We Are True Close Friend



 We Are True Friend (You And Me)


Cerpen baru dari gue. Buatnya Jumat malem, 23.25 sampe 02.14 (kalo nggak salah lihat jam). Ceritanya gaje and aneh kali ya??

Jika mau tahu betapa anehnya cerita saya, silakan baca aja deh.

Happy Reading!!


 "Io..., sini lempal ke Ify. Ify tangkep deh," teriak gadis kecil dengan rambut sebahu. Rambutnya dikepang dua. Angin sejuk sore hari menerbangkan rambutnya kemana-mana. Ia sama sekali tak perduli. Kaki kecilnya terus berlari bebas. 

"Ah Ipy jauh banget. Io susah lempalnya," balas teman si Gadis kecil. Laki-laki seumuran dengannya. Kira-kira lima tahun. 

"Io gimana sih. Io kan cowok, masa iya Io nggak bisa. Katanya mau jagain Ify. Kalo ini aja nggak bisa, gimana mau jagain Ify," Ify kecil sedikit kecewa. 

"Iya-iya, Io lempal. Tangkep nih," teriak Rio. Akhirnya ia melempar piringan kecil hitam itu ke arah sahabatnya. Desiran angin membawa piringan bermassa kecil itu terbang. Ify terus berlari dan berlari mengejarnya. Dan pada akhirnya ia berhasil menangkap piringan itu.

"Yeeee.... Ify belhasil. Io...., Ify belhasil," teriak Ify girang dan melompat-lompat.


"Iiiiiiiiiiiffffffffffyyyyyy.....................," teriak Via.

"Ah, eh... Hah?!" balas Ify cepat. Ia gugup lantaran kaget.

"Aduh, Ify. Elo itu melamun terus sih. Nggak bosen apa? Ntar kalo kesambet baru tahu," omel Via. Ia tidak tahan melihat dan menemani Ify yang hanya melamun. Ntah apa yang sohibnya itu pikirkan.

"Nggak kok, Vi. Di sinikan nggak ada hantu, kecuali...ya kecuali....." Ify berhenti sejenak dan menatap Via dengan raut muka jenakanya. "kalo elo yang ngerasuki gue, lo kan hantu," tambahnya.

Via menggeretakan giginya dan menatap Ify kesal. "Gue mulu yang kena. Ish....Ify." Via merajuk.

"Hehehe....jangan gitu dong, Vi. Gue kan canda doang,"

"Iya-iya, kali ini gue maafin deh," ucap Via dan kini ia melemparkan pandangannya ke penjuru sekolahnya. Tepat di saat ia melihat ke ujung koridor, sosok yang ia kenal tertangkap oleh matanya. "Fy, itu ada Rio. Gue panggil ya," serunya.

Ify terkejut dan langsung menggelengkan kepalanya. "Jangan, Vi. Jangan...." cegah Ify namun terlambat.

"RIIIIIIOOOOOO," panggil Via ke Rio.

Sosok tinggi hitam manis itu menoleh ke sumber suara yang memanggil namanya. Ia pun mempercepat langkahnya dan menghampiri gadis berpipi chubby yang memanggil dirinya tadi.

"Hai, Vi! Ada apa?" tanya Rio to the point.

"Hehehe, nggak ada sih. Nyapa doang," jawab Via agak salah tingkah gitu. Pasalnya, dia sudah berani-beraninya memanggil Rio sang Pangeran GNIS. "Eh, tapi ada Ify lho, Yo. Ini dia," tambah Via dan menunjuk Ify yang hanya diam dan duduk di kursi pinggir koridor.

Rio melihat Ify sekilas dan dia langsung memalingkan wajahnya. "Ya udah, gue ke kelas dulu nih," pamit Rio. Via memandang Rio heran. Bukankah Ify sahabatnya?? batin Via bertanya-tanya.

Selepas Rio pergi, Via langsung mengambil tempat duduk di sebelah Ify. "Elo sama Rio kenapa, Fy?" tanya Via.

"Udah gue bilang, Vi. Jangan panggil Rio kalo ada gue," ucap fy. Ia bukannya menjawab pertanyaan Via.

"Lha kenapa? Bukannya lo sahabat dia dari kecil?" Via masih bingung.

Ify menggeleng. "Gue emang sahabatnya, tapi itu dulu. Dulu banget," ucap Ify dan ia berhenti sejenak seraya mengambil nafas. "Gue...gue...nggak tahu kenapa Rio tiba-tiba ngejauhin gue," tambah Ify lirih.

Via menatap diri sohibnya itu iba. Ia memang mengenal Ify dan jadi sahabat Ify ketika mereka baru kelas 1 SMP. Saat semester II, Via pindah ke Australia, ikut orang tuanya yang pindah tempat kerja. Dan sekarang ia baru kembali, ketika mereka sudah memasuki bangku pendidikan di SMA, tepatnya XI SMA.

"Maafin gue, Fy. Gue nggak tahu," balas Via.

"Nggak apa-apa kok, gue juga belom cerita sama lo, Vi."

"Kita ke kelas, yok," ajak Via dan Ify mengangguk.

************

"Ayo, Io. Dolong yang kuat," seru Ify dari ayunan yang terus berayun. 

"Nggak mau ah, ntal Ipy jatuh. Io kan nggak ada di samping Ipy buat jagain Ipy," balas Rio dan ia tetap mendorong ayunan dengan tidak begitu kencang.

"Payah ah, Io. Nggak selu," balas Ify.

"Bialin. Yang penting Ipy nggak luka. Io kan udah janji mau jagain Ipy."


Sekarang hari sudah sore. Seorang gadis berjalan kaki menelusuri jalan-jalan kompleks. Langkah kakinya berhenti tepat di depan taman. Taman yang begitu penuh kenangan antara dirinya dan dia. Ia tak tahan hanya sekedar melihat,  ia ingin mengingat dengan jelas. Peristiwa dulu, yang sekarang tak mungkin terulang kembali.

Ify membawa langkahnya menuju area dalam taman. Tetap seperti dulu, taman itu tidak pernah sepi. Selalu ramai. Di sana masih tetap sama, ayunan yang dulu sering ia gunakan. Bak pasir tempat ia membuat istana-istana-an. Papan seluncur, tempat ia meluncur dengan bebas sambil berteriak bebas. Taman bunga, tempat bagi dirinya dan dia untuk beristirahat ketika terlalu lelah setelah bermain.

Sudah lebih dari tiga tahu, ia dan dia tak pernah lagi pergi ke taman ini bersama dan rasanya begitu asing ketika ia hanya seorang diri kembali ke taman ini. Sungguh aneh, seakan kenangan dulu tak pernah terjadi. Ada yang kurang. Benar-benar kurang. Taman itu memang tetap sama, tetapi atmospher yang dirasakan begitu aneh. Ia tak mengenalnya. Apakah pengaruhnya dia begitu besar untuk dirinya??

Ayunan besi berwarna biru itu kosong. Ify pun segera menuju tempat itu dan ia duduk di sana. Menyentuh tiang penyanggahnya. Menarik papan ayunan itu ke belakang dan setelah merasa pas, ia menganyunkannya. Angin sore masih tetap seperti dulu, menerpa wajahnya dan menemaninya berayun. Ia masih ingat akan kenangan itu. Masih jelas. Tetapi seperti sekarang ini, saat dia sendiri yang berusaha mengulang kembali peristiwa dulu, rasanya kenangan itu memudar bahkan tak pernah nyata adanya terjadi. Apakah harus dia yang mendorong ayunan ini, hingga peristiwa dulu itu memang pernah terjadi?? Ntahlah.

Sesak mungkin yang dirasakan Ify. Tak bisa seperti dulu dengan dia telah membuatnya lelah dan sedih. Ditambah lagi, ia tak bisa merasakan apa yang dulu pernah begitu membuatnya bahagia. Sungguh ironi mungkin. Ify melepaskan kacamata yang membingkai bola mata indahnya. Mengerjapkan matanya dan melihat kembali sekeliling taman dan pada akhirnya ia melamun.

"Kak....kak....kak...," sebuah suara sayup-sayup tertangkap telinga Ify. Goyangan diayunannya juga terasa. Ify tersadar dan meninggalkan alam melamunnya.

"Eh....iya, ada apa nih?" tanya Ify lembut. Ternyata yang memanggil dirinya adalah seorang anak kecil laki-laki berusia enam tahun.

"Aku mau main ayunan sama sahabat aku. Aku pinjem ayunan yang dipakai kakak ya?" pinta anak laki-laki itu. Ify mengedarkan pandangannya ke ayunan lainnya. Memang tidak ada yang tersisa, semuanya penuh.

Ify tersenyum. "Ya udah, ini pakai aja," ucap Ify dan ia turun dari ayunan. Kemudian dirinya mengambil tempat untuk duduk di bawah pohon yang berjarak satu meter dari ayunannya tadi.

"Terima kasih, Kakak," ucap bocah laki-laki itu riang. Ify mengangguk dan ia tersenyum manis sekali ketika melihat keriangan anak laki-laki itu.

"FIIIIIKKKKAAAAAAAAAAA, yuk kita main ayunan," teriak bocah itu.

Seorang gadis kecil, berkulit putih menoleh. Ia penyandang nama itu. "IYAAAAAAAA, AAADDDDDIIIIITTTT. FIIIKKAAA KE SANA," balas gadis kecil itu dan berlari dengan tergesa-gesa menuju tempat sahabatnya menunggu.

Ify memperhatikan keduanya begitu saksama. Fika dan Adit berhompimpah siapa yang naik duluan dan siapa yang akan mendorong. Fika berteriak heboh, ternyata Adit-lah yang mendapat giliran mendorong.

"Dorong yang kenceng ya, Dit. Fika mau terbang sampai setinggi kupu-kupu itu," pesan Fika dan menunjuk seekor kupu-kupu.

Sambil menarik ayunan itu Adit berkata, "Jangan, Fika. Ntar Fika jatuh. Adit takut Fika nanti luka."

Wuuuuuuuussssshhhh............ayunan itu bergerak mulus. "Adit payah ah," omel Fika. Pipinya kembung. Ia cemberut.

Ify sembari tadi yang memperhatikan kedua bocah itu tanpa menyadari air matanya mengalir. Ia menangis. Mengetahui kalau ada orang lain yang memiliki kisah sama seperti dirinya. Punya sahabat kecil. Apa yang sedang dilakukan kedua bocah itu sama persis seperti yang pernah Ify dan dia lakukan.

"Kakak kenapa?" tanya Fika yang sekarang sudah duduk di sebelah Ify. Ternyata Ify tak menyadari kalau Fika dan Adit sudah berhenti bermain ayunan.

Ify menoleh ke arah gadis kecil itu. "Kakak nggak apa-apa kok," jawab Ify berdusta.

"Terus kenapa kakak nangis?" kali ini Adit yang bertanya.

"Kakak nangis bahagia kok. Kalian.....kalian...mengingatkan kakak sama sahabat kakak," jawab Ify.

"Jadi kakak punya sahabat dari kecil?" tanya Fika antusias. Ify menjawabnya dengan anggukan lemah.

"Woww.... sekarang kakak masih sahabatan?" tanya Fika lagi. Gadis kecil itu sangat terlihat antusias.

Ify tercekat. Ia bingung mau menjawab apa. Melihat semangatnya Fika bertanya dan Adit yang menatap dirinya dalam, Ify pun menjawab "Iya, kakak masih sahabatan kok."

"Nama kakak siapa?" tanya Adit.

"Kak, Ify."

"Jadi, sahabat kakak namanya?"

"Hmm....Kak Rio."

"Dit, kita sahabatan terus ya seperti Kak Ify dan Kak Rio. Janji ya?" pinta Fika ke Adit.

"Tentu Fika, Adit dan Fika selamanya. Adit janji, Adit selalu bakal jagain Fika," ucap Adit dan ia meraih tangan Fika dan mereka berjabat tangan.

Telak pukulan bagi Ify. Kejadian dulu terulang kembali. Di mana Rio sebagai Adit dan dirinya sebagai Fika. Mengucapkan janji persahabatan yang kini pada akhirnya hanya sekedar janji. Lagi-lagi air matanya tak terbendung lagi.

"Nah, kakak nangis lagi. Kak Ify kenapa?" tanya Fika lembut. Ia menatap Ify lekat.

"Kak Ify nggak apa-apa kok," jawab Ify.  "Oh iya, Adit harus benar-benar janji sama Fika bakal jagain Fika sampai gede nanti. Jangan sekedar janji. Oke?" ujar fy ke Adit.

Adit mengangguk. Bocah laki-laki itu tersenyum yakin. "Iya, Kak. Adit pasti laksanakan saran Kak Ify."

"Gitu dong. Ayo kita main ayunan. Kalian berdua naik dan Kak Ify yang dorong," ajak Ify. Fika dan Adit bersorak gembira. Jarang-jarang mereka berdua bisa naik ayunan bersama-sama.

"Kak Ify, dorong yang kuat ya. Biar terbang sampai setinggi kupu-kupu. Kini ada Adit yang bakal jagain Fika, jadi Fika nggak akan jatuh," pesan Adit ke Ify. Fika tersenyum senang karena ia dapat menggapai kupu-kupu dan kemudian ia berpegangan pada tangan Adit ketika ayunan itu mulai berayun.

"Semoga kalian selalu bersama," batin Ify.

*************

"IO...JANGAN CEPET-CEPET DONG, LALINYA!" teriak Ify kecil. Nafasnya sudah terengah-engah. Langkah kecilnya sudah memelan, tak secepat diawal. Keringat tak ketinggalan membasahi wajah dan pelipisnya.

"IPY NGGAK ASYIK AH. IO KAN BELUM LALI KENCENG BANGET. BELUM SECEPAT POWEL RANGEL," balas Rio yang berdiri dengan jarak 6 meter dari Ify.

"Udah ah, Io. Ify nggak kuat lagi. Capek," ujar Ify dan ia berjalan menuju taman bunga yang berada di bagian kanan taman.

"Huh, Io malah sama Ipy," ucap Rio kecil ketus saat ia sudah duduk di sebelah Ify.

"Maafin Ify, Io. Ify capek," balas Ify dan menatap Rio sungguh-sungguh. Menunjukan kalau dirinya benar-benar lelah.

"Nggak mau, main dulu," Rio tetap ngotot.

Rasa kecewa melanda Ify, tapi ia tak mau membuat Rio tambah kecewa. "Ya udah, ayo lali lagi," ucap Ify yang membuat Rio tidak merajuk lagi. Matanya udah berbinar-binar alah si Badung Sinchan.

"Ayo, Ipy. Kejal Io," seru Rio dan tersenyum lebar ke arah Ify.

Ify berlari mengejar Rio. Lelah yang masih menyelimuti dirinya tak mampu berlama-lama membuat dirinya dapat berlari. Lima menit, ia telah mengejar Rio. Kepalanya berat dan matanya berkunang-kunang. Dalam sekejap ia pandangannya menghitam.

"IPPPPYYY," teriak Rio dan indra pendengaran Ify masih dapat mendengarnya, walau hanya sayup-sayup.

 
Hari ini kelas XI IPA 3 sedang mengikuti pelajaran olahraga. Pelajaran yang paling banyak disukai lantaran tak memerlukan kertas buram, penghitungan cepat, yang terpenting otak tak perlu bekerja secara over.

"Ayo, Fy. Masih empat keliling lagi. Semangat," seru Via yang berlari di sebelah Ify.

"Semangat, Vi," balas Ify lemah. Dari cara ia berbicara saja Ify sudah terlihat kalau dia begitu lelah.

"Ayo-ayo," sorak Via. Ify hanya mengangguk dan lebih berkonstrasi pada larinya. Ia tak tahu sampai di mana langkahnya dapat bertahan.

Setelah satu putaran dilaluinya lagi, Ify merasa mulai mau melayang. Tubuhnya tak bergerak atas kemauannya secara sadar lagi. Sudah berdasarkan alam bawah sadarnya. Tak lama setelah ia masih terlihat berdiri kokoh, tubuh Ify pun ambruk. Menimbulkan bunyi dentuman cukup keras.

Brrraaaakkkkkkkk....

"IFY....." teriak Via yang melihat Ify ambruk. Ia segera berlari menuju tempat Ify jatuh. Aktivitas di lapangan pun terhenti, semua mata tertuju pada Ify seorang. Tak tertinggal dia. Harusnya dia udah tahu kalau Ify tak akan mampu berlari cukup lama. Tetapi apa yang dilakukannya. Ia hanya menonton dan diam membatu.

"TOLONG...TOLONGIN IFY..." teriak Via. Pak Duta selaku guru olahraga segera menghampiri Via.

"Mario, kamu tolong bawa Ify ke UKS," perintah Pak Duta.

Rio tak menunjukan reaksi apa pun. Pak Duta menatap dirinya tajam. "Tunggu apa lagi Mario," tambah Pak Duta. Tetapi Rio belum bergerak juga.

"Saya saja yang bawa Alyssa ke UKS, Pak," ucap Gabriel. Kini ia telah berdiri di samping Pak Duta.

"Ya sudah, kamu saja." Gabriel pun membopong Ify menuju UKS. Via yang sembari tadi diam karena sikap Rio yang begitu tak di duganya. Sebenarnya ada apa antara Ify dan Rio??

"Lo tega banget, Yo. Lo tega ngeliat Ify kayak gitu," tuduh Via langsung ke Rio. Setelah Pak Duta pamit izin karena ada panggilan dari kepala sekolah.

"Maksud lo?"

"Gue kira lo sahabat sejatinya Ify. Ify memang nggak pernah cerita apapun lagi mengenai lo ke gue. Gue yang bukannya sohib lo aja sedih ngeliat apa yang Ify rasakan," ujar Via. Ucapannya ini mengundang perhatian sekitarnya. Terbongkar satu rahasia, ternyata Ify sohibnya Rio. Ify yang biasa-biasa aja dan penampilannya cendrung kayak orang kuper dengan kacamata tebalnya ternyata sahabatnya Rio yang keren, pangerannya GNIS. Sungguh tak mungkin.

"Salah Ify apa, Yo?? Kok lo ngejauh dari dia?? Ify itu sedih, Yo. Dia bingung kenapa lo tiba-tiba ngejauhi dia sejak kelas 8 SMP," ucap Via lagi. Via menarik nafas sejenak. "Gue sahabatnya, Yo. Gue nggak mau liat dia melamun hanya untuk MENGIRA-NGIRA, BERASUMI, MEMIKIRKAN KESALAHAN APA YANG DIA PERBUAT KE ELO," sambung Via dan menekan kan pengucapan pada kata yang di capslock.

"Bilangin aja sama dia, dia nggak ada salah apa-apa. Masalah gue ngejauhi dia, gue bosen berteman sama dia," balas Rio santai.

Via ternganga mendengar jawaban Rio.

"Gu...e..gu...e mungkin orang yang ngebosenin. Gue sadar kalo gue nggak bisa jadi sa..eh..teman lo, Yo. Tapi..."

"Ify..." suara Via tercekat. Tak beda jauh dari Rio. Ia juga kaget melihat Ify yang berdiri di belakang Via bersama Gabriel.

"Tapi...gue nggak tahu gimana menghapus kenangan antara gue dan lo, Yo. Kenangan antara dua sahabat kecil. Gue dan elo. Gue nggak tahu, Yo. Sedalam apapun lo nyebut gue mantan ataupun bekas sahabat. Bagi gue, lo tetap sahabat gue. Sahabat dari kecil. Terserah elo mau nggak perduli lagi ke gue, tapi gue akan selalu ada buat elo. Karena mantan sahabat nggak akan pernah ada, Yo. Janji persahabatan tak bisa lo dustai," lanjut Ify. Ia pun balik badan dan berjalan menjauhi Rio diikuti Via. Baru lima langkah berjalan, Ify kembali menatap Rio.

"Mantan sahabat nggak akan pernah ada, Io," ucap Ify lirih. Kali ini ia kembali berjalan menjauhi Rio tanpa menoleh sedikitpun.

*****

"Langitnya indah ya, Io? Ify suka melihatnya," ujar Ify dan matanya menatap lekat langit malam bertabur bintang.

"Iya, Py. Nanti waktu kita udah gede, kita lìat langit sama-sama lagi, ya. Dari balkon Io telus gantian, di balkon Ipy juga. Gimana?"

"Ify setuju, Io. Janji ya?" Ify meminta kepastian dan menyodorkan jari kelingkingnya.

"Iya, Io janji," ucap Rio dan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Ify.

"Janji," seru mereka berdua kompak.

 
Malam ini Ify duduk sendiri di balkon kamarnya. Angin malam berhembus bebas. Ia hanya menggunakan piama tidur biasa tanpa jaket ataupun sweter yang membungkus tubuhnya. Dingin tentu saja. Ia pun membiarkan angin menembus tulang rusuknya. 

Selembar kertas tergeletak di meja yang selalu berada di kamarnya. Pena berwarna biru dengan gambar stitch berada di genggamannya. Ify menulis sambil memandangi langit malam tanpa bintang.

Hai langit! Masih inget aku nggak?? Dulu sewaktu aku masih kecil aku sering lho liatin kamu. Jangan geer ya! Eh, Ngit. Kamu tahu nggak, dia bilang aku orangnya ngebosenin?? Apa tawa dan kecerian dulu itu hanya suatu kepura-puraan?? Aku sedih, Ngit. Aku sekarang bukan lagi sahabat baginya, hanya mantan sahabat. Sedih tentu saja. Aku sedih banget, Ngit. Kenapa bisa ia menyebutku mantan sahabatnya. Salahku apa?? Bukannya aku mau mengemis persahabatan sama dia, tapi aneh saja padahal dulu ia selalu janji ke aku, Ngit. Janji akan jadi sahabat selamanya. Janji selalu jagain aku. Dan yang terpenting janji akan melihatmu bersama-sama dengan dia saat kami sudah gede. Tapi dia mengingkarinya, Ngit. Ia bohong. 

Aku kangen sama dia, Ngit. Padahal jarak kami dekat. Dia berada di sebelah balkon kamarku ini. Tapi aku nggak tahu apa yang sedang ia lakukan. Aku kangen sama senyumnya. Aku ingin kembali ke taman itu bersama dia. Ingin ngenalin dia sama Fika dan Adit yang belakangan ini selalu memaksaku mengajaknya. 

Malam ini kamu sendirian ya, Ngit?? Bintang-bintangmu menghilang. Sepi rasanya pasti. Sama dong sepertiku, hehehe... Tapi kamu masih mending, Ngit. Bintang pasti akan muncul lagi, sementara aku?? Ntah kapan ia akan kembali menganggapku sahabatnya. Aku nggak tahu, Ngit. Pastinya, aku selalu nunggu dia karena dia sahabatku. Akan selalu menjadi sahabatku.

Ngit, kalau kamu bisa tolong sampaikan sama dia, aku rindu sama dia. Ipy kangen Io. Kangen banget. Tolong sampaikan ya, Ngit.

Oh ya, Ngit. Makasih udah mau denger ceritaku. Moga aja kamu nggak bosen.

"Ify Alyssa Saufika"

Ify melihat hasil tulisannya lagi. Ia tertawa geli. Mirip anak kecil, batin Ify. Ia melirik sekilas rumah di sebelahnya. Tepatnya kamar yang dihuni sahabat kecilnya. Lampu ruangan itu masih hidup, Ify hapal kebiasaan itu. Pasti sang Empu tengah asyik bergelut dengan komiknya atau ia asyik dengan games di komputer kesayangannya. Ify menghebus nafas pelan. Semoga lo selalu baik," batin Ify.

@Kamar Rio

"Dia ngapain sih nulis-nulis gitu sambil liatin langit?? Nggak tahu apa kalau sekarang itu dingin banget. Nggak pake jaket lagi" ucap Rio kesal.

"Eh, tapi kenapa juga gue kesal. Ingat Rio dia itu udah nggak pantes jadi sahabat elo. Apa kata teman-teman elo kalo elo sendiri punya sahabat cupu gitu," omel Rio kepada dirinya sendiri. Hati Rio mencelos saat dia berkata seperti itu. Hatinya serasa tidak menerima.

Rio membaringkan tubuhnya ke kasur. Ia menatap langit-langit kamar. "Mantan sahabat nggak pernah ada, Io."
"Mantan sahabat nggak pernah ada, Io."
"Mantan sahabat nggak pernah ada, Io."
"Mantan sahabat nggak pernah ada, Io."

 "Aaarggggggghh..........diiieeeemmmmmmm," teriak Rio. Ucapan Ify masih teriang-iang di telinganya. Terbayang raut wajah Ify yang sangat sulit digabarkan. Sedih, bingung, kecewa menjadi satu. Bayangan kenangan dirinya dan Ify berputar di otaknya. Rasa kengen menyelinap dalam hatinya. Rindu akan senyum gadis kecil sahabatnya dulu. Keceriaan dulu dan yang dulu-dulu. Rio bangun dari tidurnya dan segera menuju jendelanya. Ia membuka jendela itu sedikit dan memperhatikan sosok di balkon sebelahnya. 

Gadis yang ia perhatikan itu tengah berkutat dengan sebuah balon berwarna biru dan sebuah amplop berwarna biru. Warna yang banyak memiliki makna. Seperti kesedihan dan ketenangan. Ntah apa yang sedang dipikirkan Ify. Yang jelas Rio bertanya-tanya dalam hatinya. 

Rio melihat, Ify berkomat-kamit sebelum ia melepaskan balon yang nanti akan terbang dibawa desiran angin malam. "Itu apa isinya?" Rio bertanya-tanya. Bola matanya yang tajam mengamati Ify dengan saksama. Di ujung matanya terdapat setitik air mata. Rio dapat melihatnya karena air mata itu bersinar terang terkena cahanya lampu. Hati Rio tersentak. Ia pun mengalihkan pandangannya dan kini ia menatap balon yang terbang itu. Dan pada akhirnya Rio dapat mengetahui kalau balon itu tersangkut di pohon Mangganya Pak Galih yang super tinggi dan berdaun lebat itu.

*********

"Kamu jangan gangguin Ipy. Kalau berani sini lawan aku," bentak Rio. Ia marah ketika anak laki-laki yang bernama Debo menganggu Ify. Debo memaksa Ify untuk memberikan permen yupi kesukaannya.

"Kamu jangan ikut campur. Ini nggak ada urusannya sama kamu," balas Debo sengit.

"Ipy sahabat aku. Kamu udah belani ganggu Ify, belalti kamu udah belulusan sama aku juga."

"Berani kamu ya? Ini untukmu..." ujar Debo dan melayangkan tinju kecilnya ke pipi Rio. Rio yang tidak siap akhirnya kena hantam. Rio tidak terima dan ia membalas pukulan Debo.

"Udah cukup, Io. Cukup. Bialin Debo ambil pelmen Ify, Ify bisa beli lagi kok," ucap Ify dan berusaha untuk membuat Rio berhenti berkelahi.

"Nggak bisa, Ipy. Dia itu jahat," balas Rio dan masih memberi pukulan pada Debo.

"Ioooo....kalo kamu sahabat Ify, jangan belantem lagi. Ify nggak mau lihat Io telluka, Io belhenti," jerit Ify dan tangisnya pecah. Mendengar tangis Ify, Rio berhenti berkelahi dan menghampiri gadis kecil itu.

"Maapin Io, Ipy. Jangan nangis dong," bujuk Rio. Ify masih tetap sesenggukan. "Io benar minta maaf, Ipy. Io cuma nggak terima kalau ada orang yang gangguin Ipy apalagi buat Ipy takut. Io udah janji kalo Io akan selalu jagain Ify."

"Lo yang namanya Alyssa?" tanya cewek yang bernama Dea Christa Amanda. Salah satu cewek terkenal di sekolah dan kabarnya sedang dekat dengan Rio.

Ify yang lagi makan bersama Via di taman belakang terkejut. Bekal makanan mereka berdua tumpah lantaran meja yang terbuat dari kayu itu ditepuk dengan kasar.

"Gue tanya, lo yang namanya Alyssa?" ulang Dea.

"Gue Alyssa. Ada apa?"

"Benerkan, De. Kalo Alyssa itu nggak ada apa-apanya dibanding elo," ujar Zevana, dayangnya Dea.

"Hmm....bener juga sih, Zev. Wajar Rio bilang kalo dia bosen temenan eh salah, sahabatan sama dia. Dia orangnya cupu gini. Mana mau lah, Rio. Rio sekeren itu. Paling keren di seluruh GNIS ini."

"Mau lo apa?" kali ini Via angkat bicara.

"Gue mau, kalo sohib lo itu nggak usah ngarepin bisa sahabatan sama Rio lagi," kata Dea tajam.

"Urusan sama lo apa?"

"Rio itu calon pacar gue. Dia nggak butuh sahabat cupu kayak dia," tunjuk Dea tepat di depan wajah Ify.

"Udahlah, Vi. Nggak penting ngrusin orang kayak dia. Nggak ada manfaatnya," relai Ify. Ia berusaha tenang.

"Yang nggak penting itu elo. Tampang cupu pake kacamata setebel nggak itu baru nggak penting. Lo sahabat Rio waktu lo kecil. Sekarang sudah SMA dan elo nggak layak jadi sahabat Rio. Dekat dengan Rio aja nggak pantes."

"Jaga mulut lo, De. Sahabat tetap sahabat. Lo ngiri aja karena Ify kenal Rio udah lama. Tahu semua tentang Rio," sembur Via.

"Heh, Via. Lo yang mesti jaga mulut kalo nggak mau habis sama kita berdua," peringat Zevana dan tersenyum miring.

"Masalah gue sahabatan sama Rio, itu urusan gue nggak ada sangkut pautnya sama elo. Nggak ada sedikit cela yang bisa lo masuki untuk mengucapkan gue bukan sahabat Rio. Nggak ada sedikit pun, nggak ada."

"Gue jelasin lagi ya, Rio ngejauhi elo karena elo itu nggak level sama dia. Dia malu ada di dekat lo yang cupu itu. Dia malu. Nggak sudi."

"Sadar diri, dong. Lo inget-inget deh waktu SMP saat Rio mulai jadi the most wanted boy apa pernah ia ngomong sama lo lagi di sekolah? Nggak kan. Dia itu udah sadar kelo lo nggak level sama dia," tambah Zevana. Dulu, Ify satu SMP dengan Zevana dan Dea.

Ify terpukul. Apa benar hanya karena hal sepele Rio menjauhi dirinya? Ia mengingat-ingat zaman SMP dulu. Lama-lama Ify menyadari apa yang dibilang Dea dan Zevana itu benar. Itu kemungkinan yang paling besar. Ify tertawa hambar dalam hati. Penampilan merusak persahabatan. Lucu amat judulnya.

"Itu nggak mungkin. Rio nggak sepicik itu," bantah Via. Ia tidak mau kalau Ify sampai termakan omongan Zevana dan Dea.

"Terserah lo berdua deh, yang jelas. Lo nggak boleh ngarep jadi sahabatnya Rio lagi," ultimatum Dea ke Ify dan dia mendorong tubuh Ify kuat hingga Ify terjatuh ke tanah.

"Lo kurang ajar banget sih, ini buat lo," seru Via dan mendorong badan Dea. Dea pun hampir menyium tanah, namun ia ditolong oleh Zevana.

Muka Dea merah. Ia sungguh marah. Bagi dirinya mendorong adalah penghinaan terbesar bagi dirinya. Tidak ada satu orang pun yang berani mendorong dirinya seperti ini.

"Lo berani sama gue? Ini buat lo....plaaaakkkk..........." tangan Dea melayang ke arah Via. Via sendiri sudah memejamkan matanya. Namun ia tak merasakan apa-apa. Ketika ia membuka matanya ia melihat pipi Ify terdapat cap tangan Dea.

"DEEAAA......" panggil sebuah suara yang sangat Ify kenal. Suara Rio. Rio sendiri melihat kejadian itu dengan sangat jelas.

"Mampus lo," ledek Via ke Dea. Dea sendiri jadi pucat.

"De, lo nggak apa-apa? Lo nggak di tamparkan?" tanya Rio bertubi-tubi. Senyum Dea mengembang dan tanpa Rio sadari, Dea dan Zevana memberi senyum devil kemenangan ke Ify.

"Untungnya aku bisa jaga diri, Yo. Kalo nggak aku udah kena tampar sama Ify dan Via," jawab Dea dengan raut muka sangat sedih.

"Cuih," Via kesal.

"Lo kenapa sih bisa berurusan sama mereka? Nggak penting, De," ucap Rio.

"Cuma ngasih tahu aja, Yo. Kalo si Ify itu nggak pantes jadi sahabat elo. Benerkan, Yo?"

Rio bimbang. Ia melihat Ify dari ekor matanya. "Iya. Dia nggak pantes dekat sama gue."

"Lo yang nggak harusnya kenal sama Dea dan Zevana, Yo. Dea itu udah nampar Ify dan Ify sama sekali nggak ngapa-ngapain dia. Lo bego, Yo. Kalo elo ngejahui Ify karena menurut orang lain Ify itu cupu. Lo bodoh, Rio. Bodoh," seru Via. Ia sudah sangat kesal.

"Udahlah, Vi. Jangan buat gue seolah-olah ngemis ingin jadi sahabat dia. Biarlah dia memilih. Gue juga bisa cari sahabat yang lain kalau nanti gue udah jenuh nunggu dia untuk ingat kalau dia punya sahabat dari kecil."

"Tuh lihat, Yo. Mereka berakting. Jangan sampai kemakan deh, Yo," ucap Dea dan memasang tampang jijik. "Dasar cupu, culun, bego lo. Nggak penting amat. Sampah lo," hina Dea ke Ify. Lalu ia balik badan dan berjalan menuju halaman utama sekolah bersama Zevana. Rio masih diam di tempatnya. Rio terpukul. Janji itu kembali teriang-iang di telinganya. Janji untuk membela Ify dari orang yang menghina-hinanya.

Rio sendiri tak sanggup melihat wajah Ify dan apalagi cap tangan merah di pipinya Ify. Ia memilih untuk meninggalkan Ify dan Via.

"Kalo Ipy disakiti dan dihina, pasti Io akan bela Ipy dan balas sama orang yang ganggu Ipy," ucap Ify lirih sebelum Rio pergi menjauh. Rio dapat menangkap apa yang Ify katakan.

"JANGAN MAU BOHONGIN DIRI SENDIRI," teriak Via. "Udah yuk, Fy. Kita ke UKS ngobatin pipi lo dulu," ajak Via. Ify mengangguk dan keduanya meninggalkan taman belakang sekolah dan menuju UKS.

**************

“Kita musuhan, titik. Ify sebel sama Io,” ujar Ify kecil tegas. Ia menatap kertas gambarnya penuh dengan cat berwarna merah dan orange. Gambar bunga matahari yang semulanya indah dan bagus, tiba-tiba menjadi seperti kebakaran.

“Maafin Io, Ipy. Io nggak sengaja. Benelan deh,” ucap Rio kecil. Ia benar-benar menyesal. Dapat terlihat dari raut wajahnya yang begitu memelas meminta kata maaf dari sobat kecilnya itu.

“Nggak mau. Io jahat. Ify udah capek-capek buatnya, malah Io anculin. Ify kesel.”

“Io nggak sengaja, Ipy. Cat-nya tumpah, Io nggak tahu. Jangan malah.”

Ify menggeleng kuat dan matanya menatap tajam Rio. “Pokoknya Ify nggak mau, titik.”

“Katanya kalo kita belantem cuma satu hali aja. Maafin Io dong,” rayu Rio lagi.

“Ini belum satu hali, Io. Besok Ify maafin Io deh. Ify mau pulang.  Ify masih sebel sama Io,” ujar Ify dan meninggalkan Rio yang diam-diam menahan tawanya. Sekarang Rio nggak perlu khawatir lagi, karena besok pasti Ify akan kembali baik kepadanya.


Malam ini tepat dua bulan lebih satu hari Ify sama sekali tidak bertegur sapa dengan Rio. Baik di sekolah maupun di rumah. Selama dua bulan ini juga Ify selalu diledekin sama ‘teman-teman’ barunya Rio. Untung saja dia lebih sabar dan ada Via yang selalu mengingatkannya untuk tidak terpancing akan hinaan mereka.

Malam ini juga Ify menikmati malam-malam melihat bintang seorang diri. Tiada dia yang dulu berjanji untuk menikmati langit malam bersama. Di balkon kamarnya, Ify menatap langit malam yang begitu pekat. Tiada taburan bintang, yang ada hanya bintang-bintang yang tampak malu-malu mengeluarkan sinarnya.

Di depan Ify, tergeletak kalender dan sebuah pena. Ia sudah melingkari hari-hari sejak perang bisu itu di mulai. Hari yang ia diberi cap sebagai mantan sahabat setelah empat belas tahun bersahabat. Sungguh tak adil bagi diri Ify. Persahabatan yang begitu lama dibangun dan dirusak dengan masalah yang paling sepele. Hanya karena Rio malu punya sahabat yang penampilannya nggak sebanding dengan  Rio sendiri.

Jika dilihat-lihat dan diperhatikan. Ify itu manis dan cantik. Rambutnya hitam dan panjang nyaris sepinggang serta ujungnya sedikit bergelombang. Bola matanya bening dan dagunya tirus. Namun, Ify memakai kacamata lantaran matanya agak sedikit silinder. Ditambah lagi dengan pakaian yang dipakai Ify tergolong sopan. Ia mengenakan seragam dengan rok selutut, bukan seperti Dea dan kawan-kawannya yang memakai rok sejengkal dari lutut. Gile pendek banget.

Harusnya Rio itu sadar, kalau Ify itu bukan CUPU. Ia hanya bernampilan sopan layaknya pelajar, bukan sebagai model sekolah. Gadis-gadis penebar paha.

“Gue kangen lo, Io. Kapan sih kita bisa bersama-sama lagi. Bersahabat layaknya dulu. Apa gue harus seperti Dea??” gumam Ify. Lalu ia tertawa sendiri. “Nggak mungkin kali, Yo. Gue nggak mau kayak mereka. Itu bukan gue banget.” Ify melirik rumah di sebelah kanan rumahnya. “Andaikan elo juga kangen gue, Yo. Kangen masa-masa persahabatan kita. Elo kangen nggak sih?”

Ify menghela nafas sesaat. “Ya udahlah. Gue harap, di ruang hati lo masih ada kata sahabat dan sahabat lo itu gue. Ify Alyssa.”

Ify terdiam dan ia melamun. Dua bulan lebih satu hari bukanlah waktu yang singkat bagi dirinya. Tidak berbicara dengan Rio selama itu membuat Ify merasa ada yang kurang. Seluruh kenangan masa kecil menjadi mimpi terburuknya selama dua bulan itu. Kejadian manis berubah menjadi pahit.

“Apakah kamu yang di dekatku merindukanku?” gumam Ify. Dekat. Ya dekat. Rumah di sebelah dengan jarak tak menyampai lima meter.

Semilir angin malam terus berhembus. Hembusan yang selalu menemani dirinya sendiri dalam kesepiannya. Hembusan malam yang menjadi sahabatnya menikmati langit malam. Hembusan yang selalu menusuk dirinya dan menjebak dirinya dalam dinginnya malam.

Sepi yang dirasakan Ify. Sekali-kali ia melirik kamar yang lampunya masih menyala. Ntah apa yang dilakukan si Empunya kamar. Ia tidak tahu. Untuk menghapus sepi, Ify memilih untuk bernyanyi. Lagu yang menggambarkan perasaannya saat ini.

Suatu malam tak berawan
Tiada bulan tanpa suara
Hanya satu bintangn kejora
Berbisik menyapa hatiku

Memang malam ini waktunya terkhusus hanya untuk pekat malam. Tidak ada bulan penuh. Bintang pun sepi. Hanya satu dua bintang yang menampakan cahayanya, itu pun malu-malu. Sama seperti gue, Yo. Bintang gue nggak ada, hanya bayanganya yang menghampiri untuk mengingatkan kalau bintang gue itu masih ada dan menurut gue bintang itu akan muncul kalau lo ada di samping gue. Karena menurut keyakinan kita berdua (dulu), bintang Io dan Ipy selalu muncul bersamaan jika kita berdua sedang bersama.

Bila saja hati ini
Hanya ingin teman semata
Betapa hanya kau yang dihati
Sobat kecilku dulu

Lo tau kan, Yo. Kalau lagi lihat bintang dan langit, hati gue selalu ingat sama lo. Lo sahabat kecil gue, Yo. Dan selamanya akan ada dihati gue. Dan saat ini serta untuk selamanya gue selalu ingin sama lo, Yo.

Walau lama tak berjumpa
Namun kau selalu ada
Membuat sebuah dunia
Terindah yang pernah ada

Kita bukannya udah lama nggak berjumpa, Yo. Kita selalu ketemu, tapi gue nggak ‘nemuin’ sosok diri Io-nya Ipy di diri lo sekarang. Tapi, Io-nya Ipy selalu ada di hati gue, Yo. Nggak akan pernah terlupakan. Karena kenangan kita yang membangun dunia kecil kita dalam persahabatan begitu lekat dan lengket dalam hati dan ingatan gue, Yo.

Bila hatiku gembira
Dan inginku bagikannya
Hanya dia saja seorang
Walau tak ada

Tau nggak, Yo. Terkadang gue merasa gembira, Yo bersama Via dan Gabriel. Bukan berarti gue nggak gembira sama lo. Gue pengen banget bagi rasa gembira gue sama lo, Yo. Tapi sulit banget, Yo. Lo serasa nggak ada di samping gue. Gue ingin kita berteman dekat dengan Via dan Gabriel, kali-kali aja melengkapkan rasa gembira dan persahabatan kita.

Bila saja hati ini
Dapat pahami
Apakah semua orang di dunia
Itu hanya punya satu sahabat

Andaikan aja hati gue dan elo yakin, paham tentang persahabatan di dunia ini. Kita berdua yakin kalo setiap orang di dunia punya sahabat, Yo. Sayangnya, saat ini baru gue yang yakin, Yo. Kalo lo sahabat gue selamanya. Satu-satunya ‘sahabat’ gue, Yo. Bagi gue Sivia dan Gabriel itu juga sahabat gue, Yo. Tapi kadarnya nggak sebesar ikatan sahabat antara gue dan elo. Mungkin karena kita udah dari lama. Gue harap lo yakin, kalau ‘sahabat’ lo itu gue. Ipy-nya Io.

Haruskah hidupku ini
Seperti bintang kejora
Ramah ikhlas menyinari
Semua yang sedang sepi
Tiada bintang tanpa balas
Tiada pernah rasa sunyi
Walaupun hanya tersimpan di hati….

Yo, apa gue harus seperti bintang yang menyinari siapa saja?? Apa gue harus selalu ikhlas akan ledekan teman-teman baru lo, Yo?? Haruskah gue melewati rasa sepi hanya seorang diri, Yo?? Lo tahu kan, Yo. Kalo bintang itu, jika menyinari maka ia akan mendapatkan balasan cahaya dari pantulan lampu-lampu di dunia. Gue harap, Yo. Di hati lo masih ada gue sebagai sahabat lo. Masih ada Ipy-nya Rio. Dengan begitu gue coba sabar dan ikhlas jika gue harus dengerin dan menerima ledekan dari teman-teman baru lo. Yang terpenting nama gue, Ify Alyssa Saufika Umari masih tersimpan dan selalu ada di hati lo, Mario Stevano Aditya Haling.

Ify selesai bernyanyi. Sejenak ia menatap rumah sebelahnya lagi. Kini lampunya sudah padam. Mungkin Rio-nya udah tidur. Ify pun melirik jam di kamarnya melalui pintu balkon yang dibuka begitu saja. Terlihat jarum jam menunjukan pukul sepuluh lewat tiga belas menit. Sekarang memang saatnya untuk tidur. Ify pun beranjak dari posisi duduknya. Ia melangkah menuju kamarnya, sebelum ia benar-benar masuk ke dalam kamarnya ia kembali menatap kamar yang seberang yang dihuni Rio. “Met malem, Yo. Moga hari esok menjadi lebih baik, bagi lo dan gue. Terutama persahabatan kita,” ucap Ify dan kemudian ia menuju kamar kamarnya. Menutup pintu balkon dengan pelan dan kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang.

**************

“Met malem juga, Py. Io kangen sama Ipy,” gumam Rio yang menatap pintu balkon kamar di seberang kamarnya sendiri tertutup. Ternyata dari tadi Rio mengamati apa yang dilakukan sobat kecilnya itu. Rio merasa bersalah. Ia benar-benar merasa bodoh saat ia harus menjauhi Ify karena termakan hasutan masalah penampilan Ify yang nggak pantes sama dia.

“Gue udah ngecewain lo, Py. Io udah ingkari janji persahabatan kita,” sambung Rio. Di tangannya tergenggam surat yang ditulis sendiri oleh Ify. Surat yang Rio ambil dari pohon Mangganya Pak Galih sejak sebulan yang lalu.

“Gue udah menyadari dari dulu, kalo lo itu warna dalam hidup gue. Dengan adanya lo hidup gue jadi lebih lengkap dan karena elo, gue bisa mendapatkan keceriaan. Lo segala-galanya buat gue. Ipy hanya buat Io.”
Rio menghela nafas berat. Ia ingin sekali kembali bersama-sama Ify. Menjadi sahabat Ify. Menjadi Io dan Ipy. Apalagi sejak pertemuan Rio dengan Fika dan Adit. Dua sosok yang mengingatkan dia akan kenangan indah masa kecilnya.

Flashback on

Rio baru saja pulang dari acara ngumpul bareng teman-teman ‘barunya’ di mall. Kebiasaan awal yang menurut Rio dulu adalah hal yang menyenangkan dan keren. Namun belakang ini, ia manyadari itu semua membosankan. Jadi, dia memilih untuk pulang lebih dulu. Saat ia melewati taman komplek rumahnya, hatinya tergugah untuk mengunjungi kembali taman itu.

Cagiva birunya, Rio parkirkan di pinggir taman. Kemudian ia memasuki area dalam taman. Sekelebat kenangan lama berputar dalam otak dan benaknya. Kenangan dulu. Ayunana, bak pasir, pelosotan bahkan angin sore adalah pelengkap kegembiraan juga hal terpenting dari kenagannya dengan sobat kecilnya.

Saat melihat ayunan yang berada di dekat pohon akasia, Rio merasakan kerinduan menjalar di dalam dirinya. Ia perlahan-lahan mendekati ayunan itu. Saat tangannya merasakan dinginnya besi ayunan itu, Rio terbayang akan sosok gadis kecil manis dengan lesung pipi tertawa-tawa dan cemberut. Ia ingat, itu bayangan Ify. Namun, ketika ia mencari rasa yang dulu pernah hadir di dalam haitnya itu, nothing yang ia dapatkan. Di saat ia mencoba mendalami rasa itu dengan duduk di ayunan serta mendorongnya dengan kakinya sendiri, lagi-lagi rasa itu hilang. Rio berpikir dan tak lama ia menemukan apa alasannya. Ia sadar, Ify tidak ada bersamanya.

“Kak….kakak,” panggil bocah perempuan dengan rambut kuncir dua diikat pita berwarna biru.

“Ah ya, kenapa?” tanya Rio balik sambil memandangi sosok kecil di depannya itu. Mirip Ipy, batin Rio.

“Pinjem ayunannya, Ya?” pinta gadis kecil itu.

Rio memandang sekelilingnya, masih ada dua ayunan yang kosong. Ia ingin menolak permintaan gadis kecil itu karena ia mengingat kenangan kecilnya. “Ayunan di sana masih ada kok, Dek.”

“Fika mau-nya yang ini, Kak.” Gadis kecil bernama Fika itu tetap ngotot. Rio tak habis pikir. Ada apa sih dengan ayunan ini?

“Adiiiittttt……..” teriak Fika. Rio terkejut. Jangan-jangan Fika memanggil kakaknya.

Tak lama setelah teriakan itu, seorang bocah laki-laki berlari menghampiri Fika dan dirinya. “Ada apa, Fika? Adit tadi lagi beli es krim. Ini untuk Fika,” ujar bocah laki-laki yang Rio ketahui namanya Adit.

“Kakak  ini nggak mau kasih pinjem ayunan ini. Fika kan mau main ayunan yang di sini,” ujar Fika sambil menunjuk Rio. Adit mengamati Rio denga begitu saksama dan sedikit membuat Rio salah tingkah gitu. Salah tingkah di sini, bukan berarti Rio terkena syndrome Maho tahu. Ia hanya sedikit risih.

“Kok Adit diem aja, sih? Katanya selalu mau buat Fika seneng. Fika sebel sama Adit.” Fika merasa sangat kesal. “Coba ada Kak Ify, pasti Fika udah main ayunan,” tambah Fika.

Rio tersentak kaget. Ify?? Apa hubungan Ify dengan dua bocah bersamanya ini.

“Kakak namanya siapa?” tanya Adit yang masih tak menggubris Fika.

“Kak Rio,” jawab Rio singkat. Mata Adit membulat, namun yang paling menarik lagi si Fika. Ia begitu terkejut kayaknya. Bisa terlihat dari matanya yang membulat heran dan dia ternganga.

“Kakak Kak Rio sahabat kecilnya Kak Ify?” tanya Fika antusias.

Rio bingung mau menjawab apa karena ia telah mengatakan kalau Ify adalah mantan sahabatnya.

“Kak, beneran?” desak Fika.

“Iya. Fika tahu dari mana?” tanya Rio balik.

“Kita tahu dari Kak Ify, waktu itu Fika dan Adit main ke taman dan ketemu Kak Ify,” jawab Fika.

“Waktu itu Kak Ify nangis, Kak. Dia cerita kalau Adit dan Fika mengingatkan dia sama Kak Ify dan sahabatnya, yaitu Kak Rio sendiri,” tambah Adit.

“Beneran? Terus Kak Ify bilang apa lagi?”

“Kak Ify cuma cerita tentang kenangan kakak dan kak Ify. Terus, Kak Ify ingetin Adit untuk nggak ninggalin Fika dan tetap jadi sahabatnya. Waktu Adit tanya kenapa, kak Ify jawab karena kalau berpisah hati itu jadi sakit, Kak. Sedih. Gitu,” jawab Adit panjang lebar.

Rio terdiam. Segitunya luka Ify akibat tingkah konyolnya. Rio semakin merasa bersalah.

“Fika dan Adit senang karena bisa ketemu sama kak Rio. Saat Fika dan Adit minta Kak Ify ajak Kak Rio ke sini, Kak Ify selalu bilang kalau Kak Rio sibuk. Sibuk banget, gantinya Kak Ify dorongin ayunan untuk Fika dan Adit deh,” ujar Fika dan terakhirnya memasang wajah sedikit bête.

“Maafin Kakak, ya. Kakak memang sibuk kok belakangan ini,” ujar Rio. Rio nggak bohong kok, dia memang sibuk. Sibuk nongkrong nggak jelas sama Dea, Zevana dan teman-teman barunya itu.

“Oh iya, Kak. Kapan-kapan kakak sama Kak Ify datang ke sini, ya? Kita main sama-sama. Main ayunan. Fika sama kakak, terus Adit sama Kak Ify. Gimana? Boleh nggak?” pinta Fika sedikit memohon dan matanya kedip-kedip gitu. Sungguh menggemaskan.

Rio tertawa melihat gadis kecil itu.

“Iya, Kak. Adit juga mau main sama kak Ify dan kakak. Kak Ify itu baik banget, Kak. Lihat ini, Adit di kasih gelang ada namanya Adit lagi. Fika juga di kasih,” ucap Adit dan menunjukan gelang berwarna hijau dengan tulisan berwarna merah di pergelangan tangannya. Fika pun juga begitu. Rio jadi teringat dengan gelang biru miliknya. Gelang persahabatan, ada tulisan Rio (Io-Ipy). Di gelang Ify juga sama, ada tulisan Ify (Ipy-Io).

“Iya, kakak janji. Pasti kakak ajak Kak Ify ke sini,” ucap Rio tegas dan yakin. Sekarang dia benar-benar sadar kalau Ify adalah sahabatnya sejatinya.

“Hore…..” teriak Fika dan Adit kompak.

“Ayo naik ayunan, biar Kak Rio yang dorong,” ajak Rio yang disetujui oleh Fika dan Adit dengan anggukan kuat.

Flashback off

“Maafin gue, Fy,” gumam Rio dan menatap kamar di seberangnya yang kini sudah gelap. Pemiliknya mungkin sudah tidur. “Met malem sahabat kecil gue. Ipy-nya Io,” tambah Rio. Ia menatap kembali kamar itu dan setelah dua menit ia juga menutup gorden pintu balkonnya dan kembali ke ranjangannya untuk tidur.

********

“Maafin Ify ya, Io. Ify nggak cepat nolongin Io, jadinya luka deh Io,” sesal Ify dan tangannya hati-hati membersihkan luka di lutut Rio. Hari ini mereka berdua baru bisa naik sepeda tanpa roda dan Rio terjatuh akibat menabrak batu yang cukup besar.

“Nggak apa-apa kok, Ipy. Yang penting Ipy nggak luka. Io kan cowok, nggak apa-apa kok luka kecil gini,” ucap Rio dan tersenyum lebar.

Ify mencibir. “Kecil gimana, lukanya Io banyak gini,” balas Ify.

“Hehehhe….yang penting Ipy nggak apa-apa,” ujar Rio lagi.

“Pokoknya Ify janji bakal jaga Io juga,” tekad Ify.

“Io kan cowok, jadi Io yang jaga Ipy,” tolak Rio.

“Ih….tapi kan Ify juga mau jaga Rio.”

“Kalo gitu, kita halus saling jaga. Gimana?” usul Rio.

“Iya-iya. Ify setuju. Janji?”

“JANJI,” seru Ify dan Rio kompak.

Siang ini jarum jam telah menunjukan pukul dua lewat lima belas siang. Kegiatan belajar dan megajar pagi telah usai sejak lima belas menit yang lalu. Seorang gadis berkacamata dan dua buah buku cetak berada dalam pelukannya berjalan dengan begitu cepat.

“Via bikin repot aja sih,” rutuk Ify dalam perjalanannya menuju fotocopyan di depan sekolahnya. Masalahnya Via meminjam buku catatan Fisika Ify dan belum dikembalikan padahal Via sudah meminjamnya sejak seminggu yang lalu. Gimana nggak bikin sebel. Ditambah lagi besok ulangan Fisika-nya.

Setelah melewati koridor yang super panjang itu, Ify sampai di gerbang sekolah. Ia melihat sekeliling jalan raya untuk menyebrang. Di sebrang jalan tepat di sebelah kanan, Ify melihat Rio yang lagi berbicara sesuatu dengan Dea. Ia tak dapat mendengarnya. Namun ada yang janggal dengan adegan itu. Dea tampak marah pada Rio dan Rio begitu kesal dengan Dea.

“Masalah orang pacaran kali ya?” pikir Ify. Ia kemudian mengalihkan pandangannya fokus pada jalan. Siangan ini lalu lintas memang cukup padat. Saat Ify baru akan menyebrang, ekor matanya menangkap sosok Rio yang di dorong Dea dengan sentakan kuat. Mungkin sedikit menggunakan tenaga dalam. hehehe….

Posisi Rio sekarang berdiri di hampir tengah jalanan. Dengan posisi seperti itu Rio masih tetap mengucapkan sesuatu pada Dea. Persaaan Ify menjadi tidak enak, ia memutuskan untuk memperdekat jarak dengan posisi Rio.

Ternyata perasaan Ify kuat dan benar. Tiba-tiba dari sebelah kanan jalan, sebuah mobil Avanza pribadi melintas dengan begitu kencang dan sedikit ugal-ugalan. Ify memperhatikan gerakan mobil itu dan dia terkejut saat perhitungannya yakin kalau Rio bakal tertabrak paling tidak tersenggol.

Saat jarak mobil itu semakin dekat dan Rio masih tidak menyadari, Ify berlari dengan cepat menuju arah Rio. Mobil itu juga melaju cepat dan semakin dekat. Saat mobil itu tinggal berjarak tiga meter…

“RIIIIIIIIIIIOOOOOOOO AAAAAAAWWWWWWWAAAAAAA……….” Teriak Ify dan menuju tempat Rio.

Sementara dari fotocopyan di dekat Rio berdiri, Sivia ditemani Gabriel melihat apa yang Ify lakukan dan begitu terkejut saat mereka berdua menyadari kalau Ify mencoba menolong Rio.

“IIIIIFFFFFYYYYYY JJAAAAAAANNNNGAAN NNNEEEKAAAAATTTT…….” Teriak Via dan ia khawatir dengan Ify. Jika perhitungannya tidak salah, pasti Ify yang akan terlindas.

Rio terkejut dengan teriakan suara yang sanagt ia rindukan. Ia lebih terkejut lagi saat mobil dengan kecepatan begitu kencang menuju ke arahnya dan saat mobil itu tinggal satu meter jaraknya, Ify telah berdiri di sampingnya dna kemudian mendorong tubuhnya menuju arah dalam jalan dan terjadi…..

BBBRRRRRAAAAAAAAKKKKKKKK………….

Dentuman yang begitu kuat. Rio dapat melihat dengan jelas dalam posisi merebahnya bahwa tubuh Ify tertabrak bagian depan mobil dan Ify tersendiri terpelanting sejauh dua meter.

Sivia dan Gabriel teranganga melihat kejadian itu. Terlebih lagi Rio, ia mendapti dirinya langsung berdiri ketika melihat Ify yang terkapar tak berdaya. Tas-nya sudah terlepas dari punggungnya dan baju-nya sudah penuh dengan darah.

“Ipy…Ipy….bangun, Py. Bangun….ini Io, Py,” seru Rio dan mengguncang-guncang tubuh Ify. Gabriel dan Sivia mendekat. Via menangis melihat kondisi sahabatnya itu.

“Maafin Io, Py. Bangun….,”

“Sabar, Yo. Ify pasti bangun untuk bilang kalo dia maafin elo,” ujar Gabriel bijak.

“Ipy….lo harus bangun. Maafin Io,”

“Ify, Yel. Ify….hiks….hiks….” tangis Sivia pecah. Gabriel menenangkan gadis itu. Orang-orang datang menghampiri mereka.

Tiba-tiba Rio merasakan kalau tangan Ify bergerak dan akhirnya ia dapat melihat kalau mata Ify terbuka.

“Io nggak apa-apa kan?” tanya Ify lemah saat ia membuka mata ada Rio depannya.

“Ipy bertahan ya,” pinta Rio.

Ify mengangguk. “Io, mantan sahabat nggak pernah ada,” ucap Ipy lemah dan matanya kembali terpejam.

“Ify….” Ucap Via tercekat.

“Yel, ambil mobil lo. Gue yakin Ify masih bertahan,” ujar Rio. Gabriel mengangguk. Lalu ia menuju mobilnya yang terpakir di depan foto copyan dan tak lama kemudian ia berhenti di depan Rio. Rio membopong Ify dan masuk ke mobil.

*************** 

“Aduh, Ipy. Io itu bosan di kamal telus,” ujar Rio kesal. Sudah lima hari ini Rio terbaring di kamarnya lantaran ia sakit demam. Badannya lumayan panas.

“Io gimana sih, katanya mau sembuh. Ya istilahat, dong,” balas Ify.

“Tapi, Io kan kangen main lali-lalian sama Ipy.”

“Makanya, Io istilahat dulu. Nanti kalo Io udah sembuh, kita main puas-puas deh,” bujuk Ify pada Rio yang makin rewel.

“Tapi kapan?”

“Io yang sabal. Yakin deh, kalo Io sembuh cepat.”

“Ipy nemenin dan jagain Io ya, sampe Io sembuh? Ya ya ya?” pinta Rio.

“Pasti. Ify akan selalu jagain Io deh. Tenang aja.”


Ruangan bernuansa putih kini yang Rio selalu kunjungi. Sejak kejadian kecelakaan empat hari yang lalu Ify masih koma. Untung saja tidak ada luka serius pada tubuh Ify. Hanya sekedar luka luar dan rasa kaget yang menyebabkan Ify belum juga siuman dari komanya.

Sudah empat hari juga Rio tidak pernah absen menemani Ify di rumah sakit. Pulang sekolah ia langsung menuju rumah sakit. Masalahnya sama Dea sudah ia selesaikan, walaupun Dea sendiri tidak menerimanya. Rio sudah memutuskan untuk kembali menjadi Io-nya Ipy dan dia sudah tekankan pada untuk tidak mendekatinya lagi dan menghina-hina Ify apalagi mem-bully-nya.

“Sadar dong, Py. Io kan kangen sama Ipy. Masa iya, Io ngomong sama Ipy yang diem terus,” ucap Rio dan memperhatikan Ify seperti layaknya orang tertidur.

“Ipy tau nggak, Io udah ketemu sama Fika dan Adit. Mereka mirip banget sama kita ya, Py? Lucu,” lanjut Rio lagi. Kini Rio sudah memanggil Ify dengan sebutan kecilnya. Rio meraih tangan Ify dan menggenggamnya.

“Ipy benar. Mantan sahabat nggak akan pernah ada, karena sahabat akan selamanya selalu ada,” ujar Rio dan menghirup oksigen sejenak. “Di hati Io, cuma ada Ipy. Io dan Ipy. Jadi, Ipy bangun ya. Kita main sama-sama dengan Fika dan Adit,” lanjut Rio. Namun, Ify belum kunjung membuka mata.

Krek…..
Suara pintu dibuka, ternyata Sivia dan Gabriel datang mengunjung.

“Giamana Ify, Yo?” tanya Sivia.

“Sama kayak kemarin, belum ada kemajuan.”

“Eh, Yel. Ngomong-ngomong, makasih ya buat elo yang udah nolongin Ify waktu pingsan itu,” ucap Rio.

Gabriel awalnya bingung, lalu ia tersenyum santai. “Santai, Bro. Kejadiannya udah lama lagi.”

Rio mengangguk dan ia kembali ke Via. “Gue minta maaf, Vi,” ucap Rio.

“Lo nggak salah sama gue. Ify, Yo,” balas Via bijak dan tersenyum kecil. Rio mengangguk.

Mata Via terfokus dengan sosok Ify yang kepalanya dibalut kain kasa dan tangannya yang terbujur lemas. Sedih hatinya. Kalau saja Ify tidak menolong Rio, pasti….., pikir Via yang langsung ia tepis. Ia tak boleh seperti itu. Karena ini pilihan Ify dan seperti kata Ify, Rio adalah sahabat Ify dan Ify akan selalu ada buat Rio.

Via mengerjap-ngerjap berulang kali. Ia takut pengelihatannya salah. Via melihat kalau bulu mata Ify sedikit bergerak.

“Yo, coba lo rasain tangan Ify. Gerak nggak?” tanya Iel tiba-tiba dan membuat Via menatapnya.

“Lo juga ngeliat, Yel?” tanya Via. Iel mengangguk yakin.

Rio mempererat genggaman tangannya. Ia merasakan kalau Ify sedikit bergerak. Beribu harapan ia ucapkan dalam hati.

“Mata Ify, Yo. Mata Ify,” seru Via.

Rio menoleh melihat mata Ify. Via benar. Sekarang, mata Ify benar-benar terbuka dan langsung menatap ke dirinya.

“Io,” ucap Ify tanpa suara.

“Iya ini gue, Io. Bentar ya, Fy,” ujar Rio. Ia mau menekan tombol darurat. Setelah ia tekan kembali Rio mendekati Ify.

“Ify yakin, Rio pasti kembali jadi Io-nya Ipy,” ucap Ify. Kini suaranya mulai terdengar.

“Kalian berdua. Benar-benar bestfriend forever,” ujar Sivia dan tersenyum senang.

“True friend,” tambah Iel. Ify dan Rio tersenyum. Tak lama kemudian, dokter kembali dan memeriksa keadaan Ify.

************

Sahabat, bukan hanya sekadar kata yang terdiri dari tujuh huruf.
S-A-H-A-B-A-T
Sahabat bukanlah sekadar ikatan yang mudah dijalin.
Yang namanya sahabat, bukanlah orang-orang yang mengatakan kalau ia sahabat, namun diam-diam saling menusuk di belakang.

Sahabat adalah orang yang benar-benar membuat kita menjadi diri sendiri
Membuat hidup kita menjadi pelangi
Membawa menuju lebih baik karena kita dan dia akan saling menasehati.

Dalam persahabatan dibutuhkan keyakinan,
Bahwa kita dan dia adalah sahabat.

Persahabatan belum dikatakan sejati, apabila tiada konflik di dalamanya
Karena konflik itu sendiri akan menunjukan jatinya dari persahabatan
Apakah true bestfriend or just friend??

Lamanya persahabatan menjadi tolak ukur ikatannya.
Lamanya persahabatan membuktikan bahwa kita dan dia adalah satu.
We are until as a one, Forever and ever.

Dan namanya sahabat sejati,
Walaupun terjadi konflik sebesar apapun
Pasti akan kembali dan bersahabat lagi.


“Iiiiiiiiiiiiiiiiipppppyyyyyyyy………cepetan dong, Io udah nunggu lama nih,” teriak Rio kesal. Sore ini mereka berdua sudah janjian untuk bermain ke taman bersama Fika dan Adit. Oh iya, Ify sudah sembuh total sejak seminggu yang lalu. Hubungan persahabatan Rio dan Ify sudah kembali lagi. Mereka benar-benar terlihat seperti soulmate banget.

“Iyyaaaa, Iiooo…..” balas Ify dan ia tiba di depan Rio dengan nafas ngos-ngosan karena habis berlari dari kamarnya lantai atas menuju halaman rumah.

“Kalian mau kemana?” tanya Mama Ify yang tiba-tiba sudah berdiri di teras rumah.

“Eh, Tante. Biasa, Te main ke taman. Udah lama nggak ke sana bareng,” jawab Rio. Mama Ify tersenyum.

“Ayo, Io. Kita pergi sekarang,” ajak Ify.

“Bentar dong, Ipy. Io kan mau ngobrol bentar sama Mama Ipy,” balas Rio.

Tawa Mama Ipy pecah. Ia geli menatap sepasang sahabat yang sudah memasuki usia remaja namun masih saja memanggil dengan sebutan masa kecil. “Kalian berdua nggak malu nih sama umur manggil Io sama Ipy?” goda Mama Ify.

Muka Rio dan Ify memerah. Blushing. “Mengingat kenangan, Te. Dulukan sempet konflik gitu. Jadi kangen deh sama masa kecil,” kilah Rio.

“Ada-ada aja kamu ini, Yo. Jagain tuh bidadari Tante,” pesan Mama Ify.

“Jangan bidadari tante deh, putrinya tante aja. Ipy ini bidadarinya Io,” ujar Rio dan tertawa.

“Udah deh, Yo. Cepetan kita pergi. Mama, Ify sama Rio pergi dulu ya!” pamit Ify. Mama Ify mengangguk dan melihat putrinya dan sahabat kecil putrinya pergi menuju taman.



@Taman

Ketika tiba di taman, Rio dan Ify dapat merasakan kembali atmofer dan rasa yang dulu pernah ada di taman ini. Mereka saling berpandangan dan kemudian tersenyum.

“Kita memang ditakdirkan bersama, Py,” bisik Rio di telinga Ify. Ify mengangguk kecil dan tersenyum hangat.
           
Lalu Rio menarik tangan Ify dan berlari menuju ayunan yang ia dan Ify sering bermain di sana. “Huahaaaaaaa Iiiiioooo…..Ipy jatuh nih,” teriak Ify sambil berlari.
           
“Tenang aja kok, Ipy. Kan ada Io. Io selalu jagain Ipy,” balas Rio. Dalam hati Ify tersenyum lega. Rio benar-benar kembali dan tetap menjadi sahabatnya. Ternyata janji persahabatan tak pernah  Rio dustai.
           
“Kak Ify …Kak Rio,” panggil Fika dan Adit kompak. Rio dan Ify tersenyum senang.
           
“Kalian udah lama ya datangnya? Maaf deh Kakak telat, habis Kak Ify noh yang bikin lama,” jawab Rio jujur. Ify udah mati-matian mengumpat.

“Nggak apa-apa deh, kita main yuk,” ajak Adit.

“Ayo,” sambut Ify dan Rio.

Dan kemudian mereka bermain bersama-sama. Mulai dari buat istana-istana dari pasir, main pelostan dan terakhir main ayunan. Setelah satu jam bermain tanpa henti dan hari sudha menunjukan pukul lima, akhirnya mereka berhenti bermain. Raut wajah Fika dan Adit menunjukkan kegembiraan yang begitu ‘wah’.

“Adit sama Fika pulang dulu ya? Udah sore,” ucap Adit.

“Iya, hati-hati ya!” balas Rio dan disertai anggukan Ify.

“Oh iya, semoga Fika sama Adit bisa jadi sahabat kayak kakak sama Kak Ify. Nggak apa-apa kan Kak?” izin Fika dengan wajah polosnya.

“Iya nggak apa-apa kok. Malah bagu,” ucap Ify. “Tapi jangan pake berantem, Amin,” ucap Rio dan Ify dalam hati kompak.

“Makasih kakak. Fika dan Adit pulang ya?” pamit Fika.

“Iya, hati-hati,” ucap Rio dan Ify serempak. Lalu mereka berdua memandangi sosok Fika dan Adit yang berjalan serempak.

Setelah Adit dan Fika hilang dari pandangan, Ify dan Rio saling diam. Risih kayaknya.

“Hmm…Yo/Fy,” ucap mereka bareng.

“Lo duluan deh, Fy,” ujar Rio mengalah.

Ify mengangguk. “Mereka berdua kayak kita dulu ya, Yo?” tanya Ify.

“Iya, Fy. Tapi bedanya……”

“Mereka nggak cadel, sedangkan kita cadel,” ucap Rio dan Ify kompak. Mereka saling pandang dan akhirnya tertawa bersama.

“Memang benar ya, Fy? Kalau kita memang ditakdirkan bersama. Ngomong aja kompak banget,” ucap Rio serius.

“Bukannya lo nggak level tuh sama gue. Gue kan cupu,” goda Ify ke Rio.

Rio cemberut dan sedikit malu. “Jangan diingat lagi dong, Fy. Itu kesalahan terbesar gue. Sekarang, Rio akan selalu untuk Ify. Io dan Ipy,” ujar Rio. Ify tertawa dan tersenyum lebar. 

“Ayunan ya, Yo? Kangen gue,” ucap Ify.

Rio tersenyum. “Oke, Fy. Cepet naik, gue yang dorong. Seperti biasa,” ucap Rio.

Ify segera menuju ayunan yang berjarak satu meter dari tempat dia dan Rio duduk. Setelah duduk, ia menautkan tangannya di besi pegangan. Siap untuk melayang. Rio sendiri sudah berdiri di belakang Ify.

“Dorong yang kuat ya, Yo. Melayang setinggi-tingginya,” seru Ify.

“Bawel banget ah,” balas Rio sambil mengambil ancang-ancang untuk mendorong.

Wwwwhhhhuuuussssss……………

Ayunan itu meluncur. Ify tersenyum gembira. Ia merasakan perasaan dulu. Benar-benar kembali dan memang benar dengan mereka bersama semuanya menjadi klop. Lebih kompleks.

“Rrriiiiooooooo, kok nggak kenceng. Kencengin lagi dong, apaan nih. Masa iya tingginya cuma satu meter,” teriak Ify.

“Lo udah berat sih, Fy. Susah gue dorongnya,” balas Rio alias ngeledek Ify.

“Riiiiiiooooo………..aaaaaawwwwwaaassssssssss lo. Gue nggak berat tahu. Sini lo, jangan kabur,” seru Ify nggak terima dikatakan berat dan Rio sudah berlari menjauhinya.

“Turun dulu noh dari ayunan. Baru kejar gue,” balas Rio berteriak juga. Ify segera turun dan berlari mengejar Rio mengitari taman.

*****The End*****

Sahabat akan selalu ada dan kembali ke dalam pelukan kita, jika ia memang true best friend-nya kita.

Tell about you and me in Harmony which the most famous as Friendship.

*******


Gimana ceritanya ?? Gaje kan?? Nggak ada fell-nya?? That's right. Jalan ceritanya kecepatan?? So pasti. Aneh?? Ya iyalah. Biasa bukan penulis ding. Hehehehe...

*Jika ada kesalahan dalam EYD mohon dimaafkan. Dan jikalau keanehan jalan cerita pake 'banget', maklumin aja deh, bukan penulis sih. Jika memang dianggap penulis, masih amatiran BGT*

Terakhir makasih buat yang udah baca :)

S Sagita D


2 comments:

Unknown mengatakan...

Bussyet. .ceritanya bagus banget neng.
dari awal sampai ending nya TOP BGT.
tp yg gua paling suka pas bagian konflik persahabatan nya.
teruskan berkarya °¥å° neng. .gua cuma mw bilang : I LIKE THIS
*♥ђёe..ђёe..ђёe..ђёe..*♥ :)

Unknown mengatakan...

Wooooouwwww
KERENNNN ..... Pkek BGT

Posting Komentar