The Reason Why Love was Called Perfect 3


Ify baru saja tiba di gerbang sekolah. Sekarang baru pukul tujuh kurang sepuluh pagi, berarti masih dua puluh lima menit lagi bel masuk berbunyi. Ify mencoba berjalan menuju kelasnya dengan langkah santai, walaupun dari tadi malam dadanya merasa sesak dan dirinya selalu merasa cemas dan was-was. Tiba-tiba saku kemeja kotak-kotak Ify bergetar. Lantas tangan lincah gadis itu mengambil handphone-nya. Ternyata satu SMS masuk.

From : Acha
Makasih banget, Fy.
Berkat lo gue udah jadian sama Rio. J

                Ify membaca SMS itu perlahan-lahan. Dari nama yang tertera saja Ify tidak mau membacanya, pasalnya setiap berhubungan dengan Acha -si Pengirim SMS- selalu saja membuat Ify semakin menyesal akan kebodohannya. Dan membuat dirinya lemah serta pandangannya berubah sayu dan nanar. Baris kedua SMS itu membuat Ify kontan ternganga dan nafasnya tercekat. Tiga kata. Ya, hanya tiga kata. Ja-di-an-sa-ma-Ri-o. Jika dieja seperti itu. Memang hanya tiga kata yang pendek, namun siapa yang tidak tahu kalau tiga kata yang singkat, padat dan jelas itu memberi dampak yang hebat bagi gadis langsing itu. Tiga kata yang mampu membuat dadanya berdebar-debar dan tegang serta sulit bernafas. Seakan oksigen enggan masuk ke paru-parunya. Matanya nanar dan mulai berair. Dadanya sesak dan dia termangu. Pikiran sang Gadis?? Jangan ditanya. Pikirannya sudah berenang-renang keseluruh kenangan dia sama Rio. Kini, Ify sadar kalau dia tidak boleh menatap Rio seperti dulu lagi, walaupun bisa. Dia tidak boleh sedekat dulu dengan Rio. Dan kini, gadis itu semakin menyesali keputusannya. Hancur sudah cinta pertamanya. Cerita cinta yang sungguh mengenaskan.
                TIIIIIINNNNNN…………… bunyi klakson mobil membangunkan Ify dari mimpi terburuknya. Menurut gadis itu. Alam bawah sadar Ify membawa gadis itu menuju ke pinggir. Ify ingin sekali kalau itu semua mimpi, bahkan SMS itu hanya mimpi. Tapi, semua itu salah. Its real. Nyata. Tidak ada kata semu. Apalagi mata gadis itu menangkap dua sosok yang berjalan berdampingan. Mereka berpegangan tangan –tepatnya, si Cewek yang menggenggam tangan cowoknya–, cewek itu juga bergelayut manja di bahu sang cowok. Ify mangamati dua sosok itu. Lagi-lagi dunia serasa memusuhinya, sekali lagi Ify menerima kenyataan pahit. Ternyata mereka adalah Rio dan Acha.
                Ify memejamkan matanya. Tidak sanggup hanya sekedar untuk melihat. Dia berharap ketika ia membuka mata semua yang membuat hatinya sakit menghilang. Minimal hilang dari pandangannya. Ya benar saja, ketika gadis itu berani membuka matanya. Sosok penimbul rasa nyeri di hatinya telah hilang dari pandangannya. Ify segera mengambil jalan yang berlawanan dengan Rio dan Acha. Ia mengambil jalan lewat belakang untuk menuju kelasnya.
                Gadis berdagu tirus itu memaksakan jemari-jemari lentiknya untuk mengetik sebuah pesan dusta. Dusta terbesar yang dia lakukan.

To : Acha
                Selamat ya J. Lo sama Rio cocok kok.
                Moga langgeng J.
               
                Ketika mengetik nama Rio, Ify memejamkan matanya tak sanggup untuk sekedar menuliskan nama lelaki itu yang kini menjadi pengisi hatinya seutuhnya. Dua senyuman ia berikan dalam pesan dusta itu. Sungguh miris baginya. Bisa-bisanya dia mengetik pesan itu. Berbohong demi kebahagiaan orang lain dan menusuk hatinya sendiri. Memberi luka untuk hatinya. Suatu kebodohan luar biasa.
                Setetes air bening turun dari kedua pelupuk matanya. Menciptakan anak sungai di kedua pipinya. Sungguh, Ify tidak menyangka kalau dia akan menjadi seperti ini. Menangis hanya karena masalah cowok dan cinta. Yang orang bilang cinta anak tujuh belas tahun yang masih dibilang cinta monyet. Gadis itu  menggeleng ketika dipikirannya tercetus kata cinta monyet. Karena Rio bukan cinta monyet baginya dan ia juga tidak tahu cinta seperti apa. Apa mungkin true love-nya ?? Ntahlah tidak ada yang tahu. Cinta monyet bagi Ify ketika ia mencintai Gabriel. Pemuda yang kemarin berbincang kepadanya, meminta solusi kepadanya mengenai kekasihnya. Bagi Ify ya, Gabriel-lah cinta monyetnya. Karena bersama pemuda itu ternyata sama saja. Biasa-biasa. Tidak ada getaran partikel-partikel cinta dalam hatinya. Sungguh berbeda saat ia bersama Rio. Partikel-partikel penyusun cinta yang belakang ini baru ia sadari selalu terasa bergetar dan berdegup tidak menentu ketika ia bersama Rio. Bahkan hanya sekedar mendengar namanya.
                Alyssa. Gadis itu berjalan dalam diam melalui gedung belakang yang tampak selalu sepi. Memang. Karena jalannya berupa tanah biasa yang kalau hujan akan becek dan membuat sepatu kotor. Namun sekarang ini Alyssa Saufika menggunakan jalan itu. Untungnya hari tidak hujan. Untunglah. Gadis itu menghentikan air matanya. Percuma. Ya percuma untuk menangisi kejadian ini. Toh semua itu tidak merubah keadaan. Memang ada orang yang bilang kalau setelah menangis rasa sakit itu akan hilang. Ify percaya, tapi bagaimana ia harus mengahadapi rasa nyeri itu selama ia menangis. Bukankah sangat sulit. Bagaimana? Gadis itu memutuskan untuk berhenti menangis. Mengusap kedua matanya dengan tissue yang selalu setia berada di tasnya.

***********************

                Ify tiba di kelas lebih cepat dari Rio yang melalui jalan depan. Ia sangat bersyukur karena tidak perlu melihat pemuda itu ketika baru tiba di kelas. Ify langsung menuju bangkunya, di sana sudah ada Sivia  sahabatnya yang tengah duduk manis menyambut dirinya.
                “Lo bodoh atau pura-pura nggak mau mengaku?” sambut Via dengan pertanyaan ketika Ify baru duduk di bangkunya.
                “Maksudnya?”
                “Mata lo item gini kenapa?” tanya Via lagi. Sebenarnya dia tidak butuh jawaban Ify karena dia sudah tahu apa penyebabnya.
                “Gue susah tidur tadi malem. Hehehe…” cengir Ify.
                Via mendengus. Dia lelah mengahadapi sohibnya ini. Ify bisa dibilang sangat pandai menyembunyikan keadaannya dari orang lain. Tapi tidak berlaku bagi dirinya. “Bego atau bodoh sih lo sekarang, Fy,” gerutu Via.
                “Gue pinter kali. Apalagi fisika. Gue kan udah belajar sama Rio,” balas Ify. Dia terdiam. Tidak menyangka akan menyebut nama lelaki yang sudah tiga minggu ini seperti orang asing baginya.
                “Gue udah tahu kalo lo bantu si Nenek Lampir Acha buat jadi pacar Rio. Dan gue udah tahu dari dulu kalo lo itu cinta sama Rio. Dan kini, gue yakin lo udah nyadarin perasaan lo,” bisik Via ke Ify.
                Ify diam saja. Dia tidak menanggapi ucapan sohibnya itu. Matanya menerawang ke depan. Via sama sekali tidak membutuhkan reaksi dan jawaban apapun yang keluar dari bibir mungil Ify. Mata. Karena mata Ify udah menjawab semuanya.
                Haruskah lagi? Apakah tidak cukup yang barusan ia hadapi? Apakah memang harus hari ini menjadi hari yang paling menyakiti bagi dirinya? Sepertinya iya. Baru saja ingin menghela nafas lega, Ify harus menerima kenyataan lagi. Ia terpaku mendapati Rio dan Acha yang masuk ke kelas.
                Via mengikuti arah pandangan Ify. Dia juga kaget. Rio dan Acha lagi. Ternyata cewek itu masih tidak malu melakukan hal itu. Tidak sadar sama sekali. “Tujuh lima belas,” gumam Via. “Eh, Ud. Udah bel ya? Kok ada alien yang masuk kelas kita? Salah kelas atau murid baru sih?” tanya Via ke Daud yang duduk tidak jauh darinya. Melalui matanya Via meminta Daud untuk mengerjai orang yang ia tunjuk dengan dagunya.
                “Wah iya, Vi. Gila aja alien dari planet Mars percampuran Merkurius. Ih… masa itu murid baru? Nggak kali, Vi. Kelas kita nggak nerima murid baru macem alien itu. Kelas yang paling ujung noh yang hanya nerima alien macem itu,” jawab Daud. Via tertawa riang dalam hati. Kelas ujung adalah kelas XI IPA 10. Kelas Acha, Shilla, Angel dan Zevana.
                Acha, gadis yang dibilang alien itu menahan amarah. Dia bukan tidak sadar kalau sedang dikata-katain. Simple sih membuat dia tidak melawan, hanya karena ada Rio. “Io, aku ke kelas dulu ya. Nanti ketemu di kantin ya,” pamit Acha. Ia mengatakan dalam suara manja yang dibuat-buat. Via mau muntah seketika. Rio tidak menjawab sama sekali. Dia diam.
                Io? batin Ify. Apa panggilan itu udah tidak berlaku untuk dirinya? Padahal, Rio sudah berjanji hanya Ify yang akan memanggilnya seperti itu. Kedua orang tua Rio saja memanggilnya Rio atau Yo. Bukan Io.
                “Fy. Woi, Fy,” teriak Via di kuping Ify. Ify tetap diam. Dia tidak sanggup. Sungguh. Gadis itu beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan kelas dalam keadaan diam. Padahal bel masuk sudah berbunyi.

*************************

                Gadis itu duduk di bangku taman belakang. Sendirian. Air mata berlinang di kedua pipinya. Ntahlah, gadis itu sudah terlalu rapuh akan kisahnya. Nyeri. Sakit. Teman ia saat ini. Sungguh hatinya menangis. Bagaimana tidak, cintanya kandas akibat ulahnya sendiri. “Gue sakit, Io. Nyeri banget. Hati gue, Io. Harusnya gue nggak kayak gitu. Gue bego,” caci Ify ke dirinya sendiri.
               
Semakin ku ingkari
Semakin ku mengerti
Hidup ini tak lengkap tanpamu
Aku mengaku bisa
Tapi hati tak bisa….a….a….

Sesungguhnyaku berpura-pura
Relakan kan kau pilih cinta yang kau mau
Sesungguhnyaku tak pernah rela
Karna ku yang bisa
Membuat hatimu utuh…

Sakit yang kurasa
Bukan karena dia
Tapi karna kau pilih cinta yang salah
Aku mengaku bisa
Tapi hati tak bisa….

Sesungguhnyaku berpura-pura
Relakan kan kau pilih cinta yang kau mau
Sesungguhnyaku tak pernah rela
Karna ku yang bisa
Membuat hatimu utuh…

Ify bersenandung pelan. Mencoba membuat rasa sakitnya melalui setiap lantunan lirik lagu yang ia nyanyikan. Sungguh tidak berhasil, karena lagu yang ia senandungkan sangat menggambarkan keadaannya saat ini. Rasa nyeri itu semakin menggerogoti hatinya.
“Suara lo bagus,” puji seseorang. Ify menoleh ke kanan. Di dapatinya seorang cewek. Ia manis dan rambutnya sebahu. Tunggu. Ify kenal siapa cewek ini. Ya, dia Agni. Pacarnya Cakka Kawekas Nuraga.
“Hehehe…makasih Ag. Gue berencana buat rekaman,” canda Ify.
Agni menatap Ify salut. Ia bisa merasakan apa yang Ify rasakan karena dirinya pernah terpuruk dalam rasa ini. Tetapi, dia tidak setegar Ify. Agni mengetahui apa yang terjadi dengan Ify, siapa sangka ternyata Agni akrab sama Via. Apalagi kalau bukan karena sering berjumpa ketika menemani Alvin latihan. Agni sendiri menduga kalau Rio dan Ify pacaran ketika pertama kali melihat Rio dan Ify di lapangan basket waktu itu. Dirinya tidak sengaja menangkap sosok Rio yang selalu mengamati Ify. Dan juga sebaliknya. Agni juga tidak menyukai SAZA, karena salah satu anggota SAZA membantu seseorang membuat dia merasakan rasa nyeri dihatinya sebelum ia bersama Cakka.
“Lo hebat, Fy. Gue salut sama lo,” puji Agni. Ify bingung dan dia menatap Agni heran. “Ya lo hebat, Fy. Gue tahu kok kalo lo suka sama Rio. Dan gue rasa lo patah hati melihat Rio dan Acha sekarang ini,” jelas Agni.
“Bukan, Ag. Gue kecewa sama kebodohan gue. Gue bantuin Acha buat jadian sama Rio. Dan sekarang mereka udah jadian.” Ify tidak tahu mengapa dirinya langsung saja cerita sama Agni. Padahal mereka tidak dekat. Tapi hatinya percaya sama Agni.
Agni kaget. Mana mungkin, batin Agni. Dia menatap Ify sayu. Agni membulatkan mulutnya. “Dan elo nyesal. Ternyata elo udah mencintai Rio dari lama. Gue tebak lo baru sadar akan perasaan lo itu,” lanjut Agni.
Ify mengagguk kecil. Gue nggak yakin kalo Acha jadian sama Rio. Karena ini mirip sama trik yang dilakukan salah satu anggota SAZA terhadap gue, pikir Agni. Dia segera membuka akun facebook-nya. Mencari kebenaran dan ternyata benar. Tidak mungkin terjadi seperti ini. Dia langsung mengirim pesan ke seseorang.
“Lo tahu dari mana, Fy?” tanya Agni. Ify tidak menjawab dan dia memberikan handphone-nya pada Agni. Tertera dilayarnya SMS dari Acha. Agni kesal. Cara lama, batin Agni.
“Kayaknya lo mau sendiri, Fy. Gue balik ke kelas gue ya dan elo gue izinin untuk nggak masuk,” ujar Agni. Ify mengangguk dan dia merasa Agni benar.
“Makasih ya, Ag,” ucap Ify.
Agni tersenyum. “Sama-sama. Siip,” balas Agni dan mengancungkan kedua jempolnya. Ify menatap punggung Agni yang semakin menghilang. Setelah Agni benar-benar udah kembali ke kelasnya, Ify kembali melamun.

**************************

“Aarrrrrgggghhhhhhh…………” teriak Rio kesal. Dia masih ingat sore itu. Sore itu ia melihat Ify dan Gabriel yang sedang duduk berdua di koridor sekolah. Sambil tertawa-tawa. Dia sebenarnya tidak sengaja melihat kejadian itu. Sungguh. Kalau boleh memilih ia lebih baik untuk tidak melihatnya.
“Lo masih menyukai Iel ya, Fy? Apa gue belum masuk juga ke hati lo? Sekedar nama gue belom?” tanya Rio pada Ify yang semu. Ify pada bayangannya.
“Hoi. Pesek,” teriak Zazah. Sepupu Rio. Hari ini Zazah kembali berkunjung.
“Apaan sih lo.” Rio berkata kesal.
Zazah tidak perduli. “Lo beneran udah jadian sama Acha?” tanya Zazah ke Rio.
Rio kaget dan terperangah. “Siapa yang bilang? Gue nggak ada apa-apa sama tuh anak,” jawab Rio. Dia kembali dibuat kesal.
“Beneran lo nggak jadian sama Nenek Lampir itu? Gue beneran nggak sudi.”
“Demi. Lo tahu dari mana  gosip itu?” desak Rio.
“Dari Agni dan Agni lihat sendiri di handphone-nya IFY,” jawab Zazah dan memberi penekanan pada kata yang di-capslock.
Rio kaget dan hampir meloncat berdiri. Apa ini yang membuat Ify berubah, batin cowok hitam manis itu. “Gue beneran nggak jadian sama Acha. Demi apapun. Lo percayakan, Za?”
Zazah mengangguk. “Gue percaya, Yo. Masalahnya Ify. Dia nggak tahu sama sekali. Dan lo apa nggak ngerasa perubahan pada Ify?”
“Gue ngerasa. Dia menjadi lebih pendiam dan ngejauh dari gue. Gue udah frustasi banget. Apa sikap gue selama ini nggak menunjukkan kalo gue itu sayang sama dia? Cinta sama dia,” seru Rio dia mengusap rambutnya dengan kedua tangannya. “Kemarin gue ngeliat Ify sama Gabriel berduaan. Gue cemburu, Zah. Apa Ify masih suka sama Iel?”
Zazah menatap sepupunya ini miris. “Apa yang membuat elo berangkat bareng Acha hari ini karena hal itu?” tanya Zazah hati-hati.
Rio mengagguk. “Gue mau Ify ngerasain apa yang gue rasa kemarin. Gue sakit hati.”
Zazah mendecak kesal. “Lo bego Rio. Ck.” Zazah geleng-geleng kepala. “Iel udah hilang dari hati Ify, bahkan tidak pernah ada. Kemarin Iel itu curhat sama gue, Ify dan Agni tentang Shilla. Dia ingin Shilla itu berubah. Nggak suka seenaknya. Pendeknya menjadi baik. Kayak gue, Ify dan Agni,” lanjut Zazah dan sedikit narsis.
Rio cengo dan menatap Zazah mencari kebohongan. Tapi yang ia temukan kebenaran. Tidak ada titik kebohongan sama sekali. “Jadi gue salah paham,” gumam Rio.
Zazah mengangguk. “Ify itu sayang sama lo, Rio. Lo udah buat dia hancur tanpa lo sadari. Dia jadi pendiem karena lo. Lo yang selalu sama Acha.”
“Gue nggak selalu sama Acha. Dia aja yang ngintilin gue,” potong Rio.
“Intinya ada Acha, ada elo. Kembali ke Ify. Dia memang telat nyadari perasaannya ke elo. Tapi lo bisa lihat dalam perubahannya, Yo. Dia nyesal karena bantu Acha buat PDKT sama lo. Saat Acha berada di dekat lo, dia baru sadar kalo dia udah sayang banget sama lo. Coba lo ingat berapa lama lo udah dekat sama Acha? Selama itu juga Ify nahan rasa sakit di hatinya, Yo. Terpuruk dalam penyesalannya. Puncaknya, tadi pagi. Lo ingetkan dia nggak masuk jam pertama sampe ke empat?” Rio mengangguk. “Dia menerima SMS dari Acha kalo lo udah jadian sama Acha dan ditambah lo pake acara bareng nenek lampir gila itu ke sekolah,” lanjut Zazah.
Rio termangu. “Gue udah buat peri kecil gue kecewa. Harus sakit hati,” sesal Rio. Coba dia selidikin dulu kenapa Acha bisa-bisanya mendekat pada dirinya dan kenapa dia tidak mencari tahu tentang sikap Ify. “Lo terlalu baik, Fy. Harusnya lo nggak lakuin itu karena gue tersiksa juga tanpa lo,” ujar Rio. “Jadi gue harus apa , Zah?” tanya Rio.
Zazah menepuk dahinya. “Ya minta maaf dan kalo bisa lo ngungkapin perasaan lo. Dari pada ntar Ify udah melenyapkan perasaannya ke elo.”
So pasti. Bila perlu besok,” ucap Rio semangat. Dia juga menyesali dirinya. Kenapa nggak dari dulu aja dia bilang suka sama Ify. “Tapi gimana caranya?” tanya Rio. Wajahnya melas.
Zazah terkikik geli melihat tampang sepupunya ini dan kemudian dia membisikan sesuatu ke Rio. Rio tersenyum senang dan merangkul cewek itu. Tidak menyadari seseorang melihat kejadian itu.

***********************

“Lho, Rio? Via?” ujar Alvin yang baru saja tiba di teras rumah Rio dan menemukan kekasihnya sedang dirangkul sohibnya.
Via mengenal suara itu jadi menoleh ke depan dan sontak melepaskan rangkulannya. “Vin. Gue bisa jelasin kok. Beneran,” seru Via cepat. Alvin terdiam dan melihat kode samar dari Rio.
Alvin diam dan memasang tampang juteknya. “Vin, beneran gue bisa jelasin kok. Gue itu nggak ada apa-apa sama Rio. Jangan marah ya? Please!” ucap Via yang kini udah berdiri di depan Alvin. Dia merutuki Rio yang tidak membantunya sama sekali. Alvin tidak tahan, ia ingain ketawa melihat tampang Via saat ini. Gadisnya itu benar-benar cemas dan penuh rasa bersalah.
“Vin, gue sama Rio itu se…”
“Sepupuan. Gue udah tahu kok. Udah lama. Dari kita belum jadian. Jadi, jangan panik gitulah,” potong Alvin dan tersenyum jahil.
Via kaget dan dia manyun abis. Dia sadar udah dikerjain. “Siapa yang kasih tahu lo?” tanya Via.
Alvin tertawa-tawa melihat kekasihnya itu. “Gue nebak sih. Oh ya, Vi. Gue mau jawab pertanyaan lo yang dulu itu. Kenapa gue sangat kenal sama elo dan memahami elo.” Via memasang telinganya baik-baik. “Karena dulu waktu SMP Rio selalu cerita sepupunya yang bernama Zazah. Gue sampai bosan dengernya. Zazah yang bawel, cerewet, sok tahu. Tapi baik dan perduli sama orang lain dan bla…bla… Rio seolah promosiin lo ke gue.” Alvin dan Via melirik Rio. Yang dilirik sok nggak ngelihat. “Waktu gue pindah, gue ketemu lo sebagai Sivia Azizah. Dan gue jatuh cinta sama lo karena gue ngerasa kenal sama lo. Dan ternyata ya lo itu Zazah. Sepupu Rio yang Rio ceritain ke gue. Karena cerita Rio gue paham dan kenal kebiasaan lo. Hehehe…” jelas Alvin. Via mendengus kesal dan merasa kecolongan. Dia menatap Rio tajam.
“Dasar tukang gosip lo. Lo pikir gue nggak laku apa pake dipromosiin ke Alvin segala. Bener kata Ify, lo cowok sok cool, sok dingin, sok misterius dan sok lainnya. Padahal aslinya pecicilan, tukang gosip dan narsis,” semprot Via ke Rio. Rio cengengesan dan ketawa-tawa.
“Emang lo nggak laku. Alvin  aja pacar pertama lo,” balas Rio.
“Kayak lo pernah aja,” cibir Via.
“Gue emang nggak pernah. Karena gue nunggu peri kecil gue. Ify.” Rio tak mau kalah.
Alvin bingung melihat pacar dan sohibnya ini. “Stop,” seru Alvin. Rio dan Via yang siap berteriak diam dan menatap Alvin. “Gue ke sini mau nanya masalah Rio sama Ify. Gue penasaran,” ujar Alvin dan duduk di depan Rio.
Via bercerita ke Alvin dari A sampai Z tentang Rio dan Ify. Dari Rio pertama ketemu Ify (delapan tahun lalu) hingga kejadian pagi tadi. Alvin manggut-manggut ngerti. “Gue serasa baca novel. Romantis banget. Jodoh lo Ify, Yo,” seru Alvin ke Rio.
“Wa iya dong. Alyssa Cuma buat Mario,” ucap Rio pe-de narsis. “Lo berdua bantu gue nembak Ify besok,” sambungnya.
Alvin dan Via mengangguk. “Apa rencana lo?” Rio membisikan sesuatu ke Alvin. Rencana yang dia susun bersama Via tadi.

****************************

Gadis itu termangu. Sejak ia menginjakan langkah pertamanya di Global Nusantara School pagi ini, tak sepatah katapun terlontar dari bibir mungil merahnya. Tatapannya sendiri kosong dan sayu. Ify. Gadis nelangsa itu Ify. Sejak ia melakukan kebodohan itu, telinga tak pernah absen mendengar orang-orang berbisik-bisik mengenai hubungan dirinya dengan lelaki tersebut. Tetapi ia tak perduli sama sekali. Memang dulu Ify dan pemuda itu dikenal sebagai sepasang kekasih. Padahal tidak seperti itu hubungan mereka. Namun tidak ada penyelaan dari keduanya, sehingga label itu semakin melekat pada diri kedua orang tersebut.
Kini jam istirahat, Ify berdiam diri di ruang kelasnya yang sepi. Ia menyendiri sepertinya. Gadis itu seakan menutup dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ya seperti saat ini, ia sama sekali tidak perduli dengan keributan dan kehebohan yang bisingnya kedengaran hingga ke kelasnya. Mungkin itu terjadi di lapangan upacara yang area-nya tidak begitu jauh dari kelasnya.
Suara heboh serta jeritan di luar sana yang tertangkap indra pendengarannya tidak menarik perhatian dan rasa penasarannya sama sekali. Gadis itu menghela nafas berat. Akhirnya Ify memilih untuk menundukkan kepalanya, menenggelamkan wajahnya dalam lingkaran kedua tangannya di permukaan meja. Singkatnya gadis itu menelungkup dan pastinya melamun. Peristiwa demi peristiwa terbayang olehnya. Flash back. Berputar-putar dalam pikiran sang Gadis.
Sejak ia menerima pesan singkat 'itu', seolah-olah satu-satunya sumber cahaya pencipta rasa bahagia pada dirinya mendadak lenyap seketika. Seakan tak cukup puas dengan membuat diri Ify menjadi pendiam, murung dan 'takut'. Parahnya menekan Ify. Si Pengirim SMS berusaha selalu untuk mencoba buat Ify menjauhi siluet itu. Siluet yang diingkinkan oleh pengirim pesan laknat itu. But who know! Gadis itu tak melakukan apa yang diminta cewek yang kini ia sebut egois dan tak tahu makna terima kasih dengan sepenuhnya. Karena mata Ify selalu melihat 'dia' walau dari kejauhan. Itulah sumber kebahagiaannya untuk saat ini. Setidaknya begitu menurut Ify. Namun, pesan singkat yang lebih terkenal dengan sebuah SMS mengambil setitik kebahagiaan itu. Melemparkan diri gadis yang sudah terpuruk ke dalam ketepurukan abadi. Karena Ify merasa, ia sudah tak bisa dan layak melakukan hal pencipta rasa bahagianya.
Pagi tadi Ify melirik melalui ekor matanya. Sama seperti hari-hari sebelumnya, ekor mata itu bekerja dengan fokus memperhatian seseorang yang entah kenapa tak sanggup untuk dia perjuangkan. Padahal motto hidupnya 'no to say MENYERAH' for anyting'. Tetapi, baru juga masalah hati dan perasaan. Ia sudah pasrah dan tinggal mengikuti alur yang mengalir. Intinya, dia melanggar mottonya sendiri.
Alyssa Saufika Umari. Ia tak menangis, tidak sedikitpun air bening itu mengalir di pipinya. Dirinya sudah berjanji untuk tidak menangis. Dalam keterpurukannya ia tertawa hambar. Tak pernah membayangkan dirinya akan jatuh dalam level selemah ini. Lemah-lemah sesungguhnya. Hanya karena seorang Mario Stevano Aditya Haling. Orang yang baru ia kenal selama sebulan ini. Benarkah itu? Mungkin saja benar kalau dilihat berdasarkan logika. Tetapi bagaimana dengan jawaban yang diberikan hati? Justru sebaliknya jawaban yang diberikan hati Ify. Hatinya yakin sudah bertemu Mario sejak lama. Tapi kapan awal pertemuan itu? Pertanyaan yang selalu melayang-layang dalam kepala Alyssa.
Again, again and again. Senyum itu lagi, pikir Ify. Senyum, senyum, senyum dan senyum delapan tahun lalu. Lagi-lagi muncul. Ify terdiam. Otaknya berputar. Mengingat hal kecil yang bisa-bisanya ia lupakan.
Sejak lama ia merasa tak asing dengan senyum itu. Ya memang benar karena seseorang yang dulu dekat dengannya mempunyai senyum yang mirip dengan senyum delapan tahun lalu. Persis, desis Ify. Ia masih ingat dengan jelas senyum itu. Senyum yang selalu orang itu suguhkan pada dirinya ketika dulu, sebelum insiden itu terjadi. Memang persis dengan senyum yang ia lihat ketika usianya 9 tahun dulu.
Bentuk lengkungan bibir yang sungguh indah dan memiliki kekuatan pemberi ketenangan bagi siapapun yang melihatnya. Terutama bagi dirinya.
Ify mencoba mengingat garis-garis pemilik senyum 8 tahun lalu. Awalnya sulit, tapi sekarang tepat saat ini ia sadar bahwa sejak sebulan lalu tepat ketika waktu kedatangan dia Ify merasa wajah bahkan sosok pemilik senyum penuh ketenangan itu menjadi jelas dan dekat.
"Astaga...," gumam Ify. Ia tersentak dan refleks mengangkat kepalanya dari posisi telungkupnya. "Jangan-jangan dia itu...."
"IFY...," teriak dua orang karena suara teriakan itu memiliki perbedaan. Ify lantas menoleh ke arah pintu dan mendapati Via juga seseorang yang ia perhatikan beberapa detik untuk mengenalinya. Ternyata Via dan Agni. "Bener gue kan, Vi!" seru Agni girang. Via mengangguk dan keduanya menghampiri Ify.
"Lo harus ikut kita," ucap Via. Tanpa ba-bi-bu Via dan Agni menarik Ify keluar kelas.
"Apa-apaan sih. Vi, Ag gue mau dibawa kemana?" protes Ify. Namun kedua orang itu tak perduli sama sekali. Tetap menyeret Ify keluar kelas. Ify mendengus kesal dan pasrah.

****************************

Agni dan Via ternyata membawa Ify ke lapangan. Di sana sudah banyak siswa-siswi GNS (Global Nusantara School) yang berkumpul. Ramai sekali. Seperti sedang ada konser dan kedatangan artis saja. Ify hanya bisa pasrah mengikuti kedua sohibnya, kini ia bergabung dalam lingkaran keramaian.
Matanya terbelalak kaget. Di tengah lapangan seorang Mario Stevano duduk dengan santainya di sebuah kursi yang mungkin memang sengaja disiapkan. Serta sebuah gitar di pangkuannya. Lelaki hitam manis itu senyum-senyum! Sesuatu yang jarang sekali terlihat. Tak seperti Rio yang biasa. Ini ada apa sih? batin Ify.
Ify berdiri di sebelah Via dan Agni di sampingnya Via lagi. Ia menatap penuh tanya kepada dua sohibnya yang nggak bertanggung jawab banget menyeret dirinya ke tempat nggak penting gini. Namun keduanya nggak perduli sama sekali. Tetap bungkam. Malah sibuk melempar senyum ke pacar masing-masing yang berdiri di seberang mereka. Di belakang Rio. Lalu Ify menoleh ke sebelahnya dan ia terkejut. Jelas. Di sebelahnya ada Acha dan Shilla. Ify akan biasa saja kalau di sebelahnya itu hanya Shilla karena Ify nggak ada kesal-kesalnya sama Shilla. Kebalik sama Acha. Ify mau menjauh dari cewek itu. Ogah deket-deket. Begitu sadar itu Acha, Ify cepat-cepat buang muka biar Acha nggak ngelihat dia. Tapi telat, Acha udah nyadarin adanya Ify.
“Eh, Ify,” sapa Acha ceria dan Shilla memberi Ify senyum tipis.
Ify bales tersenyum juga. “Hehehe…iya. Selamet ya, Cha. PJ-nya mana nih? Masa udah jadi gue-nya nggak kecipratan PJ,” cengir Ify.
“Lo sih, Fy nggak keliatan belakangan ini.” Shilla menjawab. Ify memamerkan gigi putihnya. Mana tahan gue ngeliat Acha sama Rio, batinnya miris.
“Shill, kira-kira Rio mau ngapain ya? Aha, jangan-jangan dia mau nyanyi buat gue,” seru Acha girang sendiri dan tidak perduli dengan Ify. Matanya berbinar-binar, Shilla mengangguk tanda setuju dengan argumen Acha.
Jder… Ify mendengar pernyataan itu bagai di sambar petir. Luka di hatinya semakin perih. Jadi untuk apa gue di sini? batin Ify. Dia kesal dengan Via dan Agni yang seenaknya saja membawa dirinya ke tempat laknat ini untuk menyaksikan hal yang paling nggak ia inginkan.
Ify terlalu sakit hati hingga ia tidak menyadari sepasang mata memperhatikannya tajam semua gerak-geriknya. Ia mengetahui gelagat Ify yang ingin meninggalkan lapangan. “Stop. Lo jangan bergerak. Tetap di tempat,” teriak Rio tiba-tiba. Semua orang bingung tentunya. Kepada siapakah pemuda manis ini berbicara?
Gadis itu, Ify. Ify yang akan meninggalkan lapangan dalam langkah pertamanya berhenti seketika tepat teriakan itu tertangkap indera pendengarannya. Hati Ify meminta dirinya untuk tetap tinggal di lapangan. Sayangnya Ify bimbang. Mungkinkah ia orang yang dimaksud? Apa ‘lo’ itu sebutan untuk dirinya? Secerah harapan itu pupus karena ia ingat seseorang. Ya Acha. ‘Lo’ yang dimaksud lebih tepat untuk Acha ketimbang dirinya. Jadi, ia memilih untuk tetap meninggalkan lapangan.
“Gue mohon lo tetap di sini, Alyssa Saufika Umari,” teriak Rio namun suaranya lembut. Begitu dalam dan menusuk.
Semua orang kaget, terutama untuk Ify. Ia berhenti mendadak. Tadi nama gue yang disebut, batin Ify. Ia pasti tidak salah dengar. Ia belum tuli ataupun budek. Ify pun membalik tubuhnya ke arah lapangan. Mencari sosok yang menyebut namanya itu. Bola mata Ify langsung bertemu mata bening Rio. Mata yang memberi kesejukan dan keteduhan. Seperti terhipnotis Ify tak mampu memalingkan wajahnya dari mata Rio. Mata yang paling ia suka. Karena melihat tatapan mata itu segalanya terasa menjadi baik-baik saja.
Rio mengambil gitarnya dan mulai memetik. Intro dari lagu Ku Ingin Slamanya punya Ungu mulai mengalun. Di susun suara Rio yang bening dan lembut. Begitu dalam ia menghayati lagu tu. Sehingga suaranya mengena di hati semua orang yang mendengar suara malaikatnya.

Cinta adalah misteri dalam hidupku
Yang tak pernah ku tahu akhirnya
Namun tak seperti cintaku pada dirimu
Yang harus tergenapi dalam kisah hidupku

Ku ingin slamanya mencintai dirimu
Sampai saat ku akan menutup mata dan hidupku
Ku ingin slamanya ada di sampingmu
Menyayangi dirimu sampai waktu kan memanggilku

Di relung sukmaku
Ku labuhkan s ’luruh cintaku
Di hembus nafasku
Ku abadikan s ’luruh kasih dan sayangku

Ku ingin slamanya mencintai dirimu
Sampai saat ku akan menutup mata dan hidupku
Ku ingin slamanya ada di sampingmu
Menyayangi dirimu sampai waktu
kan memanggilku

                Selama menyanyi tatapan Rio tidak pernah lepas dari Ify. Ia memandangi gadis itu sungguh dalam. Ketika lagu itu berakhir semua orang yang berada di lapangan bertepuk tangan riuh. Kagum dengan suara lembut Rio. Rio berjalan menghampiri Ify yang berdiri terpaku serta bertanya-tanya dalam hati apakah lagu itu untuk dirinya apa bukan.
                Saat ini Rio berdiri di depan Ify. Ia menggenggam erat jemari Ify dan membawa gadis itu ke tengah lapangan. Ify manut doang. Ia tidak protes ataupun membentak. Ia rindu dengan kehangatan jemari Rio yang menggenggam jemari-jemarinya. Segalanya terasa baik-baik saja kalau ada Rio di sampingnya.
                Di sisi lapangan lain, seorang cewek menggerutu kesal dan menatap Ify penuh aura neraka. Kebencian dan ketidaksukaan. Dendam mungkin ada. Mencaci Ify tanpa ampun di dalam hatinya.
                Rio meletakkan kedua tangannya di bahu Ify. Menatap gadis itu lekat, seakan-akan tidak ada yang boleh lepas dari pengelihatannya. Siapapun yang melihatnya pasti akan berkata betapa rindunya laki-laki itu terhadap gadis di hadapannya. “Gue minta maaf, Fy. Gue udah bikin lo sedih dan murung. Gue bener-bener minta maaf. Gue salah banget sama lo, Fy,” lirih Rio berujar.
                Tanpa sadar Ify menarik nafas panjang. “Kenapa lo minta maaf? Lo nggak salah apa-apa sama gue.”
                “Gue salah, Fy. Gue udah buat kesalahan terbesar dalam hidup gue dengan membiarkan orang lain mencoba ngeganti posisi lo di deket gue.”
                “Lo nggak salah,” ucap Ify tegas.
                “Gue salah.”
                “Nggak.”
                “Iya.”
                “Nggak, Rio.”
                “Gue salah, Ify.”
                “Nggak.”
                “Iya.”
                Ify menghela nafas berat. Ia jengkel. “Ya udah, kalo lo ngerasa salah gue maafin. Udah kan? Gue balik.”
                “JANGAN. GUE SUKA SAMA ELO,” teriak Rio kencang. Semua yang di lapangan tersadar dari acara nonton telenovela gratisan secara live. Apalagi pemeran utamanya idola mereka, Rio Stevano.
                Ify nggak mungkin salah denger. Kemungkinan itu kecil sekali. Lagian ia berdiri satu meter dari Rio dan indra pendengarannya dalam kondisi sangat baik. Sehat walafiat. Rio meraih Ify dan menarik gadis itu dalam dekapannya. Sang Gadis melongo dan kaget.
                “Gue sayang sama lo, Alyssa. Udah dari lama. Apa sikap gue ke elo kurang nunjukin kalo gue sayang banget sama lo?” ucap Rio. Dada Ify berdegup tak menentu. Ia deg-deg-an. Apa yang barusan Rio ucapkan itu halusinasinya? Apa itu semua mimpi? Pandangan matanya tanpa sengaja menangkap sosok Acha yang seakan berbicar batin pada dirinya. Lo penghianat. Ify tersadara dan ingat bahwa Rio ini sudah menjadi milik orang lain. Ify memberontak dalam pelukan Rio hingga pemuda itu menguraikan pelukannya.
                “Lo mau mempermainkan gue?” Rio diam. “Cukup, Io. Gue udah terlalu sakit selama ini. Lo nggak tahu seberapa terpuruknya gue ngeliat lo sama Acha. Lo nggak tahu berapa banyak mata ini menangis, Io. Jauh dari lo ngebuat gue lemah, Io.” Ify mulai menangis. Ia tidak tahan untuk mencegah air matanya mengalir. “Di sini sakit, Io. Nyeri.” Lirih Ify dan meletakan tangannya di dadanya. Tempat hatinya yang terluka. Air matanya terus menganak sungai dan tatapannya nanar. Rio tak sanggup melihat Ify begini. Baginya membuat Ify jadi pemurung saja itu sudah terlalu buruk.
                Ify menatap Rio yang tidak memberikan reaksi apapun. “Gue minta, Io jangan nambahin luka gue lagi dengan permainan konyol lo ini. Gue nggak tahu bagaimana cara menghadapinya lagi. Bener nggak tahu.” Ify menarik nafas panjang. “Dan kalo lo memang tega buat gue luka, sebaiknya lo kasih tahu gue gimana buat ngehadapinya. Setidaknya itu membuat gue lebih baik dan bisa mengikhlaskan cinta gue ke elo.” Bola mata Ify yang terus mengeluarkan air mata menatap Rio. “Lo sebaiknya urusin pacar lo si Acha itu,” sambung Ify. Ia berat untuk sekedar menyebut nama Acha.
                Rio menggeleng. “Nggak, Fy. Gue nggak pernah pacaran sama Acha. Tertarik sama dia aja nggak.”
                Ify menatap Rio sinis dan memberikan handphone-nya ke Rio untuk menunjukkan SMS dari Acha. SMS terkutuk yang masih saja ia simpan. Rio terbelalak kaget. “Gue nggak pernah nembak Acha. Dia emang ngintilin gue, tapi gue nggak perduliin dia. Lo udah dibohongin Acha, Fy,” ucap Rio tegas dan yakin.
                Ify menggelang. “Nggak. Gue nggak percaya. Nggak mungkin lo sama dia nggak jadian. Gue udah bantuin dia untuk ngedekatin elo,” ujar Ify tidak percaya.
                “Bego,” tunding Rio. “Lo nyakitin hati elo sendiri. Juga nyakitin gue,” bentak Rio. Ify terdiam. “Apa sikap gue selama ini menunjukkan kalo gue orang yang bakal membuat elo terluka, Fy? Nggak kan. Gue itu beneran sayang banget sama lo, Fy. Apa lo nggak bisa ngeliat itu? Lagu tadi buat elo, gue cinta sama elo.” Mata teduh Rio menatap Ify lembut.
                “Jangan ngucapin kata sayang itu, Io. Semuanya semu. Palsu. Tega banget lo buat gue gini. Salah gue apa, Io? Gue udah sakit hati. Gue sayang sama lo. Sayang banget. Betapa menderitanya gue gara-gara rasa ini,” ucap Ify. Ia lagi-lagi menangis dan tak sanggup mengontrol dirinya. “Gue nggak sanggup lagi sakit karena ini. Udah cukup.” Tangis Ify semakin pecah dan tubuh gemetaran. Rio langsung memeluk Ify. Ia sungguh sangat merasa bersalah. Ia tidak sanggup melihat Ify ambruk.
                “Gue nggak main-main, Ify. Buat apa gue berdiri di lapangan, dilihatin banyak orang. Lo tahu sendiri gue bukan tipe orang kayak gitu. Apa itu belum cukup membuktikan? Bahkan di sini ada orang yang lo bilang pacar gue,” ucap Rio semakin frustasi. Ify tertegun. Ia melupakan detail ini. Ia mendorong Rio agar melepaskan pelukannya. Begitu lepas, ia langsung menatap Rio. Mencari kepalsuan dari wajahnya. Mencari kebohongan dan sandiwara. Namun ia tidak menemukan itu, malah ia mendapati kesungguhan dan kejujuran dari wajah lelaki itu. Apalagi mata Rio. Mata itu menatapnya yakin dan penuh kesungguhan.
                “Jangan dipersulit kalo ini nggak sulit, Fy. Gue sayang elo dari umur gue 9 tahun. Lo cinta pertama gue.” Rio menatap Ify dan mengangkat wajah gadis itu agar balas menatapnya. “Pantai. Tempat gue ketemu elo dan tempat gue jatuh cinta. Gue tahu cinta anak 9 tahun itu nggak berarti apa-apa. Tapi, gue ngerasainnya beda. Buktinya gue masih mencintai elo hingga sekarang,” lirih Rio. Ify terdiam. Penonton di lapangan menahan nafas tanpa mereka sadari. Terlalu fokus menatap Rio dan Ify. “Rasa itu nggak pernah berubah, Fy. Di sini,” ucap Rio. Ia menarik tangan Ify dan meletakkannya di dadanya sendiri. “Hanya terukir nama lo. Hanya Alyssa Saufika Umari. Belum pernah dan nggak akan pernah ada yang ngegantiin.”
                Ify menghela nafas lega. Ia menatap Rio yakin. Sekarang dirinya benar-benar yakin Rio menyanginya. Apalagi peristiwa delapan tahun lalu memang takdir dirinya dan Rio. Mario dan Alyssa. Jadi benar kalau Mario Stevano yang ada di hadapannya ini dan yang menyanginya ini pemilik senyum penuh ketenangan itu.
                “Gue juga sayang sama lo, Io,” ucap Ify akhirnya. Ia menyerah. Untuk apa ia menyembunyikan perasaan itu lagi. Nggak ada gunanya menyembunyikannya karena orang yang ia sayangi juga memiliki rasa yang sama dengannya. Ify tidak perduli dengan Acha. Acha nggak punya hak untuk ngelarang dia buat bilang sayang sama orang lain, termasuk Rio.
                Rio tersenyum lega. “Alyssa tatap gue,” pinta Rio. Ify menatap Rio tepat di kedua bola mata milik pemuda itu. “Gue sayang bahkan cinta sama elo. Gue udah terlalu lama nunggu. Maafin gue karena sempat membuat elo sakit hati.” Rio berhenti sejenak. “Gue janji, nggak akan buat elo terluka apalagi hati lo. Gue akan jagain elo. Selamanya. Gue harap di hati elo cuma terukir nama gue. Hanya Mario Stevano Aditya Haling pemilik hati elo.” Rio menarik nafas. Sementara Ify terlalu tegang hingga ia seperti ingin roboh. Untung saja Rio memegang tangannya. “Would you be Mrs. Mario?” Air mata Ify berlinang. Cinta pertamanya tidak jadi kandas. Akhirnya sampai juga pada ending-nya, biarpun tidak seindah di fairy tell. Namun, bagi Ify itu yang paling indah. Terindah.
                Ify mengangguk. “I would, Mr. Mario. Hanya Alyssa Mrs. Mario.”
                Rio begitu lega dan langsung menarik kekasihnya dalam pelukannya. Ia begitu lega dan senang. “Makasih ya, Fy,” ucap Rio. Ify mengangguk dan membalas pelukan Rio.
                Semua penghuni lapangan yang tadinya menahan nafas segara membuangnya. Mereka bertepuk tangan heboh dan riuh. “Eh ciiiiiiiiiiiiieeeeeeeeeee………. Sooooooo ssswwweeeeeeeeettttttt pake baaaangggetttt.”
                “Ciiiiiiieeeeeeeeeeeee Iiiiiifyyyyyyyyyyy Riiiiiiiiiiioooooooooooo…..” koor seluruh warga Global Nusantara School yang terlibat dalam lapangan. Dua pasangan baru itu buru-buru melepaskan pelukannya, salting dong. Jiah…
                “Nah kan bener yang gue bilang, kalo mereka berdua itu memang saling suka. Daud gitu lho,” seru Daud bangga. Seluruh penghuni lapangan mengangguk setuju. Memang sebenarnya Daud yang pertama kali ngomong seperti itu hingga menyebar ke seluruh pojokan GNS. Daud-Daud sok banget dah. Setelah mengucapkan selamat kepada Rio dan Ify, orang-orang yang menuhi lapangan kembali ke kelas masing-masing.
                Via, Agni, Cakka, Alvin dan Iel menghampiri Rio dan Ify. “Gila lo berdua. Gue udah deg-deg-an setengah hidup nunggu sesi penembakan ini. Lama banget tahu,” seru Agni gemes.
                “Pake acara berantem lagi,” timpal Cakka. Rio dan Ify nyengir konyol.
                “Akhirnya sepupu gue jadian juga sama sohib gue. Selamat buat lo berdua,” ucap Via. Ia mendekati Ify dan berbisik. “Feeling gue bener kan.” Ify mengangguk.
                Sepupu, batin Ify. Jadi selama ini Rio sepupu Via. Pantes tuh anak tahu tentang Rio waktu itu. “Viong, lo curang. Pantes lo minta pendapat gue tentang Rio. Ish…nyebelin lo. Gue nggak terima,” ucap Ify manyun. Semuanya tergelak, termasuk Rio. Inilah yang ia sukai. Ify begitu menggemaskan kalau dia sedang kesal. Tampannya lucu banget.
                Good job, Say,” puji Alvin ke Via. Via? Jelas tersenyum senang. “Selamat, Yo. Akhirnya lo jadian juga sama kembaran bawel Via ini.” Alvin menjabat tangan Rio. Rio membalas. “Thanks, Bro.”
                “Gue udah rekam acara tembak menambak ala Rio dan Ify buat kenang-kenangan,” ujar Iel dan menunjukkan Video yang ada di handycam-nya. “Selamat ya, Yo. Langgeng deh.” Rio mengagguk. Ify yang sendari tadi melihat Video itu mukanya mendadak merah. Gila ini mah kayak yang di film-film ntuh, batin Ify.
                “Jangan buat kenang-kenang aja, Yel. Kita kirim ke produser siapa tahu ada yang berminat. Ini kan sungguh romantis. Lumayan nambah uang saku,” celetuk Cakka.
                “Setuju,” seru Via, Alvin, Agni dan Iel.
                “Pala lo dollar, Cak. Sini gue mau hapus. Malu bego,” ujar Ify kesal dan berusaha mengambil handycam Gabriel. Tangannya lincah bergerak-gerak berusaha mengambil benda itu, namun Iel lebih gesit.
                “Udah deh, Fy. Biarin aja. Mereka pada iri sama kita,” ucap Rio sambil menarik tangan Ify dan menggenggamnya. Ify jadi diem.
                “Sumpret lo, pesek,” ujar Alvin keki.
                “Lo sipit. Gue mah ganteng, manis, dan pinter.” Balas Rio narsis. Ify terkekeh pelan. Ia merasakan bahwa ini diri Rio yang asli.
                “Gue yang lebih ganteng. Alvin ganteng,” seru Alvin.
                “Gue. Cakka Kawekas Nuraga yang paling ganteng.” Cakka tak mau kalah.
                “Ngapain lo bertiga ribut-ribut dan nyebutin ciri-ciri gue.” Iel angkat bicara dan tak mau ketinggalan.
                “Pede lo.” Rio, Alvin dan Cakka berteriak di kuping Iel kompak.
                “Lo berempat narsis banget,” seru Agni dan Via yang membuat keempat cowok itu nyengir kuda.
                “Lho, Fy? Kok elo nggak teriak narsis juga. Nggak kompak lo,” tanya Agni heran.
                “Hehehe… Bagi gue Rio memang cakep, manis walaupun item. Pintar lagi.” cengir Ify.
                “Iiiiiipppppooooooongggg……..” teriak Agni dan Via kesal. Ify memasang tampang polosnya dan pura-pura nggak denger. Kelima orang itu geleng-geleng kepala dan Rio senyum-senyum dipuji Ify. Ckckck….

************END************

                Cinta? Cinta memang suka jahil lantaran ia enggan terang-terangan menyadarkan seseorang kalau ia sudah berhasil membuat seseorang jatuh cinta. Cinta itu sedikit pecicilan, menggoda seseorang dengan hanya sedikit memberikan virusanya namun berdampak hebat ke seseorang hanya sekedar untuk menggoda orang lain. Ia menjatuhkan virus mencintai orang yang sama.
Cinta memang kejam, ia tega membuat seseorang menangis dan berbuat egois. Cinta juga hebat karena ia berhasil membujuk sang Waktu bekerja sama untuk membuktikan rasa cinta yang dimiliki seseorang. Lantas cinta juga sudah keterlaluan karena ia sungguh tega menjadikan seseorang begitu rapuh dan lemah. Hanya bisa diam tanpa mau memperjuangan cintanya.
Namun, sejahat-jahatnya cinta toh ia juga kembali ke dua hati yang saling terikat. Saling mencintai. Bahkan ia menyatukan dua hati yang benar-benar merupakan cinta sejati. Cinta juga membuat seseorang untuk dapat mempertahankan cintanya dan yang terbaiknya, cinta mampu membuat rangkain cerita pahit cinta seseorang menjadi begitu indah dan menuju akhir cerita yang paling diharapkan. Karena itulah mengapa cinta disebut sempurna.

************** The End************** 




_Shelly Sagita_

2 comments:

Unknown mengatakan...

so sweet

ratnadewi.bloger.com mengatakan...

Woow..keren banget!! Baru baca sekali aja langsung jatuh hati sama cerpenny, apa lagi PUny rify..keren pokokny

#terus berkarya dan jangan lupa buat cerpen rify yg selanjutny

Posting Komentar