” seru Daud dari bangku tempatnya duduk.
                “Iya dong, Ud, gue kan ada darah bulenya. Selama ini gue diem-diem aja kalau darah gue itu Sunda, Jerman, dan Inggris,” timpal Ify sambil berjalan menuju bangkunya.
                “Huuuuuuuu....... nggak mungkinn.....” sorak teman sekelas Ify yang sudah datang.
                “Sirik aja elo semua!!!!” balas Ify.
                “Daripada lo ngibul, Fy, mending lo buat peernya Bu Winda. Elo mau kena jemur lagi?” usul Riko kepada Ify. Dia sendiri masih sibuk menyalin jawabannya Daud.
                Ify dengan gaya lebaynya berdecak. “Ck... peer Ibu Winda mah kecil. Udah gue kerjain semalem. Pasti jawaban gue sama dengan Daud. Gue yakin!!!”
                Seisi kelas memandang takjub sekaligus tidak percaya kepada Ify. Seorang Ify membuat peer? Peernya pelajaran Bu Winda lagi! Nggak salah?? Ify-kan anti banget sama matematika!
                Ify memoyongkan bibirnya dan mengambil buku peer matematikanya. “Ini nih peer gue,” ujar Ify dan membuka lembaran peernya.
                “Ya ampun!!! Gue nggak menyangka, jawaban Ify sama dengan Daud. Suer deh!!!” seru Rizky yang posisi duduknya di sebelah Ify. Laki-laki itu menatap handphone-nya yang menampilkan foto peer yang dikerjakan Daud lalu melihat hasil pekerjaan Ify.
                “Beneran, Ky? Masa Ify ngerjain peer dan jawabannya sama dengan Daud? Gue aja nyalin yang Daud nih!” tanya Via penasaran. Sahabatnya itu belajar??? Masa iya Ify belajar?? Hebat banget!
                Rizky mengangguk lalu menampilkan cengirannya. “Iya, sama, jawaban nomor satunya sama.”
                Gedebuk... Via menatap Rizky kesal. Ngomong kek dari tadi. Kalau itu mah biasa kali. Cuma satu yang sama.
                Bletak... Ify menimpuk Rizky pakai buku peernya sendiri. “Sorry aja ya, elo bilang cuma nomor satu yang sama. Hellow... Lo belekan, Ky? Semua jawaban gue sama tau!!!!!” protes Ify.
                Rizky mengelus-ngelus kepalanya. “Sorry, Fy. Habis elo tiba-tiba jadi rajin gini, kan aneh banget!”
                “JADI BENERAN IFY BUAT PEER MM DAN JAWABANNYA SAMA SEMUA DENGAN GUE??? Asyiikkkk..... nanti jamnya Ibu Winda gue bisa absen maju ke depan, gue bakalan mengatakan kepada Ibu Winda kalau kelas kita punya ahli matematika yang baru dan perlu diuji kemampuannya,” ujar Daud terharu. Matanya mulai mengeluarkan mutiara-mutiaranya. “Gue bangga banget punya temen kayak elo, Fy. Mulai sekarang elo yang bakalan ngerjain soal mm-nya Ibu Winda.”
                Ify mendadak cemas. Raut wajah yang semula senang berganti layaknya ekspresi ketika bertemu hantu. “NO.... BIG NO... NO...,” tolak Ify cepat.
                “Eh kenapa?”
                “Oke... oke... gue ngaku... Gue emang berencana ngerjain tugas matematika itu, tapi gue nggak bisa. Gue bingung... gue lupa kalo Daud rajanya matematika. Terus gue coba cari di internet dan ternyata ada. Soalnya persis sama dan ada jawabannya lengkap dengan jalannya. Langsung aja gue salin, gue masih tetap Ify kok. Masih Ify yang dulu. Yang kagak ngerti matematika. Beneran,” jawab Ify dan ia wajahnya seolah-olah mengatakan ‘jangan suruh gue ngerjain soal matematika di papan tulis ya? Gue mohon’. Ify benar-benar memelas.
                Hahahaha.... tawa teman sekelasnya meledak. “Canggih elo, Fy! Cari di internet, gue aja mana terpikir,” puji Septian yang membuat Ify melotot kepadanya. Itu si Septian ngomongnya kayak nyindiri gitu. Huh!!
                “Gue nggak di suruh ngerjain soal di papan kan?” tanya Ify lagi. Kali ini suaranya sangat memohon.
                “DISURUH!!!!!” balas teman-temannya kompak.
                “Nggak mau!!!!”
                “Harus mau!!!!”
                “Nggak!!!”
                “Sedih sekali hati Daud, ternyata... Ify nggak bisa mm. Sedih bana hati Daud ternyata... masih Daud yang ngerjakan soal di papan tulis. Oh... Ify... lo kejam... kejam banget sama Daud... tidakkah kau sedih lihat Daud, selalu... ngerjain soal.” Daud tiba-tiba menyanyi dan membuat seisi kelas hening. “Oh... Ify... kau sangat kejam.... Kau pemberi harapan palsu. Tidakkah kau kasihan lihat daku yang selalu ngerjakan soal di papan tulis?” Kali ini Daud mulai berpuisi. Mimik mukanya benar-benar mendukung. “Oh... Ify si Pemberi Harapan Palsu. Engkau sungguh kejam.... sungguh jahat... kau telah membuat Daud senang ketika tahu kau pandai matematika... dan ternyata... kau bohong... Ify... kau telah memberikan harapan palsu.”
                Huhaahahahahahaha.... “Daud elo alay banget. Mana puisi lo ancur banget!!!!” ledek  Keke.
                “Puisi gue seancur hati gue, Ke,” balas Daud sendu.
                “Tenang aja, Ud, sebagai permohonan maaf gue, gue salamin elo sama Via, bila perlu sekarang. Elo mau salam apa? Salam cinta? Salam sayang?” ujar Ify.
                Seketika wajah Daud kembali cerah. Dapat salam dari Via??? “Guee mau, Fy.... Gue mau salam cinta dari Via imut!!!!!”
                Via yang duduk di depan Ify mendadak murka. “Alyssa Saufika Umariiiiiiii........,” geram Via.
                “Piiss... Via cantik...,” cengir Ify ketika melihat Via yang mendadak murka. Wajah Via sudah merah dan tangannya terkepal keras.
                Teng... teng.... teng...
                “Jangan marah lagi, Vi, udah bel,” cicit Ify dan tak lupa menampilkan ekspresi polosnya.

***************

Kelas XI IPA 2 menyimak apa yang disampaikan Ibu Uci, guru Bahasa Indonesia. Guru yang telah berumur 30-something itu sedang menyampaikan materi tentang menulis karya ilmiah, hingga di akhir penjelasannya, beliau memberikan tugas. “Seperti yang telah ibu jelaskan tadi, maka dari itu, tugas akhir kita untuk semester ini adalah menulis karya ilmiah. Tugas ini nanti berkelompok dan temanya bebas.”
                “HOOOORREEEE....” seru warga XI IPA 2. Ify yang sendari tadi memperhatikan Ibu Uci secara terang-terangan menunjukkan ekspresi leganya. Memang siapa sih yang mau mengerjakan karya tulis ilmiah sendiri? Tugas itu bukan sekedar menulis latar belakang, permasalahan, dan sanak saudaranya, tetapi harus dilakukan secara cermat.
                “Dan satu lagi... karya tulis ilmiah ini harus observasi bukan tinjauan pustaka. Mengerti?”
                Separuh isi kelas menganggukkan kepala dan itu sudah mewakilkan seluruh kelas sehingga dapat disimpulkan bahwa kelas XI IPA 2 ini paham. Ify yang tadi tampak lega sekarang jadi was-was. Ia sudah berkode dengan Via. Masalahnya ini sulit. Kalau saja kelompoknya bebas, itu akan menjadi berita lain, hanya saja, sekarang ini tinggal berharap semoga....
                “Baiklah, ibu akan membagikan kelompoknya. Satu kelompok ada tiga orang dan semuanya harus bekerja sama,” ujar Ibu Uci.
                Ini dia yang ditakutkan Ify dan Via. Kalau guru yang membagi kelompok bisa saja apes dan jangan sampai apes ditugas yang sangat berat ini. Semoga aja sekelompok dengan Alvin, batin Ify. Kalau sekelompok dengan Alvin pasti pekerjaan jadi serba beres. Bodoh amat sama penampilan Alvin yang nerd abis. Bodoh amat sama kecamata tebalnya yang penting Alvin mah jagonya karya tulis. Wajar sih, diakan gembongnya eskul KIR. Kalau dirinya sekelompok dengan Alvin, nilai tinggi sudah ditangan dan tidak perlu bekerja keras. Ify terlalu mengkhayal hingga ia tidak menyadari kalau Ibu Uci telah membacakan beberapa nama kelompok.
                “Kelompok lima, Alvin Jonathan, Rahmi, dan Septian. Kelompok enam, Sivia Azizah, Alyssa Saufika, dan Daud. Kelompok tujuh.... bla.... bla... bla....”
                Khayalan Ify langsung terbuyarkan ketika ia mendengar Ibu Uci menyebut namanya dan ia berada di kelompok enam bersama Daud dan Via. Ify memang selalu suka bersama dengan Via, tapi kalau di kelompok karya ilmiah ia nggak suka. Ify juga yakin kalau Via juga tidak akan suka. Ify dan Via satu kelompok dalam karya ilmiah??? Ini mimpi buruk!! Sumpah!!!!!! Ditambah lagi mereka berdua satu kelompok dengan Daud. Ini benar-benar.... Ya ampun... BENCANA ALAM!!!!!! Ify sudah melihat ke arah Via lagi dan tidak ada harapan. Via sendiri sudah menampilkan wajah sekaratnya.
                Ify dan Via sudah tidak perduli lagi dengan anggota kelompok yang lainnya. Bahkan mereka tidak lagi mendengar apa yang dibicarakan Ibu Uci dan ketika bel berbunyi, Ify dan Via telah berevolusi jadi zombie.
                Ify dan Via kompak menampilkan wajah sekarat. Tangan mereka tergantung lunglai lalu keduanya berjalan keluar kelas. Hal aneh yang mereka lakukan lagi adalah menanyakan kepada setiap orang yang mereka temui, “kenapa kami harus sekelompok sama Daud?”
                Seperti sekarang ini, ntah mereka menyadari apa tidak, Via dan Ify berjalan menyusuri koridor kelas XI dan ketika Zahra melewati mereka, keduanya langsung mencegat Zahra dan berkata, “Kenapa kami harus sekelompok sama Daud?” Zahra yang tiba-tiba dicegat merasa parno juga dan ketika mendengar apa yang ditanyakan Via dan Ify gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.
                Lain lagi ketika Via dan Ify –masih dengan muka zombienya—menghampiri Angel. Ketika mereka berkata, “Kenapa kami harus sekelompok sama Daud?” kedua gadis itu mendapat teriakan, “LO BERDUA GILA!!!!!!” Seperti tidak perduli dengan teriakan Angel, Ify dan Via masih saja bertanya, “Kenapa kami harus sekelompok sama Daud?” dan lagi-lagi Angel berteriak, “TOLONGIN GUE, ADA ORANG GILA NIH!!!!!!!” sontak saja seluruh penghuni koridor bahkan yang berada di dalam kelas segera ingin melihat ‘orang gila’ yang diteriakin Angel.
                Ify dan Via masih tidak perduli dengan orang-orang yang memperhatikan mereka dan bahkan mengejek mereka gila. Keduanya masih saja menyusuri koridor dan terus berkata, “Kenapa kami harus sekelompok sama Daud?” memang kenapa dengan Daud? Itu yang jadi masalahnya.
                Sekarang, Ify dan Via sudah berada di mulut koridor, tiba-tiba keduanya berjalan menyilang arah dan membuat posisi keduanya saling bertukar dan setelah berjalan selama lima langkah, keduanya kembali bertanya, “Kenapa kami harus sekelompok sama Daud?”
                “Memang kenapa dengan Daud?” orang yang mereka tanyai malah balik bertanya kepada mereka.

************

Rio menghampiri Gabriel yang masih asyik mendrible bola basket. Pemuda itu merebut bola basket itu, lalu mendrible dan melemparnya ke arah ring dalam jarak three point. Tidak perduli dengan teriakan di sekitarnya yang mengatakan kalau dirinya hebat. “Ke kantin yuk, Yel. Haus gue,” ajak Rio dan Gabriel mengangguk.
                Rio dan Gabriel menyusuri lapangan basket. Sebelum itu, mereka berpamitan pada Debo dan yang lainnya. Yeah, seperti biasa, jam istirahat siang menjadi waktu mereka bermain basket, namun sekarang, Rio ingin ke kantin. Ia ingin menghilangkan rasa hausnya.
                “Udah dua hari ya, Yel, nggak liat mereka berdua,” ucap Rio membuka percakapan sepanjang perjalanan menuju kantin.
                Dahi Gabriel keriting. Ia bingung. Mereka siapa yang dimaksud Rio. “Mereka?” ulang Gabriel.
                Rio malah terkekeh. “Itu, si Ify dan Via, yang nggak sengaja kita tabrak,” jawab Rio. “Dan yang menolak untuk kita antar pulang,” tambahnya.
                Mendengar itu Gabriel jadi teringat dan membuatnya ikut terkekeh seperti Rio. Dia ingat dengan jelas, Via dan Ify, dua gadis yang masih bermain kejar-kejaran di masa SMA. Ajaib banget. “Bener, Yo. Dua hari sejak insiden tabrakan. Kita memang nggak pernah ketemu sama merekakan selama ini?”
                “Iya juga sih, Yel. Gue juga baru tahu dia yang namanya Ify, tapi nama Ify kita udah sering dengar, orangnya aja kita yang nggak tahu.”
                Gabriel jadi tertawa. Ify. Ia tahu nama itu. “Dan Via,” tambah Gabriel. “Kita tahu nama Ify dan Via, dua cewek itu terkenal banget dengan julukan ‘freak’, ya kan?”
                Rio mengangguk. “Menurut gue sih, nggak freak juga kali hanya gara-gara hobi kejar-kejaran,” jawab Rio. “Satu hal yang gue ingat, Yel, Ify itu yang sering kabur waktu jam arahan ketos dan suka tidur di taman belakang.”
                Gabriel mengangguk-ngangguk. “Dan Via terkenal dengan pawangnya Ify, habis Via yang sering bangunin Ify tidur di taman belakang.”
                Hahahaha.... Rio dan Gabriel tertawa. “Dan sekarang kita ngomongin mereka. Kangen sih sama Via,” ujar Gabriel.
                “Lo kangen, Yel?” tanya Rio tidak percaya.
                “Emang kenapa? Masalah, Yo?”
                Rio menggelengkan kepalanya. Ia hanya heran, ini pertama kalinya Gabriel mengatakan ia merindukan seseorang, tepatnya merindukan seorang cewek, tentu saja cewek itu selain keluarganya. “Lo jatuh cinta, Bro!!” Gabriel tidak menanggapi sama sekali.
                Rio melihat Ify dan Via yang berjalan lunglai dengan muka zombie mereka. Mencegat setiap orang yang mereka temui dan tidak perduli dengan orang-orang di sekitarnya yang mengatakan mereka gila. Ditambah lagi, mereka masa bodoh banget dengan Angel yang mengompori anak-anak lainnya untuk mengejek keduanya. Bahkan, Via dan Ify juga tidak peduli dengan Riko yang menirukan mereka.
                “Yel, itu Ify sama Via kan?” tanya Rio tiba-tiba dan membuat dirinya serta Gabriel berhenti berjalan.
                “Mana?”
                “Di depan kita. Itu lihat mereka... kok jalannya jadi bersilangan?”
                Gabriel melihat ke depan dan mendapati Via dan Ify yang berjalan lunglai serta mengubah posisi mereka. Sekarang, Via di sebelah kiri koridor dan Ify tentu saja di kanan koridor. Lama-lama Ify dan Via semakin mendekat ke arah Gabriel dan Rio.
                “Kenapa kita harus sekelompok sama Daud?” tanya Via dan Ify bersamaan ketika mereka sampai di depan Rio dan Gabriel.
                “Memangnya kenapa dengan Daud?” Gabriel balik bertanya kepada kedua gadis itu.
                Alis Rio terangkat sebelah ketika Ify semakin dekat dengannya sehingga jarak mereka hanya dibatasi oleh satu ubin keramik. “Kenapa gue harus sekelompok sama Daud?” tanya Ify kepada Rio.
                “Sekelompok dengan Daud?” Untuk memastikan apa yang Ify tanya, Rio mengulang pertanyaan yang Ify ajukan.
                Ify mengangguk kuat-kuat. “Iya, harusnya Via aja sekelompok dengan Daud. Kenapa gue juga harus ikut-ikutan sih!!!!!!” jerit Ify histeris.
                “Enak aja elo, Ify. Harusnya elo tuh yang sekelompok sama Daud. Kan elo jodohnya Daud,” balas Via. Walaupun muka udah zombie, tapi pendengaran Via masih baik. Malah baik banget. Ia mendengar apa yang dikatakan Ify pada Rio. “Iya kan, Yel?” Via menatap Gabriel untuk mendapat dukungan dari pemuda itu. Gabriel meringis. Ia masih bingung, sebenarnya apa sih yang dipermasalahkan oleh kedua gadis ini.
                “Ogah tahu, VVVIIIAAAAA....!!! Lo tuh yang takdirnya Daud!!!!!!!!” balas Ify sewot. Rio tertawa kecil.
                “Ify...,” panggil Rio lembut. Langsung saja Ify kembali fokus menatap Rio. “Memang kenapa dengan Daud?”
                Ify diam saja. Matanya zombienya masih menerawang ke depan. “Apa karena Daud item?” tanya Rio usil.
                Ify menggeleng. “Daud memang item, tapi dia temen yang baik. Apalagi dia jodohnya Via dan sebagai sahabat yang baik gue harus berteman baik dengan Daud,” jawab Ify polos dan membuat Rio menolehkan kepalanya ke belakang. Dia ketawa. Hahahaha....
                “Apa karena Daud jelek?”
                Ify lagi-lagi menggeleng. “Daud memang jelek, tapi itu bukan masalahnya.”
                Rio berpikir sejenak. Ify tidak mau sekelompok dengan Daud. Alasannya bukan karena Daud item dan jelek. Terus masalahnya apa? Rio menatap Ify mencoba memahami apa yang dipermasalahkan gadis ini. Namun Rio tidak bisa memahami apapun. Raut wajah Ify masih sendu, lepek, dan kusut. Kayak Zombie persisnya. “Memang kenapa dengan Daud?” Rio mengulang pertanyaan pertamanya tadi.
                Mendadak Ify menjerit sangat histeris. “Kenapa dengan Daud??? HUUUUAAAAA..... nggak mau sekelompok sama Daud buat karya tulis. Nggak mau!!!!!!!!!”
                Ah iya... Rio ingat satu hal tentang Daud. Daud itu anaknya pinter dan ikut menjadi perwakilan sekolah dalam olimpiade matematika. “Daud kan pinter, Fy.”
                Ify menggeleng. “Daud itu cuma pinter matematika, Rio. Tugas ini karya tulis dan Daud sama sekali nggak bisa diharapkan.”
                “Kan ada elo sama Via. Terus masalahnya di mana?”
                Sekarang, Ify menatap Rio dengan ekspresi wajah sedihnya. Air matanya mulai menititik dan ya ampun, Ify lebay banget!!!! “Masalahnya? Elo nanya masalahnya? HUUUUAAAAAA.... LOOO NGGAK NGGERRTTIIIII BAAAANGGETT SIHHHH, YOOOO!!!!!!” jerit Ify dan ntah dorongan dari mana, Rio meraih Ify dalam pelukannya.
                “Gue emang nggak ngerti, Fy. Kan elo sama Via bisa ngerjainnya bareng kalau memang Daud tidak bisa diharapkan,” bisik Rio dan mengelus puncak kepala Ify.
                “Masalahnya, Yo, gue sama Via juga nggak bisa buat karya tulis, apalagi karya tulis penelitian. Lo bayangin aja, belum lagi latar belakang, masalah, pembahasan, dan kawan-kawannya. Elo bayangin deh, Yo, itu ribet banget. Gue nggak bisa,” ucap Ify.  “HHHHHHUUUUUUAAAAAAAA....... nilai gue bakal jelek!!!!” Ify histeris dan Rio masih tetap memeluknya. Mungkin saja Rio berpikir dengan memeluk Ify maka gadis itu tidak akan histeris lagi.
                Rio menoleh ke arah Gabriel. Sahabatnya itu tak jauh beda dengannya. Via juga histeris seperti ini. Rio jadi mengerti mengapa Ify sama Via sahabatan. Tingkah mereka nyaris sama. Rio melihat Gabriel telah menyuruh Via duduk di kursi koridor dan Gabriel sendiri berjongkok di depannya sambil menepuk pelan bahu Via. Tiba-tiba wajah Rio memerah, kenapa ia sampai memeluk Ify???
                Rio kembali fokus kepada Ify. Ia ingin melepaskan pelukannya dan ternyata Ify masih memeluknya. Wajah gadis itu juga tenggelam di dadanya. “Nilai elo nggak bakal jelek, Fy. Lo pasti bisa ngerjainnya,” ujar Rio menenangkan Ify.
                “Nggak mungkin, Yo. Nilai gue sama Via itu udah nyaris banget di bahasa Indonesia. Nulis puisi aja kita berdua cuma dapat cukup. Jahatkan Ibu Uci. Kalau jelek kita mesti ikut perbaikan di akhir semester.” Ify terdiam sejenak. “Coba aja... coba aja... gue sekelompok sama Alvin, pasti dijamin nilai gue bagus banget. Alvin kan pinter meski kacamatanya tebel banget. Alvin juga ganteng. Daud jelek. Kalau sekelompok sama Alvin kan dapat bonus banyak, Yo.”
                Rio heran. “Bonus banyak?” ulang Rio. Memangnya Alvin kayak undian yang banyak bonusnya.
                Ify mengangguk. “Selain dapat nilai tinggi, gue nggak perlu repot-repot ngerjain penelitian, pasti dia senang kerja sendiri. Terus, gue juga bisa ngeliatin wajah ganteng Alvin. Asyikan, Yo. Kalau kacamata Alvin dibuka, gantengnya keliatan banget.”
                Rio menggeram. Ia tidak suka mendengar Ify mengatakan Alvin ganteng. Rio menggeletukan giginya dan mempererat pelukannya pada Ify. “Biar gue yang bantu elo ngerjain karya tulis.”
                Ify tercengang dan melepaskan pelukannya pada Rio yang semakin erat itu. Lalu dengan mata berbinar-binar Ify menatap Rio. “Beneran, Yo??” tanya Ify ulang dan wajahnya kembali ceria.
                Rio tersenyum lebar sembari mengangguk. “Pasti. Gue bakal bantuin sampai tuntas dan elo bakal dapat nilai tinggi dan pastinya nggak perlu sekelompok sama Alvin.”
                “ASSSSYYIIKKK.... EELLLOOO BBAAAIIKKK BAAAANGGGEETTT SIIIHHHH, YYYOOOO.... Saaa....yyyaangg... sama Rio!!!” seru Ify dan menghadiahkan pelukan kilat kepada Rio lalu berlari menuju Via yang duduk di kursi koridor tanpa menyadari bahwa Rio mematung mendengar ucapannya yang ‘sayang sama Rio’.  “Vvviii... kita nggak perlu lagi meratapi nasib. Rio bakal bantu kita ngerjain karya tulis,” ucap Ify kepada Via. Ify tidak perduli dengan kehadiran Gabriel karena ia tidak perduli ketika sepatunya mengenai kaki Gabriel. Hahaha.... kasian banget si Iyel.
                “BENENERAN??? DEMI APA???” tanya Via.
                Ify mengangguk. “Iya, Vi. Rio udah janji. Asyik banget!!!!!!!”
                Via menjentikan jarinya. “Ini dia baru harapan nilai kita bakal bagus, nggak cukup lagi.”
                Gabriel yang sendari tadi diam kini berdiri dan bertanya pada Rio, “Jadi elo bantuin, Yo?”
                Rio mengangguk. “Kasian banget, Yel. Mana Ify muji-muji Alvin pinter dan ganteng. Gue rada kesel, Yel. Jadi gue bilang mau bantuin.”
                Rio mengangkat alisnya sebeleha. “Kesel karena Ify bilang Alvin ganteng? Hmm... elo cemburu, Yo,” bisik Gabriel.
                Rio menegang. Cemburu. Dia cemburu. Kenapa dia harus cemburu. Kenapa? “Cemburu, Yel?” tanya Rio dan Gabriel mengangguk.
                “Kenapa gue bisa cemburu?”
                Gabriel tertawa geli. “Karena elo udah suka sama Ify.” Gabriel menjawab dengan singkat, padat, dan jelas.

**************
Jreng... jreng... jreng....
                Daud memetik gitar yang berada di pangkuannya dengan semangat. Saat ini seluruh kelas GNISHS mendapatkan anugrah yang paling indah, yaitu guru-guru rapat yang artinya bahwa jam kosong. Kalau jam kosong berarti bisa sepuasnya mau ke mana saja. Mau ke kantin kek silakan. Mau numpang nongkrong di posnya Pak Satpam ya monggo. Mau berjemur layaknya ikan asin di tengah lapangan boleh-boleh aja. Atau mau nyanyi-nyanyi di koridor depan kelas tidak dipermasalahkan. Pokoknya bebas.
                Kelas XI IPA 2 tidak menyianyiakan kesempatan yang ada. Beberapa penghuni kelas tersebut kompak berkumpul di koridor depan kelas mereka sambil bernyanyi-nyanyi asyik, gaje, dan apapun yang penting membuat senang.
                “Gue request dong, Ud. Gue mau lagu Kasih Putih,” pinta Ify semangat. Ia benar-benar menyukai sesi nyanyi bareng. Tadi aja Via udah kebagian nyanyi lagu dangdut ntah apa judulnya yang Ify ingat liriknya itu ada yang kayak gini.
                Aku cinta dia, Mak...
                Aku sayang dia, Mak...
                Yang penting.... dia setia....
                “Masa lagu mellow sih, Fy,” protes Rizky. Orang lagi maunya asyik-asyik Ify malah mau yang sendu-sendu. “Ditolak!!!!”
                Ify mencibir. “Gue maunya itu. Gue mau pengkhayatan nih. Giliran gue lagi nyanyi dong, ntar udah gue suruh Via lagi nyanyi lagu dangdut khusus buat elo, Ky!!!”
                “Oke... giliran Ify, Ky. Kita mesti sportif,” ucap Daud dan membuat Ify tersenyum lebar. Sebelum ia berdiri mau menyanyi, Ify sempat-sempatnya melet-melet ke arah Rizky.
                “Ehem... ehem...,” ucap Ify seolah-olah sedang mengetes microphone. Padahal yang jadi microphone-nya itu adalah tiga buah spidol papan tulis.
                “Banyak gaya lo, Fy!!!” celetuk Septian.
                Ify tidak memperdulikannya. “Mulai, Ud!” ujar Ify dan Daud mulai memetik gitar.
                Sedalam yang pernah kurasa.... Ify mulai bernyanyi. Matanya terpejam dan kepalanya bergerak-gerak. Pertama bergerak ke kanan. Gerakannya itu lho alay banget. Kepalanya bergerak dan bahunya juga bergerak miring ke kanan. Gerakan kedua juga sama, akan tetapi hanya saja ke kiri.
                Hasratku hanyalah untukmu terukir manis dalam renunganku jiwaku... jiwaku menyatu... Di lirik yang kedua ini, Ify benar-benar mengkhayati isi lagu dan membuat teman-temannya seperti terhipnotis.
                Namun, di lirik yang ketiga Ify benar-benar membuat bencana. Gadis manis itu tiba-tiba menyanyikan lirik tersebut dengan di dangdutin. Biarkanlah kurasakan hangatnya sentuhan hatimu... Bawa daku penuhiku... berilah diriku ka....
                Sttooopppp.... lo ngacau aja sih, Fy!!!!” Lagi-lagi Rizky yang protes.
                “Lo apaan sih, Ky. Sedih salah, dangdut salah!” seru Ify pura-pura marah. Padahal ia sengaja.
                Rizky mencibir. Ia tahu kalau Ify sengaja dari sorot mata Ify yang menyembunyikan tawa. “Orang lagi menghayati, lah elo seenak jidat mengacau.”
                “Bodoh amat! Habis gue geli liat tampang elo semua menghayati itu lagu. Apalagi si Tian noh...” Ify menunjuk Septian yang duduk adem anyem sambil menyender di tembok kelas “... masa Tian mejamin mata terus tangannya kirinya tergenggam gitu dan tangan kanannya megangin tangan elo, Ky. Masa elo nggak sadar sih!!!!!!”
                Rizky segera melihat tangannya yang berada di sebelah Septian. Saat melihatnya Rizky langsung menarik tangannya. “Iihh... apa-apaan sih lo, Yan!!!” dengus Rizky.
                Septian mengerjapkan matanya lalu nyengir kuda. “Ah elo malu-malu, Ky. Tadi juga ngehayati itu lagu dan balik genggam tangan gue!” ujar Septian kalem. Rizky membuang muka dan teman-temannya yang lain menertawakannya. Hahahha...
                “Lagu Adera yang lebih indah aja yuk,” usul Patton.
                “Boleh tuh... boleh....” Daud antusias menyambut ide Patton. Sampai-sampai ia melepaskan gitarnya dan menyerahkannya pada Patton.
                “Lah ini gitar kenapa dikasih ke gue?” tanya Patton heran melihat gitar Daud sudah berada di pangkuannya.
                “Sekarang elo yang main gitar. Gue mau nyanyi dan jadi model video clip-nya bareng yayang imut Via,” jawab Daud santai dan menarik tangan Via.
                “Eh cieeeee Viaaaaa...,” ledek Ify. Anehnya Via tidak membalas ledekan Ify. Apa Via udah suka sama Daud? Batin Ify bertanya-tanya.
                “Elo bengong aja, Fy. Cepetan. Lo sama gue!” ucap Rizky yang sudah berdiri di hadapan Ify.
                Jadi, sekarang Patton yang bermain gitar, sedangkan Septian duduk di sebelah Patton untuk bernyanyi. Sementara Via dan Daud berdiri berhadapan begitu juga dengan Ify dan Septian.
                Intro lagu Lebih dari Indah mulai mengalun.
Saatku tenggelam dalam sendu.... Waktuku enggan untuk berlalu... Kuberjanji tuk menutup pintu hatiku dan ntah untuk siapapun itu... Semakin ku lihat masa lalu... Semakin hatiku tak menentu... tetapi satu sinar terangi jiwaku saat kulihat senyummu...
                 Ify dan kawan-kawannya mulai bernyanyi bersama. Daud dan Rizky sendiri sudah berakting layaknya cowok desprate karena patah hati. Via dan Ify sendiri belum berakting hanya berdiri sambil tersenyum-senyum. Tidak tahu alasan mengapa mereka senyum.
                Saat memasuki reff pertama, Dan kau hadir merubah segalanya menjadi lebih indah.... Daud dan Rizky menunjuk pasangan masing-masing sambil tersenyum lebar. Muka patah hati tadi langsung berganti dengan wajah senang ala orang baru jatuh cinta. Kemudian gaya mereka beranti lagi, kini tangan Daud dan Rizky kompak terangkat ke atas seperti hendak meraih langit. Kau bawa cintaku setinggi angkasa membuatku merasa sempurna dan membuatku utuh tuk menjalani hidup berdua denganmu....
                Lagi asyik-asyiknya menyanyi tiba-tiba seseorang berteriak. “SSSSTTTOOPPPP!!!!!!!!”
                Ify dan kawan-kawannya mendadak berhenti bernyanyi. Petikan gitar Patton pun tak terdengar lagi. Mereka malah melihat Shilla yang ditemani kedua temannya telah berdiri di tengah-tengah mereka dengan wajah kesal.
                “ELO...” Shilla menujuk Ify “... dasar cewek freak. Berani-beraninya elo meluk Rio kemareennnn....” jerit Shilla histeris. Dia benar-benar kesal melihat kejadian kemaren di mana Rio memeluk Ify dan Rio mengusap puncak kepala Ify. Hal itu benar-benar membuatnya cemburu dan yang paling penting, harga dirinya sebagai cewek tercantik di sekolah ini nyaris habis. Masa dia yang seorang model kalah sama cewek freak kayak Ify yang hobinya main kejar-kejaran???!!!
                Ify masih terbengong. Rio memeluknya kemaren? Batin Ify. Aha... dia ingat. Kemaren Rio memeluknya saat curhat mengenai kelompok tugas karya tulis. “Memang kenapa kalau Rio meluk gue? Nggak boleh?” tantang Ify. Sorry... Sorry aja ya kalah sama nenek lampir seperti Shilla.
                Wajah Shilla memerah karena kesal. “Jelas nggak boleh, Freak. Lo itu nggak selevel sama Rio. Lagian semua orang udah tahu kalau gue itu pacarnya Rio!”
                Ify mencibir. Pacarnya Rio? Kapan tuh diresmiin? “Di mimpi lo kali, elo jadi pacarnya Rio. Ngaku-ngaku aja lo!! Iri ya sama gue.”
                “Iri sama elo? Ngapain juga!” Shilla mulai berang. Sejak kapan sih dia iri sama Ify? “Elo itu jelek! Freak!”
                “Bilang aja elo nggak pernah dipeluk Rio. Iri kan. Ngatain gue jelek sama freak. Iri ya... lo iri ya...” ujar Ify. Ia menampilkan senyum mencemoohnya kepada Shilla. Memang cuma Shilla aja yang bisa sinis? Ify juga bisa!
                “Gue suka sama Rio dan orang-orang sudah tahu!”
                Ify tersenyum miring. “Gue juga suka sama Rio dan orang-orang BARU tahu!” Shilla menggeram mendengarnya.
                “DENGER YA CEWEK FREAK! YANG BOLEH SUKA DAN DEKETIN RIO ITU CUMA GUE. CUMA ASHILLA!”
                “SIAPA BILANG?? PERATURAN DARI MANA??”
                “DARI GUE! KARENA GUE SUKA RIO.”
                “JIDAT ELO! MANA ADA! BERDASARKAN PASAL 28 J AYAT 1 UU JATUH CINTA SAMA RIO, SETIAP CEWEK YANG JATUH CINTA SAMA RIO, BERHAK MELAKUKAN PDKT KEPADA RIO TANPA TERKECUALI. INI BARU BENAR!” ujar Ify seenak jidat. Dari mana pula ia menemukan isi pasal tersebut.
                Shilla tercengang mendengar apa yang diucapkan Ify. Teman-teman Ify yang bernyanyi bersama Ify tadi jangan ditanya, mereka ternganga mendengarnya. Ify dapat pencerahan dari mana sampai mengucapkan kalimat ajaib itu?
                “Ngawur lo! Gini aja, kita bersaing. Kita berdua mendekati Rio, siapa yang dipilih Rio itu yang berhak jadi pacar Rio,” usul Shilla.
                “Dasar dodol lo! Yang dipilih Rio memang bakal jadi pacarnya, Bego!” sahut Ify kesal.
                “Maksud gue itu, kita berdua boleh mendekati Rio sampai Rio memilih di antara kita,” ralat Shilla. Dia kesal juga dikatain bego oleh Ify.
                Ify tampak berpikir. Mendekati Rio?? Shilla juga mendekati Rio?? Ify melihat Shilla dua kali. Style menang Shilla, batin Ify. Cantik tetap gue, tapi tetap aja sih, kecil kemungkinan kalo ada Shilla. Ify memiringkan kepalanya dan aha.... dia dapat ide.
                “Gimana kalo kita adakan pertandingan. Hasil pertandingan ini yang menentukan siapa yang boleh mendekati Rio.” Ify membuat penawaran.
                “Yang kalah bagaimana?” tanya Shilla. Ia sepertinya tertarik.
                Hmmm... Ify melihat-lihat ke arah teman-temannya siapa tahu dia mendapatkan wangsit dan uhu... “Yang kalah harus jadian sama Daud!” cetus Ify riang.
                Apa yang Ify katakan membuat empat respon. Pertama, Daud tertawa senang sambil mengucapkan terima kasih yang banyak untuk Ify. Bodoh amat siapa yang menang, yang penting Daud nanti bakalan jadi pacar Shilla atau Ify dan itu sangat menguntungkan. Kedua, teman-teman Ify bersorak huuuuu... ke Daud. Iri lantaran keberuntungan Daud.  Ketiga, Via, Angel, dan Aren ternganga. Benar-benar pertandingan mengerikan. Mereka bertiga kompak bergidik. Ihh... jadi pacar Daud belum pernah terbayang di benak mereka sama sekali. Keempat, Shilla. Gadis cantik itu awalnya tercengang lalu mendadak mengangguk-ngangguk sambil tersenyum penuh kemenangan. Mungkin dia berpikir kalau dia tidak akan kalah.
                “Oke. Gue setuju!”
                “Sipp. Gue ulangin, kita bertanding. Siapa yang menang boleh mendekati Rio dan yang kalah tidak boleh mendekati Rio sama sekali dan harus jadian sama Daud. Deal?” Ify mengulurkan tangannya.
                Deal,” ucap Shiila. Bukannya menyambut uluran tangan Ify, Shilla hanya mengenakan jari telunjukknya pada jari telunjuk Ify lalu cepat-cepat melepaskannya. Melihat tingkah Shilla ini membuat Ify tak segan-segan ingin menimpuk kepalanya dengan pot bunga yang ada di dekat tembok. Memang dia beracun sampai-sampai Shilla bertingkah seperti itu! Ify menggeletukkan giginya.
                “Sekarang tinggal nentuin jenis pertandingannya,” ucap Ify dan mulai merenung memikirkan pertandingan apa yang cocok. Tangan kanannya mengusap-usap dagunya. Shilla sendiri juga memikirkan pertandingan apa yang harus dilaksanakan.
                “LOMBA LARI!”
                “MODELING!”
                Ify dan Shilla kompak menyuarakan ide masing-masing. “Nggak bisa. Harus lomba lari,” ucap Ify ngotot.
                “Modeling dong. Lomba lari itu untuk kuli!” Shilla ikutan ngotot juga.
                “Lomba lari!”
                “Modeling!”
                “Lomba lari!”
                “Modeling!”                                   
                Teman-teman yang ada di antara Shilla dan Ify kompak menutup telinga. Tidak tahan mendengar Shilla dan Ify berdebat.
                Stop... gue ada ide,” cetus Septian. Kompak semua mata menatap ke arahnya.
                “Ehehem... gini aja, kita adain lima lomba. Pertama lomba modeling. Kedua lomba lari. Ketiga lomba nyanyi. Keempat lomba....”
                “Lomba masak nasi goreng,” celetuk Rizky dan membuat Shilla dan Ify menatapnya tajam. “Kan Rio sukanya cewek yang bisa masak dan yang mendekati Rio nanti harus bisa masak biar diterima Rio,” tambah Rizky cepat sebelum ia dicincang oleh dua gadis cantik itu.
                Ify dan Shilla mengangguk. Mereka berdua tampak puas. “Lomba ke lima apa?” tanya Shilla.
                Daud mengangkat tangannya tanda ia mempunyai usulan. “Berhubung Rio adalah cowok yang pintar, jadi mesti diadain lomba adu otak. Dan gue usulin lomba ngerjakan soal matematika.”
                Shilla dan Ify kompak terbatuk. Matematika adalah kelemahan mereka. Siapa sih yang mau mengerjakan soal matematika? Iihhh.... Shilla dan Ify kompak ingin menolak, namun Daud telah menyela duluan. “Ini wajib kudu dilaksanain. Karena kemampuan elo berdua sama, dibawah rata-rata untuk matematika...” Shilla dan Ify melotot hingga bola matanya ingin keluar medengar kata ‘dibawah rata-rata’ yang diucapkan oleh Daud, sedangkan Daud tidak memperdulikan sama sekali “... jadi gue kira ini sangat fair.”
                “Iya... iya... gue setuju,” timbrung Via. Tidak hanya Via, tetapi teman-teman yang lain juga menyetujui. Kapan pertandingan Shilla dan Ify ini menjadi persetujuan bersama?
                Ify dan Shilla hanya mengangguk. “Sekarang juri, siapa jurinya?” tanya Rizky.
                “Via!” jawab Ify cepat. Shilla juga tidak mau ketinggalan, ia segera menjawab. “Aren dan Angel!”
                Tiba-tiba Rizky maju ke depan dan berdiri di antara Angel dan Ify. Ia menggeleng-geleng. “Nggak bisa. Teman-teman kalian nggak bisa dijadikan juri, nanti adanya malah kecurangan,” tolak Rizky. “Gue saranin jurinya itu Alvin. Dia nggak deket sama Ify walaupun sekelas dan dia nggak deket juga sama Shilla, jadi dia netral.”
                Ify dan Shilla mengangguk setuju.
                “Juri kedua gue. Karena gue dengan ikhlas membuat soal matematika, maka gue cocok jadi juri,” ucap Daud dan mendapatkan tatapan tajam dari Shilla. Bukannya takut, Daud malah mengedipkan matanya dan membuat Shilla ternganga.
                “Elo deket sama Ify, ntar elo curang!” seru Aren.
                “Denger ya, Aren...na... gue nggak bakal curang. Kalau gue curang, kulit gue makin item hingga gue nggak terlihat sama sekali lagi! Gue bersumpah!” ujar Daud yakin.
                “Setuju!” ucap Ify.
                “Ngomong-ngomong jurinya mesti lima orang juga biar ganjil. Kalo tiga kedikitan,” timpal Septian.
                “Gimana kalo Agni, Ray, dan Zahra?” usul Rizky lagi. Tidak mau pusing, Ify dan Shilla langsung mengangguk. “Dan gue jadi mc-nya,” tambah Rizky disertai cengiran lebarnya. Akhirnya ada moment yang mengasyikan juga.
                “Ehem....” Septian berdeham dan menarik perhatian orang-orang terutama dua peserta pertandingan. “Selama sebelum dan saat pertandingan, tidak boleh ada kecurangan. Siapa yang ketahuan curang langsung dinyatakan kalah dan bakal jerawatan. Setiap peserta dan sahabat peserta tidak boleh menyogok dan mengacam juri untuk membuat si peserta atau sahabat peserta menang,” ucap Septian layaknya seorang juri besar. Padahal dia sendiri bukan juri, hehehe...
                Ify dan Shilla mengangguk setuju lalu saling bersalaman. Kali ini mereka benar-benar bersalaman dikarenakan Patton menarik tangan keduanya dan memaksakan untuk bersalaman. “Bilang deal!” ujar Patton. Ify dan Shilla mengikuti.
                “Sekarang kita rival. Perlombaannya minggu depan. Hari sabtu!” ucap Ify dan langsung disetujui oleh Shilla juga semuanya.

*******

Selama lima hari ini Via selalu dibuat repot oleh Ify. Gadis chubby itu benar-benar tidak menyangka kalau sahabatnya serius menatang Shilla. Via sendiri sudah mendengar dari Ify bahwa ia sangat menyukai Rio. Via tidak akan meragukan apa yang Ify katakan karena pada saat mengatakannya wajah iIy benar-benar serius, khidmat—mengalahkan khidmatnya upacara 17 Agustus--, tetapi khidmat apa hubungannya?? Satu hal lagi, belakangan ini, saat mendengar nama Rio, Ify sudah bertransformasi menjadi boneka kepala putar. Ehem, maksudnya kepala Ify langsung berputar liar mencari sosok Rio.
                Repotnya Via sungguh luar biasa. Dua hari yang lalu, Ify latihan modeling dan dua ribu heels milik Via patah—nggak ding—pokoknya Ify benar-benar parah dalam hal berjalan menggunakan sepatu hak tinggi. Sampai-sampai Via marah kepada Ify. “LO CEWEK ATAU BUKAN SIH, FY???” Via sangat geram lantaran Ify tidak berhasil berjalan mulus dengan high heelsnya. Ada-ada aja musibah yangg diciptakan Ify. Mulai dari haknya patah, Ifynya terpeleset, hinggga hal aneh, yaitu high heels coklat kesayangan Via lepas dari kaki Ify lalu terbang dan akhirnya nangkring di atap saung rumah Via. Sementara Ify—sang pelaku—terduduk di tanah dengan menampilkan cengiran lebarnya. Via mendengus kesal karena hal ini.
                Hari ketiga dan keempat, Via belum lepas dari kata repot dan sial. Via sangat sial karena dapur kesayangan mamanya kena badai katrina ala Alyssa Saufika. Belajar membuat nasi goreng setidaknya tidak terlalu parah untuk Ify minus kuali yang terjatuh dan tepat mendarat di atas kaki Via. Untung saja Via hanya mendapat memar di kakinya dan sialnya Via tidak bisa membalas sama sekali apa yang Ify lakukan padanya. Ngomong-ngomong, mengenai nasi goreng yang berhasil Ify masak, rasanya hanya satu, yaitu ASIN, tapi kadar keasinannya selalu berbeda. Terakhir belajar, masakan Ify berada di tingkat tertinggi rasa asin, yaitu PEDAU BANGET!!!! Via tidak yakin kalau Ify bisa mengalahkan Shilla di lomba memasak nasi goreng dan modeling.
                Di hari kelima, Via tidak mendapatkan sial hanya saja repot. Repot menemani Ify latihan lari cepat dengan catatan Via harus membawa foto Rio—fotonya hasil curian Ify dari dp bm-nya Rio dan liat dp Rio numpang di hpnya Rizky—berukuran 16R ke lapangan tempat Ify berlatih. Alasan Ify waktu itu hanya ‘biar semangat’ dan ini membuat Via misuh-misuh. Seperti yang telah Via perkirakan, Ify akan menang telak di lomba lari. Kecepatan lari Ify bisa dibilang WOW apalagi saat berlari ia melihat foto ‘Rio tercinta’—tulisan yang ada di balik foto Rio—kalian diam-diam aja. Jangan kasih tahu Ify ya?
                Dan sekarang adalah hari keenam di mana Via dan Ify sudah menghabiskan setengah hari di kamar Ify untuk latihan menyanyi. Pagi tadi, saat mau berangkat ke sekolah, Via diculik Ify dan dibawa ke rumah sahabatnya itu. Via sih fine-fine aja diajak bolos sekolah, dia juga ingin sih, alasannya simpel kok, dia nggak mau ketemu sama Ibu Uci dan membahas tentang karya tulis ilmiah, hoho.... Saat Via bertanya kenapa Ify mesti berpenampilan ala penculik kesiangan—pakai piama dan penutup kepala serta wajah—untuk menculik dirinya?? Ify menjawab biar dramatis dan sekali-sekali nggak apa-apa mendalami peran menjadi penculik siapa tahu dia bisa menculik hati Rio. Via hanya mengangguk-ngangguk atas jawaban Ify, padahal dalam hati ia ingin sekali berteriak, “ELO LEBAY ALAY BIN UPAY BANGET SIH, FY!!!!!” Tentu saja menurut Via, Ify itu lebay, alay, dan upay. Ify nggak perlu menyamar jadi penculik toh Ify hanya perlu menelpon dirinya dan ia dengan suka rela akan datang.
                “Keeeerrreeeeeennnn baanggeetttt, Fy. Elo memang keren kalau nyanyi plus bermain piano, meskipun elo itu suka telat, jarang mandi, lupa sisiran suka ketiduran, dan terus....” Ify memplototi Via “... dan tentu saja seseorang yang akan dicintai Rio.” Via menambahkan dengan cepat sebelum Ify mengamuk.
                “Gue gitu... Alyssa Saufika,” ucap Ify narsis. “Gue Alyssa ratunya piano dan suara malaikat,” tambah gadis itu.
                Via mengangguk setuju. Ify memang jago banget bermain piano, namun ia jarang memainkannya, Ify lebih sering bernyanyi sambil memetik gitar. Ify sendiri mau tampil bermain piano sambil bernyanyi karena bujukan Via akan fakta tentang Rio, yaitu Rio menyukai cewek yang nyanyi sambil bermain piano dengan begitu ia bisa duduk di sebelah cewek itu ikut bernyanyi dan memetik gitar. Mengetahui hal ini Ify langsung setuju.
                “Ahh... terakhir latihan matematika. Ya aammpunn...,” keluh Ify. Ia benar-benar tidak mengerti matematika. Haruskah ia memahami matematika?? Namun, ia lebih suka memahami Rio. Haruskah ia mengerti matematika?? Ify lebih suka mengerti Rio. Dan haruskah Ify jatuh cinta pada matematika?? Ya ampun.... Ify akan langsung menolak bila ia harus jatuh cinta pada matematika karena ia sudah jatuh cinta pada Rio. Gubrak!!!!!
                Matematika?? Mendengar kata matematika, bola mata Via langsung melotot. “MATEMATIKA, FY??? LO MAU BELAJAR MATEMATIKA DENGAN GUE SEBAGAI GURUNYA?? GUE BELUM MAU JADI PEMBAWA AJARAN MATEMATIKA SESAT, IPONG!!!!!” jerit Via histeris. Dirinya dan Via sama-sama tidak bisa matematika. Nilai mereka hanya berkisar lima sampai enam. Untung-untung lagi bila mereka berhasil meraih nilai enam.
                Ify mencibir dan memukul kepala Via dengan guling winnie the pooh-nya.
                “Issh...,” umpat Via.
                “Nggak gitu juga kali, Vi. Gue sama elo itu parah di matematika. Ngapain belajar  sesama bolot, bukannya jadi cerdas malah jadi double bolot,” ujar Ify. Via mangap-mangap layaknya ikan koi. Mulutnya terbuka lalu tertutup lagi.
                “Terus lo mau belajar sama siapa?”
                Ify menggeleng. “Nggak belajar.”
                “Tadi ngapain elo pake histeris segala bilang matematika?”
                “Biar elo histeris juga,” jawab Ify singkat dan membuat Via murka. Ingin sekali ia mencekik Ify saat ini, tapi dia ingat. Sahabat... sahabat... batin Via.
                “Kalo lo nggak belajar, ntar elo kalah, Fy. Bakal jadi pacarnya Daud.”
                Ify menyeringai. “Kalo gue kalah, Daud buat elo kok. Gue tau elo nggak rela Daud diambil orang lain.”
                Via menggeletukan giginya. “Sialanss...,” desis Via.
                Ify tertawa. Hahaha.... “Canda ah, Vi. Gue nggak mau belajar, toh Shilla juga dodol di matematika, pasti dia juga nggak bisa. Santai...”
                Mendengar ucapan Ify, Via mengangguk-ngangguk. Iya juga sih, Shilla juga terkenal dengan kedodolan matematikanya selain profesi modelnya. Habis, Ibu Winda selalu mengingat dan mengatakan kepada kelas-kelas yang diajarnya siapa saja murid yang parah di mata pelajarannya itu. “Benar juga. Keduanya memang sama-sama dodol kok,” batin Via. Dia sendiri tidak menyadari kalau dirinya juga termasuk kaum duafa nilai matematika.

******

#Lomba Modeling
                Aula sekolah yang menjadi tempat perlombaan sekaligus pembukaan pertandingan Alyssa vs Ashilla—berdasarkan tulisan yang ada di spanduk—telah dimulai dengan lomba modeling sebagai lomba pembukanya.
                Di bagian depan Aula, telah berdiri Ify dan Shilla dengan kostum masing-masing. Sementara di depan mereka dalam jarak 10 meter telah duduk lima orang juri dengan meja masing-masing serta papan pegang berbentuk tanda jempol yang berarti setuju.
                Sementara, Rizky sang MC berdiri di tengah-tengah bagian aula antara peserta dan juri. Di sekelilingnya dalam jarak batas berdiri teman-teman sekolah mereka yang ingin sekali melihat pertandingan double A ini.
                “Hadirin sekalian, selamat datang di pertandingan Alyssa versus Ashilla. Huuuu.....!!!” seru Rizky membuka pertandingan pagi ini. Terdengar suara yeeeeee.... dari para penonton sekitar. Aha... pertandingan Alyssa vs Ashilla ini tersebar tadi malam via BBM. Siapa pun yang membuat iklan broadcast itu niat banget!!! Bahkan aula sekolah ini hasil pinjaman Shilla kepada pihak sekolah. Ngomong-ngomong berguna juga itu anak, hahaha....
                “Pertama, terima kasih kepada juri yang telah bersedia datang pagi ini,” ucap Rizky sopan layaknya mc acara nasional. Rizky sepertinya sangat mendalami peran. “Baiklah... kita mulai pagi ini dengan lomba modeling!!!!!!”
                Ify yang sudah berdiri di sebelah Shilla menampilkan wajah sok tegarnya. Via yang berdiri di pinggir kanan terkekeh geli melihat tampang sahabatnya itu. Via beneran tahu kalau Ify sudah tidak tahan untuk melemparkan high heels dari kakinya. Hal ini tentu saja berbeda dengan Shilla yang terlihat sangat percaya diri dengan penampilannya.
                “Kepada Ashilla Zahrantiara silakan memulai perfomance-nya!!!” panggil Rizky.
                Shilla menampilkan senyum andalannya yang menurut Ify jelek. Gadis itu berjalan lenggak-lenggok di atas karpet merah (ngomong-ngomong karpet merahnya sengaja Shilla bawa sendiri dari rumahnya, niat amat!). Saat gadis itu berjalan ia sengaja mengibaskan rambutnya dan sontak saja suara tawa menggema di aula.
                Ify tidak perduli lagi. Ia ngakak sejadi-jadinya. Shilla memang tampil memukau dengan dress selutut berwarna merah muda dan sepatu hak tinggi berwarna senadah serta rambut panjang tergurainya. Tapi tolong.... Ya ampun... Kalau saja Shilla tidak mengibaskan rambutnya penampilannya sangat memukau... habis itu rambut ternyata menyembunyikan lebel harga plus merk dress yang gadis itu pakai.
                “Huhahahaha.... dress nenek lampir harganya Rp 499.000, huhahaha...,” ujar Ify tak bisa ditahan. Matanya jeli banget lihat tulisan harga yang tergantung di punggung Shilla. Tingkah Shilla ini benar-benar bikin ngakak, buktinya Alvin yang merupakan sosok pendiam ikutan tertawa, meskipun tidak terbahak-bahak, tapikan wajahnya memerah. Hahaha...
                Shilla tetap menampilkan senyum ‘modelnya’, meskipun ia benar-benar ingin melempar Ify yang menyebut-nyebut harga dress barunya. Ia juga merutuki dirinya yang lupa membuang lebel harga dan merk dress ini. Akan tetapi, Shilla merasa puas karena ia berhasil melalui lomba modeling ini dengan sempurna bila insiden lebel harga tidak dihitung.
                “Tepuk tangan yang meriah dong!!!!!!” seru Rizky setelah Shilla kembali berdiri di sebalah Ify. “Kita sambut, penampilan terakhir dari Alysaaaaa....!!!”
                Ify berdeham. “Jangan bikin ulah ya, Cantik!!” bisik Ify pada high heels-nya.
Shilla yang mendengarnya mencibir. “Sama sepatu aja ngomong. Freak banget!” umpat Shilla.
                Ify mendengarnya, namun ia cuek aja. Ify mulai berjalan di red carpet milik Shilla. Lima langkah pertama Ify sukses, ia butuh sepuluh langkah lagi untuk aman sampai ke depan. Sepuluh langkahpun Ify masih aman dan ia semakin percaya diri, bahkan di depan juri Ify berbalik dan mengibaskan rambut panjang sebahunya yang tergurai. Wow.... lengkap dengan senyum manis ala Alyssa terpampang di wajah cantiknya. Ify merasa sukses besar. Dan sekarang ia butuh berjalan lima belas langkah agar sampai dengan sukses di tempat semula.
                Dress gue kagak baru, jadi nggak bakal ada insiden lebel harga,” ujar Ify dalam hati. Hari ini ia mengenakan long dress berwarna hitam dengan hiasan sedikit manik-manik di pinggirnya. Sederhana. High heels abu-abunya tampak kooperatif di kakinya. Tidak bertingkah atau belum bertingkah??
                Tujuh langkah Ify berhasil berjalan dengan aman dan saat langkah kesembilan.... “Hhuuuaaaa........”
                Braaak.....
                Ify sukses keseleo dan jatuh dengan—kali ini posisinya elit—terduduk bak putri.
                “Huaaahhaa.... kuli sih, nggak mungkin pake high heels,” ledek Shilla. Ia merasa bisa membalas Ify yang tadi menertawakan dirinya.
                “Aduh.... Ify!!!!” seru Via yang langsung menghampiri Ify. Gadis berpipi chubby itu membantu sohibnya berdiri.
                “Lo bisa berjalan nggak nih?” tanya Via.
                “Gue udah keseleo puluhan kali, Vioongg. Pasti bisa dong!!!” jawab Ify dongkol.
                Hahahaha..... tawa menggema di aula. Teman-temannya menertawakan aib Ify yang nggak bisa memakai high heels.
                “Oke... Ify silakan melanjutkan lombanya,” ujar Rizky selaku mc.
                Ify kembali berlenggak-lenggok di red carpet hingga ia berdiri di sebelah Shilla.
                “Gue pasti menang,” desis Shilla.
                “Udah tahu kok,” balas Ify tidak peduli. Ia juga yakin kalau dirinya pasti kalah di bidang lomba modeling.
                “Mana teriakannya untuk Shilla????” seru Rizky bak mc lomba menyanyi. Huuuuu..... terdengar suara menggema.
                “Mana teriakannya untuk Ify!!!!” seru Rizky. Kembali terdengar suara huuuu... Nggak tahu huuu itu mendukung atau menolak. Teman-temannya pada suka nerikain huuuu doang.
                “Kita lihat penilaiannya. Kepada juri silakan memegang papan nilainya,” ucap Rizky. “Point untuk Shilla adalah....” Tampak Alvin, Daud, dan Zahra mengangkat papan untuk point suka. “...Shilla mendapat tiga point.”
                “Dan point untuk Ify adalah dua,” ujar Rizky saat melihat Agni dan Ray mengangkat papan point suka.
                “Gue menang!!!!” seru Shilla ke Ify.
                “Lo memang menang sekarang, tahu nggak kalo bentar lagi lo kalah. Karena habis ini lomba lari!!” balas Ify ke Shilla dan buru-buru melepaskan high heels-nya dan berlari menuju ke arah Via.
                Alyssa vs Shilla adalah 0 vs 1.

#Lomba Lari
               
                Via menatap khawatir Ify yang asyik melakukan pemanasan. Long dress Ify sudah berganti dengan baju olahraga khas Global Nusantra Internasional Senior High School.
                “Lo yakin bisa lari, Fy?” tanya Via.
                Ify mengangguk mantap sambil melemskan kakinya. “Lo jangan lupa rencana kita, Vi, biar gue tetap semangat!” ujar Ify dan dibalas dengan anggukan Via.
                “Ify mamen... gue bakal hitung berapa cepat elo lari dua keliling lapangan besar ini!!” seru Patton dan bertos ria dengan Ify. “Gue tadi takjub bener liat lo, Fy. Elo kalo didandanin dikitan cantik juga,” gombal Patton dan mengedipkan sebelah matanya ke Ify dan Ify balas kedipin Patton lalu ia tertawa terbahak-bahak.
                “Sompret lo, Fy!!!!” balas Patton. Ternyata Ify tertawa karena ia sukses membuat Patton hampir terjatuh gara-gara ia kedipin.
                “Ify elo gombalin!!!” balas Ify tak mau kalah.
                “Penonton harap berdiri di pinggir lapangan!!!!” seru Rizky dengan toa-nya. Septian dan Patton mendadak menjadi tim disiplin. Mungkin karena ini pertandingan Ify vs Shilla teman-temannya pada kompakan buat kooperatif.
                “Peserta silakan berdiri di garis start!!!” ucap Rizky.
                Ify sudah berdiri di balik garis star dengan seragam olahraga tanpa sepatu, sedangkan Shilla mengenakan training hitam dan baju kaos biru serta sepatu sport berwarna biru. Ia mendelik ke arah Ify.
                “Elo udik banget sih. Kuli kali ya. Nggak punya sepatu???!!!”
                “Suka-suka gue dong!!!” balas Ify kesal. Sibuk banget dari tadi ngurusin dirinya. “Lo aja nggak tahu apa guna telapak kaki saat berlari. Elo nggak tahukan berapa koefisien gesek antara telapak kaki dengan permukaan lapangan? Lo nggak tahukan apa pengaruhnya untuk kecepatan lari?” tambah Ify sok dengan teka-teki fisikanya. Padahal alasannya tidak mengenakan sepatu karena ia lupa membawa sepatu sport miliknya.
                “Peserta siap-siap start berdiri. Lari dua keliling lapangan besar dan empat juri akan berada di sudut belokan lapangan dan satu orang juri mencatat waktu kecepatan berlari,” jelas Rizky.
                “Ify... Ify.... Ify...!!!” seru teman-temannya. Ify sangat yakin dia bisa menang. Wong Rizky aja kalah lomba lari dengan dirinya, apalagi Alvin, hahaha... Ify ingat banget saat dia menyalip jauh Alvin saat ambil nilai lari jarak splint.
                “Satu... dua... tiga... muuu....lllaaaaiiii....!!!!!” seru Rizky.
                Ify berlari dengan cepat dan oh ho... Shilla tidak bisa dianggap lemah. Nenek lampir itu berlari cukup cepat. Ify terus berlari dan wajahnya menampilkan senyum lebar saat Via berdiri di pinggir lapangan sambil memegang foto Rio berukuran 10R.
                “Huaaaa... vitamin gue!!!!” seru Ify sambil menatap foto Rio untuk beberapa detik.
                “Ciieeee Ify... terang-terangan banget!!!!!!” goda Septian yang berdiri di sebelah Via.
                Ify semakin semangat berlari apalagi foto Rio terpampang di depan matanya. Hari ini... entah kenapa Ify berfirasat untuk membawa foto Rio sebab dia tidak yakin Rio hadir di acara ini dan dia benar, sampai saat ini Ify belum melihat Rio sama sekali. Bukankah hari ini libur??? Berarti Rio tidak ke sekolah.
                Satu lapangan sudah Ify lewati dan ia melihat Shilla yang berjarak cukup jauh dari dirinya. Ify segera menghampiri ke tempat Via berdiri. Ia berhenti sambil mengambil napas.
                “Kok elo berhenti sih, Fy?” protes Via.
                “Gue mau nambah vitamin dulu, Vi. Lagian itu nenek lampir masih jauh,” ujar Ify dan matanya berbinar-binar melihat foto Rio. Padahal itu foto agak buram. Dasar cinta!!!
                “Lo kagak takut waktu elo lama?” tanya Patton yang melihat stopwatch-nya.
                “Bodoh!!!!” balas Ify dan tetap menatap Rio yang berada di dalam foto. “My Vitamin!!!” gumam Ify.
                “Wow... Ify mendadak macet dan ia tidak menyadari bahwa Shilla telah melalui dirinya!!!” ujar Rizky sembari merekam dengan handycam miliknya.
                Ify mangap-mangap. “APPPAAA!!!!!” histeris Ify segera berlari mengejar Shilla. Kekuatan vitamin benar-benar memiliki khasiat. Ify berlari bak angin dan wuusssh... dia sudah berdiri di garis finish.
                Plokk... plokk... tepuk tangan menggema di lapangan, meskipun yang menonton tidak terlalu banyak, setidaknya memiliki penonton layaknya lomba tujuh belas agustus.
                “Prrrriiitttttt...,” fluit Alvin berbunyi. Alvin adalah juri yang berada di tengah lapangan. “Pemenangnya Alyssa dengan waktu tiga menit 17 detik,” ujar Alvin dengan toa pinjaman Rizky.
                “Asssyiiikkk!!!! Alyssa versus Ashilla satu sama!!!!!” seru Ify puas.

#Lomba Menyanyi
               
The words I need to hear to always get me through the day and make itu ok
I Miss you
               
                Shilla mengakhiri penampilan bernyanyinya. Gadis itu mengenakan dress berwarna biru dengan sepatu high heels hitam. Ify yang berdiri di pojok ruang musik ini melotot melihat Shilla yang begitu mempersiapkan pertandingan ini. Jujur Ify sedikit minder. Ia sudah bermusuhan dengan high heels dan ia juga tidak mau mengenakan dress lagi. Cukup sudah petualangan Ify dengan dua benda bertandakan feminim itu. Lihat saja sekarang, Ify hanya mengenakan seragam pramuka sekolahnya dengan sepatu pantofel-nya. Sepatu wajib bagi siswi di Global Nusantara dan tentu saja berwarna hitam.
                “Siap lo, Fy?” tanya Via yang berdiri di sebelah Ify.
                “Tentu dong, Vi!!! Gue gitu!!!” jawab Ify semangat dan sekali lagi melirik kostumnya. Cuek aja, Ify, yang penting suara lo badai, batin Ify.
                “Gue yakin lo pasti waah banget ntar, meskipun si nenek gombreng ini lumayan bagus juga,” cerocos Via. “Siapkan dengan piano lo?” tambah gadis berpipi chubby itu.
                Ify lagi-lagi mengangguk. “Gue bakal nyanyi lagu itu aja, Vi. Nggak apa-apa kan?”
                “Pasti. I’m sure about you,” balas Via.
                Ify mencibir ke Via yang sok berbahasa Inggris, biasanya juga pake bahasa minang. “Dasar lo. Bahasa minang aja kenapa?” sahut Ify.
                Via menampilkan cengirannya. “Eh... itu elo udah dipanggil sama Rizky,” ujar Via dan mendorong Ify menuju ke tengah ruangan.
                Masih sempat saja Ify mendelik kesal kepada Via sebelum gadis berdagu tirus itu duduk di depan piano berwarna putih.
                “Inilah dia penampilan dari Alyssa Saufika Umarriiii.....,” sambut Rizky disertai tepuk tangan dari teman-temannya.
                Jemari Ify mulai menari di atas tuts piano itu. Memainkan intro lagi dan akhirnya gadis itu mulai bernyanyi diiringi oleh melodi yang ia ciptakan sediri melalui tarian jarinya di atas tuts hitam putih itu.

Semua ini bermula dari perasaan...
Yang kemudian tumbuh menjadi harapan...
Yang lalu berubah menjadi pikiran tak terucap...
Yang lalu berubah menjadi kata-kata tak terucap...

Dan lalu kata-kata itu semakin keras...
Hingga menjadi tangisan...
Aku akan kembali saat kau memanggilku...
Tak perlu ucapkan selamat tinggal....

Hanya karena segalanya berubah...
Tak berarti semuanya tak pernah seperti ini sebelumnya...
Yang bisa kau lakukan adalah mencoba mengenal siapa saja teman-temanmu...
Saat kau berangkat menuju perang...

Ambilah bintang di ufuk yang gelap...
Dan ikutilah cahayanya...
Kau akan kembali saat semuanya berakhir...
Tak perlu ucapkan selamat tinggal...

Kini ita kembali ke awal....
Sekarang hanya ada perasaan dan tidak ada yang tahu...
Tapi mereka dapat merasakannya...
Tak berarti kau harus melupakannya...

Biarkan kenanganmu semakin kuat...
Hingga semuanya ada di depan matamu...
Kau akan kembali...
Saat mereka memanggilmu...
Tak perlu ucapakan selamat tinggal....

(Terjemahan The Call-Regina Spektor)
               
               
You’ll come back...
When they call you...
No need to say good bye...

                Ify mengakhiri penampilannya dengan tiga lirik terakhir. Gadis berdagu tirus itu ternyata memejamkan matanya saat bernyanyi. Apakah Ify benar-benar mendalami lagu tersebut?
                “Ify.... Love you fulll!!!!” teriak Patton yang berdiri di sebelah Via. Via misuh-misuh karena teriakan Patton tepat di telinga kanan Via.
                Huuu..... teman-teman yang lain berteriak. Ify tersenyum lebar. Ia menyukai lagu ini dan memainkan lagu ini dengan piano membuat Ify merasa lega. Rencana awalnya, Ify akan bermain piano dengan lagu Almost is Never Enough, tetapi Ify sebelum ia tampil Ify memilih untuk berganti lagu menjadi lagu The Call. Lagu sederhana, tetapi sangat indah untuk didengar.
                “Tepuk tangannya dong!!!” teriak Rizky. “Oke... berhubung udah jam dua belas, jadi kita bakal istirahat selama satu. Namun sebelum itu segera kita melihat point yang didapatkan oleh Alyssa dan Ashilla,” tambah Rizky.
                Ify dag dig dug banget jantungnya. Kalau ia kalah di lomba ini pasti kesempatan menangnya akan semakin menipis. Ia sadar nasi gorengnya jauh dari kata enak dan matematika Ify hanya berdoa semoga Shilla mengalami overerror sehingga ia memiliki kesempatan.
                Lain hal-nya dengan Shilla yang tampak yakin banget bakal menang. Shilla memang tampilan baik, apalagi dengan kostum yang ia gunakan. Suaranya juga termasuk bagus. Dia sendiri mendengar penilaian ini dari Ibu Ira, guru musik Global Nusantara.
                “Oke... cara penilainnya sekarang cukup berbeda. Kalau tadi kita satu-satu memberi nilai kepada peserta, sekarang kita langsung menilai keduanya. Tentu saja dengan papan penilaian yang baru. Setiap juri telah diberikan masing-masing dua papan bergambarkan wajah Alyssa dan Ashilla. Papan ini persembahan dari tamu spesial kita,” ujar Rizky panjang lebar dan mengundang rasa penasaran teman-temannya sekaligus kedua peserta itu sendiri.
                “Jadi... penilaian untuk lomba menyanyi ini adalah......”
                Alvin dan Ray kompak mengangkat papan bergambar wajah Shilla yang lagi tersenyum lebar, sedangkan Agni, Zahra, dan Daud mengangkat papan bergambar wajah Ify yang sedang tertawa lebar. Gigi putih Ify yang berbaris dengan rapi pun terlihat. Ngomong-ngomong, papan ini pemberian dari siapa?
                Yes... yes... gue menang!!!” sorak Ify gembira dan ia bertos ria dengan Via dan Patton.
                “Gue sih udah yakin lo bakal menang, Fy. Saingan lo nyanyi mah cuma Via. Kalo kalian berdua duet, gue serasa mendengar nyanyian surga,” ujar Patton. Yeah... teman-teman sekelas Ify memang hobi nyanyi-nyanyi nggak jelas ketika jam pelajaran kosong atau pulang sekolah sambil menunggu angkutan umum. Bahkan, mereka memang janjian buat ketemuan di cafe hanya untuk bernyanyi ria. Sudah jelas suara Ify dan Via sangat terkenal karena kece badai.
                Via dan Ify yang dipuji Patton langsung saja menghadiahkan cowok berkulit hitam itu dengan senyuman adalan ‘duo Pi’. Wajah Patton bersemu merah dan membuat Via dan Ify tertawa terbahak-bahak.
                “Ogah lagi gue muji elo berdua,” dengus Patton dan kabur dari kedua gadis itu.
                Good job, Fy. Ayo kita makan bakso dulu. Gue laper banget!!!” ajak Via dan segera menarik Ify menuju pintu gerbang. Kantin sekolah tidak buka karena hari ini libur sebab ada rapat guru yang sangat penting. Pilihan Via tentu saja Bakso Pak Rahmat yang berada di pengkolan sekolah.
                “Ngomong-ngomong, Alyssa versus Ashilla, dua versus satu,” ujar Ify tepat saat Shilla dengan angkuh berjalan melewatinya.  

*****


“Jadi, berapa skornya, Yel?” tanya Rio kepada Gabriel. Dua sahabat itu sedang berjalan keluar dari ruang musik. Keduanya tadi melihat penampilan Ify dan Shilla.
                “Dua-satu. Ify dua, Yo,” jawab Gabriel.
                Rio mengangguk-ngangguk. Seandainya saja ia tahu lebih awal setidaknya ia bisa melihat pertandingan itu dari awal. Seharusnya Rio kesal kepada dua gadis itu sebab ia menjadi hadiah lomba pertandingan. Nasi sudah menjadi bubur, jadi apa boleh buat. Lagian... Rio diam-diam menyukai sepak terjang Ify dalam pertandingan ini. Pertandingan konyol. Bukankah kedua gadis itu bisa langsung saja bertanya kepadanya, apakah ia menyukai salah satu dari kedua gadis itu?
                “Rugi banget kita nggak lihat lomba lari, Yo.” Gabriel mulai bercerita saat keduanya telah duduk-duduk di depan mobil yaris hitam milik Gabriel.
                “Memang kenapa, Yel? Lo sih kagak ngasih tahu dari awal,” tanya Rio sekaligus menggerutu kepada sohibnya itu.
                Bukannya menjawab Gabriel malah tertawa sambil mengotak atik handphone-nya. Laki-laki berkulit agak hitam itu tertawa tidak santai dan melototi gambar yang ada di handphone-nya.
                “Apaan sih, Yel?” desak Rio.
                “Ini nih lo lihat,” ujar Gabriel dan menunjukan gambar yang ia lihat kepada Rio dan langsung saja Rio senyum-senyum sambil mengulum senyum. Ada apa dengan cowok ganteng satu itu?
                “Ya kali, Yo, lo kayak anak gadis aja. Ketawa ya ketawa aja, Bro. Kagak usah pake malu-malu kucing segala. Gue tahu kok lo suka,” ledek Gabriel dan ekspresinya sok kalem.
                “Diem lo, Yel!!” dengus Rio.
                Hahaha... Gabriel tetap saja tertawa. Ify memang kocak abis. Gambar alias foto yang ia dapatkan dari Patton adalah foto Ify sedang menatap foto Rio yang dipegang oleh Via saat Ify sedang mengikuti lomba lari. Di bawah foto itu tertulis, Vitamin Ify. Berkat ini Ify lari bagai angin. Wuuussh....
                Tulisan alay ala Patton, namun Patton keren juga dapat mengambil foto Ify dengan tepat. Sebab foto Ify tersebut sangat memperlihatkan kalau gadis itu benar-benar terpesona dengan sosok Rio. Apalagi Patton dengan iseng menambahkan efek blush on di kedua pipi Ify. Wajah Ify benar-benar kocak.
                “Eh... Yo, andai kata nih kalo Ify kalah gimana?” Gabriel bertanya iseng. “Kalau kalah sih katanya mesti jadian sama Daud,” tambah Gabriel dan sukses membuat mata Rio melotot.
                “Masa sih, Yel?”
                Gabriel mengangguk serius. Kali ini dia jujur. Informasi ini Gabriel dapatkan dari Rizky secara langsung. Gabriel sendiri sangat ingat bahwa Rizky sedikit jengkel dengan keputusan yang dibuat Ify dan disetujui oleh gadis itu sendiri bersama Shilla. Kenapa bukan dirinya? Itu yang Gabriel ingat saat ia bertanya kepada Rizky mengenai berita menggemparkan ala Ify dan Shilla. Gabriel pribadi sih setuju saja Daud yang beruntung asalkan tidak ada Via di sana. Eh... Yel, ketahun nih???
                “Kalo gitu Daud gue combaling sama Via aja. Ify bilang Via kan jodohnya Daud. Gue yakin Ify rela kalau Daud sama Via dan gue tentu saja milih Ify. Shilla? Kenalin aja sama Riko. Selesai,” jawab Rio santai dan membuat Gabriel melotot kepadanya.
                “Nggak bisa dong, Yo. Via itu sama gue, mana ada sama Daud. Ify melantur tuh bilang Daud jodohnya sama Via,” balas Gabriel tidak terima.
                Ganti Rio yang tertawa ngakak.
                “Memang lo nggak rugi ngelepas cewek setenar Shilla?”
                Rio menggeleng santai. “Kalo gue merasa rugi udah gue terima dia dari lama juga, Yel. Gue lebih tertarik sama Ify,” ujar Rio dan matanya menangkap sosok Ify yang sedang tertawa bersama Via sambil berjalan menuju dapur sekolah. Ah... gadis itu... Ify sangat menarik di matanya, meskipun gadis itu hanya mengenakan seragam pramuka sekolahnya.
                “Yel... kayaknya udah mau mulai lomba memasaknya. Gue pengen lihat,” ujar Rio.
                Gabriel mengangguk setuju dan keduanya berlari menuju dapur sekolah yang berada di gedung bagian belakang.

*****

“Shill, lo yakin di lomba memasak ini?” tanya Angel yang sedang membantu Shilla bersiap-siap dengan celemeknya.
                Shilla mengangguk.
                “Kalo lo kalah gue angkat tangan, Shill. Lo sendiri yang setuju bakal pacaran sama Daud,” ujar Aren dan bergidik ngeri.
                Shilla melotot ke arahnya. “Gue pasti menang. Masa iya gue sama Daud? Hello... apa kata dunia?”
                Angel dan Aren hanya mengangguk, meskipun mereka tidak yakin dengan apa yang dikatakan sohibnya ini. Tidak ada pilihan lain selain mengangguk, bukan? Atau mereka akan mendapatkan amukan Shilla.
                “Oke, deh. Lo siap-siap dibagian elo. Itu Ify udah di depan mejanya,” ujar Aren.
                Shilla tersenyum puas dan segera menuju meja yang berseberangan dengan meja Ify. Ngomong-ngomong, izin meminjam dapur sekolah ini adalah atas usaha Alvin. Diam-diam saja. Berhubung Alvin adalah murid teladan, Ibu kepala dapur setuju saja bila Alvin yang meminta.

#Lomba Memasak Nasi Goreng

                Tiga puluh menit telah berlalu. Via yang sejak tadi mengamati apa yang dilakukan Ify sangat cemas. Sudah dua kali Ify salah menambahkan bahan, sahabatnya itu malah memasukan garam. Via tahu Ify cemas, dia saja yang melihat cemas. Via menyadari ia dan Ify bukanlah tipe remaja SMA yang hobi berkutat di dapur seperti Zahra. Aha... Via dan Ify tahu bahwa Zahra hobi memasak karena mereka pernah berkunjung ke rumah Zahra dan melihat secara langsung Zahra memasak.
                Sekali-kali Via melihat Shilla yang juga berkutat dengan masakannya. Shilla tidak salah memasukan garam, tetapi Via tahu Shilla kebanyakan memasukan cabe. Nasi goreng Shilla terlihat seperti nasi dicabein.
                “Semangat, Fy!!!” seru Via kompak sambil menunjuk-nunjuk kecap. Kecap adalah salah satu pemusnah rasa asin. “Dasar Ify pe’a,” desis Via kesal. Masa sih Ify tidak menyadari hint yang ia berikan.
                “Sabar aja kali, Vi,” ujar Gabriel dan terkekeh geli.
                Via mendengar suara itu langsung berbalik ke sebelahnya dan ia menemukan Gabriel yang telah berdiri di sebelahnya bersama... ehem... Rio. “Lo dateng?” tanya Via.
                “Pasti dong. Nemenin Rio. Pengen banget lihat acara ini. Katanya langkah,” jawab Gabriel dengan mengkambing hitamkan Rio. Benar-benar ‘sahabat sejati’, ckckck....
               
Ify sibuk membolak-balik nasinya. Ia menggerutu. Kenapa rasanya asin? “Kebelet nikah ya gue?” batin Ify.  “Kalo sama Rio sih nggak apa-apa,” tambah Ify dalam hati lalu ia tanpa sadar tertawa-tawa.
                “Udah gila. Freak lagi,” cibir Shilla yang tidak sengaja melihat Ify tertawa sendiri. Ketidaksengajaannya membuat Shilla beruntung karena ia dapat melihat hasil masakan Ify. “Bagusan gue,” gumam Shilla dan tersenyum puas.
                Ify mendengar apa yang Shilla katakan. “Bodoh amat,” ujar Ify dan menambahkan kecap di nasi gorengnya dan Ify tidak menyadari bahwa Sivia dari barisan penonton bernapas lega.
                “Oke... waktunya tinggal lima belas menit lagi,” ujar Rizky memperingatkan.
                Lagi-lagi Patton dan Septian menjadi tenaga bantuan. Kali ini menjadi kulit angkut piring. Kedua laki-laki tersebut masing-masing membawakan enam piring untuk Ify dan Shilla.
                “Yang enak, Fy, gue minta entar,” ujar Septian dan meletakan piring yang ia bawa di sudut meja.
                “Gue kasih kualinya, Ian. Tenang aja sama gue. Gue nggak bakal lupain teman,” sahut Ify cuek dan tetap saja tangannya bergerak membalik nasi. “Nggak enak nanti gue rela suapin elo deh, Ian,” batin Ify dan tertawa lagi. Pantas saja Ify dikatain Shilla freak toh Ify memang hobi tertawa sendiri tanpa memberithu alasan ia tertawa.
                Merasa sudah masak Ify segera mewadahi nasi gorengnya di lima piring kecil dan sisanya ia taruh di piring cukup besar. Kali ini Ify mencoba menggoreng telur mata sapi. Dan mata Ify melotot sebesar telur mata sapi yang ada diimajinasinya. Ia melotot saat Shilla sudah menghiasi nasi gorengnya. Gadis berdagu tirus itu menatap secara bergantian nasi gorengnya dengan nasi goreng Shilla.
                “Nasi goreng gue hitem kayak kulit Daud,” dengus Ify. “Nggak apa-apa deh, dari pada Shilla, nasi dicabein. Memang ada nasi goreng cabe-cabean???!!!” tambah Ify dan lagi-lagi gadis itu tertawa. Kali ini tertawa cukup keras dan membuat para penoton menatapnya. Ify sadar sedang ditatap memamerkan cengiran andalanya.
                Seng... song... cuss.... telur mata sapi Ify berhasil dimasak dalam tujuh menit. “Andai aja lomba masak telur mata sapi,” gerutu Ify. Ia memandangi telur mata sapinya yang begitu cantik. Pinggirnya tidak gosong, kuningnya berada di tengah dengan warna putih di sekelilingnya. Benar-benar indah. “Maafkan Ify, Sapi. Lo harus dimutilasi biar bisa dibagi-bagi,” ucap Ify dan membuat Rizky sang mc tertawa terbahak-bahak.
                “Lo kayak mau nyembelih manusia aja, Fy,” ledek Rizky dengan mikrofon dalam keadaan on. Tentu saja semua orang mendengarnya.
                “Awas aja lo, Ky,” balas Ify kesal dan menulikan orang-orang yang menertawakannya. Ify mulai mengambil pisau dan memotong telur mata sapi itu menjadi enam bagian. Ify jago memotong. Segera Ify letakan di atas setiap piring nasi goreng telur mata sapi yang kini sudah menjadi telur segitiga sama kaki mata sapi.
                “Waktunya tinggal sepuluh detik lagi. Kita hitung mundur... sepuluh... sembilan... delapan... tujuh.... enam... lima... empat... tiga.... dua.... SA...TUU!!!!” teriak Rizky heboh. “Silakan taro nasi gorengnya di depan masing-masing juri. Kepada Patton dan Septian dimohon segera membantu karena tenaga kuli kalian sangat dibutuhkan,” tambah Rizky dan segera mendapat toyoran dari nama yang bersangkutan.
                Rizky meringis pelan dan plakk... Ify dengan sengaja menambahkan toyorannya pada Rizky. “Apaan sih, Fy,” gerutu Rizky. Ify berjalan cuek saja. Ia tidak mau lagi mengantar nasi goreng ke meja juri. Dengan wajah memelas andalannya Ify meminta Patton mengangkut semua nasi gorengnya. Ify benar-benar terluka saat melihat nasi goreng cabe-cabean Shilla. Meskipun nasi goreng itu cabe-cabean setidaknya nggak hitam kayak punyanya. Dan Shilla dapat wangsit dari mana sehingga nasi goreng cabe-cabeannya dihiasi dengan selada juga tomat? Ify sedih.
                “Gue bakal kalah nih,” ucap Ify pelan dan mencari-cari sosok Via. Kedua bola mata Ify melebar saat melihat Rio yang berdiri di sebelah kanan Gabriel dan Gabriel yang berdiri di sebelah kanan Via. “Kok ada Rio?” batin Ify. “Ya ampun... ya ampun.... gue dari tadi malu-maluin aja. Ya ampun. Mana nasi goreng  ala Afrika,” dumel Ify dalam hati. “Aduh.. malu nih.”
                “Oke.... kita segera memberi penilaian karena juri sudah mencicipi nasi goreng setiap peserta. By the way, ada yang mau jadi sukarelawan buat nyicipin nasi goreng kedua peserta? Kalau mau silakan dua orang maju ke depan,” ucap Rizky.
                Padahal tidak ada angin. Nggak badai juga kok. Hujan pun nggak turun. Matahari masih terbit di timur. Dan Rio berjalan dengan langkah lebarnya ke depan menuju meja Ify.
                “Hooaa.... nggak disangka sang pangeran menghampiri meja IFY. Apakah ia akan menyicipi nasi goreng masakan Ify?” seru Rizky.
                Apa???!! Ify mangap-mangap saat Rio telah berdiri di sebelahnya dan aw... Kenapa Rio harus tersenyum semanis itu sih? Semanis kecap ABC yang membuat nasi goreng Ify berwarna hitam tanpa mutung. Ajaib.
                “Apa? Rio bakal nyicipin nasi goreng ala Afrika gue karena kecap manis ABC yang semanis senyuman Rio?” cerocos Ify bak kereta api dan terakhir gadis manis itu meletakan tangan kanannya di mulutnya dengan bola mata melebar karena sadar Rio mendengar cerocosannya.
                “Pasti dong, Fy. Gue udah berdiri di sini juga. Gue penasaran nasi goreng ala Afrika lo karena kecap manis ABS yang semanis senyuman Rio,” ledek Rio dan mengulum senyum.
                Pesawat kamikaze cepat hancurin dapur sekolah ini. Atau Alien Do Min Jun culik aja gue sekalian. Atau gue rela ditelan black hole. Ini benar-benar merusak harga diri. Muka gue. Cinta gue... Ya ampun.... batin Ify. Ia benar-benar mati kutu. Ify tidak perduli dengan Shilla yang melotot kepadanya dan kemudian tertawa karena Rio mengejeknya.
                “Kamu nyicipin yang aku aja, Yo. Nasi goreng aku nggak ala Afrika kok,” ujar Shilla dengan suara sok dimanis-maniskan.
                “Iya nasi goreng lo memang nggak ala Afrika, tapi nasi goreng elo nasi goreng cabe-cabean. Nasi dicabein. Mana level Rio sama cabe-cabean,” cerocos Ify. Bukankah tadi ia sedang malu dan sekarang? Ia meledek Shilla, padahal jelas ia tahu kalau nasi goreng Shilla lebih baik dari punyanya.
                Hahaha.... Hari ini Ify benaran kocak abis. Lawak bener. Habis mengejek Shilla, Ify langsung menenggelamkan wajahnya di balik meja. “Ky, umumin aja hasilnya. Gue tahu kok kalo gue kalah,” ucap Ify dari balik meja.
                Hahaha.... lagi-lagi temannya tertawa. Via gemas sendiri melihat tingkah Ify sekaligus malu. Bagaimana bisa Ify bertingkah ajaib gini? Via geleng-geleng kepala.
                “Oke... oke.... berhubung Rio sudah maju buat nyicipin nasi goreng ala Afirika karena kecap manis ABC yang semanis senyuman Rio punya Ify dan Riko juga telah maju untuk menyicipin nasi goreng cabe-cabean ala Shilla, kita persilahkan terlebih dahulu.”
                Rio mengambil piring nasi goreng milik Ify dan kemudian tertawa melihat sepiring nasi goreng itu. Beneran ala Afirka, batin Rio. Laki-laki tampan itu terkekeh pelan dan kemudian mengambil sesuap dan memasukannya ke dalam mulut. Sueerrr... boleh Rio bawa pulang nasi goreng ini? Ini benar nasi goreng ala Afrika karena kecap manis ABC yang semanis dirinya. Rio memang suka makanan manis, tapi please, ini nasi goreng, Rio sukanya nasi goreng pedas manis. Akan tetapi, ini Ify yang memasak dan Rio mencoba menahan rasa manis yang akan membunuhnya perlahan-lahan itu. Dengan susah payah akhirnya Rio berhasil memakan nasi goreng tiga suap.
                “Hebat.... Rio memakan tiga suap nasi goreng Afrika ala Ify, sedangkan Riko hanya berhasil memasukan sesuap nasi goreng milik Shilla,” ucap Rizky terpana dengan kesanggupan Rio. Rizky sendiri akan menolak nasi goreng Shilla, apalagi milik Ify. Dia tidak mau membuat ususnya ternoda.
                “Oke... Rio dan Riko silakan kembali ke barisan penonton, “ ujar Rizky.
                “Eh... bisa gue bawa ini?” tanya Rio sambil menggoyangkan sepiring nasi goreng di tangannya. Rizky mengangguk dan Rio segera menuju barisan penonton bersama Riko yang berjalan santai tanpa membawa apapun.
                “Oke... kita lihat hasilnya.....” Rizky menahan napas dan kemudian tersenyum lebar melihat hasil yang diperlihatkan oleh juri. “Empat banding satu, Ashilla menang untuk lomba kali ini,” ujar Rizky dan disertai anggukan puas Shilla.
                Ify yang dari tadi bersembunyi dibalik meja segera keluar dan melepaskan celemeknya lalu berlari menghampiri Via.
                “Dua sama, Fy. Lo gimana sih? Udah latihan juga,” protes Via saat Ify telah berdiri di dekatnya.
                “Kan gue nggak janji buat menang, Vi. Lagian mana Rio pake acara maju segala. Kan gue malu banget ketemu sama dia. Gue benar-benar parah tadi,” ujar Ify sedih.
                “Memang sih elo malu-maluin banget. Kalo jadi elo sih gue udah ngumpetin muka gue di bawah kasur,” balas Via tidak berperasaan.
                “Gitu amat sih, Vi. Gue kan malu banget ketemu Rio.”
                “Kenapa malu ketemu gue, Ify?” tanya Rio yang telah berdiri di depan Ify dengan sepiring nasi goreng di tangannya lengkap dengan senyuman manis milik pemuda itu.
                “Ehe... eh... Rio... duluan ya. Gue sama Via buru-buru ke ruang lomba matematika. By the way, nasi goreng itu jangan dimakan deh,” ujar Ify cepat dan menarik Via menuju ruang kelas XI IPA 2.
                “Hahaha.... parah lo, Yo. Godain Ify gitu amat. Lo nggak liat dia mati kutu tadi di depan,” ucap Gabriel dan tertawa.
                Kesempatan. Hap... Rio menyuapi sesendok nasi goreng ke Gabriel. Rio melihat mata Gabriel melebar dan sahabatnya itu bersusah payah menelan nasi goreng yang ia suapkan. “Manis kan, Yel?” ledek Rio.
                “Asem lo, Yo!! Gue butuh air,” kesal Gabriel dan menuju dapur sekolah mencari aqua diikuti Rio yang tertawa keras. Rio ke dapur sekolah untuk mengembalikan piring yang ia bawa.
                “Lo berdua beneran ikhlas nih jadi kuli di pertandingan ini?” tanya Rio iseng kepada Patton dan Septian yang sedang mencuci piring, sedangkan Rahmi dan Acha merapikan meja tempat Ify dan Shilla memasak.
                “Temen kelas kesayangan tuh, Yo. Mana mungkin kita berdua kagak ikhlas ya kan, Ian?” jawab Patton dan meminta kepastian dari Septian.
                “Yo’i, Ton. Mana ada yang nggak mau berkorban demi Ify. Teman paling kece, jahil, seperjuangan, sebaik, dan pasti semanis Ify. Kita-kita pasti bantu dong. Lo lihat aja teman-teman kelas kita yang paling banyak bantuin acara ini,” ucap Septian.
                Patton dan Septian sengaja mengatakan teman kelas kesayangan dan semanis untuk Ify di depan Rio. Kedua pemuda itu ingin melihat reaksi Rio. Gotcha... harusnya Patton dan Septian memberitahu Ify untuk tidak usah mengikuti acara konyol ini karena sang pangeran tentu saja telah terpikat dengan putri sarap kayak Ify. Sebenarnya, Patton dan Septian tidak sengaja melihat adegan Rio memeluk Ify di koridor sekolah dan terlebih lagi tadi, Rio sendiri memilih untuk menyicipi nasi goreng ajaib milik Ify.
                “Lo berdua memang teman kelas paling oke,” respon Rio lalu mengangguk-ngangguk dan meninggalkan tempat mencuci piring.
                “Ngaku aja apa susahnya sih, Yo. Ify memang ajaib, tapi dia luar biasa!!!” seru Patton dan kemudian bertos ria dengan Septian.

*****

#Lomba Matematika

                “Pasti Shilla nggak ngerti itu soal. Udah keringatan dia,” bisik Angel di telinga Aren. Angel dan Aren sedang memperhatikan Shilla yang duduk di sebelah kanan Ify. Kedua gadis itu berdebar siapa yang pada akhirnya akan menjadi pacarnya Daud, bukannya penasaran siapa yang akan boleh melakukan PDKT pada Rio.
                “Nggak kayak Ify ya. Lihat Ify santai-santai aja,” ujar Via. Gadis chubby itu tidak sengaja mendengar bisikan Angel.
                “Heh?? Lo bilang Ify bakal bisa? Lo pikir dia dewa matematika?” balas Aren sengit.
                “Lagian temen lo itu bukan tampang santai, tapi tragis nggak bisa ngerjain itu soal,” tambah Angel dan tak segan menunjuk-nunjuk ke arah Ify.
                Via meringis mendengar ucapan Angel. Angel benar sih, Ify memang dalam keadaan overdown. Cepat-cepat Via bergeser menjauhi Angel dan Aren. Dia malu. “Ify sih malu-maluin,” keluh Via dan kini ia berada tepat di sebelah kanan meja Ify dengan jarak tiga meter.
                Via terkekeh dalam hati. Begini ya rasanya ngeliatin orang ujian? gumam Via. “Apa perlu gue telpon rumah sakit ya? Soalnya Ify udah kolaps gitu,” ujar Via pelan.
                “Hah?  Lo pikir Ify lagi berjuang di medan perang,” ujar seseorang dan Via melebarkan matanya kemudian menampilkan cengiran andalannya.
                “Canda, Yo. Sohib gue itu. Tapi gue benerkan, tampang Ify sedih banget. Frustasi pasti dia,” ucap Via dan membuat Rio melotot.
                Gabriel yang berdiri di sebelah Rio tertawa dan terpaksa Daud selaku pembuat soal sekaligus juri memberikan peringatan tegas kepada Gabriel. Ceilah Daud... ckckck... Gabriel meringis mendengar peringatan dari Daud, ia benar-benar tidak tahan untuk tidak tertawa.
                “Memang segitu parahnya Ify di pelajaran matematika? Seperti yang diceritakan Ibu Winda?” tanya Rio.
                Via mengangguk. “Bukan hanya Ify sih, gue juga. Kalau kata Madam Winda sih gue sama Ify itu kembar kolaps,” cerita Via dengan wajah polosnya dan tidak sadar bahwa dua pemuda itu menertawakannya diam-diam.

Boleh merobek kertas soal ini? Bolehkan ia mencoret-coret kertas ini dan menggambar wajah Daud lengkap dengan tanduk iblisnya? Ify benaran frustasi. Ia bisa santai pada awalnya, tapi kan.... Ify berharap ia bisa mengerjakan salah satu soal di antara lima soal essai yang dibuat Daud. “Mengapa tidak pilihan ganda saja sih?” keluh Ify kesal.
                Bosan. Ify mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan ia nyaris tidak dapat menahan tawanya saat melihat wajah Daud yang sok tegas dan sangar, padahal semakin lawak. “Dasar pelawak Ambon,” ujar Ify pelan.
                Iseng. Ify melihat Shilla dan langsung terkekeh pelan. Model itu keringatan? Huhuy.... mendingan gue dong, cuma frustasi dan hampir kolaps, batin Ify. Eh..... mana ada bego???!!! raung Ify dalam hati. Tentu saja mendingan Shilla. Terkadang hal ini membuat Ify berpikir, mengapa Shilla terlihat lebih anggun daripada dirinya? Padahal apa yang mereka kerjakan sama.
                Berpikir Ify.... stop ngeliatin orang. Berpikir untuk memecahkan soal-soal mematikan ini sekaligus berhenti menganggap dirimu bar-bar dan nenek lampir itu anggun.

Rizky tak sabar ingin mengatakan waktunya hampir habis. Dari tadi ia tidak sabar untuk mengejek Ify. Wajah Ify persis saat ulangan harian matematika. Kolaps. Dia tidak sadar diri kali ya? Rizky sendiri adalah salah satu kaum duafa nilai matematika di kelas XI IPA 2.
                “Sebentar lagi... satu menit lagi...,” gumam Rizky dalam hati. Ia sabar menunggu selama 60 detik dan ya.... sekarang waktunya. “Baiklah kepada para peserta waktunya tinggal 60 detik lagi, alias satu menit. Dan spesial untuk Ify, segera kumpulkan jawabanmu pada Daud karena muka lo udah kolaps tingkat dewa,” ucap Rizky dan sengaja meledek Ify yang melotot ke arahnya dan mendelik kesal.
                Tak teras penonton yang mengikuti pertandingan Alyssa vs Ashilla ini tidak berkurang, bahkan bertambah. Ini pertandingan konyol dan termasuk sejarah di Global Nusantara.
                Ify melirik jawabannya dan melepaskan penanya dari genggamannya. Bodoh amat, batin Ify. “Kalo gue kalah toh tinggal jadi pacar Daud, ntar Daud-nya gue suruh pacaran sama Via aja. Kan dia jodohnya Daud,” ucap Ify pelan dan terkekeh geli.
                Dengan menyetel wajah sok yakin dan tegar, Ify segera menghampiri Daud dan memberikan lembar jawabannya. Dan Ify membuat semua orang di ruangan tersebut tertawa dengan ucapan konyolnya.
                “Ud, kalo gue kalah dan TERPAKSA jadi pacar elo. Elo TOLAK gue ya? Ntar Via yang bakal jadi pacar elo karena gue...” Ify memasang wajah sedihnya. “...karena gue nggak mungkin mengkhianti Via,” lanjut Ify dengan ekspresi berlebihan.
                “AL...LYY...SSAA....!!!!” Via mengucapkan namanya dengan penuh tekanan dan Ify langsung memasang wajah polosnya.
                “Canda, Via Cantik,” cengir Ify.
                Hahaha.... semua orang tertawa dan Ify segera berlari keluar ruangan karena ia melihat gelagat Via yang akan memarahinya.
                “Oi..., Fy. Lo mau ke mana? Ini mau diumumin juga kali!!!” panggil Rizky dia lupa mengumumkan waktu habis dan untung saja Alvin tanpa banyak omong segera menarik lembar jawaban Shilla. Alvin membuat Shilla terkejut dan menatap Alvin ngeri.
                “Oke... eh... udah diambil jawabannya,” ujar Rizky dengan cengiran khusus untuk Alvin. “Kita tunggu jawabannya selama Daud mengoreksi,” tambah Rizky.
                “Eh... yang ngoreksi Madam Winda, beliau ada di sekolah. Kalian tunggu lima belas menit, gue sama Alvin dan Ray pergi ngoreksi ini sama Madam Winda dulu. Kan beliau objektif banget kalo menilai,” ucap Daud dan disetujui oleh teman-temannya.
                “Kepada saudari Sivia Azizah tolong dibawa kembali sahabat somplaknya untuk bergabung bersama. Bukan sekarang waktunya untuk menghabiskan masa jomblo sebelum jadian dengan Daud,” ledek Rizky dan Via melotot ke arah Rizky. Enak saja Rizky meledek Ify terus. Belum tahu dia pembalasan Ify nanti. Via segera keluar ruangan dan mencari Ify. Tidak perlu bingung. Pasti Ify ada di taman belakang.

Sumpah... Ify nervous abis. Nggak dia sangka bahwa persejetujuan bagi yang kalah akan menjadi pacarnya Daud menakutkan bagi dirinya. Ini benar-benar gila. Apalagi dari tadi Daud tertawa penuh kemenangan.
                Saat ini Ify dan Shilla sudah berdiri di depan kelas, ruangan yang dipakai adalah ruangan lomba matematika tadi. Spanduk Alyssa vs Ashilla bertengger dengan megahnya di dinding ruang kelas tersebut.
                Ify dengan seragam pramuka lusunya menatap Via cemas yang sekarang sudah terbahak-bahak sambil duduk di bangkunya. Terlebih lagi Ify melihat Rio yang sedang tersenyum. Ya ampun... apakah Ify tidak bisa memiliki senyum itu? Diliriknya Shilla yang sama cemasnya dengan Ify. Lebih baik batalkan saja? Pikiran itu terlintas dibenak Ify. Batalkan... batalkan... tapi...
                “Oke... kita bakal umumin skor matematika Ify dan Shilla,” ujar Rizky dengan dua lembar kertas di tangannya. “Oke... hasil ini benar-benar bikin ngakak bin mules binti takjub. Hanya karena trigonometri sederhana membuat si pemenang berhasil mengalahkan musuh. Keren. Nilai mereka berbeda 15 point sebab si pemenang untung saja menuliskan perhitungan trigonometri sinus, cosinus, dan tangen. Benar-benar keren,” tambah Rizky. Ia melayang-layangkan kertas di tangannya.
                “Banyak amat mukadimah elo, Ky!!!” protes Patton dari tempat duduknya. Rahmi, Acha, Septian, Oik, Via, dan Gabriel tampak mengangguk setuju. Huuuu..... teman-teman yang lainnya juga mendukung.
                Rizky meringis. Dia suka sekali melihat wajah cemas Ify. Wajah cemas Shilla nggak lucu, habis Shilla bikin orang ngira dia bakal makan orang. “Baiklah.... skor dengan nilai 30 berhasil dimiliki oleh A... A.... Ashillaa... yyeeee!!!!” seru Rizky dan membuat Ify menoleh lesu ke arahnya.
                Jadi pacar Daud... jadi pacar Daud... nilainya hanya lima belas. Jadi pacar Daud... jadi pacar Daud.... nggak mungkin!!!!!! Jerit Ify dalam hati.
                Suara sorakan mulai terdengar. Rizky sendiri iseng melihat ke arah sang pangeran a.k.a Rio. Pemuda itu menatap cengoh ke arah Rizky lalu menatap lekat Ify. “Gotcha,” batin Rizky. Ditambah lagi ekpresi Via antara sedih dan ingin tertawa. Daud sendiri mendelik ke arah Rizky.
                “Oke-oke.... kepada saudari Shilla harap tenang,” ujar Rizky penuh hormat saat melihat Shilla seperti pemenang lomba ini. “Sesungguhnya... atas nama dewa trigonometri, Ify.... alias Alyssa Saufika Umari a.k.a sahabat somplak Sivia Azizah... berhasil menjadi pemenang pertandingan Alyssa vs Ashilla dengan skor matematika 45. Tepuk tangan yang meriah dong!!!!” seru Rizky dengan berteriak dan sukses membuat Shilla mengerjap-ngerjapkan matanya melihat kertas jawaban Ify dengan lingkaran nilai 45 beserta tanda tangan super rumit Madam Winda.
                Yes... yes... gue menang... inilah namanya keadilan!!!” seru Ify. “I love full trigonometri. Thanks Madam Winda yang selalu ngocehin gue tentang sin, cos, dan tan. Uhuy....,” ujar Ify dan memberikan senyum cemoohnya pada Ify.
                “Keren, Fy, ngomong-ngomong, gue seneng banget lo menang. Akhirnya gue nggak perlu menjalankan rencana gue,” ucap Rio dengan senyum lebar di hadapan Ify.
                “Hua.... Rio.... akhirnya... meski nggak jadian!!!” seru Ify. “Eh.....” lagi-lagi Ify bertindak bodoh di hadapan Rio. Ify meringis lalu kaget saat Rio mengelus puncak kepalanya.
                Please deh lo berdua, minggir dulu, kita mesti ngucapin terima kasih kepada kelima juri kita. Juri silakan maju ke depan,” ucap Rizky dan mengusir Rio serta Ify untuk menjauh. Terpaksa Ify mengambil tempat duduk di dekat Via.
                “Keren lo menang. Empat puluh lima nggak terlalu buruk,” puji Via dan Ify memeluk Via penuh kasih sayang. Sahabat sejatinya. Malu... senang... sedih... mereka lewati bersama.
                “Tentu saja biasanya kita dapat selawe, Vi,” ucap Ify lalu tertawa diikuti oleh Via. “Eh... liat tuh si Shilla dia terdiam di sudut. Kenapa Rizky nggak ngusir dia kayak ngusir gue sama Rio?” protes Ify.
                “Udah deh... tuh liat Rizky lagi ngoceh di depan. Lagian lo nggak suah protes lagi. Ini Rio udah duduk di belakang elo,” omel Via dan membuat Ify langsung menunjukan sisi anggunnya. Padahalkan dia....  bar-bar abis.
                “Terima kasih kepada Ray, Daud, Agni, Zahra, dan Alvin. Kalian luar biasa banget. Ini menjadi sejarah buat angkatan kita di Global Nusantara ini.” Kelima orang yang disebutkan namanya itu mengangguk. “Terima kasih juga buat Alyssa dan Ashilla yang rela menjadi tokoh utama hari ini. Kalian berdua keren plus lawak banget. Dan... terima kasih untuk Rio yang menerima dengan lapang dada bahwa ia menjadi korban pertandingan ini,” lanjut Rizky dan mendapatkan berbagai kutukan. Pertama kutukan dari Ify. Gadis itu benar-benar akan membalas perbuatan Rizky yang meledeknya habis-habisan. Kedua dari Rio. Pemuda itu sedikit mengutuk kesal Rizky yang mengatakannya korban. Sedangkan Shilla, gadis itu masih tetap saja diam di tempatnya berdiri. Mungkin saja merutuki nasibnya.
                “Dengan demikian acara ini kita tu....!!!!”
                “HUUAAAA.... AAAALLVVIINNN.... KEREEEEEENNNN BAAANGGEEEETT!!!!” sorak Ify dan Via. Dua sahabat itu sampai berdiri dari tempat duduknya dan menatap Alvin dengan begitu terpesona.
                Alvin melepaskan kacamata frame tebalnya dan mengacak-ngacak rambutnya tanpa perduli orang di sekitarnya. Pemuda yang dianggap culun tersebut tidak menyadari atau pura-pura tidak menyadari bahwa dirinya termasuk cowok keren? Lihat saja duo Pi itu berteriak norak.
                “Addduuuuhh... gue terpesona berat sama Alvin nih. Lo keren banget, Vin!!!!” seru Ify dengan suara toanya. Tidak menyadari bawah Rio melototkan matanya mendengar seruan Ify untuk Alvin. Kabar yang dia dengar Ify menyukai dirinya dan sekarang... bagaimana bisa Ify memuji Alvin di depan dirinya?
                “Patah hati elo, Yo!!!” ledek Gabriel dan terdiam saat Rio balik menertawakannya ketika mendengar Via berseru penuh pujian untuk Alvin.
                “Gue jatuh cinta, Vin, sama elo. Boleh gue....”
                Gabriel langsung membekap Via dengan buku tulis yang ia temukan di meja yang ia duduki. “Elo jodoh gue, Vi,” bisik Gabriel dan membuat wajah Via memerah ditengah remaja SMA yang masih menatap takjub Alvin.
                “Oke.... harap tenang dulu. Minggu depan kita bisa buat acara baru lagi dengan target Alvin Jonathan Sindunata. Gue ikhlas jadi mc-nya lagi,” ucap Rizky dan berhasil membuat para remaja itu berhenti berteriak. “Marilah kita sambut pasangan resmi kita. Daud dan Ashilla!!!” seru Rizky. Daud dengan wajah penuh kemenangan maju ke depan, sedangkan Shilla...
                “GUE NGGAK MAU!!!!!” teriak gadis itu dan berlari meninggalkan ruangan diikuti oleh Angel dan Aren.
                “Yaa.... kayaknya elo harus berusaha deh, Ud, kejar dia,” ucap Rizky.
                “Yoookkk.... kita bantuin Daud buat menemukan putrinya. Yang berhasil membawa Shilla ke hadapan Daud, tugas dan peer matematikanya selamat selama satu minggu!!!” seru Patton dan membuat hampir seisi ruangan berlari keluar kelas untuk mengejar Shilla meninggalkan Rizky, Rio, Alvin, Ify, Zahra, Gabriel, dan Via.
                “Gue mau ngejar juga!!!” seru Ify dan Via berbarengan, namun keinginan mereka terhenti karena dihentikan oleh Rio dan Gabriel.
                “Tugas matematika kita, Vi...,” ucap Ify sedih.
                “Peer matematika kita, Fy,” ucap Via sedih.
                “Lo berdua mesti kudu wajib belajar matematika sama....”
                “ALVIN KAH?” tanya Via dan Ify kompak.
                Gabriel dan Rio langsung misuh-misuh kesal.
                “Kalo Alvin mau deh. Nanti Alvin jangan pake kacamata kalo ngajarnya. Kan buat vitamin,” ucap Via dan diikuti anggukan Ify.
                “Gue mau pulang deh, Yo, sumpeh dah. Gue patah hati nih,” ucap Gabriel ngenes.
                “Tenang aja, Yel, gue juga nggak mau ngajarin Via sama Ify. Bisa-bisa gue stress duluan. Gue pulang ya. Yok, Ra,” pamit Alvin sekaligus mengajak Zahra pulang.
                “Eh.... Zahra kok bisa? Hei.... kita ikutan pulang juga!!!” seru Ify dan membuat Rio menghela napas sedih.
                “Gue duluan, Bro, lo berdua selamat deh jatuh cinta sama dua somplak ini,” pamit Rizky dan sempat-sempat saja menertawakan Rio dan Gabriel serta meledek duo Pi.
                “Fy.... elo beneran suka sama Alvin?” tanya Rio pelan.
                “Dan elo, Vi, boleh nggak gue jadi pacar elo?” tanya.... eh salah.... tembak Gabriel langsung. Ia tidak bisa membiarkan Via semakin terpesona oleh Alvin.
                “Eh...,” Via kaget. “Gabriel nembak gue, Fy? Beneran?” tanya Via kepada sahabatnya.
                Ify tidak mengerti karena dari tadi ia melihat Alvin yang menghilang bersama Zahra di balik tembok. Ify hanya diam.
                “Gue serius, Vi, boleh nggak?” tanya Gabriel lagi dan kedua bola mata Via yang sedikit sipit langsung memaksa melebar.
                “Mata elo nggak bakal belo juga, Vi,” ujar Ify tanpa berperasaan dan merusak momen Via-Iyel. Rio langsung membawa Ify keluar kelas disertai ucapan good bye Ify untuk Via.
                “Jadi, Yel, gue....”

Rio membawa Ify menuju parkiran mobil Gabriel. Mereka duduk di depan mobil itu cukup lama. Ify deg degan. Hati normalnya telah kembali menguasai dirinya. Hati yang selalu berdebar bila ada Rio di dekatnya. Hati yang telah tertaut oleh Mario Stevano Aditya Haling. Hati yang dipenuhi oleh cinta untuk Rio.
                “Yo... kalau seandainya gue kalah gimana?” tanya Ify memecahkan keheningan.
                Rio tersenyum lebar dan menampakan gigi gingsulnya. Ify gemas sendiri. “Gue udah ada rencana. Daud bakan gue jodohin sama Via, kan kata elo Via jodohnya Daud.”
                Ify tertawa ngakak. “Rencana kita sama banget, Yo, dan akhirnya gue menang. Via sama Gabriel deh. Ngomong-ngomong, rencana sama berarti tanda jodoh dong.”
                Rio langsung tertawa ngakak. Di mana lagi ia bisa menemukan cewek seajaib Ify dan seluar biasa Ify? Seunik Ify? Sebaik Ify? Semanis dan secantik Ify? Di mana? Sungguh... ia sudah jatuh cinta sama Ify sejak insiden tabrakan di koridor itu.
                “Hari ini... bisa dibilang petualangan cinta Ify,” ucap Rio dan membuat Ify melongo parah.
                “Iya... petualangan cinta Ify. Hari ini elo berpetualang mulai dari lomba modeling yang gue yakin nggak bakal elo lakuin kalau bukan terpaksa. Lomba lari yang biasa elo lakukan. Lalu lomba menyanyi yang baru pertama kali elo lakukan. Kemudian lomba memasak yang gue yakin juga pertama kali lo lakukan dan terakhir ujian kejam matematika yang setengah mati ingin elo hindari. Bukankah semua itu petulangan, Fy?”
                Ify mengangguk-ngangguk. Benar juga Rio. Hal-hal yang baru Ify lakukan adalah petualangan. Ia melakukan itu juga karena bersaing dengan Shilla dengan gift-nya adalah siapa menang yang hanya boleh pdkt dengan Rio. Ify setuju dengan Rio. Hari ini benar... Hari ini adalah hari petualangan cinta Ify.
                “Jadi... gue udah menang, Yo, gue sih sebenarnya malu banget mau nanya ini, tapi berhubung gue hari ini udah kehilangan rasa malu. Boleh juga sih dibilang krisis rasa malu, gue mau nanya, apa lo setuju kalo cuma gue yang boleh pdkt sama elo?” tanya Ify dengan wajah bersemu merah. Duileh, Ify... bisa malu-malu kayak anak kucing juga ya?
                Rio sebisa mungkin berusaha menahan tawanya. Jarang-jarang Rio melihat Ify bersikap malu-malu tapi mau gini, biasanya juga malu-maluin, haha.... kejam banget si Rio. “Tapi, Fy, gue denger kemaren itu ada yang bilang menurut pasal 28 J ayat 1 undang-undang jatuh cinta sama Rio, siapapun yang jatuh cinta sama Rio boleh melakukan pdkt tanpa terkecuali. Jadi gimana tuh, Fy?”
                Semakin merahlah muka Ify. Bolehkan Ify berharap ia diculik bangsa ant? Dibawa ke dalam hutan dan Rio tidak bisa melihat wajah merah ala kepiting rebus milik Ify.
                Hahaha... tawa Rio akhirnya pecah juga. Ia tidak bisa tidak tertawa bila melihat wajah merona milik Ify.
                Sueer terkewer-kewer... culik gue Do Min Joon, pinta Ify dalam hati. Ini benar-benar memalukan. Rinciannya, yaitu:
Pertama, dia diketawain Rio yang jelas-jelas merupakan cowok idamannya. Kedua, wajahnya memerah karena Rio menggodanya.
Ketiga, Rio sudah tahu kalau Ify menyukai cowok itu.
Keempat, Ify sudah mengatakan di depan umum bahwa senyum Rio sangat manis.
Kelima, Ify ketahuan oleh Rio bahwa di lomba lari Ify sengaja memplototin foto Rio yang dipegang oleh Via (Via tadi memberitahu kepada Ify saat mereka sedang makan bakso dan Ify mengutuk Patton berkali-kali).
Keenam, Rio mengetahui tulisan ‘Rio tercinta’ dibalik foto Ify karena Via keceplosan cerita sama Gabriel.
Ketujuh, Rio mengetahui bahwa Ify mencuri foto Rio dari dp-nya di BBM dan Ify benar-benar ‘berterima kasih’ kepada Rizky si mulut ember. Ify sendiri heran mengapa Rizky sepertinya dendam banget sama Ify.
Kedelapan, Rio memakan nasi goreng Afrika karena kecap manis ABC yang semanis senyuman Rio ala Ify Alyssa (Ini bencana yang Ify buat sendiri).
Kesembilan.... entahlah Ify tidak sanggup lagi mengingatnya. Apakah Rio bersedia bersama cewek dengan tingkah ceroboh kayak Ify. Apakah Rio amnesia kalau menerima Ify? Ya ampun... Ify menggelengkan kepalanya. Ini benar-benar bencana.
                “Jadi, gimana, Fy? Lo mau nggak?” tanya Rio kepada Ify.
                “Hah? Heh? Maksudnya?” Ify bingung dengan apa yang Rio tanyakan.
                “Ck...,” decak Rio. Sabar, Yo, ini tantangan elo. Petualangan elo, batin Rio. “Lo mau nggak kalau ending petulangan cinta Ify dilanjutin dengan petualangan cinta Rio?”
                Sumpeh deh Rio alay banget. “Petualngan cinta Rio?” tanya Ify bingung. “Lo mau pdkt sama siapa, Yo? Pake petualangan cinta Rio segala?”
                “Ya sama kamu lah, Fy,” jawab Rio.
                “Aku bakal nerima kamu apa adanya deh, Yo, nggak usah pake petualangan cinta Rio segala,” balas Ify dan membuat Rio tertawa hambar.
“Nggak perlu? Dengan kamu yang ngeidolain Alvin kayak ngeliat pangeran itu?” batin Rio. “Nggak, Fy, kali ini biar gue yang berjuang buat nunjukin kalau aku beneran sayang sama kamu dan kamu pun begitu. Aku takut kalau kamu hanya merasa tersaingi oleh Shilla.”
Ify tertawa ngakak. “Terserah deh, Yo, gue tunggu elo, tapi... kalo lo nembak gue sekarang, gue nggak nolak kok,” ujar Ify kalem dan membuat Rio tersenyum lebar.
“Pasti dong, Fy, mana mungkin kamu nolak aku,” gumam Rio dalam hati penuh kemenangan.
“Tapi...”
Alis Rio terangkat sebelah.
“Gue nggak bisa nolak kalo Alvin tiba-tiba nembak gue. Habis dia cute dan keren banget,” ucap Ify serius.
Dan Rio.... “Pokoknya elo jodoh gue, Fy, nggak perlu pake petualangan cinta Rio, tapi petualangan cinta RiFy, Rio dan Ify,” ujar Rio cepat dan meraih tangan Ify. “Jujur... aku beneran sayang sama kamu, Fy,” tambah Rio.
Yes... akhirnya.... Alyssa Saufika Umari yang kata Sivia Azizah cewek tomboi, sering lupa sisiran, jarang mandi, sering ketiduran, dodol di matematika, akhirnya bisa mendapatkan Mario Stevano Aditya Haling sang Ketua OSIS, juara olimpiade sains, tampan, keren, rapi, dan luar biasa. Yes... yes...!!!” seru Ify girang dan tersenyum lebar.  “Aku juga sayang sama kamu, Yo,” lanjut Ify dan menatap Rio hangat.
Rio suka perasaan yang menyelimuti hatinya saat ini. Hangat dan menggembirakan.
“Jadi... pacar aku ini sering lupa sisiran, jarang mandi, sering ketiduran, dodol di matematika, dan oh ya... jangan lupakan kesusahan membuat karya ilmiah dan....”
Wajah Ify pias. Malu. “Eh... tapi aku jago nyanyi kok, Yo. Ngapal undang-undang juga jago. Janji deh nggak lagi bolos jam arahan ketua OSIS,” sambar Ify memotong ucapan Rio.
Rio tertawa terbahak-bahak. “Bercanda, Fy. Aku udah lama tahu kok. Tenang saja, kita saling memahami.”
Ini benar-benar hari luar biasa untuk Ify. Diterima Rio dan Rio ingin memahami Ify seperti Ify yang lebih suka memahami Rio dari pada memahami matematika. Gotcha!!!!
“Tapi... Rio jago matematika dan gue..... gue harus belajar. Masa iya gue bodoh dan Rio jago???!!” batin Ify. Bola mata Ify terlihat membara dan semangat juangnya untuk menaklukan matematika mulai bangkit. Good bye nilai 25 dan wellcome nilai 85. Ify tersenyum-senyum sendiri, sedangkan Rio menatap Ify lembut. Rio mengerti apa yang Ify pikirkan. Dia pasti akan membantu Ify menaklukan matematika kalau tidak... bisa saja Ify ditaklukan oleh Alvin.

Sementara itu....
                “Sssttt... jadi mereka jadian, Vi?” tanya Gabriel.
                Via mengangguk dengan mata berbinar. “Aku yakin, Yel,” jawab Via tanpa melepaskan pandangan pada dua sejoli yang berada dua meter dari mereka. Sejak tadi Via dan Gabriel menguping di belakang mobil.
                “Kayak kita ya, Vi,” sahut Gabriel dan membuat wajah Via memerah. Ya... hari ini, gadis chubby ini juga jadian dengan Gabriel.
                Bukankah hari ini adalah hari yang cerah????

Di koridor sekolah....
                “Kenalin nih, pacar gue, Ashilla,” pamer Daud kepada setiap orang yang ia jumpai di koridor sekolah ini. Wajah Daud berbunga-bunga seolah bunga matahari tumbuh di wajahnya, sedangkan Shilla menekuk wajahnya. Ia benar-benar malu. Bagaimana bisa ia jadian dengan Daud? Apalagi tadi saat bertemu dengan Madam Winda. Guru matematikanya itu mengatakan bahwa dirinya beruntung karena berpacaran dengan Daud. Menurut Madam Winda, dengan begitu Shilla dapat memperbaiki nilai matematikanya yang selalu parah itu. Ingin sekali Shilla berteriak... HEELLLO, MADAM!!! ADANYA DAUD YANG BERUNTUNG KARENA BERPACARAN SAMA CEWEK TERCANTIK DI SEKOLAH INI!!!!!
                Shilla benar-benar merutuki Agni dan Patton yang berhasil menangkap dirinya dan dia kaget saat mengetahui bahwa teman-teman sekolahnya yang datang di hari pertandingan Alyssa vs Ashilla ini memburu dirinya dengan jaminan tugas dan peer matematika aman. Sialan nggak tuh.
                “Eh..., Fy, thank you banget. Kalau kata Mr. Muller sih viele danke, Fy. Gue baru pertama kali ini punya pacar cantik kayak Shilla,” ucap Daud yang telah menjumpai Ify, Rio, Via, dan Gabriel di parkiran sekolah.
                “Tenang aja, Ud, kalo kata Ban Kin Moon gomawo. Kalo kata Conan sih, arigatou. Kalau gue sih, sama-sama,” balas Ify dengan cengirannya dan membisikan Rio untuk tersenyum sekeren mungkin. “Syukurin lo, Shill,” batin Ify. Seneng banget Ify bisa nunjukin ke Shilla kalau Rio menyanyangi Ify.
                “Via imut... lo nggak sedihkan gue tinggalin?” goda Daud ke Via yang langsung saja membuat Gabriel memamerkan tinjunya.
                “Hehe... santai, Yel, canda doang,” cengir Daud. Gile parah!!!! Dia tobat ganggu Via sama Ify. Bisa-bisa dicincang Iyel sama Rio. “Oke deh, gue keliling sekolah dulu. Mau pamer punya pacar kayak Shilla,” pamit Daud dan menyeret Shilla yang sepertinya enggan mengikuti Daud.
                Hahahaha..... Ify senang banget hari ini. Hari ini ia jadian dengan Rio. Via jadian dengan Gabriel. Dan tentu saja Daud yang jadian dengan Shilla. Hari yang sangat membahagiakan.
                Di ujung koridor sana....
                “Ini pacar gue, Ton, Ian, Ky,” pamer Daud kepada Patton, Septian, dan Rizky.
                “UDAH TAU!!!!” balas Patton, Septian, dan Rizky kompak.
                “Lo nggak iri?” ledek Daud.
                Patton, Septian, dan Rizky saling pandang lalu tertawa geli. “Iri sama elo? Males banget,” sahut Septian.
                “Lo sama Shilla itu kayak kopi susu. Elo kopi, Shilla susu. Nggak malu elo?” ganti Rizky meledek.
                Daud cuek aja dan Shilla sungguh ingin menenggelamkan wajahnya di dalam karung. Malu benar dia hari ini!!!! Aarrrghhhh!!!!!

“The End”

               
Gue sungguh minta maaf karena terlalu lama menahan cerita ini. Gue pernah bilang, ini awalnya cerbung dan gue udah nulis sampai 73 halaman di kertas A4. Lalu gue baca lagi dan ternyata ceritanya mainstream banget. Jadi, gue rombak jadi cerpen dan jumlah halamannya 67, tapi di kertas A5, aslinya 34 halaman di kertas A4.

Gue beneran minta maaf kalau ending sama jalan ceritanya nggak sesuai bayangan. Inilah imajinasi absurd gue *soalnya ini cerita banyak yang nanya*. Semoga saja tetap dibaca dan bila sempat tinggalkan kritik dan sarannya :).

Gue juga minta maaf bila ada yang baca dan dia nggak suka idolanya dibuat sikapnya kayak dicerita ini. I'm so sorry. Ini hanya fiktif belaka. Oke... cuma minjem nama. Gue beneran minta maaf kalau ada yang nggak suka. 

Warning juga... 
Pertama, di sini Rio-nya nggak selalu nongol, lebih dominan pada Ify dan Via serta Daud. Oke.. ini pertama kalinya gue masukin Daud dengan banyak peran di cerita-cerita gue. 
Kedua, typo bertebaran karena gue males ngedit, apalagi ini cerita udah sangat lama selesai dan gue tahan-tahan untuk posting. Rencananya gue mau barengin sama SSJCT, LM, TL, SIADK dan Sequel Dia. Tapi apa daya, gue mahasiswa yang dikejar deadline tugas dan laporan serta kuliah lapangan. Ketikan gue belum selesai.
Ketiga, sampai saat ini gue masih suka nulis dibuku tulis, kecuali buat cerbung TL itu gue selalu sempatin ngetik langsung karena saat ngetik imajinasi gue untuk cerbung ini tetap jalan. Kalau cerbung lainnya  gue ngadat. Jadi, ada tiga setengah buku lagi yang belum gue salin ke laptop. Ini permasalahan terberat gue. Gue merasa lelah kalau menyalin yang dibuku. Apakah ada usulan buat masalah ini???

Dan terakhir.... gue mutusin buat posting hari ini karena yang nanya ini cerita makin banyak. Daripada gue tahan-tahan... *kayak perasaan lo pada yang ditahan bertahun-tahun.... caileh...* jadi gue putusin buat posting hari ini, sekaligus buat menyambut lebaran dan ada moment yang membuat gue seneng banget akhir-akhir ini, hahaha.... 

Ngomong-ngomong, maaf kalau gue nggak sempat balas komentar di blog ini karena itu susah, sering error ponsel tua gue, jadi malas, tapi gue baca lewat e-mail gue. Lain waktu gue usahain balas.  Gue seneng dengan komentar-komentar kalian, hehehe.... Oh iya... buat inbox di facebook, gue juga jarang balas, bukannya sombong, gue jarang buka facebook lagi palingan dibuka kalau ada yang berhubungan dengan kegiatan di kampus. *Berasa terkenal, wkwkwk... padahal bukan siapa-siapa* 

Dan juga gue makasih banget buat pengunjung blog yang sering mati suri ini. Gue nggak nyangka bisa sampai 1184000 pageviews. Buat gue itu luar biasa. Terima kasih banyak. 

Selamat membaca :)

Nb:: kalo kata-kata ini sedikit naris dan membuat kesal, mianne... gue beneran minta maaf. 
Minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir batin :) *suasana lebaran*
               



               


7 comments:

Unknown mengatakan...

Dan akhirnya gue bisa lanjutin baca cerpen ini :D keren kak.. Lovely maidnya juga lanjutin yaa kak :D

Unknown mengatakan...

Gue bacanya smpe ngakakk sumpah ini keren bgt :D :D

Unknown mengatakan...

menghibur bangeeet,,sampe capek ketawa :D

Maelani blog's mengatakan...

Sumpahh ini cerita terkerennn yg gw baca kak .. ngakak abiss:D

Unknown mengatakan...

Ini cerita favorite gue kak udah berapa kali baca tetep aja ngakak!!
Terus berkarya kak

Princess Dreaming mengatakan...

Kak, cerita.ny keren bnget ampe bkin aku sakit perut gegara ktwa trus.
Semangat terus ya kak? ������

Unknown mengatakan...

Sukaa banget gue :D ngakak parah, seruu abeess, terus berkaryaa kak wkwkwkwk

Posting Komentar