The Reason Why Love was Called Perfect 1


 The Reason Why Love was Called Perfect


Bagaimana ketika seorang cewek meminta ku untuk membantu dirinya dalam upaya mendekati cowok idamannya? Reaksi apa yang harus aku berikan?
Jelas  aku tidak bisa menolak karena alasan apa yang harus dilontarkan, sementara aku bukan siapa-siapanya cowok itu. Hanya sekedar teman.
Bagaimana akhirnya jika aku menyadari bahwa hati ku mempunyai perasaan khusus terhadap pemuda itu sejak lama? Perasaaan lebih dari teman.
Apa yang harus dilakukan? Berhenti membantunya? Percuma, itu tidak berguna karena sang Gadis sudah tinggal satu langkah untuk menjadi pemilik hati si Cowok.
Lantas tinggal apa yang dapat ku lakukan? Menangis? Menyesal? Membiarkan rasa nyeri menggerogoti hati ku sebagai hukuman dari kebodohan yang aku dilakukan?
Kenapa juga aku mesti telat nyadarin perasaanku ke cowok itu? Kenapa harus telat? Bukankah sebaiknya tidak menyadari kalau aku menyukainya? Ini pilihan terbaik bukan?

****************

                “Fy, lo tahu nggak. Nanti di kelas kita ada anak baru.” Via sahabat Ify bercerita dengan semangat.
                “Kata siapa? Gue nggak percaya deh, perasaan dari kemarin lo bilang ada anak baru. Tapi mana?” balas Ify sedikit jengkel. Via setiap cerita di kantin, pasti bicarain anak baru. Kayak nggak ada topik lain saja.
                Via cemberut. “Kemarin itu, anak barunya di kelas XI IPA 4. Namanya Alvin Jonathan Sindunata. Lo sih nggak up date banget. Pasti terlalu mikirin pangeran angan-angan lo itu. Si Gabriel. Udah deh lo berharap sama Iel, Fy. Dia nggak akan naksir lo, kalo pun lo berani PDKT sama dia ntar lo habis sama pricess-nya, si Shilla itu,” ujar Via telak.
                Ify menghela nafas berat. Sebenarnya apa yang dibilang Via itu benar. Tapi apa daya, Ify udah jatuh cinta sama si Gabriel, pangerannya. Gabriel orangnya ramah, ceria, pinter, baik, manis lagi. Siapa sih yang nggak suka sama dia? Tapi sayangnya Iel udah punya pacar, ya Ashilla Zahrantiara. Cewek cantik, modis dan memang pantes sama Iel. Bulan lalu mereka jadian dan membuat Ify patah hati. Sehingga Ify mensugesti dirinya untuk tidak jatuh cinta sekarang, lebih baik fokus dengan belajar fisika yang nilainya sangat anjlok itu.
                “Siapa juga yang mikirin dia,” kilah Ify.
                Via sohibnya itu tersenyum nggak yakin. “Boong tuh. Pasti masih mikirin. Lebih baik lo move on aja, Fy. Sama anak baru nanti siapa tahu cocok sama lo.”
                “Ogah bener gue. Gimana kalo anak barunya cewek, nanti gue jadi lespiano (baca:lesbi) emang gue apaan,” sosor Ify. Dia mendelik kesal ke Via yang tengah asyik tertawa.
                “Kalo cowok gimana?” tantang Via.
                “Kalopun cowok, gue lagi nggak mau jatuh cinta. Gue Cuma cinta sama cowok yang ramah, ceria, baik, manis, keren, dan pinter. Bukan cowok sok cool, pendiem dan dingin. Sok misterius juga,” ujar Ify.
                “Lo sebutin ciri-ciri Iel tuh, Fy. Cape deh lo,” balas Via.
                “Tauk ah, gue mau ke kelas,” ucap Ify meninggalkan Via yang tengah tersenyum-senyum gaje. Via tidak sadar kalo Ify udah meninggalkan kantin.
                “Fy, tungguin gue,” teriak Via yang berlari menyusul Ify yang udah keluar dari kantin.

***********

                Hari ini, kelas XI IPA 2. Kelasnya Ify dan Via sedang belajar Fisika. Pelajaran yang sangat tidak mengasyikan. Setidaknya menurut, Via dan Ify. Menurut mereka berdua, fisika itu pelajaran aneh bin nyebelin binti nyusahin. Masa iya kelapa jatuh harus dihitung jaraknya, gravitasinya, gayanya. Adanya, kelapa jatuh ya dibuat es dogan. Ada-ada aja.
                Tok…tok…tok…, bunyi pintu diketok. Ya iyalah, masa bunyi dahi Ify diketok. Ckck… “Permisi,” seru suara dari luar. Pak Dave –guru fisika– berhenti menjelaskan tentang gaya mekanik berserta antek-antek rumusnya. Beliau berjalan menuju pintu dan membukanya. “Silakan masuk, Bu,” ucap Pak Dave ramah. Seisi kelas bingung, kok bisa-bisanya guru galak itu bersikap ramah? Kemarin aja, Daud terlambat dua menit diomelin setengah jam. Tetapi ketika pelajaran Pak Dave selesai, penghuni kelas itu berterima kasih kepada Daud karena memotong setengah jam pelajaran guru ganas itu. Jiiahh…
                “Saya cuma mau mengantarkan siswa baru, Pak. Rio silakan masuk,” ujar Bu Ira. Lalu beliau pergi keluar kelas dan digantikan dengan sosok cowok tampan, hitam manis, tinggi dan sungguh mempesona itu.
                “Baiklah, kamu silakan memperkenalkan diri,” ucap Pak Dave yang berdiri di sebelah anak baru.
                Via menatap anak baru itu dengan sangat berarti. Tangannya menyenggol Ify. “Gimana, Fy? Dia ganteng kan?” bisik Via ke Ify. Ify Cuma mengangkat bahu, nggak minat melihat tampang anak baru itu dan kembali ke buku Fisika.
                “Nama saya Mario Stevano Aditya Haling. Cukup panggil Rio atau Mario. Terima kasih,” ujar Rio. Dia menoleh ke arah Pak Dave. “Saya duduk di mana, Pak?” tanya Rio. Seisi kelas kontan terperangah.

**************
               
Ya, Rio. Sekarang cowok itu menjadi teman sekelas Ify sekaligus teman tetangga bangkunya. Cowok hitam manis itu duduk tepat di sebelah kiri bangku Ify karena so pasti sebelah kanannya ada sohib terbawelnya, Via. Ify lama-lama makan hati juga sama Via. Via selalu cerita tentang Rio, padahal itu cowok baru menjadi siswa resmi Global Nusantara School selama empat hari.
“Gimana tuh, Fy. Rio kan ganteng nggak kalah sama Iel malah lebih lagi. Lo nggak jatuh cinta gitu?” tanya Via ketika dia berdua lagi di perpustakaan. Ify bête. Lagi-lagi Via menceritakan tentang Rio. Di mana-mana Rio. Sepanjang koridor sekolah juga Rio. Itu anak seperti artis saja.
“Nggak.” Akhirnya Ify membalas dan mengambil buku dengan judul depannya “Cara Mudah Naklukin Fisika”. Jiah, Ify. Masih belum berhasil juga menaklukan si Fisika.
“Sedikitpun?” tanya Via lagi. Dia belum puas dengan jawaban Ify. Gadis berdagu tirus itu kembali menghempaskan dirinya di bangku kayu tepat di depan Via yang dari tadi sibuk membahas tentang Rio.
Ify menggeleng. “Gue nggak suka cowok sok cool, pendiem dan sok misterius itu.” Ify membayangkan Rio yang selalu diam dan hanya menjawab seperlunya kadang juga hanya mengaggukkan atau menggelengkan kepala. Yang parahnya cowok itu tidak pernah tersenyum. Tapi, kenyataannya para siswi yang udah terkena radius pesona Rio malah bilang, “Senyum Rio itu manis banget. Bikin melting deh.” Ify hingga saat ini masih bingung, dari mana tuh cewek bisa tahu senyum Rio itu manis. Senyum aja itu anak nggak pernah. Ify geleng-geleng kepala sendiri.
“Kenapa lo, Fy? Geleng-geleng kepala sendiri. Mau niru Tina Toon ya lo?” tanya Via aneh dan menatap Ify heran. Ify hanya mengangkat bahunya. “Aha…..lo tadi bilang ‘gue nggak suka cowok sok cool, pendiam dan sok misterius. Berarti lo selama ini memperhatiin Rio ya? Ayo ngaku aja, Fy. Sama gue nih, sobat sejati lo dari orok,” seru Via berbinar-binar. Matanya udah ngalahin si Badung Sinchan.
Ify cengo dan dua detik kemudian, keningnya langsung keriting. Padahal udah dua menit yang lalu Ify bilang gitu dan Via baru sadar. Jangan-jangan kelemotannya kambuh nih, pikir Ify dan menatap Via sambil memiringkan kepalanya ke kanan.
“Ify jawab pertanyaan gue dan jangan natap gue gitu,” ujar Via gemas. “Ato jangan-jangan lo jadinya naksir sama gue gara-gara lo patah hati sama pangeran lo. Hayo ngaku? Jangan naksir gue, ntar lo patah hati lagi. Gue kan masih normal, lo sama Rio aja deh,” sambung Via tanpa ampun. Mulutnya nyerocos bak kereta super jet dengan kecepatan 200 km/jam. Emang ada? Gue kagak tahu, soalnya belum pernah naik kereta api. *Ndesobangetya??*
“Via, gue udah bilang berapa kali sih kalo gue nggak naksir atau jatuh cinta or fall in love dan terserah deh apa namanya dengan cowok kayak Rio. Lo kenapa sih hobi banget ngejodohin gue sama Rio? Kenapa nggak lo aja?” seru dan tanya Ify bertubi-tubi. Aura kemarahan udah muncul. Ify berubah jadi power ranger? Tidak, yang benar Ify jadi mempunyai tanduk di kepalanya lengkap dengan dua buah taring berjejer bersamaan dengan gigi Ify yang dibehelin itu. Emang Ify setan gitu? Nggak ding, gue-nya ngawur.
Via bukannya merasa bersalah malah jadi tersenyum kecil. “Jangan ngambek dong, Fy. Gue kan semangat ngedekati lo sama Rio, karena gue yakin lo itu jodoh sama dia. Feeling seorang Sivia Azizah bilang gitu. Dan feeling gue nggak bisa dibiarin gitu aja, perlu diperhitungkan.” Via menatap Ify sejenak. “Dan gue nggak naksir sama Rio, tapi naksir sama Al…eh…maksud gue Aldina naksir sama Rizky. Ya. Ya gitu. Gue nggak naksir siapa-siapa kok,” lanjut Via gagap dan sedikit kaget, hampir saja rahasianya bocor.
Ify melengos dan heran dengan sohibnya ini. Baru juga ketemu Rio belum sampai satu bulan dan dia udah berani bilang kalo Ify naksir sama Rio. Tapi, Ify kembali berfikir. Feeling Via? Hmm… nah gue jadi inget, berapa kali Via bilang ‘lo nggak usah naksir Iel, Fy. Menurut gue rasa lo cuma melahirkan kesedihan’. Feeling Via bener kan. Tapi, kebetulan aja kali. Masa iya gue jodoh sama Rio yang sampai hari ini, gue nggak pernah ngomong satu kata pun sama dia. Be sellow, Fy.
“Fy…Fy…Fy….lo kenapa? Kesambet setan perpustakaan ya? Aduh, mbah setan jangan ganggu sohib gue, please,” ucap Via sambil menyembah-nyembah. Ucapan Via membuat Ify kembali ke alam nyata dan di dapatinya Via yang lagi menyembah-nyembah gitu.
“Via, lo apa-apaan sih. Lo pikir gue titisan roro kidul. Pake nyembah-nyembah segala.” Ify berseru heran dengan sohibnya yang cantik, pinter tapi cerewet dan super bawel ini.
“Ck…lo memang bukan titisan roro kidul, Fy. Tapi gue kira lo kesambet jurik perpus. Kali-kali aja kan, habis lo ngelamun mulu dan ninggalin gue sama buku-buky tak bernyawa ini,” ucap Via polos dan mendecak tak lupa dengan gaya seolah dia sangat kecewa.
Ify mencibir. Ingin sekali dia tutup mulut Via sekali-kali dengan lakban biar nggak nyerocos terus. Tapi itu hanya selalu rencana dan tinggal rencana bagi Ify, terkadang wejengan Via ada benarnya dan manfaatnya. Hihihi…. Ify-Ify.
“Yuk, balik ke kelas. Udah bel pulang,” ajak Ify akhirnya.
“Hah?! Berarti kita bolos dua jam pelajaran, Fy? Ya ampun, apa kata mama kalo tahu gue bolos. Lo sih, Fy nggak ngingetin gue. Gue kan ahdmkfpmngdkfa%&%///..????!!!!!” Ify langsung membekap mulut Via yang udah kambuh penyakit loading-nya dan pake acara nyerocos tanpa titik koma lagi. Ify merasakan tangannya basah dan ternyata Via menjilatnya.
“Kok lo ngejilat tangan gue sih, Vi? Kan jorok tahu,” seru Ify kesal dan mengelap tangannya ke taplak meja perpus. Wah Ify sembarangan aja ngelap. Hahaha….
“Lo sih, Fy. Main bekep mulut gue aja. Gue kan lagi panik tahu.”
“Siapa suruh lo panik? Lo sih lemot-nya kambuh jadi nggak inget kalo Bu Winda nggak masuk, jadi kita bebas mau ke mana.”
Via menepuk jidatnya (kebiasaannya kalo lupa). “Hehehe….gue lupa,” ujarnya cengengesan dan kedip-kedipkan matanya. Ify melengos dan berjalan keluar perpustakaan diikuti Sivia.

*****************

Hari ini Sivia tidak masuk. Seperti yang tertera di surat, Via izin karena ada urusan keluarga di Bandung. Jadi Ify harus bersabar menghabiskan waktunya di sekolah ini dengan sendiri hingga bel pulang menjerit nyaring. Sayangnya itu terjadi tepat pukul 02.00 siang nanti. Sebenarnya Ify nggak begitu sendirian sih. Ify kan orangnya ramah jadi dia punya banyak kenalan dan teman. Tapi, bagaimana pun bersama sahabatlah yang paling mengasyikan.
Lagi-lagi Ify menghembuskan nafas berat. Sungguh gadis itu bosan dan tidak mengerti sama sekali dengan penjelasan Pak Dave mengenai Kinematika dengan analisis vector. Ify tahunya fearfector. Ajang unjuk keberanian yang menghasilkan ribuan dollar itu hanya dengan memakan kecoa, cacing dan sejenisnya dan berhasil membuat dirinya mual ketika membayangkan itu semua. Ify jadi teringat dengan Via yang sekarang pasti sedang bersenang-senang dan tak perlu menatap papan tulis dengan mata sok fokus dan mengerti, padahal blank sekali. Lagi-lagi gadis itu mendengus kesal. Padahal Ify udah mati-matian berjuang untuk menyukai fisika, mulai dari menyukai Pak Dave -bukan cinta, tapi suka dengan cara beliau mengajari fisika-, membaca berbagai buku jurus ampuh menaklukan fisika hingga membeli buku soal-soal khusus fisika yang lumayan buat nimpuk anjing kali-kali aj­a lagi dikejar. Tapi tidak menghasilkan sama sekali, malah dia ingat Via yang selalu ngetawainnya. Padahal kemampuan dan kapasitas otak mereka berdua di bidang fisika sama saja. Dong-dong. “Lo baca buku gituan nggak mempan kali, Fy. Nikmatin aja kalo kita nggak bisa fisika. Sellow.”
“Alyssa…”
“Alyssa…”
“Alyssa Saufika Umari,” panggil Pak Dave. Ify kaget dan lantas berdiri. “Siap, Pak? Hadir!” seru Ify. Dia nyerocos sendiri. Ify sadar dan melihat sekelilingnya. Teman-teman sekelasnya udah pada ketawa dibalik buku fisika masing-masing. Tanpa sengaja dia melihat Rio yang hanya diam dan menatap dirinya seperti orang aneh dan memalukan.
“Kamu melamun. Kerjakan soal nomor 2,” perintah Pak Dave. Ify terpaksa maju ke depan dan bersungut-sungut. Apadeh ini bahasa -__-. Ia menatap papan tulis yang hanya berisi catatan beberapa rumus-rumus. Ify menoleh ke arah Pak Dave. “Soalnya nggak ada, Pak. Transparan ya, Pak?” tanya Ify polos bak anak kecil umur lima tahun yang nggak ngerti apa-apa. Seisi kelas kontan menyembunyikan tawa mereka. Ada yang dibalik buku, merunduk dalam-dalam. Bahkan Daud yang  dijulukin Kiting Item tertawa dibalik gorden kelas.
Raut muka Pak Dave tampak murka. Dia melihat ke papan tulis dan ternyata memang nggak ada soal sama sekali. Beliau jadi salting sendiri, tapi berhasil dia tutupin. “Maksud saya, kamu kerjakan soal nomor dua yang ada di buku soal. Cepat salin dan kerjakan,” perintah Pak Dave (lagi) dan menyodorkan buku kumpulan soal yang mematikan itu.
Ify menerimanya dan segera menuliskannya ke papan tulis. Setelah selesai, Ify membaca soal itu dan terkaget. Apaan ini? Mama tolongin Ify, Ify nggak bisa sama sekali. Ish… gara-gara Via nih, batin Ify. Akhirnya setelah membaca soal itu dua kali, Ify hanya mampu membuat diketahui dan ditanya-nya saja. Tak ketinggalan kata jawab beserta tanda titik dua. Lalu dia terdiam.
“Apakah kamu bisa menjawabnya?” tanya Pak Dave. Ify terkejut dan spontan menggeleng. Pak Dave berdecak, “Ck..mangkanya kalau lagi penjelasan didengarin, bukannya melamun.” Pak Dave membuka suatu map yang berisi nama siswa beserta daftar nilainya. “Alyssa Saufika, nilai kamu tidak pernah mendapat enam.” Senyum Ify merekah. “Tapi, selalu lima,” sambung Pak Dave dan menatap siswinya tajem. Ify yang awalnya udah senang banget jadi melengos. Bibirnya yang melengkung menjadi lurus kembali. Dan  lagi-lagi penghuni kelas XI IPA 2 dibuat ketawa. Mereka serasa menonton OVJ, tapi versi Ify. Karena hari ini Ify benar-benar menjadi penyelamat dan bintang lawak.
“Mario, kamu maju. Kerjakan soal itu.” Tunjuk Pak Dave pada Rio. Rio maju ke depan dengan santai. Di ambilnya spidol di meja. “Dan kamu Alyssa, perhatikan bagaimana Mario mengerjakannya,” sambung Pak Dave. Ify mengangguk dan melihat Rio dari tempat berdirinya. Jaraknya satu setengah meter dari Rio. “Alyssa, berdiri di samping Rio. Biar kamu cepat ngertinya,” suruh Pak Dave lagi. Ify benar-benar pasrah, dia terpakasa menyeret kakinya menuju tempat Rio berdiri. Sekarang dia benar-benar berdiri di samping pemuda yang menurutnya sok cool, pendiem dan sok misterius itu.
Ternyata tindakan Pak Dave ini membuat para kaum hawa XI IPA 2 beceloteh sana sini. Ify dapat mendengar ada salah satu temannya yang bilang, “Aduh beruntung banget Ify bisa di sebelah Rio. Gue kapan ya? Kalo gue udah deg-deg-an banget tuh. Berdiri sama prince Rio.” Ify bergidik ngeri, dia jadi tidak konsen melihat apa langkah-langkah yang Rio lakukan ketika menyelesaikan soal mematikan tak terkalahkan itu.
“Lo ngerti nggak?” tanya Rio diakhir penyelesaiannya. Kini dia menatap Ify dengan kedua bola mata coklatnya yang tak kalah dengan Edwar Cullen. Bahkan lebih (iniversianakRFM), Ify jadi terpesona. Ify cepat-cepat menepis rasa itu dan mengangguk. Rio baru saja mau kembali ke bangkunya, tetapi pernyataan Pak Dave berhasil membuat Rio berhenti. “Bagus, Mario. Bapak memutuskan bahwa kamu menjadi tutor-nya Alyssa sampai kenaikan kelas nanti. Bapak tidak mau ada murid Bapak yang nilainya anjlok seperti Alyssa. Jadi, kamu harus membantu Alyssa memperbaiki nilainya. Karena Bapak tahu kalo kamu pandai fisika.”
Ify tercengang. “Tapi, Pak saya bisa belajar sendiri,” protes Ify.
“Saya tidak yakin. Dan kamu harus belajar sama Mario. Kamu bersedia Mario?” Pak Dave meminta kepastian pemuda hitam manis itu dan yang memiliki mata yang sungguh mempesona. Ify berdo’a mati-matian dalam hati. Ya Allah, hamba janji akan belajar lebih giat lagi dan cinta dengan fisika asalkan Engkau tidak membiarkan hamba belajar dengan Mario itu.
Namun sayangnya do’a Ify kali ini tidak dikabulkan karena Rio telah memutuskan. “Baiklah, Pak. Saya bersedia.” Jawaban Rio membuat Ify melengos dan serasa dunianya kiamat. Seumur-umur dia tidak pernah berbicara dan dekat dengan orang yang sok cool, pendiem dan misterius ini. Dia bingung mau mulainya bagaimana. Jangan-jangan feeling Via bener dan ini langkah awalnya. Oh no…, teriak Ify dalam hati.

*******************

Pemuda itu tengah bersandar dengan santainya di kursi teras rumah. Dia menatap langit malam dengan ditemani nyanyian jangkrik, desiran angin dan nyanyian kodok dari kolam yang tak jauh berada dari teras rumahnya. Laki-laki itu tersenyum sendiri, ternyata dia sedang mengingat sesuatu yang mampu menggelitik hatinya.
Lo polos banget ya? Tapi gue suka lo yang kayak gitu. Lo ternyata nggak seperti yang gue bayangkan. Cinta sungguh indah. Gue kira akan menjadi seperti yang gue bayangkan. Ternyata nggak. Lo tumbuh menjadi sosok yang berbeda. Namun itu nggak ngebuat diri gue mencoba ngelepas cinta gue ke elo. Lo ternyata nggak nyadar ya sama gue? Padahal kita udah bertemu. Ck.. ingatan lo payah juga,  pikir cowok itu dan terkekeh kecil.
“Woi, ngelamunin apa lo,” seru seorang cewek berambut sebahu dan manis itu. Cowok itu terkejut. “Ah elo. Kirain siapa. Kalo lo bukan sepupu gue, udah gue bunuh lo. Ganggu gue yang lagi mikirin dia aja,” balas si Cowok kesal. Namun sepupunya itu hanya tertawa dan kemudian duduk di kursi sebelahnya.
“Rugi kali lo nggak ikutan ke Bandung. Malah lo lebih milih dengerin ocehan Pak Dave,” ujar sang Cewek memulai percakapan mereka.
“Gue nggak rugi, malah beruntung banget. Hari ini sungguh indah dan mengasyikan. Lo tahu, Za?”
“Nggak tahu lah gue.” Potong cewek yang dipanggil Za itu.
“Gue belum selesai ngomong, bego. Dia tadi lucu banget, malah berhasil buat gue ketawa. Teman sekelas juga.”
“Ah, pasti lo ketawa dalam hati.”
Cowok itu mengagguk. “Pastilah, masa iya gue ketawa terang-terangan. Ntar nggak jadi lagi rencana gue. Tapi sumpah dia gokil banget. Malah sekarang gue jadi tutor-nya. Dia bego banget ya di fisika?” ujar si Cowok dan akhirnya bertanya.
“Nggak bego banget sih. Hanya saja dia kurang paham mau gunain rumus itu di mana,” balas sang Cewek.
“Alah, bela sesama ya. Mentang satu spesies gitu,” ledek cowok itu.
“Hehehe…namanya juga satu spesies, Yo. Mesti saling belain kali, kalo lo ngeledek dia berarti ngeledek gue juga. Tahu yang pinter fisika. ”
Ternyata cowok itu Rio. Dia melengos. “Ya iyalah, Mario Stevano ahli dan masternya fisika,” ujar Rio narsis.
“Gue ke sini nggak niat ngeliat kenarsisan lo. Oh iya, kenapa sih lo malah milih jadi diri lo yang pendiem, sok cool dan misterius. Kenapa juga nggak elo yang biasa aja. Yang gokil, narsis dan elo banget?” tanya si Cewek.
“Lo kan yang bilang kalo dia nggak suka sama cowok pendiem, sok cool dan misterius. Maka dari itu gue harus jadi itu. Gue mau lihat dia masih bisa bilang nggak cinta sama cowok seperti itu,” jelas Rio.
Sang cewek mangut-mangut sok mengerti. “Serah lo deh. Asal lo jangan pernah nyakitin dia. Awas aja lo,” ancam sang Cewek.
“Tenang aja, Za. Ngapain gue repot-repot pindah dari Aussie ke Jakarta kalo gue niatnya nyakitin peri kecil gue. Udah gila kali. Gue ngerasa dia itu takdir gue,” ucap Rio dan menerawang ke depan.
“Yeee, elo. Kalo bukan karena gue, lo juga nggak akan pernah kenal sama dia.” Sang Cewek tak mau kalah.
“Eits, gue pertama kali ketemu dia tanpa bantuan elo. Dan yang kedua kalinya gue memang harus mengucapkan banyak terima kasih sama elo, karena lo menjadi jembatan gue ke dia,” kata Rio dan tersenyum lebar. “Ngomong-ngomong, dia masih naksir si Gabriel itu?”
Cewek itu mengangkat bahu ke atas. “Gue rasa masih sedikit. Tapi, gue yakin lo pasti bisa menjadi pemilik hatinya. Gue kenal dia dengan baik kok. Gabriel itu seperti obsesi aja baginya, tapi dia nggak nyadar dan gue capek ngasih tahunya. Lo jangan pesimis dong, Yo.”
“Gue?? Pesimis?? Nggak deh. Siapa sih yang bisa nolak pesona Mario Stevano,” seru Rio narsis (lagi). Sepupunya tertawa.
“Ini baru sepupu gue. Semangat, Yo. Gue yakin lo jodoh sama Ify,” ucap sepupu Rio itu semangat.
“Udah jadi peramlan cinta atau biro jodoh nih?” ledek Rio.
“Ish lo, padahal gue udah bantuin lo tuh,” balas sang Cewek keki.
Rio tergelak. “Eh ada salam dari Alvin lo, Za. Dia nyariin elo tadi. Eh cieeeeee…….” goda Rio dan berhasil membuat sepupunya tertunduk malu. “Tadi dia bilang sesuatu,” ujar Rio.
Sang Sepupu kaget dan menatap Rio penasaran. “Apa, Yo?”
“Kasih tahu nggak ya? Nggak aja deh.”
“Pelit banget sih lo, Yo.” Sepupunya merajuk.
Rio nyengir. “Lo beliin gue chitato lima bungkus dulu, ntar gue kasih tahu.”
“RIiiiiiiiiiooooooooooooo, lo perhitungan banget sama sepupu lo,” teriak cewek itu dan menatap Rio kesal. Sementara Rio berlari ke dalam rumah menjauh dari sepupunya sebelum dipaksa untuk bercerita.

***************************

“Sekarang lo belajar dan gue nggak punya waktu banyak,” ucap Rio dingin dan meletakkan buku beberapa buku fisika di depan cewek berdagu tirus di depannya ini. Cewek itu kaget dan matanya mengerejap.
“Lo mau belajar ya, Fy? Gue pulang duluan ya? Bye-bye.” Pamit cewek berpipi chubby. “Hati-hati, lo,” bisik Via sebelum benar-benar meninggalkan Ify berdua dengan Rio.
“VIA, KOK LO NINGGALIN GUE,” teriak Ify setelah punggung Via menghilang dibalik pintu. Ify melengos.
“Lo mau belajar atau nggak?” tanya Rio dengan nada tidak bersahabat. Ify mau bilang nggak, tapi dia teringat kata-kata Pak Dave, nilainya lima. Bayangkan lima. Lantas Ify mengagguk. “Ya,” jawab gadis itu.
“Kita ke taman aja. Lo pasti nggak betah kalo belajar di kelas,” ujar Rio kini suaranya lebih bersahabat. Ify mengangkat kepalanya ke atas dan menangkap sosok Rio yang kini sudah berdiri (memang tadi Rio duduk??) lengkap dengan tas ranselnya yang udah nangkring di punggungnya. “Nunggu apa lagi. Cepetan dan jangan lupa bawa semua buku itu,” ucap Rio yang mendapati Ify yang hanya diam.
“Iya-iya,” balas Ify cepat. Dia membereskan tasnya dan kemudian menggandengnya. Selanjutnya Ify mengambil buku-buku yang berlebel Fisika itu dengan kesal. Soalnya buku itu berat dan Rio sama sekali tidak membantunya. Ish..awas lo, umpat Ify dan dia menyusul Rio yang udah berdiri di pintu kelas. Selama perjalanan dia mengumpati Rio dalam hati.

@Taman Sekolah
               
                “Lo gimana sih, Fy? Gue udah jelasin sama lo sejelas-jelasnya dan elo cuma bisa ngerjain tiga soal doang? Harusnya lima,” bentak Rio sedikit sakartis. Ify terdiam. Rio memang benar. Dia udah ngajarin Ify dengan sangat jelas bahkan lebih bagus dari Pak Dave. Tapi, harusnya Rio nggak ngeledek Ify seperti itu. Padahal Ify sudah sangat gembira karena bisa mengerjakan fisika dalam waktu satu jam penjelasan. Bahkan dia berhasil mengerjakan tiga soal. Sungguh kemajuan. Sama Pak Dave aja, dua jam dia ngajarin. Dua jam juga nggak menghasilkan apa-apa. Cape deh.
                “Tapi gue udah berusaha dan hanya bisa tiga,” balas Ify sambil kembali menatap soal fisika yang tidak berhasil dia jawab.
                “Lo belum berusaha maksimal, Ify. Cepet kerjakan lagi,” perintah Rio. Ify jengkel banget. Gini ya belajar sama orang sok cool? batin Ify. Apa hubungannya, Fy?
                “Iya,” ujar Ify akhirnya namun jutek. Ify segera melirik soal-soal yang udah hampir membuatnya muak. Diamatinya soal itu. Mata Ify meredup, dia udah ngantuk dan capek banget. Tetapi, dia kembali menekuni soal fisika itu. Tapi percuma karena dia memang tidak mengerti lagi. "Rumah lo di mana?" tanya Ify memecah kesunyiaan. Pemuda yang ditanyanya itu tidak menjawab sama sekali.
Mungkin dia tidak mendengar, batin Ify. "Jadi rumah lo di mana, Yo?" tanya Ify lagi dengan suara yang udah naik dua oktaf. Lagi-lagi pemuda itu tidak memberi jawaban. Ify melirik Rio. Laki-laki itu diam dan tak memperdulikannya. Ify mendengus kesal. Gini ya nasib dikacangin. Sebel tahu. Dasar sok misterius. Lo pikir lo siapa? Pangeran William? Yang mesti dirahasiain identitasnya? umpat Ify dalam hati dan mulut monyong-monyong. Menggerutu kesal.
Gadis itu tidak sadar, bahwa orang yang membuatnya kesal diam-diam tersenyum kecil melihat tingkah bodohnya itu.
"Lo mau sampai kapan manyun gitu?? Sampe bibir lo jatuh??" sindir Rio.
Ify menoleh ke arah Rio dan menatapnya kesal. "Elo sih, gue kan cuma tanya alamat lo di mana? Nah, lo nggak jawab sama sekali. Gimana gue kagak kesal," jelas Ify panjang lebar. Jadinya luas persegi panjang (?). *abaikan*
"Kalo lo tahu alamat rumah gue, apa lo akan dateng ke rumah gue?" tanya Rio dan menatap Ify tajam.
Ify tersentak dan matanya tak bisa lepas dari tatapan Rio. Jadi mereka berdua tatap-tatapan gitu. Gue kan cuma basa-basi doang, batin Ify. Mulutnya terkunci dan dia diam seribu bahasa.
"Nggak kan. Jadi bisa gue simpulin kalo gue nggak perlu repot-repot jawab pertanyaan lo," tandas Rio dan dia mengalihkan tatapannya dari mata Ify ke langit biru.
Gue nggak akan pernah ke rumah elo. Inget itu Mario, tekad Ify dalam hati.
"Cepet lo kerjain lagi," ujar Rio dan membuat Ify harus terpaksa menghadapi fisika.

*****

Seorang gadis chubby tengah terlelap di kamarnya. Kamar yang lumayan luas dengan wallpaper warna langit sore beserta pernak-perniknya. Seperti matahari tenggelam dan lengkap dengan awan-awan berwarna jingga. Gadis itu tampak menikmati tidur siangnya, tak ia perdulikan kalau cahaya pemilik kedudukan tertinggi dalam tata surya fokus menembus tubuhnya. Harusnya gadis itu risih karena panas. Namun, ia kebalikannya. Dia tampak baik-baik saja. Wajahnya yang tepat menjadi sasaran cahaya matahari tak membuat dia merasa silau. Gadis itu tampak tak bernyawa kalau saja dadanya tidak bergerak ke atas bawah tanda ia masih bernafas.
Tiba-tiba terdengar suara getaran handphone. Sang Gadis langsung terjaga dan matanya terbuka. Lantas ia meraba-raba bawah bantalnya untuk mencari kotak kecil yang terus berkedip-kedip dan menimbulkan getaran itu.
Benda kotak kecil itu masih bergetar ketika sudah berada di tangan sang Gadis. Awalnya gadis itu tampak kesal karena terganggu tidurnya. Itu terlihat dari air wajahnya yang kaku. Namun, seulas senyum manis dan menandakan gadis itu sedang senang tercipta dari kedua sudut bibirnya manakala ia melihat nama yang tertera dalam daftar panggilan. Langsung saja jari jempol sang Gadis menekan tombol hijau si Kotak Kecil.
"Hallo, Vi," sapa orang dari seberang sana.
"Hai juga, Vin," balas sang Gadis. Tak lupa senyum mengembangnya. Tetapi percuma karena sang Penelpon tak dapat melihat senyum manisnya.
"Ada apa, Vin? Kok elo sampai nelpon segala? Ada yang penting ya?"
Terdengar suara terkekeh cowok yang di sapa Vin tadi. "Nggak sih, Vi. Gue kangen aja sama suara lo," jawab Alvin. Dia bahkan tidak tahu kalau dia memberi dampak yang hebat bagi sang Cewek. Tidak diketahuinya bahwa rona merah memberi corak hias pada kedua pipi chubby si Gadis.
"Owh…" hanya itu yang mampu dibalas cewek yang udah panas dingin. Empat detikan sampai mereka saling diam.
"Via?"
"Ya, Vin? Kenapa?"
"Masih nyambung toh? Gue kira nggak, soalnya lo diem banget. Lo tahu nggak, Vi? Gara-gara denger suara lo ngebuat satu masalah bagi gue," ujar Alvin. Via termangu dan dadanya nyesek.
"Apa?" tanya Via lesu. Kalo gue cuma nimbulin masalah buat lo. Nggak usah ditelpon kali, gerutu Via dalam hati.
"Denger suara lo, gue jadi pengen ngeliat lo. Masalahnya, kini gue lagi nggak di hadapan lo. Jadi nggak bisa ngelihat wajah dan senyum lo, Vi," ucap Alvin lembut. Suaranya mengalir melalui gelombang elektromagnetik hingga terdengar oleh Via dan pernyataannya membuat Via melting. Blush on merah memenuhi Via. Ya ampun, Alvin, batin Via. Dia terlalu surprice dan senang serta malu-malu. Hingga dirinya hanya mampu bilang, "HAH??!!"
Cape deh, Via dan Alvin. Alvinnya juga jahat banget sama Via, masa nggak nyadar juga kalo orang yang digombalinnya itu hampir mati berdiri. Ckckck...
Alhasil, AlVia (baca: Alvin Via) mengobrol di telpon. Lebih baik nggak usah diterusin cerita telpon-telponan versi AlVia. Bisa-bisa beneran Via pingsan. *Alasan gue aja tuh, habis bingung mau nulis apa. -,-*

********************

Saat ini seluruh siswa-siswi Global Nusantara asyik tersenyum senang. Pasalnya bel istirahat udah bernyanyi riang menandakan seluruh penghuni GNS bebas untuk beraktivitas. Kantin. Tempat terfavorit yang paling sering dikunjungi.
Di kelas XI IPA 2 dua orang cewek seumuran yang satu badannya cungkring nggak berlemak sama sekali dan satunya lagi lebih berisi dari cewek pertama terlihat diam dan tidak mengikuti teman-temannya yang lain menuju kantin hanya untuk mengisi energy setelah belajar matematika dengan Ibu Okky.
Double Pi, mau ikutan ke kantin nggak?” ajak Irva teman sekelas mereka.
Yang ditanya hanya menggeleng. “Duluan aja deh, Va,” balas Via akhirnya. Irva mengagguk dan keluar kelas. Sosok Irva digantikan dengan seorang cowok tampan bermata sipit, rambutnya sedikit panjang dan berponi (ala cowok, lho) membuat garisan tampan di wajahnya.
“Hai, Vi,” sapa Alvin ke Via. Via menoleh dan tersenyum. Ify mengamati sohibnya itu. Ada sesuatu, batin Ify. “Gue nggak gitu di sapa, Vin?” sindir Ify yang merasa dikacangin.
“Eh, Ify juga ada ya? Wah, Hai, Fy. Kalo gitu,” balas Alvin dan memasang wajah tanpa dosanya.
Ify melengos. “Jadi dari tadi lo nggak nganggep gue ada sama sekali? Lo kira gue jurik? Setan gitu?” ujar Ify pura-pura keki.
“Jangan dengerin Ify, Vin. Kenapa lo ke sini?” tanya Via dan melotot ke Ify biar diam. Ify balas melotot.
“Gue mau ngajakin Rio ke kantin. Lo berdua mau nggak?” jawab dan ajak Alvin ke Duo Pi. Lalu ia menoleh ke arah Rio. “Nggak apa-apakan gue ajak mereka berdua?” tanya Alvin ke Rio yang sendari tadi hanya memperhatikan mereka, tepatnya satu orang.
“Serah elo,” jawab Rio pendek. Alvin tersenyum. “Lo berdua mau ikut nggak?” tawar Alvin lagi. Via mengangguk.
Selama perjalanan ke kantin, seluruh mata kaum hawa sepanjang koridor menatap empat orang yang berjalan beriringan bersama itu dengan  berbagai ekspresi. Ada yang iri, sinis dan memandang penuh takjub. Apalagi posisi mereka layaknya orang berpacaran. Cewek berdiri di sebelah cowok. Rio berdiri di sebelah Ify, mereka mengambil jalur kanan. Sementara Alvin berdiri di sebelah Via, pastinya mereka di jalur kiri. Mengingat Alvin dan Rio sudah menjadi layaknya most wanted boy di GNS sejak mereka menginjakkan kaki di GNS ini, membuat para fans mereka iri setengah mati yang menurut mereka seperti dapat durian runtuh. Ify. Cewek yang dibilang paling beruntung. Pasalnya dia bisa bersama Rio, yang terkenal dengan kecuekannya juga kedinginannya. Kalau Via bisa dikatakan beruntung juga, walaupun Alvin terkenal ramah dan biasa berjalan bersama cewek.
                Ify dan Via yang berdiri sebelahan saling menyikut satu sama lain dan menatap. Mereka juga risih diperhatikan oleh banyak orang. Ini baru yang pertama kalinya. Aduh, gue risih nih. Mama tolongin Ify. Ify serasa diteror, nih. Ish gara-gara Via. Coba aja nggak nerima ajakan Alvin. Huah, Mama. Ify takut nih berdiri di sebelah Rio. Fans-nya pada nyeremin, batin Ify. Dia melamun sambil jalan. Gadis itu tidak melihat kotak sampah yang ntah sengaja atau tidak di letakkan di tengah jalan. Tepat selurusan dengan jalannya.
                “Ify a-was.” Via memperingati sohibnya itu. Namun yang diperingati nggak ngeh sama sekali. Malah dia menoleh ke Via dan tetap berjalan. Akhirnya, Ify menabrak kotak sampah itu. “Kyaaaa….” teriak Ify. Tubuhnya oleng dan mau jatuh ke depan. Pasti dia akan nyungsep ke kotak sampah itu. Ify memejamkan matanya. Tak sanggup melihat tertawaan dan cemoohan orang lain. Tapi, tubuhnya tidak juga jatuh. Masa iya gravitasi nolak gue, ini bukan di bulan, batin Ify. Dia juga merasakan seperti dua tangan sedang memeluk dirinya. Ify pun membuka mata, di depannya wajahnya tepat berbagai sampah. Cewek itu bergidik ngeri. Dia melihat dua buah tangan melingkar di pinggangnya. Baru saja mau menoleh ke belakang, si Pemeluk udah menarik dirinya agar berdiri tegak kembali. Sekarang posisinya benar-benar seperti sedang dipeluk dari belakang.
                Cewek berdagu tirus itu menoleh ke belakang. Didapatinya wajah seseorang. Bola matanya coklat dan menatap Ify tajam, namun sangat menyejukan. Ify serasa berenang-renang di mata itu. Emang kolam? *abaikan* Kayaknya gue kenal ini mata? batin Ify. Dia melamun dan menatap cowok itu sementara si Cowok masih menatap dirinya.
                “Ify, lo nggak apa-apa kan?” suara cempreng Via membuyarkan lamunan Ify.
 “Iya gue nggak apa-apa,” balas Ify.
“Gue serasa nonton telenovela gratisan. So sweet banget deh kalian, sampai sekarang masih aja pelukan. Ini di sekolah woi,” goda Alvin. Cowok yang berdiri di sebelah Via.
Tadi gue kan mau ke kantin bareng Via, Alvin dan Rio. Alvin di sebelah Via dan…. Jadi Rio yang meluk gue? batin Ify. “Huawaaa….” teriak Ify refleks dan saat itu juga pelukan Ify lepas. Ditatapnya wajah Rio.
“Elo nggak sopan banget sih meluk gue sembarangan.” Tuduh Ify ke Rio.
Rio bedecak kesal. “Kalo gue nggak nangkep lo, lo udah nyungsep ke kotak sampah. Harusnya lo bilang makasih bukan nuduh sembarangan. Makanya mata itu di pake buat jalan, jangan melamun bego.” Ify diam, dia tahu ini semua kesalahannya.
“Udah jangan berantem. Ayo ke kantin,” relai Via. Dia menarik tangan Ify. Diikuti Rio dan Alvin. Mereka berempat tidak menyadari kalau sudah menjadi tontonan gratis.

@Kantin

                “Jadi lo berdua sahabat dari kecil?” tanya Ify masih tidak percaya dengan cerita Alvin yang kadang-kadang ditambahin oleh Rio. Ify menyeruput Pop Ice-nya dan memandang Rio dan Alvin tidak percaya. Bagaimana bisa dua kepribadian saling bersahabat. Dia dan Via aja samaan sifatnya, walaupun nggak mirip-mirip banget, batin gadis berdagu tirus itu.
                “Yap, bener. Gue kan udah cerita, nggak mungkinlah gue bohong,” timpal Alvin. Ify cengengesan. “Ya deh, gue percaya.”
                “Tapi..”
                “Apaan lagi sih, Fy? Lo nggak percaya juga? Mereka itu udah cerita berapa kali, nah lo nggak ngeh juga. Capek gue dengernya.” Potong Via jengkel dengan kelaukan sohibnya itu. Sedikit memalukan.
                Ify manyun habis. “Gue kan Cuma nggak percaya aja, Vi. Masa iya Alvin yang ramah dan care sahabatan sama Rio yang dingin, ngomong seperlunya aja, senyum aja jarang. Kalo iya senyum cuma dipaksain. Dua centi juga nggak nyampai dia senyum. Terus sok cool dan misterius gitu. Secara logika nggak mungkin kan? Terbalik 180 derajat.” Ify bercerita seolah-olah orang yang diomongin nggak ada. Via dan Alvin nyengir doang. Bagaimana dengan Rio? Harusnya Rio marah jika dikatain seperti itu. Tapi, sosok manis itu hanya tersenyum dalam hati.
                “Ada Rio kali, Fy,” bisik Via ke Ify. Ify termangu dan menoleh ke sebelahnya. Rio duduk di sebelahnya? Sejak kapan? Huaa…., batin Ify. Ify tersenyum ragu ke Rio, sedikit takut-takut. Takut kalo cowok itu marah. Namun Rio tidak menunjukkan reaksi apapun.
                “Vin, ngomong-ngomong lo deket sama Via sejak kapan?” tanya Ify mengalihkan pembicaraan. Sekilas ia menatap baksonya yang udah tinggal setengah dan dia tidak berminat lagi. Dia melirik Via yang masih menikmati baksonya.
                “Hehehe…” Alvin malah cengengesan. “Woi, Vin. Gue nanya kali.” Ify menggerutu kesal.
                “Sejak gue pindah. Gue nggak sengaja nabrak Via dan kita kenalan gitu,” jawab Alvin akhirnya. Ify manggut-manggut sok mengerti. Ia ingat samar-samar saat Via masuk ke kelas sambil menggerutu pinggangnya sakit dan senyum tetap mengembang di wajahnya. Emang ada yang kayak gitu?? =,=
                Ify membulatkan mulutnya. Aha, pikir Ify. “Jangan-jangan yang Via bilang kalo dia lagi naksir seseorang itu. Apa ya yang Via sebut waktu itu?” Ify jadi bingung sendiri. Dia lupa. Via yang asyik dengan baksonya jadi menatap Ify.
                “Naksir siapa, Fy?” tanya Alvin cepat.
                “Oh iya, sama A….dgfjkwksfghdjak%%%&&djdkhakka…” mulut Ify langsung dibekep sama Via. Ify mangap-mangap nggak bisa nafas. Dia mengeluarkan jurus yang Via wariskan pada Ify ketika mereka lagi di perpustakaan.
                “Ify…. Lo apa-apaan sih jilat tangan gue. Jorok dodol,” seru Via kesal dan melepaskan bekepannya. Dia mengambil tisu di meja dan mengelapnya. Tidak lupa di siramin dulu dengan air putih di meja.
                “Lo main bekep aja. Lagian tangan lo asin, mana enak,” balas Ify dan nyengir. Via mendengus kesal.
                “Jadi, Via suka sama siapa sih?” tanya Alvin begitu dua cewek itu udah kembali pada posisinya.
                “Nggak ada. Gue lagi nggak suka sama orang,” jawab Via cepat dan tegang. Dia melihat Ify yang udah mau menyanggah peryataannya. “Iya kan, Fy?” Via minta persetujuan sebelum Ify ‘bocor’ tak lupa dengan tampang mengancam.
                “Gue jawab iya aja deh. Dari pada Via ngambek,” jawab Ify. Badannya ia majukan dan berbisik ke Alvin. “Minta penjelasan lebih lanjut, tanya aja sama gue. Hehehe…”
                “Lo ngomong apa sama Alvin, Fy?” tanya Via penasaran.
                “Nggak penting sih. Cuma bilang, ‘Via naksir sama Sindunata’.”
                “Ipong, lo kira gue naksir bapaknya Alvin. Enak aja lo, sosor Via dan menoyor kepala Ify.
                Ify manyun. “Sakit, Viong,” keluh Ify dan mengelus kepalanya yang menjadi korban kesadisan Via menurutnya. Lebay amat, Fy. Baru juga ditoyor belom ditonjok.
                “Lo sadar nggak sih, Fy. Tadi lo ngomongin Rio detail banget. Lo mata-matain Rio ya? Atau lo stalker-nya? Atau jangan-jangan lo naksir lagi. Sampe tahu sejelas itu.” Ganti Via ngeledek Ify. Ify terdiam dan mukanya merah.
                “Nggak lagi. Kapan coba gue bilang kayak gitu,” ucap Ify yang terlebih dahulu memasang wajah polosnya.
                “Lo ngeboong nggak elit banget, Fy. Jelas barusan lo bilang gini ‘sahabatan sama Rio yang dingin, ngomong seperlunya aja, senyum aja jarang. Kalo iya senyum cuma dipaksain. Dua centi juga nggak nyampai dia senyum’. Masa nggak inget juga,” timpal Via dan tersenyum ngeledek. Lewat tatapan matanya Via bilang ke Ify, ‘kita satu sama’.
                Ify mencibir dan manyun. Pipinya mengembung tanda dia cemberut. Dia tidak tahu mau membalas apa. Jadinya itu anak mencak-mencak sendiri tak lupa tangannya terlipat di dada.
                “Hahahahahaha…… lo berdua lucu banget sih. Apalagi Ify noh.” Tawa seseorang meledak dan orang itu menunjuk Ify yang ada di sebelahnya. Ify yang diam jadi kaget, tawa ini baru pertama kali dia denger. Ify melihat Alvin dan Via hanya diam menatap ke arahnya. Lalu Ify menoleh ke samping, di dapatinya Rio yang lagi tertawa lepas.
                Oh My God, Rio…, batin Ify. Dia terpesona sama Rio. Baru pertama kali ini dia melihat Rio tertawa. Tawa itu membuat wajah Rio lebih bersahabat dan menambah kadar kegantengannya.
                “Huwaaaaa…..Rio tertawa. Rio tertawa. Lihat, Vi, Vin. Rio ketawa,” seru Ify girang. Dia sampai berdiri dan loncat-loncat kayak anak kecil. Tidak lupa tepuk tangannya menjadi backsound teriakannya. Ini terjadi tanpa Ify sadari dan dia lupa kalau sedang berada di kantin. Banyak mata yang menatap tingkah konyolnya itu. Orang-orang pada ketawa melihat Ify. Rio? Dia tersenyum geli menatap cewek yang tingkahnya kini tak jauh beda dari anak kecil berusia empat tahun yang baru dapat hadiah.
                “Lho? Kok pada ngeliatin gue?” tanya Ify pelan. Dia mengamati dirinya. Nggak ada yang aneh, batin Ify. Ify mikir. Ya ampun, gue tadi bilang apa. Oh no..., teriaknya dalam hati. Ify malu-malu kembali duduk dan langsung diam. Sekarang perutnya jadi mules.
                “Fy, lo kenapa?” tanya Via khawatir. Alvin ikut melihat dirinya.
                “Gue malu,” jawab Ify pelan dan menunduk. Sebuah tangan mengelus puncak kepalanya. “Nggak perlu malu lagi. Lo lucu banget, jarang gue ketemu spesies cewek kayak lo,” ujar sebuah suara yang memang dikenal oleh Ify. Suara Rio. Ify menatap Rio. “Lo cewek pertama buat gue ketawa,” sambung Rio dan membuat dada Ify bergejolak hebat. Mama Ify kenapa? Ify bertanya dalam hati. Dia jadi salah tingkah.
                “Lo kira gue hewan apa, pake spesies segala,” protes Ify ke Rio. Alibinya aja, padahal dia mau nutupin saltingnya.
                Rio tersenyum. “Gue nggak bilang,” ujar Rio. Ya Rio, lo jangan senyum gitu dong. Melting gue, batin Ify (lagi).
                Ify manyun. “Ye elo,” balas ify pendek.
                “Ehem..ehem… di sini jual kacang berapa, Vin?” tanya Via ke Alvin dengan nada jutek.
                “Sejuta kali sebiji,” jawab Alvin.
                “Hah?! Emang ada?” tanya Via polos. Membuat Rio dan Ify menatap dirinya.
                “Ada kali,” timpal Alvin.
                “Mana ada bego. Lo ngarang aja. Dasar cina sipit koko mendok,” sahut Via sewot. Ganti Alvin yang terperangah.
“Lo gimana sih, Vi. Katanya mau nyindir Rio dan Ify, eh lo malah ngetain gue,” balas Alvin keki.
                Tawa Rio dan Ify meledak. “Hahahaha….kasihan banget lo, Vin. Lemotnya Via kambuh tuh,” seru Ify di sela-sela tawanya.
                Alvin mendelik kesal dan menatap Via. Gadis itu cuma cengengesan dan berulang kali bilang maaf ke Alvin. Nasib dah Alvin. Makanya jangan suka ngeledek orang, kena tuh karma. Hihihihi…

******************** 


_Shelly Sagita_

0 comments:

Posting Komentar